
Ranveer pingsan dipinggir jalan agak jauh dari mayat Kavita yg tergeletak tak bernyawa.
Sedangkan Sanskar, ia bingung memikirkan Swara yg pingsan.
"Bagaimana ini, masa aku harus menggotong Swara yg pingsan begini sampai kerumah, orang-orang yg melihat akan berpikir bagaimana gadis yg sedang pingsan bisa melayang sendiri, hufftt Swara, jika aku bisa menjitak kepala yg kerasa kepala itu sudah kujitak daru tadi" ucap Sanskar kesal.
Sanskar berpikir beberapa saat hingga akhirnya menemukan caranya, Sanskar mengambil tas milik Swara dan mengeluarkan buku juga pulpen lalu mulai menulis sebuah kalimat.
Selesai menulis, ia melayangkan kertas itu pada orang-orang yg sedang duduk di warung kopi yg agak jauh dari TKP (Tempat Kejadian Peristiwa) hingga tidak tau ada kecelakaan disana karna memang jaraknya cukup jauh.
Sanskar melayangkan kertas itu pada mereka seolah-olah kertasnya seperti tertiup angin hingga mereka tak menyadari bahwa Sanskar lah yg menggerakkannya.
Salah satu pria paruh baya yg sedang menyeruput kopi hitamnya, melihat kertas itu dan menggapainya.
"Kertas apa ?" gumamnya.
"Buka saja" ucap salah satu temannya.
Pria paruh baya itu membuka lipatan kertasnya dan menemukan kalimat "datanglah ke pertigaan jalan pinggiran kota jakarta, lihat dan tolonglah".
Pria itu bingung dengan isi kertas itu dan memberitahukannya pada teman-temannya yg lain.
Ibu-ibu pemilik warung menyarankan untuk mendatangi tempat itu jika mereka penasaran dan akhirnya mereka sepakat untuk mendatangi tempat yg ditulis dikertas itu.
__ADS_1
----------------------------------------
Sesampainya mereka disana, mereka terkejut karna menemukan tiga manusia tergeletak tak bergerak, sedangkan yg satunya bersimbah darah.
Salah satu dari mereka menelpon ambulans dan polisi untuk datang ke TKP.
Sebelum polisi dan ambulan datang, mereka sama sekali tidak berani menyentuh ketiga orang.
Hingga beberapa menit kemudian, Polisi dan Ambulan akhirnya tiba.
Mereka segera menggotong mayat Kavita ke dalam Ambulans, sedangkan Ranveer dan Swara di bawa dengan mobil salah satu pria yg baru saja menemuka mereka tergeletak dijalan.
Mereka bertiga dibawa ke rumah sakit.
Jenazah Kavita segera dievakuasi dan Ranveer sedang mendapati penanganan dari dokter karna salah satu kakinya dan tulang ekornya patah karna terbentur aspal cukup keras sehingga mengakibatkannya lumpuh total seumur hidup.
Sedangkan Swara hanya mengalami Shock berat hingga ia masih pingsan sampai saat ini.
Polisi dan pihak rumah sakit menghubungi keluarga dari masing-masing korban.
Dan beberapa menit saat keluarga para korban datang, mereka sangat khawatir dengan keadaan anaknya masing-masing terutama orang tua Kavita, mereka sangat shock dan terpukul karna kehilangan putri semata wayangnya diusianya yg masih belia.
Varun dan Helly juga ada disana, mereka sangat khawatir dengan keadaan Swara takut-takut nasibnya naas seperti Kavita.
__ADS_1
Varun segera bertanya pada salah satu perawat mengenai putrinya Swara dan perawat itu memberitahukan kalau Swara baik-baik saja, hanya pingsan akibat shock, mendengar itu Varun dan Helly bernafas dengan lega.
Mereka segera berlari keruangan dimana Swara di rawat.
Diruangan Swara, Helly langsung memeluk tubuh Swara.
"Swara, syukurlah kau baik-baik saja nak" ucap Helly sembari terisak takut kehilangan putrinya.
Varun menenangkan Helly, dan Swara mulai membuka matanya dan memegangi kepalanya yg masih pusing.
"Dimana aku ?"tanyanya linglung karna baru saja sadar dari pingsannya.
"Swara kau sudah bangun, kau baik-baik saja ? Kau sedang dirumah sakit nak" ucap Varun cemas.
Swara menatap ayahnya.
"Ayah, Kavita dan Ranveer ?" tanya Swara yg langsung terpotong oleh ucapan Helly.
"Sudah tidak usah mengurusi orang lain Swara, mereka sedang diurus oleh pihak rumah sakit" ucap Helly.
Swara mengangguk menurut.
Kepala Swara celingak-celingukan mencari keberadaan Sanskar yg tidak ada disisinya seperti biasa.
__ADS_1
"Dimana Sanskar ?" gumamnya.