
Keesokan harinya.
Jam menunjukkan pukul 17:00 Wib.
Swara ada janji kerja kelompok dengan kawan-kawan sekelompoknya pada jam 16:30 wib.
Tak mau terlambat, ia segera meminta izin kepada keluarganya dan bergegas menuju rumah salah satu teman sekelompoknya menggunakan sepeda motor beat berwarna merah dan tentu saja dengan didampingi oleh Sanskar.
Di perjalanan.
Sanskar mengikuti Swara dengan membonceng dibelakangnya.
"Kenapa kerja kelompoknya sore begini ?" tanya Sanskar.
"Sekalian bukber" ucap Swara sembari tetap fokus menyetir.
(Disini semua tokoh di islamkan yah)
"Ouhh, pulangnya jam berapa ?" tanya Sanskar lagi
"Habis sholat tarawih dong" balas Swara
Sanskar menaikkan alisnya satu.
"Gak takut pulang malem begitu ?" ucapnya
Swara menangangkat bahunya.
"Gak terlalu malem ini, kan paling pulang jam 8 malem lewat gak nyampe setengah sembilan" ucap Swara
Sanskar tidak mah kalah, ia segera membalas
"Tetep aja malem kan, bahaya tau anak gadis malem-malem keluyuran"
"Kan gak keluyuran tapi abis ngerjain tugas kelompoook" ucap Swara yg mulai sewot.
"Tetep aja bahaya apapun alasannya" balas Sanskar.
Swara menghembuskan nafasnya pelan menahan rasa kesal karna Sanskat selalu berbicara alias cerewet.
"Gak apa-apa dong, Tuan Dokter Sanskar kan ada kamu yg selalu jagain aku dan ada Allah juga iyakan ?" ucap Swara
Sanskar manggut-manggut tanda menyetujui.
"Benar juga" ucapnya
"Nah makanya diam dulu, aku lagi fokus menyetir, bicaranya nanti saja, oke ?" ucap Swara
Sanskar mengangguk.
"Yah yah yah, baiklah" ucapnya
----------------------------------------
Sesampainya dirumah temannya, waktu sudah menunjukkan tepat pukul 17:00 Wib, berarti Swara menghabiskan waktu 30 menit untuk sampai kerumah temannya dengan mengendarai motor yg kecepatannya sedang, karna melewati jalan utama yg jaraknya lebih jauh.
"Lumayan jauh juga yh rumahnya" ucap Swara sembari melirik Sanskar.
"Iya" balas Sanskar singkat.
Swara menuju pintu depan rumah dihadapannya dan menekan belnya 3 kali.
Pemilik rumah segera membukakan pintunya. Dan menampakkan seorang gadis berkacamata yg polos tapi cantik menawan.
"Swara akhirnya kau datang, ayo masuk, teman-teman yg lain sudah menunggu" ajak gadis berkacama itu pada Swara.
Swara tersenyum.
__ADS_1
"Apa mereka sudah kumpul semua Pragya ?" tanya Swara pada Gadis berkacamata yg ia panggil Pragya.
Pragya mengangguk.
"Sudah Swara" balas Pragya.
Mereka segera masuk keruang tamu dan mendapati ketiga teman sekelompok Swara yg sedang duduk melingkari meja dengan laptop dan buku-buku yg berantakan.
"Hey kalian, udah mulai duluan aja belajarnya, nungguin aku dulu kek" ucap Swara sembari mengerucutkan bibirnya kesal.
Ketiga temannya pun langsung tersenyum saat melihat Swara sudah datang.
"Hehe maaflah, lagian kamu lama sekali jadi kami mulai duluan deh" ucap Seorang pemuda yg bernama Shakti.
"Iya kau lama sekali Swara. Jadi kami mulai duluan deh" timpal Kavya.
"Hufftt kan perjanjiannya tepat jam 17:00 Wib dan aku datang tepat jam segitu" ucap Swara membela diri.
"Hmm ya sudah ayo, Kita mulai belajarnya" ajak Gurmeet.
Mereka segera mengangguk dan mulai belajar mengerjakan soal-soal tugas kelompok yg diberikan oleh guru dengan cermat.
Setelah satu jam mengerjakan, Adzan magrib pun berkumandang tanda waktu magrib dan berbuka puasa telah tiba.
Mereka segera membereskan buku-bukunya dan menuju ruang makan yg makanananya sudah disediakan oleh orang tua Pragya yg baik hati.
"Ayo silahkan makan, anak-anak" ajak Ayah Pragya
Mereka berlima segera duduk dibangku masing-masing dengan mengelilingi meja makan berukuran persegi panjang. Dan segera berbuka puasa dengan menu yg lezat-lezat.
Setelab berbuka mereka segera sholat magrib berjamaah, bahkan Sanskar juga ikut sholat karna semasa hidupnya dulu ia adalah orang islam juga.
Setelah sholat magrib mereka kembali melanjutkan tugas matematika yg belum selesai sembari menunggu adzan isya berkumandang.
"Tinggal Matematika belum dikerjakan, aku tidak tau caranya, kalian tau sendirikan kalau aku lemah dibidang ini" ucap Swara
"Ya udah sini biar aku bantu mengerjakan" ucap Pragya menawarkan diri untuk membantu Swara.
Swara dengan senang hati menyerahkan buku dan pulpen nya pada Pragya, dan Pragya membantu menjelaskan juga membantu mengisi soal-soalnya.
Swara hanya pura-pura memperhatikan dan pura-pura mengerti juga karna percuma saja dijelaskan, baginya Matematika adalah pelajaran yg sangat membosankan, jelas ia tidak akan memperhatikannya.
Setelah selesai. Pragya menyerahkannya buku juga pulpennya pada Swara.
"Sudah beres ?" tanya Swara.
Pragya mengangguk dan mengacungkan dua jempolnya pada Swara.
"Beres" ucapnya.
Swara tersenyum senang.
"Terima kasih Pragya, kau memang sahabatku yg paling pintar matematika hehe" ucap Swara sembari memeluk erat Pragya.
Pragya merasa sesak karna pelukan Swara.
"Iya-iya sama-sama, lepaskan pelukannya dulu, aku tidak bisa bernafas" ucap Pragya.
"Oh maaf hehe" ucap Swara terkekeh sembari melepaskan pelukannya.
"Itu namanya, buka tugas kelompok, tapi tugas Pragya, karna semua tugas Matematikamu diselesaikan oleh Pragya" ejek Shakti pada Swara.
"Kau meledekku yah ?" tanya Swara sembari berkacak pinggang.
"Hmm tidak kok, kau saja yg kegeeran, wleee" ucap Shakti yg sedikit ketakutan tapi masih sempat meledek Swara.
"Huft menyebalkan sekali" ucap Swara.
__ADS_1
Sanskar berbisik pada Swara.
"Tugas yg dikerjakan oleh teman itu tidak baik, karna itu bukan hasil kerjamu sendiri dan sama saja seperti menyontek, lalu kapan kau mau pintar, kalau tugas sendiri saja masih dikerjakan orang lain ?"
"Kau meledekku juga yah" tanya Swara kesal.
Suaranya lumayan keras hingga membuat keempat temannya bingung.
"Kau bicara dengan siapa Swara ?" tanya Gurmeet.
Swara lupa kalau teman-temannya tidak bisa melihat Sanskar, kebiasaan lupanya ini emang sulit dihilangkan.
"Eh tidak bicara dengan siapa-siapa kok" ucap Swara salah tingkah.
Keempat temannya menatapnya bingung dan saling bertatapan lalu sama-sama mengangkat bahunya tanda tak tau.
Dan Adzan Isya Sudah berkumandang.
Mereka bergegas wudhu dan sholat berjamaah lagi dirumah Pragya.
Sanskar juga selalu mengikuti aktifitas mereka.
----------------------------------------
Satu jam lebih kemudian mereka selesai menuaikan ibadah Sholat Isya dan Sholat Tarawih.
Dan masing-masing pamit untuk pulang termasuk Swara.
Swara memilih melewati jalan pintas agar cepat sampai dirumahnya.
Sanskar sudah mencegahnya untuk melewati jalan itu karna perasaannya sudah tidak enak, tapi Swara tetap ngeyel ingin melewati jalan itu agar cepat sampai.
Akhirnya Sanskar yg mengalah.
Swara segera berbelok kesisi kiri jalanan, untuk mengambil jalan pintas karna kalau lurus ia akan melewati jalan utama yg ramai dan jauh.
Berbeda dengan jalan utama yg ramai, jalan pintas yg dipilih Swara itu sangat sepi dengan lampu penerangan yg minim dan jalanan yg dikanan kirinya tidak ada satu rumahpun melainkan hanya hamparan sawah yg luas dan gelap, kebun pekarangan yg lebat, dan tempat pemakaman umum yg sangat menyeramkan.
Swara sedikit menyesal melewati jalan ini tapi mau bagaimana lagi, ini sudah setengah jalan, mau tidak mau ia harus melanjutkannya sampai rumah kalau putar balik itu akan menguras bensin Swara yg hampir kosong karna lupa di isi.
"Serem banget sih" gumam Swara, matanya tak mau menengok kanan-kiri karna takut melihat sesuatu yg tak diinginkannya, ia hanya fokus menatap jalanan.
"Sudah kubilang jangan lewat sini tapi tetep saja bandel, dasar keras kepala" ucap Sanskar.
"Ya ya ya, kau benar tuab Sanskar seharusnya aku mendengarkanmu" balasnya
"Yah nona Swara kalau sudah begini jadinya, tidak mungkin putar balik, bensin mu tidak akabn cukup sampai rumah nanti.
Swara tidak merespon ucapan Sanskar. Ia menatap lurus kearah rombongan pengantar jenazah yg berada pada jarak 10 meter dari motornya.
"Swara berhenti dulu" ucap Sanskar yg tiba-tiba menyuruhnya berhenti saat jarak mereka hanya 5 meter dari rombongan pengantar jenazah.
Swara segere menghentikan laju motornya.
"Ada apa Sanskar, kenapa kau menyuruhku berhenti ?" tanya Swara bingung.
"Sssttt, Swara lihat rombongan pengantar jenazah itu" tunjuk Sanskar pada rombongan itu.
Swara menatap kearah yg ditunjuk Sanskar.
Ia merasa heran kenapa, keranda mayatnya tidak ditutupi kain hijau berlafadz arab sehingga menampakan sosok mayat yg hanya dibaluti kain kafan, dan selain itu Swara semakin heran karna rombongan pengantar jenazahnya hanya empat orang laki-laki yg memakai baju putih dengan tatapan kosong dan lurus kedepan tanpa ekpresi.
Saat Swara memperhatikannya lebih teliti ternyata rombongan itu melayang alias mengambang diudara.
Tiba-tiba rombongan itu berhenti, saat itu juga angin malam berdesir sangat kencang menepa tubuhnya dan membuatnya kedinginan sekaligus merinding.
Rombongan itu memutar lehernya kebelakang menatap Swara dan Sanskar tajam penuh amarah.
__ADS_1
Swara menutup mulutnya karna hampir berteriak.