
Sanskar dan Syaikh sepakat menunggu mereka beberapa menit lagi dan berusaha berpikiran positif meski hati mereka merasa tidak enak dan khawatir dengan keadaan mereka semua didalam Villa.
***
Didalam Villa.
Laksh yg sudah mendapatkan tusukan bertubi-tubi di area selangkangannya pun terjatuh.
Ia merasakan sangat ngilur dan kesakitan, dan tak sanggup berdiri lagi.
Pria tua itu menghentikan aksinya.
"Kubiarkab kau hidup agar kau bisa hidup tersiksa dengan kelamin yg rusak dan tidak akan pernah memiliki keturunan selamanya, hahahaha !!" ucap Pria tua itu sambil tertawa puas.
Ia menatap Swaragini yg saling berpelukan takut.
Ia mendekati mereka dan mengacungkan belatinya siap menerkam mereka berdua.
Swaragini berlari menghindari mereka.
Ragini melempari semua barang-barang didekatnya pada pria tua itu tapi pria itu dengan mudahnya menangkis dan menghindarinya.
"Percuma saja kau menyerangku dengan barang-barang itu, aku akan tetap dengan mudah membunuhmu" ucap pria tua itu.
Ia menarik tangan Ragini dan menyeretnya menjauh dari Swara.
"Kakak !! Lepaskan kakak ku !!" teriak Swara.
Ia mengambil balok kayu disampingnya lalu menyerang pria tua itu dan memukulinya. Tapi baru sekali memukul, balok kayunya langsung patah.
Swara bingung karnanya
"Apa ini masa baru sekali pukul langsung patah, dasar tidak berguna" ucap Swara kesal lalu membuang balok kayunya kekepala pria tua itu.
"Ckkk dasar gadis bandel !!" ucap pria tua itu sembari memegangi kepalanya yg terkena balok kayu.
Ia berhenti dan menatap Swara tajam.
"Akan kubunuh kakakmu didepan matamu sendiri !!" ucap Pria tua itu dengan kesal.
Ia menghunuskan belatinya ke telinga kanan Ragini hingga keluar menembus telinga kirinya.
Ragini memekit kesakitan.
"Aaaarrghhhh" teriaknya, darah mengucur dari kedua telinga, hidung dan mulutnya.
Telinganya berdengung kencang dan beberapa saat kemudian ia tak mendengar suara apapun lagi.
Pria tua iti memutar-mutarkan belatinya didalam telinga Ragini.
Ragini merasakan telinganya sedang dikorek-korek seperti saat ia membersihkan telinganya tapi kali ini bukan dengan Cutton Bud tapi belati yg sangat tajam.
Telinganya merasa sangat sakit dan linu.
Setelah puas memainkan belatinya didalam telinga Ragini.
__ADS_1
Pria tua itu mencabutnya kasar.
Lalu kembali menancapkannya ke perut Ragini berulang-ulang hingga Ragini Mati dan pria tua itu membanti tubuh Ragini ke lantai dengan keras sampai kepalanya terbentur dan berdarah.
Swara menangis melihat kakaknha sudah tak bergerak lagi.
Ia berlari menghampiri sang kakak yg sudah tiada lalu memeluknya.
"Kakak" ucap Swara menangis.
"Kini giliran mu, gadis manis !!" ucap Pria tua itu lalu kembali menancapkan belatinya ke ubun-ubun Swara dengan keras berkali-kali hingga Swara pun mati seketika dengan cara yg sangat Tragis.
Tubuhnya tergeletak disamping mayat kakaknya.
Pria tua itu tersenyum puas menatap mayat mereka satu persatu.
Ia menjilati belatinya yg terkena darah mereka dengan lahap.
"Sungguh lezat darah ini terutaka darah gadis indigo ini, benar-benar sangat nikmat" ucap pria itu sambil terus menjilati pisaunya seperti permen.
***
Sanskar benar-benar tidak bisa menahan perasaan khawatirnya itu pada Swara.
"Paman aku tidak tahan, aku akan masuk kedalam untuk memeriksa mereka, karna ini sudah cukup lama tapi mereka belum keluar juga" ucap Sanskar.
Syaikh Abdullah mengangguk.
"Baiklah ayo, Sans, paman ikut" ucap Syaikh yg segera bangkit dari duduknya lalu mereka berdua memasuki Villa.
Saat baru membuka pintunya.
Syaikh dan Sanskar terkejut melihatnya.
Mereka saling bertatapan lalu masuk kedalam Villa.
Sanskar melihat Swara sudah tergeletak tak bernyawa.
Sanskar segera mendekatinya.
"Ss Swara ?, bangun Swara !!" ucap Sanskar berusaha membangunkan Swara tapi sia-sia, Swara sudah mati.
Sanskar menatap orang yg tengah berdiri disebelah mayat Swara.
"Kau !! Kau telah membunuh Swara !!" bentak Sanskar.
Pria tua itu ternyata bisa melihat Sanskar.
"Bukan hanya dia, tapi yg lainnya juga" ucapnya santai.
Sanskar kembali melihat kesekelilingnya dan benar saja, mayat teman-teman Swarapun saling bergeletakan dilantai.
Ia semakin geram karnanya.
"Dasar keparat !!" hardik Sanskar.
__ADS_1
"Apa kau mau menyusul mereka juga, anak muda ? Baiklah aku akan membantumu agar kau juga bisa berkumpul bersama mereka di alam baka" ucap pria tua itu yg tak menyadari kalau Sanskar adalah arwah.
Ia menghunuskan lagi belatinya pada Sanskar tapi tidak bisa, belatinya seolah-olah hanya menembus udara.
Pria tua itu bingung lalu mulai menyadari kalau Sanskar bukan manusia.
"Kau bukan manusia ?" tanyanya bingung.
Sanskar tersenyum sinis.
Ia merebut belatinya dari tangan pria tua itu tanpa menyentuhnya alias menggerakannya sendiri. Ia lalu menancapkan belati itu pada sekujur tubuh pria tua itu sampai tewas dan tergeletak ke lantai.
Sanskar tersenyum puas.
Tapi kembali bersedih saat menatap Swara.
"Swara maafkan aku aku tidak biss menjagamu" ucap Sanskar sambil menitikkan air mata.
Tapi sebuah suara lembut dan sentuhan dipundaknya mengalihkan kesedihannya.
"Sanskar" panggil suara itu.
Sanskar menoleh dan mendapati sesosok arwah wanita yg sangat cantik dengan balutan busana muslim berwarna putih bercahaya dan wanita itu sangat ia kenali.
"Swara" ucap Sanskar bingung.
"Kau disini ?" tanya Sanskar.
Swara mengangguk.
"Yah dan kini aku sama sepertimu, arwah" ucap Swara tersenyum.
Sanskar menunduk sedih.
"Maafkan aku Swara, aku gagal menjalankan amanat yg telah diberikan padaku" ucap Sanskar merasa bersalah.
"Syuttt, bukan salahmu, Sans, ini sudah takdir ku" ucap Swara.
"Ayo kita kembali ke alam kita, kakek yg pernah memberikanmu amanat sudah menunggu kita dialam sana, ia menyuruh mu kembali kesana bersamaku" ucap Swara.
Syaikh mendekati Swasan.
"Sanskar, kau sudah lama tinggal didunia manusia, dan mungkin ini sudah saatnya kau pergi" ucap Syaikh
"Pergilah dengan tenang kalian berdua, aku akan selalu mendoakan kalian" ucap Syaikh lagi sambil tersenyum.
Swasan membalas senyumannya.
"Terima kasih, paman" ucap Sanskar.
Sebuah cahaya putih bersinar terang entah dari mana, kemudian Sanskar menggandeng tangan Swara dengan lembut dan saling bertatapan melemparkan senyuman kemudian berjalan menuju cahaya itu lalu berbalik menatap Syaikh Abdullah dan tersenyum sembari melambaikan tangan.
Syaikh membalas senyuman mereka.
Beberapa saat kemudian Swasan lenyap bersamaan dengan cahaya itu.
__ADS_1
"Semoga kalian tenang dsn berbahagia dialam sana" gumam Syaikh.
Tamat.