
Ketika Nana memasuki ruang kelasnya dia tidak sengaja melihat secarik kertas yang bertuliskan untuk Nana. Tanpa pikir panjang Nana membuka secarik lembar kertas tanpa ragu.
Nana membaca isi dan mencernanya, dia kaget bahwa kertas itu berisi ancaman agar Nana mau memberikan uang sejumlah lima puluh juta jika dia tidak mentransfer uang sejumlah itu dia bakal menanggung resiko apalagi resikonya dia bakalan kehilangan kedua orangtuanya.
Dia mikir darimana juga mendapatkan uang lima puluh juta, dia aja dikasih uang jajan ga sampai sebanyak itu.
Tanpa pikir panjang Nana menelepon nomor yang tertera di kertas mungkin itu orang yang mengancam dirinya.
tut tut tut ( suara ponsel berbunyi) tak lama kemudian si lawan penelpon angkat bicara
"Halo" suara lawan bicara dengan suara yang agak berat seperti orang yang habis minum-minuman keras
"Maksut lo apa suruh gue transfer uang seratus juta hah! uang darimana coba?" dia gak habis pikir bisa-bisanya dia harus transfer uang sebanyak itu .
"Tenang-tenang "
"Gue gak bisa tenang bego, cepat jelasin" dirinya kesal dengan lawan bicaranya udah tahu dia di ancam olehnya eh malah di suruh tenang. Tenang darimana nya coba.
"Ya tenang dulu la neng, kan bisa di bicarakan baik-baik ya kan bro" terdengar si lawan bicara sedang bicara dengan temannya
"Wah ni orang ngajak ribut ya? sini lo kalau berani gausah berani doang di balik layar ponsel" menantang si penjahat itu tapi tak lama suara ponselnya terputus mungkin sudah di matikan oleh penjahat itu
"eh kenapa lo na?" Abibah yang mengetahui dirinya sedang kesal di balik ponsel genggam nya.
"Gue di suruh transfer uang njir sama orang gak jelas"
"Lah emang lo utang sama mereka"
__ADS_1
"Ya ga lah, gue mana pernah utang sama orang"
"La terus ngapain lo suruh transfer dong kalau lo gak utang? jadi bingung gue" kebingungan
"Gue di ancam anjir sama orang"
"Hah? sama orang?? siapa yang berani-beraninya ngancam sahabat gue, gue samperin tu bocah gue becek-becek biar kapok" Anjie yang saat itu baru masuk ke kelas mendengar Nana sedang di ancam sama orang yang gak di kenal merasa murka.
"Lo tahu gak siapa orangnya?"
"Ya gak tau lah, kalau gue tahu gue pasti udah nyamperin mereka dari tadi" heran dia kenapa pertanyaan sahabatnya random sekali.
"Gimana kalau kita pancing mereka dengan pura-pura kasih tu orang uang sebesar yang mereka minta terus kalau mereka sudah menerima, barulah kita beraksi." ide itu tiba-tiba terlintas dari kepala Anjie tanpa beban. "Gimana Na lo setuju ga?" meyakinkan sahabatnya namun Nana malah melamun mungkin dia juga memikirkan ide lain yang lebih masuk akal darinya.
"Kalau gue sih setuju sama pendapat Anjie, kalau lo gimana na?" bertanya pada Nana namun yang ditanya malah melamun.
"kepo lo" mengusili sisi
"Apa sih nji" cemberut
"Gausah cemberut kali si jelek tau muka lu kek orang kurang makan" celotehnya
"Siapa juga yang cemberut gue gak kali"
"Lah gue gak bilang elo tuh Geer ya lo, cie sisi geer sama gue wkwkwk"
"Awas ya lu gue timpuk lu pake batako"
__ADS_1
"Emang kuat lo pegang batako? kerjaan lo aja cuma makan"
"Ya kuat lah emang kaya lo" tak mau kalah
"Gimana coba praktekin dong pen tahu gue? palingan juga lo nangis haha" masih belum puas menjahili sisi
Kriiing Kriing Kring (bunyi ponsel berdering)
"Eh na ponsel lo bunyi tuh buruan angkat "
"Ah iya" lamunannya seketika buyar dan dia langsung mengangkat ponsel.
"Ada apa lo telepon gue lagi hah?" bentaknya kepada orang yang sedang ia telepon
"Santai dulu lah neng jangan marah-marah"
"Gue gak bisa santai anjir cepat lah gue gak mau basa-basi sama lo"
"Wah jaman sekarang anak kecil pada gak sopan ya sama orang tua"
"Sini na biar gue yang bicara sama mereka" menarik ponsel dari genggaman Nana dan mengoper ke dirinya. "Apa lo kalau berani gausah di balik layar ponsel kali, kalau lo gak mau di anggap pecundang lo harus temuin gue di gang X nanti siang jam 11 kalau lo gak berani yah itu sih terserah kalian ya ... gue mah biasa"
"Oke siapa takut" si penjahat itu menyetujui permintaan Anjie setelah itu langsung mematikan ponselnya.
"Nah gini kan beres, tenang na lo gausah khawatir mereka tu cuma ngancam lo doang dengan emeng-emeng suruh transfer uang." jelas Anjie meyakinkan Nana agar tidak larut dalam kelicikan mereka.
Dan bel masuk pun berbunyi
__ADS_1