Cinta Anak Indigo

Cinta Anak Indigo
Chapter 8


__ADS_3

Kisah Kasih Anak Indigo


Chapter 9


Versi Indonesia


Sanskar mengodekan tangannya pada Swara untuk tetap tenang dan tidak perlu berlari.


Swara menurut, ia melotot menatap rombongan pengantar jenazah itu yg masih menatap Swara dan Sanskar tajam tanpa membalikkan badannya sedikitpun.


Sepertinya hantu rombongan pengantar jenazah itu marah karna Swara bisa melihatnya.


Beberapa menit Swara dan Sanskar bertatapan pada mereka hingga akhirnya keranda mayat itu terbuka dan mayat yg ada didalamnya tiba-tiba saja terguling dan jatuh menggelinding dengan jarak 2 meter dihadapan Sanskar & Swara.


Mayat yg masih berbungkus kain kafan itu atau disebut dengan pocong, membuka matanya dan langsung melotot hingga matanya nyaris keluar disertai darah yg terus tersembur dari mulut dan matanya sampai kain kafan yg ia kenakan, tadinya berwarna putih bersih menjadi merah karna darah.


Pocong itu berdiri melayang menatap Swara lekat.


Swara menunjukknya, ia sangat mengenali wajah dari si pocong itu karna merupakan salah satu dari teman sekolahnya yg masih hidup.


"Kk kkk Kavitaa !!" ucap Swara tertegun.


Swara langsung menutup matanya dan berdoa berharap sosok dihadapannya itu segera pergi.


Saat Swara sedang menutup mata, Sanskar dengan sigap berdiri dihadapan Swara dan berhadapan langsung dengan pocong itu.


Sanskar menatapnya murka dan melotot kearah sosok itu seolah mengisyaratkan agar mereka segera pergi dan tak mengganggu Swara lagi.


Pocong itu melayang mundur, terlihat jelas dari matanya bahwa ia sangat takut pada Sanskar yg jelas-jelas wujudnya lebih baik darinya.


Pocong itu melayang kembali masuk ke dalam keranda mayat dan lenyap begitu saja seperti kepulan asap beserta para pengiring jenazahnya.


Setelah semua nya dirasa cukup aman, Sanskar segera menenangkan Swara yg masih ketakutan sembari menutup matanya.


"Swara ? Hey Swara, mereka sudah pergi, ayo buka matamu" ucap Sanskar.


"Kau yakin ?" tanya Swara ragu dengan masih menutup kedua matanya.

__ADS_1


"Yah, coba saja buka matamu dan buktikan" ucap Sanskar.


Swara membuka matanya perlahan takut-takut mereka masih ada.


Tapi ternyata yg dikatakan Sanskar benar kalau mereka sudah pergi.


Swara menghembuskan nafasnya lega.


"Syukurlah mereka pergi, tapi kok bisa pergi ? Apa kau yg mengusir mereka Sanskar ? Tanya Swara menyelidiki.


Sanskar menganggkat bahunya.


"Yah dengan bantuan Allah tentunya" ucapnya tersenyum.


Swara tersenyum lega.


"Aku kapok dan tidak mau melewati jalan ini saat malam hari" ucap Swaea menyesal


Sanskar tersenyum


"Ya sudah, Ayo pulang" ajak Sanskar.


***


Sesampainya dirumah.


Swara menghempaskan tubuhnya dikasur empuknya.


"Huffttt akhirnya sampai rumah juga" ucapnya


Tapi Swara sadar meski ia sudah dirumahnya sendiri, tetap saja ia masih dikelilingi oleh hantu-hantu karna ia yakin, manusia tidak hidup sendiri tapi juga hidup dengan hewan, tumbuhan, alam, dan mereka yg tak terlihat.


Swara bertanya pada Sanskar perihal kejadian tadi yg membuatnya sangat penasaran.


"Sanskar" panggil Swara pada Sanskar yg sedang duduk berkaca di meja rias milik Swara.


"Hmmm" balas Sanskar singkat sembari merapihkan tatanan rambutnya.

__ADS_1


"Aku masih heran dengan pocong itu, kenapa wajahnya sangat mirip dengan Kavita, salah satu temanku yg masih hidup" ucap Swara.


Sanskar menjawab tanpa menoleh ke arah Swara.


"Kau tau mereka siapa Swara ?" Sanskar balik bertanya.


"Tentu saja tidak" balas Swara.


Sanskar membalikkan tubuhnya menghadap Swara.


"Biar kuberi tau, mereka itu adalah hantu pengantar jenazah, dan yg ada didalam keranda yg mereka gotong itu adalah orang yg akan meninggal dalam waktu dekat" ucap Sanskar menjelaskan.


"Apa maksdumu Sanskar ?" tanya Swara tak mengerti.


"Kau masih belum paham juga ?" tanya Sanskar.


Swara menggeleng pelan.


"Mereka hantu yg membawa pesan kematian bagi yg bisa melihatnya, jadi siapa saja yg akan mati pasti mereka akan ada disekitar rumah orang yg akan mati dalam waktu dekat" ucap Sanskar.


Swara mulai mengerti.


"Aku baru ingat, rumah Kavita tidak jauh dari jalan itu dan wajah pocong itu sangat mirip dengan Kavita karna dalam waktu dekat kavita akan mati, begitukah maksudmu Sanskar ?" tanya Swara dengan wajah serius.


Sanskar mengangguk.


"Yap benar sekali" ucap Sanskar santai.


"Tapi kenapa mereka seperti marah padaku dan lagi kenapa pocong itu mendekati dan menakutiku ?" tanya Swara lagi.


"Mereka marah karna kau terus memperhatikan mereka dan kau bisa melihat mereka, mereka tidak suka manusia memperhatikan mereka sangat lama, untuk alasannya aku tidak tau kenapa mereka tidak suka diperhatikan lama oleh manusia, sedangkan pocong yg mendekati dan menakutimu, sebenarnya bukan maksud dari si pocong untuk menakutimu, tapi karna ia merupakan salah satu teman dekatmu jadi ia mendekatimu" jelas Sanskar.


Swara mengangguk mengerti, tapi sekaligus terkejut karna temannya Kavita akan mati dalam waktu dekat.


"Kasian sekali dia, padahal dia masih sangat muda dan baik walau sedikit keras kepala, aku tidak bisa membayangkan betapa berdukanya kerabat juga keluarganya saat Kavita meninggal" ucap Swara.


"Mau bagaimana lagi, mungkin ini sudah takdirnya" ucap Sanskar.

__ADS_1


"Iya, kira-kira dia meninggal karna apa yah ?" tanya Swara.


"Kita lihat saja besok" balas Sanskar.


__ADS_2