
Bekerja sering kali membuat Rendi lupa waktu. Seperti saat ini, ia bahkan tidak mengira bahwa sudah tiga jam ia berada di ruang kerjanya. Mengerjakan pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan di kantor.
Ia meregangkan ototnya lalu mengusap wajahnya kasar. Setelah membereskan berkas-berkasnya dan menutup laptopnya, Rendi bergegas bangkit. Ia perlu memeriksa keadaan Audy.
Jujur saja ia merasa iba melihat Audy terbaring lemah di atas ranjang. Karena biasanya gadis itu sangat aktif beraktifitas di rumah. Ya, meskipun kadang juga bermalas-malasan.
Kening Rendi membentuk gelombang ketika tidak menemukan Audy di ranjangnya. Apalagi melihat infus dan selang yang beberapa jam lalu terpasang di tangan Audy kini berada di tempat sampah.
Rendi menoleh ke kamar mandi ketika mendengan suara percikan air. Tidak salah lagi, Audy pasti di sana.
Beruntung karena pintu kamar mandi sedikit terbuka. Jadi Rendi bisa masuk ke dalam.
"Audy," panggilnya pelan melihat istrinya itu sedang membasuh wajahnya.
Tidak ada jawaban dari Audy. Ia hanya menatap Rendi dari pantulan cermin. Sampai akhirnya Rendi mencekal pundaknya dan memaksanya untuk berbalik.
"Sudah merasa baikan?" Tanya Rendi sembari memeriksa suhu badan Audy dengan punggung tangannya.
"Hm," gumam Audy. Ia menepis tangan Rendi pelan.
Audy berniat pergi, namun Rendi justru menahannya. Laki-laki itu bahkan mengunci tubuhnya pada meja wastafel.
Rendi menatap Audy lekat. Entahlah, ada perasaan aneh ketika ia berhadapan dengan Audy sedekat ini.
"Maaf."
Wajah Audy terangkat. Menatap Rendi tidak mengerti. Maaf? Untuk apa?
"Maaf karena sudah menerima pernikahan ini dan menghancurkan masa depanmu," lanjut Rendi membuat Audy tertegun.
Biasanya Rendi selalu mengatakan padanya bahwa ia harus menerima pernikahan ini bagaimanapun keadaannya. Tapi sekarang laki-laki itu meminta maaf atas pernikahan ini? Apa Rendi sudah menyerah dan akan melepaskan Audy?
"Katakan dengan jujur, kamu tidak bahagia setelah menikah dengan saya, benar? Apa kamu ingin saya melepaskan kamu?"
Audy tergagap. Ia bahkan bingung dengan posisinya sekarang. Percuma saja jika Rendi melepaskannya. Untuk apa? Agar ia bisa mengejar Jason yang sekarang sudah memiliki tunangan?
"Jawab saya!" Tegas Rendi karena Audy tidak kunjung menjawabnya.
"Jika kamu mau saya bisa melepaskan kamu sekarang, lalu kamu bisa kembali pada Jason," lanjutnya.
"Untuk apa?" Balas Audy lirih. "Jason sudah mempunyai tunangan."
"Kamu bisa mengejarnya--"
"Mas Rendi bahkan nampar aku kemarin waktu aku minta Jason buat menikah," potong Audy cepat.
"Maaf, tapi saya menampar kamu karena sikap kasar kamu terhadap Olivia. Kamu perempuan, tidak baik bersikap seperti itu," jelas Rendi.
"Bohong!" Seru Audy tidak percaya. "Ah ya, kemarin Jason sempat bilang kalau Mas Rendi ngelarang dia untuk menghubungi aku. Apa benar?"
__ADS_1
Rendi mengangguk. "Saya menyuruhnya untuk memilih antara kamu dan tunangannya itu. Tapi katanya dia tidak bisa meninggalkan Olivia. Jadi saya menyuruhnya untuk melupakan kamu."
"Mas Rendi kenal Jason? Dan Mas Rendi udah lama tau kalau Jason punya tunangan?"
"Kami sempat menjalin kerja sama. Bukan hanya saya, tapi semua rekan bisnis saya, bahkan ayah pun tau jika Jason sudah bertunangan sejak dirinya masih kuliah."
Audy tertegun. Ia menatap Rendi lekat. Mencoba mencari kebohongan di netra laki-laki itu. Namun nihil, ia tidak menemukan apapun di sana.
"Tidak mungkin!" Seru Audy. "Mas Rendi pasti bohong!"
"Tidak ada untungnya saya membohongi kamu. Awalnya saya mengira kamu tau semuanya. Tapi setelah ayah mengatakan bahwa kamu tidak pernah sekalipun mencampuri urusan bisnis Jason, saya menjadi iba melihat kamu."
"Itu juga termasuk alasan mengapa saya tetap mempertahankan pernikahan ini. Kamu tau kenapa?" Rendi mengusap sisa air yang ada di wajah Audy. "Agar kamu tidak sendiri ketika mengetahui segalanya."
"Aku nggak paham," ucap Audy.
Rendi menghela nafasnya. "Saya tau kamu pasti terluka saat tau bahwa Jason mengatakan bahwa ia memiliki tunangan. Dan itu benar terjadi. Kamu sakit semalam. Bagaimana jika saya tidak ada di samping kamu, hm? Siapa yang akan memperhatikan kamu?"
Sudut bibir Rendi tertarik ke atas saat melihat Audy kembali menundukan kepalanya. Ia mengusap rambut Audy kemudian mengecup keningnya.
"Lupakan itu. Sekarang jawab pertanyaan saya tadi, kamu mau saya lepaskan?" Tanya Rendi kembali.
Ya, percuma jika Rendi menjalani pernikahan ini. Karena Audy bahkan masih mencintai kekasihnya. Mungkin Rendi bisa percaya bahwa cinta tumbuh karena terbiasa. Tapi ia merasa egois jika harus membuat Audy lupa dengan cintanya sekarang.
Rendi mengangkat alisnya saat melihat gelengan kepala Audy. Namun gadis itu masih setia menundukan kepalanya.
"Saya butuh jawaban yang jelas, Audy!" Tegas Rendi.
"Tapi setidaknya kamu bisa mencari orang lain yang bisa kamu cintai," balas Rendi.
"Mas Rendi bisa jadi orang yang aku cinta," celetuk Audy, "aku masih punya waktu untuk belajar mencintai Mas Rendi dan juga menjadi istri yang baik."
Jika Jason bisa menjalani hidup bahagia dengan orang lain, Audy juga harus menerima semua itu. Rendi tampan, muda, dan kaya. Laki-laki itu bahkan lebih tinggi tingkatnya daripada Jason. Hanya saja sikap kasarnya sering kali membuat Audy takut. Tapi Audy yakin bahwa Rendi bisa berubah.
"Kamu melakukan ini karena Jason? Kamu ingin menunjukan padanya bahwa kamu bisa hidup tanpa laki-laki itu?" Salak Rendi.
Ia senang Audy bersedia untuk memperbaiki diri. Tapi jika alasannya karena Jason, Rendi tidak suka akan hal itu.
"Aku--" Audy tergagap. Tatapan Rendi sangat menakutkan sehingga membuat Audy tidak bisa berpikir kembali.
Rendi yang mengerti akan situasi itu pun menghela nafasnya. Astaga, ia kehilangan akalnya saat ini sampai-sampai lupa bahwa Audy masih belum sehat.
"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan." Rendi mengecup kening Audy singkat. "Ganti bajumu lalu turunlah. Perutmu harus diisi."
###
Rendi tersenyum lega melihat Audy menghabiskan sepiring nasi dengan lauk tumis udang buncis. Ia juga senang karena kondisi istrinya itu tidak seburuk kemarin.
"Mau lagi?" Tanya Rendi.
__ADS_1
"Nggak." Audy menumpuk piring kotor bekasnya tadi dan berniat untuk mencucinya. Namun tangan Rendi menahannya agar tetap duduk.
"Kenapa?" Tanya Audy.
Rendi mengambil alih piring di tangan Audy lalu meletakannya di meja. "Biar Bi Yuyun yang nyuci."
"Aku aja sih," tolak Audy.
Tubuhnya sudah sehat. Jadi ia bisa beraktivitas kembali. Bukankah seharusnya Rendi senang karena Audy mau mandiri?
"Kondisi kamu belum sehat sepenuhnya. Jadi dengarkan perintah saya," tegas Rendi.
Ia tidak mau keadaan Audy menjadi drop lagi setelah beraktivitas berat. Lagi pula ada pembantu yang bisa melakukan semuanya.
"Tapi--"
"Tidak ada tapi-tapian, Audy. Sekarang cepat minum obatnya." Rendi menyodorkan tangannya yang terdapat beberapa butir obat.
"Mas Rendi kan tau aku nggak bisa minum obat," kata Audy.
Sejak kecil, jika dirinya sakit Lavina hanya akan mengompresnya. Bahkan jika dipaksapun Audy tidak akan bisa meminum obat itu.
"Tapi kamu harus minum ini!"
Audy melirik Rendi takut. Ia mengambil ancang-ancang untuk beranjak. Namun Rendi bisa membaca pergerakannya. Ia mencekal tangan Audy kuat hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Buka mulut kamu," titah Rendi tegas.
Bukannya menurut, Audy justru menutup mulut dengan satu tangannya yang bebas.
"Aku udah nggak sakit," ujar Audy memberi alasan.
Melihat Audy bersikeras untuk menolak membuat Rendi jengah. Tetapi ia masih bisa mengontrol rasa kesalnya.
"Okay, tidak usah minum obatnya. Tapi vitaminnya tetap harus di minum."
"Nggak mauu," tolak Audy.
"Audy, tolong. Jangan buat saya kesal dengan sikap kamu yang kekanakan seperti ini," geram Rendi.
Ya, sekuat apapun ia bersabar, tetap saja sifat aslinya yang menang. Rendi tidak bisa menahan rasa marahnya.
"Aku nggak kekanakan! Kan udah aku bilang kalau aku nggak bisa minum obat. Mas Rendi juga tau itu, kan?" Tanya Audy dengan suara bergetar.
Melihat Audy hampir menangis membuat Rendi berdecak pelan. Ia melempar obat di tangannya ke dalam tempat sampah.
"Terserahlah," gumamnya lalu beranjak dari hadapan Audy.
Ia perlu meredakan emosinya sebelum benar-benar meledak di depan gadis itu.
__ADS_1
###