
"Bukan, tapi ini peringatan." Rosa masih terus menatap Arnold dengan tatapan mata mematikan.
Tapi siapa sangka, Arnold tidak memperdulikan hal itu. Ia masih terus mencoba melakukan keinginannya untuk membawa Rosa masuk ke dalam mobilnya.
Siapa sangka, ternyata ada empat pasang mata yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Ya, pengawal Rosa yang di tugaskan oleh papinya. Sebenarnya Rosa pun tidak mengetahui bahwa ada orang yang mengawasi mereka berdua. Sampai akhirnya, ia tanpa sengaja melihat pengawalnya dari kejauhan. Ia memberikan kode kepada pengawalnya untuk tetap di tempatnya, karena ia pikir bisa melawan Arnold sendiri.
"Jangan coba-coba sentuh kulitku, satu sentuhan-mu saja akan kau tanggung akibatnya seumur hidupmu," teriak Rosa yang sudah tidak sabar menghadapi Arnold.
Mendengar perkataan Rosa, Arnold malah terkekeh. Pasalnya dia mengira Rosa hanya dari keluarga menengah, ia berpikir mampu melakukan apa saja pada gadis di depannya itu karena dia lebih kaya daripada Rosa, pikirnya. Arnold tidak tahu bahwa Rosa adalah putri tunggal dari Presdir Alkarna.
"Apa kau pikir aku sedang bercanda, hah?! Bahkan sekali tepukan saja, aku sudah bisa menghabisimu sekarang juga," imbuhnya lagi, karena merasa kesal melihat tingkah Arnold. Namun, lagi dan lagi Arnold kembali terkekeh mendengarkan perkataan Rosa.
"Rosa. Rosa! Apa kau sedang menakut-nakutiku?" tanya-nya pada gadis itu, karena ia merasa lucu dengan perkataan Rosa.
"Terserah kau mau anggap apa, tapi tidakkah kau menyadari bahwa dari tadi ada yang mengawasi kita?" Rosa memberikan senyuman sinis.
__ADS_1
"Kalian keluarlah," titah Rosa pada para pengawalnya.
Para pengawal Rosa pun, langsung muncul, entah dari mana. Tapi yang jelas kehadiran mereka membuat nyali Arnold langsung menciut. Ia mengenali pakaian pengawal itu.
"Siapa mereka?" gumam Arnold sambil memutar-mutar otaknya, berusaha mengingat pengawal-pengawal itu.
"Cih, ternyata posisimu sebagai guru di sekolah, tidak membuatmu cukup tahu tentang diriku." Arnold tetap tidak bergeming mendengarkan perkataan Rosa, ia masih terus berusaha mengingat siapa pengawal itu.
Tampaknya pakaian mereka tidak asing baginya. Perlu kalian tahu, seluruh pegawai dan pengawal Alkarna, memang memiliki pakaian ciri khas Perusahaan Alkarna.
"AFRA ROSALINA ALKARNA" ucapan Rosa seperti petir yang menyambar di siang bolong. Yang berhasil membuyarkan lamunan laki-laki itu, yang sedari tadi melayang entah kemana.
"Ah ... sial! Bagaimana bisa aku seceroboh ini. Arghh, ****** aku." Arnold
"Apa kau tidak sedang bercanda, Rosa?" Arnold kembali bertanya kepada gadis itu, ia tidak bisa menyembunyikan kecemasan-nya setelah mendengarkan nama asli dari gadis incarannya itu. Ya, dia memang tahu kalau tuan Alkarna memiliki seorang putri, tapi ia tidak tahu nama dan wajah putri orang terkaya di negeri itu.
__ADS_1
"Apa kau pernah melihatku bercanda, Pak?" jawabnya dengan dingin.
"Maafkan aku, maaf! Sungguh aku tidak tahu bahwa kau putri Tuan Alkarna," katanya terbata-bata, karena menyesali perbuatannya.
"Pergilah, jangan ulangi perbuatanmu. Dan ya ... jangan sampai kau mengungkap siapa diriku sebenarnya. Kalau tidakkkk, habis kau!" ujar Rosa dengan nada penuh penekanan.
Mendengarkan perkataan Rosa, Arnold langsung menundukkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobilnya dengan wajah yang masih tetap pucat.
"Ah bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa aku bisa seceroboh ini. Arrrghh." Arnold terus menerus mengutuki kebodohannya sendiri.
***
Hallo gaess, semoga kalian suka yah💕💕
Kritik dan saran kalian, adalah ilmu bagi author.
__ADS_1
Terus dukung author dengan yah gaes, biar author semakin semangat nulisnya.
Tingkiyuu readers😘