
Sekarang Nana berada di dalam kelasnya. Dia sedang duduk di bangku sambil memainkan ponselnya dan sekali-kali dia teriak-teriak. Dia sedang memainkan game ML tapi dia sama sekali tidak fokus memainkan nya, karena pikirannya sedang kacau entah lagi mikirin apa.
"Bhangsattt... kalah kan njirrr!! padahal tinggal sedikit lagi menang" teriak nya sambil membanting ponselnya di atas meja cukup keras. Untung saja nggak pecah ponselnya Kan sayang kalau pecah, harganya juga mahal.
"Hufffft... bikin kesel gue! gamenya kentang" ujar nya lagi dan langsung memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
Teman-temannya yang sedari tadi melihat Nana kesal pun langsung menghampiri nya sambil berkata "woyy! lo kenapa sih dari tadi kelihatannya kayak kesal amat dari tadi?" ujar Abibah sambil menepuk bahu Nana. Setelah itu mereka duduk di bangku nya masing-masing sambil mengobrol. Karena tempat duduk mereka berdekatan depan belakang. Nana dan Abibah di depan tapi di bagian tengah terus Anjie dan Sisi di belakang mereka berdua. Kecuali Anjie dia sekarang malah duduk di atas meja. Emang kebiasaan dari dulu Anjie tuh suka duduk di atas meja. Kadang dia juga naik di atap genting sekolah menghindari keramaian.
"Gue kesel nih gaes" katanya sambil mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
"Kesel napa loh? gak kayak biasanya lo se kesel ini." kata Sisi sambil mengunyah jajan yang dia pegang sekarang dan hampir tersedak.
"Gue kalah main Mobile Legend (ML) an njirr! padahal kan cuman sedikit lagi gue menang. Eh malah kalah gue nya" ujar nya kesal sambil memukul-mukul meja.
"Bukannya biasanya lo menang terus kalo main? kan lo paling jago banget mainnya. Kenapa sekarang tiba-tiba kalah?" Anjie penasaran.
"Gak nyangka gue na, ternyata lo bisa kalah juga bwahahaha" ujar Anjie lagi sambil tertawa terbahak-bahak hampir aja dia mau jatuh tuh dari meja.
"Tau ah pusing gue" balasnya sambil beranjak dari tempat duduk tapi Abibah buru-buru mencegahnya.
"Eh lo mau kemana sih na?" tanyanya penasaran sambil memegang tangan Nana agar tidak pergi.
"Gue mau keluar bentar. Jenuh gue di kelas mulu." ujar nya malas.
__ADS_1
"Gue ikut ya na" sahut Abibah dan teman-temannya bersama. Tapi langsung di tolak Nana karena dia pengen sendiri dulu.
"Nggak usah lah bah, gue lagi pengen sendiri dulu" ujar nya. Karena Nana bersikukuh tidak mau di temani, temannya pun membiarkan Nana pergi sendirian. Karena mereka tahu kalau dia berperilaku seperti itu pasti dia ada masalah, makanya temannya pun membiarkan dirinya agar sendiri dulu.
"Eh tumben ya Nana gak seceria kayak biasanya" kata Anjie penasaran sama tu bocah satu.
"Tau tuh, biasanya kan dia ngomel-ngomel ga jelas terus tertawa sendiri pula" ujar Sisi masih setia ngemil jajan.
"Dari pada lo! makan mulu kerjaannya tapi gak gemuk-gemuk tuh" kata Abibah sambil menonyor kepala Sisi. "Bagi napa si? jangan makan sendiri" katanya lagi.
"Beli aja sendiri weekkk" ejek nya sambil menjulurkan lidah.
"Dasar pelit!! awas aja ntar kuburan lo sempit kalo pelit-pelit sama temen sendiri" ujar Abibah ngelantur.
Nana berjalan keluar menuju lapangan sekolah sambil nyanyi-nyanyi gak jelas. Karena dia merasa capek, akhirnya dia memutuskan untuk duduk sebentar di bawah pepohonan di samping lapangan itu sambil memejamkan matanya. Saat enak-enak nya tiduran di bawah pepohonan itu dia tidak sengaja mendengar pembicaraan antara seorang guru dengan muridnya.
"Iya pak, ada apa?" tanyanya.
"Bapak titip jurnal siswa ke kamu dulu ya nak, bapak mau ke toilet sebentar." ujar nya sambil menyerahkan jurnal kesiswaan itu kepada Chakra.
"Iya pak" balasnya sambil memegang jurnal yang tadi di titipkan oleh gurunya itu. Sedangkan gurunya sudah pergi dari tadi.
Nana yang mendengar pembicaraan tadi pun sekarang tengah memikirkan cara, cara bagaimana mengerjai si Chakra karena kemarin dia sudah membuat dirinya sangat kesal. Tak menunggu beberapa menit kemudian dia telah menemukan ide gimana caranya mengerjai si cicak songong itu. Dia pun menghampiri Chakra yang kelihatannya sedang duduk-duduk sambil memandang ke atas langit.
__ADS_1
"Woyy!! ngapain lo disini? diem-diem wae." ujar nya basa-basi sambil tangannya mengambil jurnal itu dan dia sengaja menaruhnya di tanah yang becek habis kena hujan tadi malam. Dan dia melakukan itu semua secara diam-diam sambil basa-basi sedikit lah.
"Harusnya gue lah yang nanya. Lo ngapain disini coba?" tanyanya balik.
"Suka-suka gue dong!! emang ini lapangan punya nenek moyang lo!" balasnya sambil ngegas gak santuy dianya mah.
"Santuy aja kali, gausah ngegas gitu" balasnya ketus tapi Nana bodo amat.
"Nih cewek kayaknya otak nya lagi geser deh? perasaan tadi nanya, eh gue nanya balik dia nya malah ngegas. "Dasar cewek aneh!" batinnya dalam hati sambil geleng-geleng sendiri.
"Terus lo napa geleng-geleng sendiri coba? udah gak waras ya lo?" katanya lalu bergidik ngeri melihat tingkah Chakra yang geleng-geleng sendiri.
"Serah" balasnya ketus setelah itu memandang ke atas langit lagi.
Karena mereka saling diam-diaman dan tidak ada yang saling bicara, kemudian Nana memandang lurus ke depan dan matanya tak sengaja melihat guru yang tadi menitipkan barang ke Chakra berjalan menuju tempatnya yang terlihat dari kejauhan. Nana pun memutuskan untuk pergi sebelum ketauhan siapa yang melakukan itu semua. Dia pun pergi menuju kelasnya sambil berlari tanpa berpamitan dengan Chakra. Chakra yang melihatnya pun hanya biasa aja dan sama sekali tidak peduli padanya.
Sesampainya di depan kelas Nana berhenti sambil ngos-ngosan sambil berkata "Syukirin lo, biar tau rasa kena marah ama tu guru bwahahaha... tunggu mainnya ntar gimana" katanya sambil tertawa tapi nafasnya masih ngos-ngosan. Sedangkan yang di omongin oleh Nana sedang di marahin oleh gurunya itu karena dia telah lalai menjaga barang yang telah ditipkan kepadanya.
"Chakra!! kamu gimana sih kok bisa seperti ini? kan bapak sudah menitipkan ke kamu, dan itu sudah jadi tanggung jawab kamu untuk menjaganya. Seharusnya kamu menjaganya bukannya malah jadi seperti ini." menasehati Chakra dengan nada sangat marah. Chakra bingung harus jawab apa, sedangkan dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Tapi pak..." katanya mau menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi langsung di potong oleh gurunya itu. "Nggak ada tapi-tapian! sekarang juga kamu ke tempat fotocopy an dan bawa jurnal ini biar di print lagi" jelasnya pada Chakra sambil mengeluarkan selembar uang dan di berikan ke Chakra.
"Ini uang nya, kalau dapat kembalian kamu ambil saja" ujar nya sambil menyerahkan selembar uang ribuan. Setelah itu dia berjalan meninggalkan Chakra sendirian di situ.
__ADS_1
"Iya pak terimakasih" balasnya kemudian berjalan menuju ke tempat fotocopy an sambil ngedumel sendiri.
"Ini semua pasti kerjaannya Nana. Awas aja ya lo, ntar gue balas perbuatan lo!!" batinnya dalam hati.