CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU

CEWEK BAR-BAR ITU ISTRIKU
Cemburu


__ADS_3

Pancaran sinar matahari sibuk menyinari dunia, sedangkan pantulan dari cahanya tembus menyinari tirai kamar si wanita berhati dingin itu. Ia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, dan berusaha menjernihkan pikirannya, setelah tidur cukup lama.


"Astaga! Kenapa aku bisa bangun sesiang ini sih?" pekiknya dan mulai sibuk mondar mandir di kamarnya. (Hey, kamu CEO RS itu. Jadi tidak usah khawatir jika kamu terlambat! )


Sedangkan di tempat lain ada seorang wanita dengan raut wajah cemas bercampur penasaran yang sepertinya menanti someone. Dia sudah tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Dia terus menerus mengecek ponselnya, berharap akan ada panggilan atau hanya pesan singkat, ya setidaknya sesuatu yamg bisa menenangkan perasaannya.


Detik demi detik, menit demi menit, dan akhirnya sejam pun berlalu. Entah kenapa, waktu rasanya begitu sangat lambat ketika sedang menunggu sesuatu.


Sudah berjam-jam dia menunggu dengan perasaan yang tak terdeteksi. Tapi yang di tunggu, tak kunjung memunculkan batang hidungnya.


"Cih, Rosa kemana sih. Dia gak tahu apa, kalau gw lagi khawatir ditambah kepo" gumamnya dengan suara yang lumayan keras, dan nyaring terdengar di kuping.


"Mblo, mblo, pagi-pagi udah ngedumel wae. Gimana lu bisa dapet jodoh, coba?!" terdengar suara dan langkah kaki yang mulai mendekat ke arahnya.


"Sebodo teing! Lu kemana aja sih? Gw udah stay dari jam 05.00 cuma buat nungguin kabar dari lu!" ya, orang yang datang itu adalah orang yang dia tunggu-tunggu dari tadi dan yang tak lain adalah Rosa sahabatnya.


"Santai woy, santai!"


"Gimana gw bisa santai, gw hampir mati penarasan gara-gara lo!" ketusnya


"Hilih, lebay beut" ledek Rosa kepada sahabatnya.


"Oneng, lu ngeselin amet sih!" ia mengacak rambut sahabatnya karena sudah terlalu kesal .


"Woy santai ngapa, rambut gw ih!"


"Bodo...."


"Serah lu dah! Btw, tumben amet lu ke Rumah Sakit sepagi ini? Gak kesurupan lu?" selidik Rosa, yang merasa aneh dengan sahabatnya itu. Biasanya Clara memang akan datang lebih lambat dari Rosa, entah karena alasan sibuk nyuci lah, masak lah, ataupun alasan yang lainnya. Berbeda dengan hari ini!


"Itu karena gw penasaran sama ucapan Mommy lu! Emang bener, kalau kemarin lu habis foto prewedd?" tanyanya dengan nada setengah berteriak karena sudah terlalu penasaran, tapi sialnya Rosa malah membekap mulutnya dengan jari jemarinya.


"Jangan berisik, duddulll! Nanti orang lain denger"


"Huiuiu, huiuiu, huiui"


"Eh buju busyet, gaje lu ah!" Clara hanya bisa menggerakkan matanya sembari memberikan kode kepada Rosa, untuk melepaskan tangan dia dari mulutnya.


"Ah, bilang dong!" karena paham dengan kode yang diberikan Clara, akhirnya dia melepaskan tangannya dan buru-buru melapnya dengan tissue.


"Mblegedesh, gimana gw mau bilang , lah lu nutup mulut gw oy!" ketusnya.


"Lah salah lu sendiri, bawel!" ucapnya dengan ekspresi watados (wajah tanpa dosa).


"Bodo! Udah ah, fokus ke pertanyaan gw yang tadi aja! Beneran lu mau nikah? Sama siapa? Kak Ryan? Ah, tapi gak mungkin!


"Apasih? Satu-satu dong! Lu kira gw punya seribu mulut buat ngejawab pertanyaan lu yang segudang itu, secara bersamaan?"


"Ah elu, gw serius! Lu mau nikah sama siapa? Emang ada yang mau?" tanya Clara tak percaya dengan berita.


"Lah si oneng, lu kira gw burik apa?! Gini gini gw tuh inceran couo couo kelles!" jawabnya dengan bangga.


"Iyya trus lu mau nikah sama siapa?!"


Iyyasih, lu cantik. Tapi sikap lu tuh, udah kek singa mau nerkam mangsanya. Apalagi tuh muka, udah kek seabad tinggal di kulkas. Mana ada cowok yang mau😒 Clara


"Si songong!" jawabnya singkat tapi menohok.


"Si songong? Si songong siapa sih?" Clara belum mengerti maksud perkataan Rosa.


"Cowok yang kita temui beberapa minggu yang lalu di kantor Daddy gw."


"What, Apppahhhhhh??!" Clara terlonjak kaget mendengarkannya "Lu serius?" tanyanya yang masih tidak percaya dengan kenyataan itu.


"Lu kira gw lagi ngelawak apa? Iya, gw serius marfuah!" Rosa mendengus kesal


"Tapi kok bisa?"


"Jadi gini.................." Rosa menceritakan semuanya kepada Clara.


Clara yang seperti tidak percaya pun kembali mencernah semuanya, sahabat di depannya itu tidak mungkin berbohong kepadanya kan? Tapi dia tau betul, bahwa wanita itu tidak menyukai Ghibran, lelaki yang akan menjadi suaminya itu. Lalu bagaimana bisa mereka menikah??


"Tapi dia punya kekasih kan? Kalau gak salah dia seorang penyanyi terkenal. Angel, ya namanya Angel. Katanya mereka dulu pernah satu sekolahan pas SMA."


Astaga, ternyata gw beneran kenal sama cewek biang kerok itu. Huft, dari dulu dia gak pernah berubah! Rosa


"Hu'um, kemarin gw juga sempat berdebat dengan cewek gila itu!" jawab Rosa, dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Apppah, lu perebutin pak Ghibran. Katanya lu gak suka, tapi kok malah ngerebutin dia!"

__ADS_1


"Eh gilak, gw kagak ngerebutin dodol! Gw cuma nyelamatin dia dari cewek crazy itu! Lu sebenarnya mau dengerin cerita gw, atau mau ngajak gw berdebat sih? Dasar bawel!😒😒" ketus Rosa.


"Ya maap, maap, lanjut! Trus gimana caranya lu bisa nerima pernikahan ini?"


"Gara-gara kalah balapan sama kak Ryan."


"Lah, kak Ryan kan cuma ngelamar lu! Bukan minta lu buat nikah sama orang lain!"


"Arghh, lu ini pinter-pinter oon! Yang bilang gw mau menikah karena kak Ryan yang nyuruh, siapa? Lu denger sendiri kan, gw ngomong apa waktu kak Ryan ngelamar gw?" jelas Rosa kepada Clara.


"Lu udah dijodohin"


"Nah tuh, tahu! Makanya gw nerima. Kak Ryan ngasih gw waktu, dalam seminggu gw harus ngasih dia undangan pernikahan, atau ngenalin dia sama calon gw"


"Ohhgitu toh! Beruntung amir lu dapetin pak Ghibran. Udah cakep, pinter, ahhh suami impian!" Clara memegang kedua pipinya, kembali mengingat lagi, bagaimana tampannya laki-laki itu. "Eh, tapi kak Ryan juga ganteng sih. Keliatannya juga dia mapan!" lanjutnya lagi.


"Lebay lu ah! Yaudah lu sama kak Ryan aja sono! Kayaknya kalian lebih cocok" Rosa menggoda sahabatnya itu, dan seketika itu wajah Clara langsung menjadi lesuh dan sendu. Ada beban dimatanya, ada sesuatu yang berusaha ia bendung.


"Maaf, Ra" Rosa memeluk tubuh sahabatnya itu, berusaha menenangkannya. Dia paham bagaimana perasaan gadis itu "Aku tidak bermaksud membuka luka lamamu, Ra" Rosa merasa bersalah karena telah mengganggu kisah Clara yang sudah berusaha ia kubur selama ini.


"Sudahlah, Ros. Jangan berlebihan, aku tidak apa-apa. Hanya saja hatiku belum siap mendengar semua itu. Hatiku belum siap menerima kehadiran orang baru, hatiku belum siap merasakan sakit dan kecewa yang sama. Aku masih sedikit trauma, Ros" Clara menghembuskan napasnya gusar, berusaha menenangkan hatinya yang sedang kacau.


"Maafkan aku, Ra." memeluk sahabatnya lebih erat, tidak ingin membiarkannya merasakan sakitnya sendiri "Gw yakin, suatu saat nanti lu pasti bakalan nemuin penggantinya. Tentunya, jauh lebih baik dari dia. Percayalah, semua akan indah pada waktunya."


Gw sendiri, belum bisa nerima kehadiran Ghibran, Ra. Meskipun gw gak pernah patah hati kayak lu, tapi gw tetap merasa takut jika nanti gw gagal dalam menjalin hubungan kami. Gw takut, jika nanti egoku akan menghancurkan rumah tanggaku. Rosa


"Entahlah, Ros. Semesta selalu berkata semua akan indah pada waktunya. Tapi aku sudah melewati separuh hidupku, tetap saja aku belum bisa menemukan titik terang dari sebuah kata bahagia." Clara kembali menghembuskan napasnya kasar, dan tersenyum simpul dengan mata yang mulai beranak sungai.


"Mungkin tidak sekarang, tapi percayalah suatu saat nanti. Jangan bersedih lagi, aku tidak ingin melihatmu seperti ini" Rosa terus menenangkan hati Clara.


***


Di tempat lain ada seorang laki-laki yang tampaknya sedang frustasi. Tapi entahlah, ada apa dengannya. Karena tidak ada yang bisa menebak sosok makhluk dingin yang satu ini. Sebelas, dua belas lah dengan calon istrinya itu.


[Hallo, sekarang kamu ke ruanganku] akhirnya dia menelpon seseorang, karena sudah tidak bisa mengendalikan perasaannya itu.


[Baik, Tuan. Saya akan segera ke sana] jawab seseorang yang ada di sebrang sana.


Tut...tut...tut..


Tanpa basa basi, akhirnya dia menutup telponnya.


"Permisi, Tuan." sapa orang itu.


"Duduklah, aku ingin mengatakan sesuatu" ujarnya dengan serius tanpa ingin membuang-buang waktu.


"Ada apa tuan? Apa perusahaan di Australi, belum membaik? Tapi tadi saya baca email dari orang kepercayaan kita disana, katanya semuanya sudah kembali normal. Atau Tuan ingin aku yang turun langsung menangani itu semua?" berbicara dengan trus menduga-duga alasan, CEO itu memanggilnya.


"Hey, tenang! Apa di kamusmu, hanya ada kata bekerja saja?! Ini tidak sepenting itu"


"Maaf, Tuan"


Lalu untuk apa kau memanggilku, jika penting Tuan Muda! Yhosi


"Hmm, sudahlah. Aku ingin kamu membereskan Angel! Lakukan apa saj, asalkan jangan menyakiti dia secara fisik! Peringatkan dia, agar tidak bermain-main denganku. Ataupun mengganggu calon istriku." ya, Yhosi sudah tahu tentang pernikahan Tuan Mudanya itu, dalam waktu dekat.


Wah, apa yang terjadi dengan Tuan muda? Tidak biasanya dia memanggil wanita itu calon istei, biasanya dia kan selalu menyebutnya preman bar-bar. Dan hey, apakah wanita gila itu telah membuat keributan besar? Yhosi


Yhosi hanya bisa menduga-duga semuanya, ia tidak berani bertanya, kepada Ghibran. Ya meskipun di luar kantor atau di luar jam kerja, mereka sangat dekat, tetap saja Yhosi berusaha menjaga jarak dan menghormati Tuan mudanya itu.


"Baik Tuan akan saya bereskan semuanya. Anda tidak perlu khawatir." ucapnya dengan mantap, yang akhirnya bisa membuat hati Ghibran sedikit merasa legah.


___


Sekarang waktu telah menunjukkan pukul 17.00, Rosa sudah bersiap dengan pakaiannya.


"Mom, Dad. Oca mau keluar bentar" teriaknya dari anak tangga, dan menghampiri orang tuanya.


"Mau balapan dong" jawabnya dengan wajah berseri-seri. Ya begitulah, Rosa. Dia paling bahgia ketika akan balapan. Bagi dia, dunia balapan itu sudah menjadi separuh napasnya.


"Sayang, beberapa hari lagi kamu akan menikah."


"Lah trus, kenapa Dad?"


"Sebaiknya kamu berhenti dari dunia balapmu itu. Nanti Ghibran dan keluarganya, gak suka liat kamu keluyuran kayak gini" jelas ayahnya.


"Ya sudah, batalkan saja pernikahannya" jawab Rosa santai.


Enak aja, belum jadi suami aja dia udah mau ngatur gw. Huft, pakai acara ngeracuni otak Daddy lagi. Dasar songong! Rosa

__ADS_1


"Hey, apa kamu bercanda? Undangan sudah hampir jadi, bahkan keluarga kita sudah banyak yang tahu kabar ini. Bagaimana bisa kita membatalkannya, Rosa!" ujar ayahnya lirih, tak percaya. Sedangkan mamanya, hanya diam dan memperhatikan perdebatan ayah dan anak itu.


"Kenapa gak mungkin, Dad? Lebih baik Rosa gak menikah sama dia, daripada harus mengorbankan duniaku!" akhirnya Rosa, meninggalkan ayah dan ibunya tanpa mencium tangan. Padahal tidak pernah sekalipun dia bersikap seperti itu kepada ayahnya. Dia sangat menghargai dan menghormati laki-laki itu. Tapi, jika sudah berbicara tentang hobby yang sudah seperti dunia untuknya, maka dia akan melakukan apapun.


Dia menaiki motor kesayangannya, yang baru ia beli beberapa minggu yang lalu dengan uangnya sendiri.


Sedangkan ayahnya yang merasa khawatir dengan dirinya, akhirnya memutuskan untuk smmengambil ponsel di kamarnya, lalu menelpon sebuah nomor di ponselnya.


[Bran, apa kamu sedang sibuk??] tanyanya, ketika orang itu telah menjawab panggilannya .


[Tidak, Om] jawab orang di seberang sana.


[Hmm, apa mau bisa minta tolong?]


[Why not? Mau minta tolong apa om?]


[Tolong kamu susul dan pantau Rosa, di arena balap]


[Baik, Om. Nanti Om kirim send alamatnya aja] mereka lalu mengakhiri panggilan itu.


Selang beberapa saat, akhirnya Ghibran sudah siap. Dan dia memutuskan untuk keluar dengan menggunakan sepeda motornya. Katanya sih, biar bisa lebih menikmati suasana malam.


Ghibran melajukan motornya dengan kecepatan sedang, menembus jalanan dengan kuda besinya itu sudah menjadi hobby tersembunyi untuknya.


Sekarang dia sudah sampai, di tempat yang telah Tuan Alkarna kirimkan kepada dirinya. Dia berjalanan, dengan begitu cool. Pakaian yang sedikit tertutup, serta masker dan kecamatan hitam yang menjadikannya tambah bersinar. Dia sengaja memakai semua itu agar penyamarannya tidak diketahui siapa-siapa, terutama orang yang sedang ia mata-matai itu.


Karena belum terlalu banyak penonton yang datang, akhirnya doa mengambil kursi paling depan. Beberapa saat lagi pertandingan akan dimulai. Para peserta sudah bersiap, serta mengecek kemanan motor mereka.


Semua penonton sudah memasuki, arena/panggung penonton. Semua orang tampak, terkesima dengan penampilan Rosa. Dia sudah seperti pembalap professional saja, padahal mereka hanya selalu balapan antar club.


"Widih, ternyata bukan cuma preman. Ternyata dia pembalap yang hebat. Asserr, jiwa balapku meronta-ronta." gumam Ghibran.


Setelah beberapa lap, akhirnya Rosa telah selesai balapan. Tapi semua mata masih terus, fokus memandanginya. Apalagi para kaum adam, sudah seperti ingin mengeluarkan ilernya saja. Dan Ghibran?? Tentu saja dia tidak suka melihat itu. Dia memperhatikan satu persatu mata laki-laki yang memandangi calon istrinya. Bukan pandangan kagum atau sejenisnya, tapi pandangan haus dan menjijikan yang mereka lontarkan. Mereka terpesona dengan tubuh Rosa, ideal menurut kebanyakan laki-laki.


"Cih, aku ingin sekali menghajar mereka!" gerutunya kesal, dan akhirnya kembali fokus memperhatikan Rosa dari jarak yang lumayan tidak dekat dalam kata lain jauh.


Ghibran melihat Rosa berjalan menghampiri sepasang kekasih, eh lebih tepatnya Ryan dan Clara.


"Aku seperti pernah melihat wanita itu" Ghibran kembali berusaha mengingat sebuah kenangan dirinya dan masa lalu, wkwkw gak ding.


Dia memperhatikan Rosa dan juga Ghibran terus menerus berusaha untuk menutup dirinya, agar tidak sampai ketahuan.


Bisa metong dia, ditangan Rosa


Ghibran melihat Rosa berbicara dengan mereka berdua. Rosa tampak begitu nyaman dan akrab dengan orang-orang itu. Tidak ada Rosa yang seperti selalu Ghibran lihat. Rosa tertawa dengan begitu santainya, bahkan terkadang memukul bahu salah satu dari dua orang itu. Rosa bersikap seperti orang-orang pada umumnya (Hey, Rosa kan memang manusia. Ghibran saja yang tidak tahu sisi Rosa yang satu ini😒).


"Ada apa ini? Kenapa dia begitu akrab dengan laki-laki itu. Hey, lepaskan tanganmu dari pundaknya. Atau aku akan mematahkan leher laki-laki itu." Ghibran terus menggerutu tidak jelas, seperti ada anggota tubuhnya yang terbakar di dalam sana, tapi dia tidak menyadarinya. "Hey laki-laki brengsek, jangan menyentuh wanitaku! Arghh, kenapa preman itu menjadi sangat manis di depan mereka. Dan sangat menyeramkan di depanku."


Ghibran sangat frustasi melihat Rosa, yang seperti tidak terganggu dengan orang-orang di sekitarna. Lagi pula untuk apa dia harus terganggu, toh mereka-mereka itu sudah seperti keluarga untuk Rosa. Setidaknya mereka telah merubah cara pandang Rosa, selama ini. Setidaknya mereka juga telah menciptakan senyuman-senyuman kecil dari bibirnya hanya selalu kering karena terlalu sering diam dan tak bicara.


Ada apa denganku, kenapa aku tidak menyukai dia seramah itu kepada laki-laki lain. Aku bisa gila dibuatnya!


Ghibran masih terus berdecak kesal, bingung harus berbuat apa. Dia ingin turun dan menjauhkan tunangannya dari laki-laki yang saat ini disamping Rosa, tapi dia tidak bisa. Bahkan dia ingin mencolok, semua mata yang memandang buas tunangannya itu.


"Arghhhh...." Ghibran menghembuskan napasnya kasar, dan mengacak rambut miliknya sendiri. Tengkuknya pun mulai mengeras, dan tangannya mulai mengepal. Dia sudah siap untuk memakan mangsanya. Emosinya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Dan akhirnya.....??????


Ghibran yang sudah habis kesabaran, akhirnya memutuskan untuk turun langsung ke dekat Rosa. Dia belum sampai di dekat Rosa, tapi laki-laki yang sempat membuat emosinya memuncak telah meninggalkan tempat itu sebelum bertemu dengan Ghibran.


Cih dasar, penakut!! Ghibran


Dia masih terus berjalan, sampai akhirnya sampa ke tempat Rosa dan teman-temannya.


"Sayang" sapanya sok ramah, dan melontarkan senyuman simpul ke teman-teman Rosa, yang akhirnya membuat para penonton wanita berteriak histeris karena melihat Ghibran yang sudah tidak memakai masker lagi. Laki-laki dengan tubuh ideal, wajah tampan, dan ditambah lagi dia adalah PENGUSAHA MUDA yang terkenal itu! Ahh, benar-benar ciptaan Tuhan yang hampir sempurna menurut mereka semua.


Tapi semua itu tidak berlaku untuk seorang Rosa, dia malah kaget sekaligus kesal karena laki-laki itu datang ke tempatnya.


"Ngapain lo di sini?" Rosa kembali memberikan tatapan tidak suka dengan wajahnya yang judes itu.


"Ya, buat liat kamu balapan lah. Memangnya buat apa lagi sih, Yank?" Ghibran merangkul pinggang Rosa, dan berhasil membuat orang itu merasa tidak nyaman. Bahkan laki-laki yang tadi memandangi Rosa pun, menjadi tidak suka dengan Ghibran.


"Apaan sih lu? Gak usah dekat-dekat, gw risih!" bisik Rosa di telinga Ghibran.


"Memangnya lu mau, semua laki-laki itu terus merhatiin lu dengan tatapan liar mereka?" balas Ghibran yang berhasil membuat Rosa bungkam.


Untung, di sini banyak orang. Kalau tidak..... Pasti udah gw kasih lu pelajaran! Rosa.


Ghibran merasa puas dengan kemenangan yang ia peroleh, lalu ia memperkenalkan dirinya sendiri kepada teman-teman Rosa. Bukan sebagai Pengusa terkenal itu ya! Tapi sebagai TUNANGAN Rosa! Sedangkan Rosa hanya terus memhujaminya dengan tatapan tidak suka, tapi dia tetap masa bodo dengan semua itu.


Entah apa yang terjadi padanya, bukankah dia tidak menyukai gadis itu? Bahkan, bukankah katanya dia membenci gadis itu? Lalu kenapa dia bersikapa seperti ini? Sudah seperti seseorang yang takut kehilangan kekasihnya yang sangat ia cintai!

__ADS_1


__ADS_2