
Pernikahan adalah salah satu hal yang diinginkan semua orang, termasuk Rendi Dirgantara. Ia ingin menikah dengan seorang gadis yang baik dan anggun serta bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya nanti. Namun Bara, ayahnya, justru memaksa Rendi untuk menikahi adik angkatnya yang memiliki sifat sombong dan manja.
Namanya Audy. Bara mengambil gadis itu dari panti asuhan agar istrinya tidak bersedih lagi karena kehilangan bayi perempuan yang ada di dalam kandungannya. Tidak ada yang menyangka jika ibunya justru sangat menyayangi Audy melebihi rasa sayangnya pada Rendi.
Rendi tidak cemburu. Namun ia rasa sikap Bara dan Lavina yang terlalu baik membuat Audy tumbuh menjadi gadis yang egois. Dan sekarang Rendi yang harus menggantikan mereka untuk mengurus Audy.
Resepsi pernikahan mereka telah selesai sejak pukul sembilan malam tadi. Alih-alih menginap di hotel tempat resepsi, Rendi justru membawa Audy ke rumah Bara. Ya, ia ingin menginap di sana dan menagih jawaban dari Bara mengapa ia yang harus menikahi Audy.
"Beresin semua pakaian kamu. Besok pagi kita pindah ke rumah saya," ucap Rendi pada Audy yang tengah asik memandang layar laptopnya.
"Nggak mau. Aku tinggal di sini aja sama ayah sama bunda," balas Audy.
Rendi menghela nafasnya. Ia sudah tau bahwa Audy akan menolaknya. Namun mengingat ia sudah menjadi suami Audy, Rendi lebih berhak atas gadis itu.
"Saya tidak memberikan tawaran sehingga kamu bisa menolaknya, Audy."
Audy mengendikan bahunya acuh. "Aku bakal bilang ke ayah sama bunda. Mereka pasti nurutin kemauan aku," ucapnya penuh percaya diri.
"Kenapa kamu menolak?" Rendi menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Sehingga memudahkannya menatap Audy yang berada di dekat kakinya. Ah, gadis itu sedang menatap foto-foto pernikahan mereka rupanya.
"Mas Rendi kasar. Dari dulu juga nggak pernah baik sama aku."
Audy ingat sekali saat dulu Rendi menarik rambutnya dengan kuat hanya karena ia ingin membolos sekolah. Hal itu sangat menyakitkan. Rendi juga pernah menguncinya di gudang belakang sebab ia pulang larut malam setelah berkencan dengan pacarnya.
"Saya nggak akan kasar kalau kamu nggak menyalahi aturan." Rendi menyibak selimut yang menutupi tubuh Audy. "Cepat turun dan kemas pakaian kamu."
__ADS_1
Rendi mengeraskan rahangnya karena Audy bergeming tanpa mau menuruti perkataannya. Sikap Audy yang seperti inilah yang membuat kesabaran Rendi menipis. Sudahkah Rendi mengatakan bahwa ia tidak pernah menyakiti gadis lain kecuali Audy?
"Mas Rendi!" Seru Audy ketika Rendi menarik laptopnya. "Apaan sih! Sini balikin laptopnya ih," lanjutnya berusaha meraih benda itu.
"Nggak akan saya kasih sebelum kamu melaksanakan perintah saya."
Rendi menaruh laptop itu pada laci nakas dan menguncinya sehingga Audy tidak bisa merebutnya lagi.
"Ck, iya aku bakal beresin baju aku. Tapi nanti, lagian masih banyak waktu, kok," kesal Audy.
"Sekarang, Audy," ucap Rendi lirih namun penuh penekanan.
"Besok aja deh," balas Audy kemudian masuk ke dalam selimut.
Rendi merangkak naik ke atas tubuh Audy. Membuat gadis itu membuka selimutnya hanya untuk melihat apa yang dilakukan kakaknya--ralat--suaminya.
"Mas Rendi mau apa?! Jangan macem-macem mas-- aaa," pekik Audy ketika Rendi mengunci tangannya di atas kepala. "Mas Rendi gila!!"
"Ssst!" Rendi menaruh telunjuknya pada mulut Audy. "Kamu yang membuat saya seperti ini, audy. Apa susahnya kamu menuruti perintah saya, hm? Kamu tinggal mengemas baju kamu, itu saja! Setelah itu kamu bisa kembali menatapi foto pernikahan kita."
"Aku mau tinggal di sini, mas."
"Nggak bisa. Sekalipun kamu memohon sama ayahpun tetap nggak akan bisa. Karena kamu sudah menjadi istri saya. Saya berhak atas diri kamu sepenuhnya."
"Mas Rendi, kita sama-sama tau kalau kita tidak menginginkan pernikahan ini. Jadi nggak perlu bersikap layaknya suami-istri. Kita jalani kehidupan masing-masing. Kalau perlu kita buat kontrak-- aakh."
__ADS_1
Audy memejamkan matanya erat merasakan panas yang menjalar di pipi kanannya. Ia tidak menyangka Rendi akan menamparnya seperti ini.
"Pernikahan bukanlah suatu permainan yang bisa kamu jalani sesuka hati kamu. Pernikahan kita sah di mata hukum dan agama. Jadi tidak akan ada kontrak atau apapun itu."
Tangan Rendi terangkat menyentuh pipi Audy yang memerah karena tamparannya. "Maaf," ucapnya.
Namun Audy justru menangis. Gadis itu kembali meronta sehingga Rendi terpaksa melepaskan kedua tangannya.
"Mas Rendi jahat! Aku nggak mau tinggal sama Mas Rendi! Aku mau di sini aja sama Bunda," isak Audy.
"Audy." Rendi berusaha menarik tangan Audy yang menutupi wajah gadis itu. Namun ia tidak tahu bahwa kerah baju tidur Audy ikut tertarik sehingga kancing bagian atasnya terlepas.
Audy yang menyadari hal itu langsung menutupi bajunya erat. "Mas Rendi jahat!! Aku nggak mau jadi istri Mas Rendi!" Seru Audy sembari memberi pukulan-pukulan kecil pada Rendi.
"Maaf, saya tidak bermaksud. Audy, dengarkan saya!" Tegas Rendi membuat Audy menghentikan aksinya.
"Saya tidak sengaja menariknya." Rendi duduk di sisi ranjang yang kosong. Memudahkan Audy untuk menutupi tubuhnya lagi dengan selimut.
Rendi berkata jujur. Ia tidak memiliki niatan sedikitpun untuk menyentuh Audy atau meminta haknya sebagai suami. Karena bagaimanapun juga Rendi sudah menganggap Audy sebagai adiknya.
Mungkin butuh waktu bagi Rendi untuk menghilangkan anggapannya itu. Dan ia akan mencobanya dari awal. Audy sudah menjadi istrinya dan ia berhak atasnya. Kalimat itu yang sejak tadi siang memenuhi kepalanya.
Bukan hanya dirinya, Audy juga harus belajar untuk mengerti bahwa sekarang status mereka telah berbeda. Mau bagaimanapun sikap Audy, gadis itu adalah istrinya. Jadi Rendi akan berusaha merubah Audy menjadi perempuan yang diinginkannya. Perempuan yang pandai mengurus rumah tangganya.
###
__ADS_1