
"Na lo kenapa sih kok pergi ninggalin kita tadi?"
"Lo marah ama kita-kita ya Na? kalau kita punya salah ama lo kita minta maaf." ucap Abibah kemudian di angguki Sisi dan Anjie.
"Gak kok, gue tu gak marah ama lo pada"
"Gue tu lagi males nih ketemu si cicak songong." ucapnya.
"Yaelah Na, kirain lo marah ama kita ternyata lo marah ama tu si Chakra." Abibah.
"Enaknya kita ngapain njirrr gue bosan nih" Anjie.
"Gimana kalau kita mabar gaes" usul Nana.
"Gila ya lo, hp gue aja di dalam tas terus masa gue harus ngambil ntar ga boleh keluar lagi." Sisi.
"Ah iya ya gue juga lupa hp gue kan juga di dalam kelas." ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka berempat pada bingung mereka bingung harus ngapain.
__ADS_1
"Percuma nih kalau bolos tapi kita-kita pada bosan semua" ucap Sisi mengeluh.
Tiba-tiba anak cowok yang tadi menghampiri mereka berdua sambil mengobrol sama mereka.
"Ngapain sih lo ke sini? ganggu tau!" ucap Nana sebal.
"Emangnya gaboleh? ini kan bukan tempat lo!" ucap Chakra bodo amat.
Sedangkan teman-temannya pada saling mengobrol sama cewek-cewek itu. Mahen dari tadi hanya melirik Abibah, sesekali dia tersenyum padanya. Abibah merasa bingung kenapa dari tadi Mahen melirik dirinya sambil tersenyum sendiri. Mahen itu berbeda sama teman-temannya dia itu cowok yang ramah pada siapapun tapi dia paling gak suka ama cewek-cewek genit apalagi yang ngejar-ngejar cowok.
Sedangkan Nana dan Chakra diem-dieman. Karena merasa canggung akhirnya Chakra memutuskan untuk berbasa-basi sama Nana agar tidak merasa canggung.
"Apa?" ketus.
"Gak jadi" ujar Chakra kemudian meninggalkan Nana sendirian di situ.
"Dih... dasar orang sinting lo!!" ucapnya keras sehingga masih bisa di dengarkan oleh Chakra, dia hanya diam sambil berjalan berkumpul teman-temannya.
Tiba-tiba langit mendung menandakan akan turun hujan, sedangkan Nana hanya berdiri sendiri di pojok atap sambil sesekali melamun mengingat kejadian temannya yang sudah lama meninggal karena ulah preman-preman itu. Apalagi pas kejadian itu dia melihat langsung di bawah hujan rintikan hujan. Nana pun meneteskan air matanya karena mengingat kejadian itu.
__ADS_1
Dia tidak menyadari kalau langit mendung dan terjadilah turun hujan sangat deras sekali, tapi Nana masih diam membisu.
Dari tadi temannya sudah meneriaki Nana yang sedang kehujanan, tapi Nana belum juga berteduh.
"Na... jangan hujan-hujanan dong!! ntar kamu sakit Na" teriaknya dan akan menyusul Nana. Tapi dia keburu di cegah Mahen.
"Jangan nekat, ntar kamu sakit."
"Kalau lo gak mau dia kenapa-kenapa jangan sesekali membuat dirimu kenapa-napa." ujarnya pada Abibah sedangkan Abibah masih cemas dengan keadaan Nana.
"Bodoh sekali!" ucap Chakra dalam hati sambil berlari menuju tempat Nana. Teman-temannya pada melongo tidak percaya melihat Chakra nekat di bawah hujan yang sangat deras demi menghampiri Nana.
"Lo jangan gila dong jadi orang!! udah tau hujan masih berdiri ngelamun disitu" teriaknya terdengar samar-samar karena suaranya terhalang suara hujan yang cukup deras.
"Kenapa lo mau nolongin gue hah?" tanya Nana.
"Gue gak mau lo kenapa-napa, dan gue kesini karena kasihan melihat teman lo mencemaskan lo dari tadi.
Nana hanya diam tidak menanggapinya sambil menangis sejadi-jadinya dan memukul dada Chakra. Chakra membiarkannya dia memukul dirinya agar Nana bisa menumpahkan isi hatinya. Chakra yang melihat Nana menangis terisak-isak sambil memukul dadanya seketika hatinya terenyuh dan merasa iba. Dan baru kali ini dia melihat seorang Nana menangis.
__ADS_1