
Sembari melangkah mundur Swara berkata.
"Yah Kavita aku akan membantu mengantarkanmu ke alam mu" ucap Swara.
Kavita semakin melangkah maju mendekati Swara.
Lalu tiba-tiba ia berhenti saat Swara mengatakan ingin membantunya pulang ke alamnya yg baru.
"Bukan itu yg ku maksud Swara" ucap Kavita dengan tatapan tajam setajam mata elang.
Swara tertegun.
"Lalu apa ?" tanyanya.
"AKU BUKAN INGIN PULANG KE ALAMKU TAPI INGIN KEMBALI HIDUP, BANTU AKU KEMBALI HIDUP SWARA BUKAN MENGANTARKANKU PULANG KE ALAMKU YG BARU, AKU HANYA INGIN HIDUP LAGI" Teriak Kavita menggelegar membuat Swara semakin ngeri dan ketakutan, karna bersamaan dengan kemarahan Kavita, angin berhembus sangat kencang dan aura suasana berubah menjadi semakin mistis dan panas.
Kavita masih tidak terima dengan kematiannya ia sangat ingin kembali hidup bukan pulang ke alam yg seharusnya ia berada, oleh sebab itu Kavita sangat marah saat Swara bilang ingin mengantarkannya pulang.
"Tapi Kavita, kau sudah meninggal dunia, jika kau kembali hidup pun tidak mungkin juga kalau Tuhan tidak menghendakinya" ucap Swara.
Kavita menatap Swara murka.
"MEMANGNYA KENAPA ?" tanya Kavita.
"Jasadmu sudah sangat hancur dibagian wajah, kau akan malu jika kau hidup dan aku juga tidak bisa membuatmu kembali hidup, aku bukan Tuhan" ucap Swara menjelaskan.
Kavita menunduk, dan ja kembali menangis.
"Lalu aku harus bagaimana, aku masih belum siap untuk mati, aku masih ingin tetap disini" ucap Kavita diiringi isak tangisnya.
Swara menatap iba Kavita, rasa kasiannya mengalahkan rasa takutnya, ia menghampiri Kavita dan menyentuh bahunya.
"Kavita, kematian itu pasti, setiap manusia pasti mengalaminya, entah itu kapan waktunya tidak akan ada yg tau karna itu rahasia dari Tuhan, kematian bisa datang menjemput manusia dalam keadaan apapun, entah ketika kau sedang tidur, makan, bercanda ria bersama teman-teman dan sebagainya, dan manusia harus menerima takdir itu" ucap Swara.
Kavita mulai mengerti.
"Yah Swara kau benar, mungkin aku harus menerima kenyataan bahwa aku memang sudah mati" ucap Kavita menunduk.
Swara tersenyum.
"Yah Kavita, karna kematian mu bukan tanpa sebab karna memang sudah diatur oleh yg maha kuasa bahkan jauh sebelum kau dilahirkan ke dunia ini" ucap Swara.
"Jadi apa kau ingin tetap disini atau pulang ke alam mu ?" tanya Swara sembari tersenyum lembut.
Kavita menatap Swara dengan mata berbinar.
"Baiklah Swara aku ingin pulang ke alamku tapi, aku ingin melihat keluargaku dulu dirumah" ucap Kavita.
Swara menatap Sanskar, Sanskar mengangguk tanda setuju untuk mengantar Swara melihat keluarganya terakhir kalinya.
"Baiklah, aku dan Sanskar akan mengantarmu ke keluarga mu sebelum kau pergi untuk selamanya" ucap Swara.
Kavita tersenyum pada Swara.
Mereka segera pergi menuju rumah Kavita.
--------------------------------------------------------------------------------
Rumah Kavita masih agak ramai karna beberapa sanak keluarganya masih berkumpul sehabis mengadakan acara tahlilan untuk Kavita.
Kevita, Swara dan Sanskar melayang menembus dinding dilantai dua yg merupakan kamar kedua orang tua Kavita.
Sesampainya dikamar itu. Kavita mendapati ibunya sedang tertidur karna lelah dengan bekas air mata masih membasahi pelupuk mata dan pipinya, hati Kavita merasa teriris-iris saat melihat ibunya dalam keadaan seperti itu.
__ADS_1
ibu Kavita masih merasa sangat terpukul dan shock karna kematian putri semata wayangnya dan membuatnya kelelahan karna menangis seharian.
Kavita mendekati ibunya berusaha untuk menyentuh wajah ibunya tapi nihil, usahanya sia-sia karna tangannya hanya menembus wajah ibunya tanpa bisa menyentuhnya sedikitpun.
Kavita kembali menangis.
Swara menenangkan Kavita, dan Sanskar menyuruh Kavita untuk mendatangi mimpi ibunya dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja disini.
Kavita dengan sigap menurut, dengan dibimbing Sanskar, Arwah Kavita berhasil memasuki mimpi ibunya.
***
Di alam mimpi, Kavita memanggil nama ibunya.
"Ibu, Ibu, Ibu" seru Kavita.
Ibu Kavita menoleh kebelakang.
"Kavita" ucapnya, matanya berbinar karna bahagia melihat putri satu-satunya itu.
Ia berlari menghampiri Kavita dan memeluknya erat.
"Kavita, syukurlah kau masih hidup ibu pikir kau sudah meninggalkan ibu selamanya nak" ucap Ibu Kavita sembari mengusap rambut panjang putrinya.
(Dimimpi, wujud Kavita tidak menyeramkan lagi, ia mengubah wujudnya menjadi saat seperti ia masih hidup, cantik dan berseri agar ibunya tak takut saat bertemu dirinya).
"Ibu, aku memang sudah meninggal" ucap Kavita dengan nada suara yg halus.
Ibu Kavita tertegun, ia melepaskan pelukannya pada putrinya itu.
"Apa maksudmu nak ?" tanya Ibu Kavita.
"Yah ibu aku sudah mati, yg bertemu dengan mu saat ini adalah arwahku" ucap Kavita menunduk.
Ibu Kavita menangis sejadi-jadinya.
Kavita mengangguk dengan raut wajah sedih.
"Benar bu" ucap Kavita, ia mengusap air mata ibunya penuh kasih.
"Tapi kau tak perlu bersedih bu, aku baik-baik saja, jika kau sedih aku akan berat meninggalkanmu tak akan tenang dengan kepergianku bu" ucap Kavita bersungguh-sungguh.
"Kavita" ucap Ibunya penuh pilu.
"Bu, tolong ikhlaskan aku, aku akan pergi dengan tenang kalau ibu tak berlarut-larut dalam kesedihan, ini sudah takdir aku mati diusiaku yg masih muda" ucapnya lagi.
Ibu Kavita mengusap air matanya sendiri dan tersenyum menatap putrinya.
"Baiklah nak, pergilah dengan tenang, ibu mengikhlaskan kepergianmu dan akan selalu mendoakanmu" ucap Ibu Kavita penuh ketegaran.
Kavita tersenyum bangga pada ibunya.
"Terima kasih bu, aku akan menunggumu disana, selamat tinggal" ucap Kavita tersenyum.
Ibu Kavita membalas senyumannya.
"Selamat tinggal nak" ucapnya tersenyum.
Arwah Kavita diselimuti oleh kabut putih yg tebal dan dengan serta merta lenyap dari pandangan ibunya.
Saat itu juga ibu Kavita terbangun dari mimpinya.
"Kavita" gumamnya.
__ADS_1
"Ibu akan selalu berdoa untukmu nak" ucapnya dengan wajah haru.
Ia beranjak dari tempat tidurnya dan menunaikan sholat malam dan berdoa untuk kepergian Kavita.
Kavita tersenyum melihat ibunya.
Ia merasa sudah waktunya untuk pergi dan ia sudah merasa tenang.
"Mari kuantar kau kealam mu Kavita" ajak Swara.
Kavita mengangguk tersenyum pada Swara.
Swara dan Sanskar mengantar Kavita ke dimensi lain menuju gerbang perbatasan kehidupan dunia dan alam lain.
"Kurasa aku hanya bisa mengantarkanmu sampai sini Kavita, pergilah dengan tenang" ucap Swara.
Kavita mengangguk.
"Terima kasih Swara Sanskar" ucapnya tersenyum pada mereka berdua.
Swasan mengangguk dan membalas senyuman Kavita.
Kavita pergi menuju gerbang itu yg diselimuti cahaya putih menyilaukan dan lenyap didalamnya dengan raut wajah yg penuh kebahagian dan wujudnya yg berubah menjadi cantik dan indah.
Swasan tersenyum karna berhasil menyelesaikan misinya.
"Selesai sudah, ayo kita kembali ke alam manusia" ajak Sanskar tersenyum dan menengadahkan salah satu tangannya pada Swara.
Swara mengangguk, dan ia menyatukan telapak tangan kanan nya pada Sanskar.
"Ayo" ucapnya, dan mereka segera kembali ke dunia manusia sembari bergandengan dengan raut wajah penuh keceriaan.
--------------------------------------------------------------------------------
Saat kembali ke dunia manusia, waktu tepat menunjukkan pukul 05:00 wib menandakan waktu Sholat subuh, arwah Swara kembali ke tubuhnya dan Swara bangun tepat adzan subuh berkumandang.
"Hufftt melelahkan sekali padahal nyawaku yg berpetualang tapi tubuhku yg merasakan lelahnya, tapi sewaktu di dimensi alam lain, nyawaku tak merasa lelah sama sekali, ringan-ringan saja" gumamnya.
Sanskar menanggapi.
"Tentu saja tubuhmu yg merasakan lelahnya karna aktivitas apapun yg dilakukan nyawa pasti akan berakibat pada tubuhnya" ucap Sanskar menjelaskan.
"Ouhh" ucap Swara menganggukan kepala tanda mengerti.
Ia melirik jam dindingnya dan waktu menunjukkan pukul 05:05 Wib, ia terkejut karna padahal Swara merasa hanya berpetualang kurang dari satu jam tapi kenapa tiba-tiba sudah jam 5 pagi.
"Rasanya aku baru saja berpetualang di dimensi lain kurang dari satu jam, lalu kenapa tiba-tiba sekarang jam 5 pagi, apa jamnya rusak ?" tanya Swara pada dirinya sendiri.
"Bukan jamnya yg rusak tapi memang begitulah perbedaan waktu didunia manusia dan dunia lain, kau pernah membaca tidak, bahwa satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun didunia, yah begitulah kiranya" ucap Sanskar.
"Tapi kitakan tidak berpetualang di akhirat tadi ?" tanya Swara bingung.
"Itu hanya contoh saja bahwa perbedaan waktu didunia manusia dan alam lain itu tidak sama, meski dialam lain kau merasa baru satu jam kurang di sana, tapi didunia kau sudah menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam dimulai sejak kau tertidur pukul 10 malam tadi" ucap Sanskar menjelaskan.
"Ouh begitu, aku baru tau" ucap Swara mengerti.
"Terima kasih penjelasannya Sanskar, ngomong-ngomong tadi itu menyenangkan tapi mengharukan juga" ucap Swara.
Sanskar tersenyum.
"Apa kau mau melakukannya lagi jika ada arwah seperti Kavita yg tidak mau pulang ke alamnya atau arwah yg masih tersesat didunia manusia sehingga tidak tau cara kembali kealamnya ?" tanya Sanskar
Swara mengangguk mantap.
__ADS_1
"Jika aku bisa membantu kenapa tidak ?" ucapnya antusias.
Mereka berdua pun saling melemparkan senyuman manisnya.