
Sedangkan Nana sekarang sudah berada di depan kelasnya sambil tertawa sendiri lalu dia pun memutuskan masuk ke dalam kelasnya sambil tertawa dan senyam-senyum sendiri. Temannya pada heran melihat dirinya seperti itu. Mereka yang melihat dirinya hanya bisa melongo sambil bertanya-tanya kenapa temannya yang satu ini kayak orang gila senyum-senyum sendiri.
Nana pun langsung duduk di bangkunya masih dengan keadaan senyum-senyum sendiri. Setelah itu dia pun langsung menyenderkan kepalanya di meja. Lalu dia pun tidur. Dia tak mempedulikan temannya yang sedari tadi menatapnya bingung.
"Lah ni anak kenapa malah molor sih? Woyyy bangun na… " kata Anjie sambil menepuk badannya agar bangun. Tapi Nana tidak peduli dia masih tetap tidur. Sebenarnya dia tidak tidur tapi dia lagi males berdebat aja.
"Bangun napa! nggak usah pura-pura tidur lo. Gue tau kok lo belum tidur lo cuma pura-pura tidur kan?" ujar Anjie sambil menggelitik perutnya. Nana pun seketika bangun karena dia merasa geli.
"Apaan sih!! geli tau njingg… "katanya kesal sambil memegang perutnya karena habis digelitik Anjie.
"Makanya gausah pura-pura tidur lo" ujar Anjie langsung menonyor muka gue.
"Apaan sih kalian ini! bertengkar mulu kalian kerjaannya. Jadi males gue dengarnya" jengah melihat kedua temannya itu yang selalu bikin ribut.
"Terus lo kenapa sih na? kok hari ini aneh banget sejak tadi lo keluar kelas. Lah terus kenapa sekarang malah senyam-senyum sendiri dari tadi?." ujar Abibah lagi sambil menatap dirinya penuh selidik. Anjie dan Sisi pun juga menatap dirinya "na lo masih waras kan?" katanya sambil memegang pipiku lalu mereka juga menepuk-nepuk pipiku.
"Apaan sih! aku tu masih waras ya!!" ujar Nana pada ketiga temannya itu.
"Terus apa yang udah MERASUKI DIRIMU kenapa lo dari tadi senyam-senyum sendiri kalau lo masih waras?" ujar Anjie menekankan kata merasuki dirimu sambil teriak yang kemudian seisi kelasnya pada nyanyi "entah apa yang merasuki mu hingga kau tega mengkhianati ku yang tulus mencintaimu" nyanyian mereka sampai-sampai kelasnya ricuh karena perbuatan mereka yang ga ada akhlaknya sama sekali. Wajar karena kelasnya gak ada guru yang mengajar. Jadi mereka lebih leluasa mau ngapa-ngapain aja tidak ada yang marahin mereka.
"Gak gak gak" backsound Bisma dengan memperagakan suara burung gagak sambil joget-joget nggak jelas.
"Tak dum dum dum tak tak tak jreng" suara gendangan yang berasal dari meja Rahmat si kutu buku. Aslinya mah dia orangnya super kocak.
Sedangkan Dion hanya joget-joget sambil naik ke meja dan berseru "terosss bang di goyang bang…" Nana dan ketiga temannya hanya ikut-ikutan saja karena mereka pada nggak tau kalau masalah joget-jogetan kayak gitu. Soalnya jiwa-jiwa mereka jiwa yang suka bikin onar alias rusuh.
Saat mereka lagi enak-enaknya pada joget-joget.
Tiba-tiba…
Ada yang membuka pintu kelas mereka, seketika mereka semua pun pada lari-larian duduk ke bangkunya masing-masing sambil membuka bukunya asal-asalan. Mereka kira yang datang adalah gurunya eh dugaan mereka ternyata salah.
"Assalamu'alaikum" salam orang itu yang tak lain ialah Chakra.
"Wa'alaikumsalam" balas seisi kelas dengan kompak.
__ADS_1
"Lah kenapa pada diem, kenapa nggak dilanjutin aja?" ujar Chakra dengan tampang ketusnya. Mereka semua hanya diam nggak ada yang pada mau jawab. Karena mereka semua sudah tahu kalau Chakra itu orangnya kayak gimana. Tapi tak dengan Nana dia sangat berani melawan Chakra. Dia pun langsung membuka suara.
"Ada apa sih cak? ganggu orang lagi enak-enakkan aja!" ujar Nana kesal pada Chakra yang sudah mengganggu kesenangannya.
"Gak papa" katanya ketus.
Nana pun yang mendengar jawaban Chakra langsung marah-marah "dasar sinting lo" ujar nya sambil mengepalkan tangannya mau memukul Chakra tapi cepat-cepat di cegah oleh Abibah.
"Eh ada apa sih chak, kok lo ke kelas kita?" ujar Abibah yang menenangkan keadaan biar tidak semakin runyam urusannya. Tapi Chakra masih diam tidak menjawab pertanyaan Abibah.
"Tau tuh nggak jelas emang dianya" kata Nana masih kesal sama Chakra.
"Kayaknya gue harus kasih ini anak pelajaran deh, biar dia nggak ngelunjak lagi" batinnya dalam hati sambil memikirkan cara gimana caranya mengerjai dia.
"Emm… anu na, tadi gue kesini karena disuruh sama Pak Jamaludin untuk manggil lo, lo di suruh bawa laptopnya ke kelas samping." ujar nya boong. Sebenarnya dia nggak mau tuh boong tapi gimana lagi dia sangat geram terhadap Nana bisa-bisanya dia mengerjai nya dengan cara seperti itu.
"Kenapa nggak lo aja yang bawain tu laptop? kenapa harus gue?" tanyanya ke Chakra tanpa rasa curiga sama sekali.
"Karena Pak Jamaludin sekalian mau bicara sama lo" ujar nya lagi. Sebenarnya dia emang tadi di suruh pak Jamaludin membawakan laptopnya ke kelas samping tapi pas lewat kelas Nana dia mendengarkan suara ricuh anak-anak yang sedang nyanyi-nyanyi. Dia pun memutuskan untuk masuk ke kelas itu.
"Udahlah na, lo cepat gih bawa tu laptopnya Pak Jamaludin ke kelas samping, daripada ntar dia marah lagi sama lo." ujar Abibah.
"Hem... yaudah deh gue cabut dulu gaess" katanya sambil berjalan menuju pintu kelas meninggalkan kelasnya. Dia pun langsung menuju ke ruang guru mengambil laptop gurunya setelah itu dia pun berjalan lagi menuju kelas yang di ajar oleh gurunya itu.
"Assalamu'alaikum" salam nya sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam" jawab seisi kelas itu kompak.
"Silahkan masuk" mempersilahkan Nana agar masuk.
Nana pun masuk ke kelas itu sambil berbicara "maaf pak, ini laptopnya. Apakah masih ada yang bapak tanyakan ke saya" ujar Nana sambil menyerahkan laptop itu ke gurunya.
"Lah kok tumben kamu mau bawa laptop saya? bukannya kalau ketemu saya kamu selalu menghindar ya? terus Chakra nya mana kok nggak ada malah kamu yang bawa ini laptop" kata Pak Jamaludin panjang lebar sambil mencari-cari Chakra. Seisi kelas itu hanya diam sambil menatap dirinya lekat-lekat.
"Emm… maksudnya pak?" tanya Nana sama sekali nggak ngerti.
__ADS_1
"Lo kamu nggak tau ta? tadi saya tu nyuruh Chakra bawain ni laptop sekalian dia mau ke toilet." jelasnya.
"Eh tau-taunya malah kamu yang bawain laptop saya kesini" ujar Pak Jamaludin lagi.
"Sittt dah tenyata dia ganti balas ke gue ni ceritanya" batinnya dalam hati sambil tangganya memukul meja gurunya.
"Kenapa na? apa kamu baik-baik saja?" tanya Pak Jamaludin.
"Nggak papa kok pak, saya pergi dulu" ujar nya.
"Eh iya na terimakasih sudah bawa laptop bapak. "Sering-sering lah kayak gini" balasnya sambil tertawa kecil.
"Iya pak, saya permisi dulu" balasnya kemudian dia melangkah keluar dari kelas itu sambil mengumpat-umpat.
"Ini ceritanya senjata makan tuan njirrr…" teriak nya cukup keras. Chakra yang sedari tadi melihatnya pun hanya cekikikan sendiri dan langsung menghampiri Nana dengan berlagak tidak tahu.
"Hei!! kenapa marah-marah coba? ntar cepat tua loh" ejeknya.
"Ini semua gara-gara kamu tau. Gua jadi malu kan" balasnya marah.
"Ya habis siapa suruh coba ngerjain duluan?" jawabnya.
"Ya terserah gue lah" balasnya tenang.
"Serah lo, gue males nanggepin orang ga jelas kayak lo" cuek.
"Lo itu kenapa sih sama cewek sifatnya dingin banget!! apa jangan-jangan lo itu anti cewek?" tanya Nana.
Bukannya merespon ucapan Nana. Dia malah sengaja menabrak bahu Nana saat mau pergi dari sana.
"CHAKRA.... GUE SUMPAH IN LO NGGAK DAPAT JODOH" teriak Nana kearah Chakra yang belum terlalu jauh dari hadapannya.
"Apa lo bilang? nggak dapat jodoh?" tanya Chakra yang kini sudah berbalik arah menghadap Nana.
"Iya, mampus lo" balasnya.
__ADS_1
"Oke, kalau gue gak dapat jodoh lo aja yang jadi jodoh gue Takatou Hinata" jawabnya enteng.
"Jangan mimpi lo" teriak Nana di hadapan Chakra dan langsung pergi begitu saja menuju kelasnya. Dengan keadaan yang masih kesal pastinya.