
Kini Nana sudah berada di dalam rumahnya dan dia tidak lupa mengambil kotak P3K untuk mengobati luka yang ada di pipinya tadi. Nana pun berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa.
Saat dia tengah asik mengobati lukanya, mama dan papanya berjalan kearahnya menghampiri dirinya dan ikut duduk disebelah Nana. Nana yang mengetahui mama papanya pun kaget dia cepat-cepat menyembunyikan kotak P3K itu di belakang badannya tidak lupa dia juga menutupi pipinya dengan tisu basah. Dia takut kalau orang tuanya tahu jika dia berantem lagi pasti bakal dimarahin.
"Lagi ngapain sayang, kok kayaknya kamu lagi asik sendiri sampai-sampai mama sama papa datang nggak di sapa?" tanya Sousi.
"Eh ada mama sama papa to" pura-pura tidak menyadari kedatangan kedua orang tuanya.
"Ditanya kok malah ganti nanya sih anak ini" kata mamanya geram melihat tingkah anak satu-satunya yang selalu bikin masalah.
"Hehehe maaf ma" nyengir.
"Itu kenapa pipi ditempeli pakai tisu basah coba? apa bagusnya heh!" tanya Anggelina sambil menunjuk sebelah pipinya yang ada tempelan tisu basah.
"A A A nu itu ma" terbata-bata.
"Anu apa? jangan anu anu kalau ditanya itu" memarahi anaknya.
"Enggak kok ma, ini tu gaya terbaru anak jaman sekarang ma, masa mama gak tau sih? mau coba nggak ma bagus lo ini" cerocos nya sembari menawari pada mamanya.
"Dasar anak ini dibilangin orang tua malah ngomel-ngomel sendiri" geram.
"Lha tadi suruh jelasin, habis Nana jelasin malah mama marah-marah" balasnya. Dia suka bingung dengan mamanya. Apa karena bawaan ibu ibu ya? sukanya marah-marah mulu dan selalu salah dimatanya.
"Sudah sudah, jangan ribut sendiri. Malu tahu kalau dia dengar tetangga, apa kata tetangga nanti masa anak sama ibu kerjaannya ribut mulu kalau ketemu" terangnya.
"Iya" jawab anak dan ibu. Dia hanya bisa bernapas melihat anak dan ibu yang setiap kali berpapasan kerjaannya selalu ribut mulu.
"Dan kamu na, nanti malam jam 8.40 malam jangan tidur dulu ya!" saran Sousi.
"Emangnya kenapa pa kok Nana gak boleh tidur dulu? biasanya kan boleh tuh" bingung dengan alasan papanya itu. Seperti biasanya dia kalau udah jam 8 sehabis sholat isya dia sudah tidur duluan.
"Dengerin papa bicara dulu napa na? jangan dipotong dulu kalau orang lagi bicara itu nggak sopan tau na!!" omelnya.
"Iya iya ma..."
__ADS_1
"Jangan iya iya mulu!! jangan kebiasaan memotong pembicaraan orang!! ntar malah jadi kebiasaan. Tau nggak!!" memarahi dirinya habis-habisan, sedangkan dia hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Ini mau di terusin nggak! dari tadi ribut mulu"
"Iya pa terusin aja, Nana mau dengerin papa bicara kok. Janji deh Nana gak bakal ribut lagi" jawabnya.
"Yaudah papa terusin nih, nanti malam kamu iku acara papa sama mama. Kita mau makan malam sama Om Omesh dan Tante Mitha" ujar Sousi.
"Terus kenapa Nana juga ikut coba? kan itu acara mama sama papa. Kenapa Nana harus ikut" tanyanya bingung.
"Ya apa salahnya na. Lagian kamu kan anaknya papa" jawab Sousi.
"Ya kan nggak biasanya papa ngajak Nana segala. Nanti Nana ngapain coba di sana?" tanya Nana protes.
"Pokoknya kamu harus pergi, kalau kamu nggak mau uang jajan kamu dipotong sebulan" ancam Anggelina.
"Ih... mama kok gitu sih?" balasnya tak terima jika uang jajannya dipotong sebulan. Bakal mati kelaparan di kantin nanti.
"Kamu nggak akan sendirian kok. Anaknya Om Omesh sama Tante Mitha yang seumuran kamu juga ikut kok sayang, jadi kamu jangan khawatir" timpal Sousi.
"Tapi kamu harus pakai dress yang mama beli kemarin. Nggak ada protes kali ini" ujar Anggelina tegas. Membuat Nana hanya bisa memanyunkan bibirnya pasrah.
"Iya ma" balasnya pasrah.
"Udah, dari pada kamu nggak jelas diem di situ. Mending kamu ke kamar terus siap-siap buat pergi nanti malam" perintah Anggelina.
"Yaudah Nana pergi ke kamar dulu ya ma, pa"
"Eh bentar na, papa sama mama mau ngomong dulu" ujar Sousi.
"Mau ngomong apa pa?" tanyanya penasaran.
"Emm gini na papa sama mama sepakat..." katanya terhenti lalu menyenggol lengan mama sambil berbisik. "Gimana ma? jelasin sekarang apa nanti aja" katanya lirih.
"Sekarang aja lah pa jelasinnya, dari pada nanti dia malah nolak di acara nanti malam kan kitanya yang menanggung rasa malu."
__ADS_1
"Ma, pa kenapa kok pada bisik-bisik sendiri sih?" katanya merasa dicuekin.
"Gini na, mama sama papa kamu udah sepakat mau jodohkan kamu dengan anaknya Om Omesh dan Tante Mitha" jelasnya.
"APA???" teriak Nana karena kaget dengan ucapan papa tadi. Tentunya dia sangat kaget.
"Na, nggak usah teriak segala, dan kita udah sepakat buat nikahin kalian bulan ini juga"
"APA???" teriak Nana lagi.
"Nana mama kan udah bilang nggak usah pakai teriak-teriak segala" ujar Anggelina mulai kesal.
"Tunggu, Nana nggak salah dengar yang barusan kan?" tanya Nana memastikan jika ucapan tadi memang salah.
"Enggak sayang, yang tadi di bilang mama sama papa itu benar" terangnya.
"Iya Nana yang tadi di bilang semuanya itu benar. Dan itu lebih baik, mama nggak mau kalau kamu sampai salah jalan nantinya. Mengingat pergaulan zaman sekarang yang bebas ke sana sini tanpa memikirkan masa depannya bagaimana, mama takut itu semua terjadi sama kamu. Mungkin dengan kamu menikah akan bikin kamu menjadi lebih mandiri lagi. Papa kamu sama Om Omesh udah berteman sejak lama, mereka udah berniat dari dulu buat jodohkan anak mereka. Mungkin sekarang udah saatnya na" jelas Anggelina mencoba meyakinkan putrinya.
"Tapi ma, Nana kan masih sekolah. Masih SMA lagi" balasnya.
"Mama tau, tapi apa salahnya dicoba dulu. Mama yakin kok pasti kamu bakal bahagia nantinya"
"Ma kenapa nggak nunggu Nana tamat SMA aja? kan cuma tinggal berapa bulan lagi udah lulus. Atau nggak nunggu Nana sampai tamat kuliah. Eh malah nyuruh Nana nyoba dulu. Kan nikah itu cuma satu kali dalam seumur hidup ma"
"Lebih cepat lebih baik na" kata Anggelina.
"Tapi ma Nana belum siap, dan gimana kalau Nana nggak suka sama anaknya Om Omesh itu" bantahnya.
"Dicoba dulu na. Dia anak yang baik kok. Dia juga ganteng. Apalagi dia juga seumuran kamu" jelas Sousi.
"Tapi pa..." tolaknya.
"Mama sama papa mohon na. Mama sama papa takut kalau nanti kita nggak bisa lihat kamu menikah. Umur nggak ada yang tahu na... kamu mau kan?" mama dan papa pun saling memohon pada dirinya. Dia yang melihat mereka saling memohon pada dirinya pun merasa bersalah. Jujur dalam hatinya dia sangat marah dan kaget dengan omongan mama sama papanya tadi. Tapi Nana juga tidak tega melihat mama dan papanya yang meminta dengan kata memohon itu. Nana pun menghembuskan nafasnya kasar sebelum menjawab pertanyaan mereka.
"Iya Nana mau" jawab Nana pasrah. yang hanya dibalas senyuman hangat dari kedua orang tuanya.
__ADS_1