
Dengan rasa penasaran yang sangat membuncah di pikirannya, perlahan Abibah membuka amplop yang berisi surat itu. Yang memang tadi di taruh dalam kolong mejanya. Lalu Abibah sedikit demi sedikit perlahan mulai membacanya.
Untukmu yang ku rindukan
sahabat kecilku dulu
Selamat pagi Abibah. Maaf, aku terpaksa membuat surat ini untukmu. Aku sangat-sangatlah merindukan sosok dirimu yang selalu ada di sampingku. Aku tahu, dulu aku memang terlalu egois tiba-tiba meninggalkan dirimu sendirian di kota ini. Tapi apa dayaku aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak mau kalau kamu cuma berteman denganku saja, karena aku tahu itu akan membuat mu tidak punya teman di kemudian hari. Aku ingin kamu bisa berteman dengan siapa saja bukan hanya aku. Hanya itu saja alasanku mengapa aku meninggalkan dirimu dulu. Sekali lagi aku minta maaf bah. Aku harap kamu bisa memaafkan diriku.
Oh ya Abibah, aku sudah kembali dan satu lagi aku juga satu sekolah dengan mu. Aku senang bisa satu sekolah dengan mu. Aku harap nanti kita bisa bertemu lagi.
Sampai di sini saja isi surat dari ku. Kalau kamu ingin menghubungi aku di nomor yang aku chat kemarin ya... aku tunggu balasan chat dari kamu.
Salam dariku Rein
Sahabat kecilmu dulu
Abibah pun melipat surat itu kembali ke dalam amplop itu sambil menyeka air matanya yang sekarang telah membanjiri kedua pipinya. "Siapa sih sebenarnya Rein itu? terus kenapa gue nggak tau kalau dia juga sekolah di sini, kenapa coba dia nggak bilang dari dulu? apa salahku hah! kenapa dia tega banget ngelakuin ini semua" dia bertanya-tanya dalam hati sambil tangannya meremas amplop itu. Sekarang amplopnya sudah lecek karena di remas-remas oleh Abibah.
Nana pun bingung dengan keadaan Abibah yang sekarang ini. Lalu dia pun berusaha untuk menghibur temannya itu agar tidak larut dalam kesedihan.
"Bah, udah lah bah, jangan nangis terus!. Aku jadi sedih nih lihat nya" ujar nya sambil menghibur hati Abibah. Sedangkan yang dihibur hanya diam saja sambil menangis sejadi-jadinya. Dia bingung harus ngapain, dia aja nggak tau mesti gimana lagi cara mengehibur Abibah agar berhenti menangis.
"Huhuhu kenapa dia tega ninggalin aku dulu cuma gara-gara biar aku dapet teman yang banyak? padahal kan aku udah nyaman banget sama dia" katanya sambil menangis terisak-isak.
"Bah udah bah, nggak usah di tangisi lagi. Yang lalu biarlah berlalu" ujar nya masih menenangkan hati Abibah sembari menepuk-nepuk babunya. Meskipun di dalam hatinya ia merasa bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
"Tapi na... " sergah nya dengan keadaan masih menangis terisak-isak.
"Yang diucapkan Rein itu ada benarnya juga bah, agar lo bisa berteman dengan siapa saja bukan cuman dia saja. Kalau di nggak ngelakuin ini semua, dia selamanya bakal merasa bersalah sama lo." jelasnya panjang lebar agar Abibah bisa mengerti.
"Kenapa lo jadi belain dia sih na! sebenarnya teman lo itu siapa sih?" balasnya tak suka kalau dia lebih ngebelain dia bukannya ngebelain dirinya.
"Haduh, kenapa jadi runyam gini sih urusannya? jadi merasa bersalah gue" ujar nya dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Na, pikirin dong jalan keluarnya. Gue bingung nih mesti gimana? " tanyanya. Nana pun langsung memikirkan jalan keluar masalah ini.
"Oh ya bah, katanya tadi isi surat nya bukannya dia bilang jika dia sekolah di sini ya?" katanya. Kemudian Abibah pun menyeka air matanya.
"Eh benar juga ya lo na, tapi kok gue gak pernah lihat dia ya? "tanyanya yang sudah tidak menangis lagi. "Gue bingung na, kenapa kalau dia juga sekolah di sini ngapain dia nggak nyamperin gue coba" tanyanya lagi.
"Ya mungkin lo nya aja yang gak tau dia. Lagian kan kalian udah lama gak ketemu, jadi mana mungkin lo ingat dia. Mungkin juga dia malu kalau ketemu sama lo" balasnya santai.
"Udahlah bah, gak usah terlalu dipikirin.
Em mending gini aja, kita cari tuh seluruh sekolah ini yang namanya Rein, siapa tau ada terus kenal gitu sama tuh bocah" sarannya agar Abibah tidak sedih mulu. Dia jadi ikut sedih kalau melihat temannya seperti itu, apalagi dia tuh orangnya nggak tega an.
"Iya na, makasih yah udah mau menghibur gue dan bantuin cari siapa sebenarnya Rein itu." balasnya senang.
"Lah, gue kan belum nyari tuh bocah! kenapa lo bilang makasih sama gue coba?" tanyanya sambil garuk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal.
"Jadi lo gak mau gue ucapin makasih nih?" balasnya sambil ngambek.
__ADS_1
"Bwahaha ya maulah... utututu jan ngambek gitu dong bah jelek tau" candanya lalu mereka berdua pun pada tertawa. "Gini dong bah, tertawa jangan nangis mulu! lo kalau nangis gak pantes tau" katanya lagi sambil tertawa.
Mereka tidak tahu kalau sedari tadi mereka sedang dipantau dari arah kejauhan sana sambil memukul-mukul batang pohon mangga yang berada di dekat kelasnya. Ya dia seorang cowok salah satu dari temannya Chakra.
Tiba-tiba...
"Woy!! pada ngapain nih kalian berdua? kok kelihatannya pada sedih?" tanya Abibah tangannya sambil membawa sekantong makanan yang tadi dia beli di kantin.
"Kepo amat sih lo njing jadi orang" balas Sisi sambil mengunyah jajan.
"Yee biarin napa, suka-suka gue lah mulut-mulut gue napa lo yang sewot sih!!"
"Lagian yang ditanyain gak masalah tuh" katanya sebel.
"Udah deh kalian berdua apa-apaan sih, mana nih pesanan gue tadi? nih perut dari tadi dah lapar" ujar Nana membuyarkan pertengkaran antara mulut dengan mulut sambil memegangi perutnya yang terasa lapar.
"Lo masih punya kedua tangan yang lengkap kan?, jadi noh! ambil sendiri tuh makanannya. balasnya masih kesal sama Sisi. Sedangkan Sisi hanya cengar-cengir gak jelas sambil mengunyah jajan.
"Loh kok gitu sih bicaranya sama ndoro ratu? saya ini ndoro ratu loh, tidak sopan kalau kamu bicara kasar sama ndoro ratu. Tolong sekali lagi diulangi lagi bicaranya" balasnya dengan nada yang amat-amat kalem sekali.
"Njeh ndoro ratu, niki sampun kulo siapaken dhahar nipun, monggo saestu di pun cobi rumiyin" balasnya dengan pengucapan basa jawa. Lalu di ucapkan dengan selembut mungkin.
"Njeh, matur nuwun" balasnya sambil cekikikan sendiri karena sudah berhasil membuat Anjie mematuhi perintahnya.
"Puas kan lo sekarang" balasnya semakin tambah kesal.
__ADS_1
"Hehehe puas kok njing, sangat puas gue" balasnya sambil melahap makanan ke dalam mulutnya, tak ketinggalan Abibah pun juga sama. "Gue puas ngerjain lo!" batinnya dalam hati senang bisa mengerjai si Anjie.