
Audy bernafas lega karena akhirnya ia bisa mengelabui Rendi dan mengikuti kemana perginya Jason. Beruntung, karena Jason pergi ke kamar mandi khusus tamu yang letaknya jauh dari keramaian.
Ia senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Jason. Karena selama dirinya menikah dengan Rendi, Jason sama sekali tidak menghubunginya.
"Jason," sapanya cepat ketika Jason keluar dari kamar mandi.
Dapat ia lihat raut terkejut dari wajah laki-laki itu. Hanya sebentar, karena Jason langsung menunjukan senyum manisnya.
"Audy," balasnya sembari melangkah mendekati Audy.
"Jason." Audy memeluk Jason dengan sangat erat. Bahkan Jason sampai terkejut dengan pelukannya. "I miss you."
"Aku kangen banget sama kamu. Kenapa kamu nggak pernah bisa dihubungi?" Kesal Audy.
Gadis itu tidak ragu untuk memperlihatkan tangisannya. Seakan ingin tau bahwa ia benar-benar merindukan laki-laki itu.
"Lepaskan aku, Audy. Tidak baik jika ada yang melihat kita seperti ini," ucap Jason fasih.
Ya, Jason memang sejak dulu tinggal di Indonesia. Hanya saja ia mengatakan pada Audy jika setelah menikah, ia akan menetap di Amerika.
Itulah yang menyebabkan Lavina melarang Audy berhubungan dengan Jason. Lavina tidak mau Jason membawa Audy pergi jauh.
"Tidak masalah. Biar semua orang tau bahwa kita masih punya hubungan. Kamu janji mau menikah sama aku 'kan?" Tanya Audy tanpa melepaskan pelukannya.
"Audy, lepaskan! Hubungan kita sudah berakhir! Jadi tolong, bersikaplah sepantasnya!" Sentak Jason membuat Audy menjauh.
Netra gadis itu menatap tidak percaya pada Jason. Apa kata Jason tadi? Hubungan mereka sudah berakhir?
"Hubungan kita belum selesai, Jason. Nggak ada yang mengakhiri--"
"Kamu! Kamu yang mengakhiri hubungan kita tepat setelah status kamu berubah menjadi istri pria lain, Audy! Kamu menghianati hubungan kita!"
"Jason--"
"Cukup, Audy." Jason mengusap wajahnya kasar. "Kamu bertanya kenapa aku tidak bisa dihubungi? Itu semua karena larangan suamimu. Dia melarangku menghubungimu dan menyuruhku untuk melupakanmu. Dan itu aku lakukan karena aku tidak sudi menjadi perusak hubungan orang lain."
"Tapi--"
"Audy dengarkan aku. Ini semua terjadi karena pilihan kamu. Kamu memilih untuk menikah dengan pria lain, itu artinya kamu juga memilih untuk pergi dariku. Jadi aku mohon, jangan membuat keadaan menjadi rumit."
"Jason, aku cinta sama kamu," ucap Audy sembari memegang erat tangan Jason.
Sedangkan Jason menggeleng kuat. Ini tidak benar, Audy sudah menikah dan ia tidak mau memberi harapan lebih untuk perempuan itu. Beruntung karena matanya menangkap sosok wanita yang tengah berjalan kebingungan seperti sedang mencari seseorang. Dan Jason tau, orang yang dicari perempuan itu adalah dirinya.
"Oliv," panggil Jason cepat.
Audy yang mendengarnya merasa bingung. Ia kira Jason salah memanggil namanya. Namun laki-laki itu memang memanggil perempuan lain.
"Audy," panggil Jason tepat setelah Oliv berdiri di samping Jason. "Dia Oliv, tunanganku."
Nafas Audy tercekat mendengar perkataan Jason. Tunangan? Tidak mungkin Jason pasti berbohong.
__ADS_1
"Olivia," ucap wanita itu semari menjulurkan tangannya. Oh, jangan lupakan senyuman anggun yang menghiasi wajahnya.
Bukannya menyambut tangan Olivia. Audy justru menatap perempuan itu sinis dan--
Plak..
--Audy menampar wanita itu.
"Oliv!" Seru Jason khawatir. Ia menatap Audy marah. Satu tangannya terangkat, henda membalas tamparan Audy pada Oliv tadi. Namun seseorang mencekal tangannya.
Tubuh Audy menegang begitu mengetahui bahwa yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Rendi. Laki-laki itu melindunginya dari kemarahan Jason.
"Maaf," ucap Rendi pelan, "saya meminta maaf atas perilaku Audy pada tunangan anda, Tuan Jason."
"Kenapa Mas Rendi minta maaf? Aku nggak salah. Perempuan itu yang salah karena merebut kekasih orang," ucap Audy membela diri.
Satu hal yang Audy tidak tau bahwa perkataannya mampu menyinggung posisi Rendi. Secara tidak langsung Audy juga mengatakan bahwa Rendi juga salah, karena sudah merebut Audy dari Jason, meskipun itu bukan keinginannya. Audy juga membuat Rendi merasa tidak punya harga diri. Tentu saja karena istrinya menyebut laki-laki lain sebagai kekasihnya.
"Tidak masalah. Tapi aku harap kejadian ini tidak terulang lagi," ucap Jason setelah berhasil meredam kemarahannya.
Jason menarik Olivia ke dalam pelukannya dan membawa wanita itu pergi. Ia bahkan mengabaikan Audy yang terus memanggilnya.
"Mas Rendi kenapa mi--"
Plak...
Perkataan Audy terhenti, digantikan dengan jeritan kesakitan karena Rendi menamparnya dengan sangat kuat. Untung saja tidak ada orang selain mereka di sana. Jika ada, pasti nama baik Rendi tercemar karena memperlakukan istrinya dengan sangat kasar.
"Siapa yang mengajari kamu menjadi pembohong, hm? Kamu bilang bosan jadi saya biarkan kamu berkeliling. Tapi nyatanya kamu justru mengejar kekasih kamu dan mengemis cinta padanya. Murahan!"
"Aku nggak--"
"Diam!" Salak Rendi. "Berhenti menangis dan rapikan penampilanmu. Kita pulang sekarang!" Titah Rendi tidak bisa ditolak.
###
Rendi tidak habis pikir dengan jalan pikiran Audy. Sejak kemarin malam, Audy tidak mau berbicara sedikitpun dengannya. Ia bahkan mengabaikan jam makannya. Terbukti dengan sarapan yang ia siapkan tadi pagi masih utuh di atas nakas.
"Berhenti bersikap seperti anak kecil, Audy. Bangun, kamu harus mengisi perutmu." Rendi duduk di samping Audy yang masih terbaring. Ia membawa semangkuk bubur yang masih hangat.
Ditariknya selimut yang membungkus tubuh Audy. Ia bahkan menarik paksa lengan Audy sampai gadis itu duduk bersandar di kepala ranjang.
"Makan," ucapnya sembari menyodorkan sesuap bubur pada Audy. Namun gadis itu tetap bergeming.
"Audy!" Geram Rendi. Ia sudah berusaha menahan kekesalannya. Tapi melihat sikap Audy yang seenaknya membuat Rendi muak.
"Bunda," gumam Audy lirih tapi Rendi masih bisa mendengarnya.
"Tidak ada bunda di sini. Kamu sudah dewasa, cobalah menyelesaikan masalah sendiri!"
Audy menggeleng. Tetap tidak mau menatap Rendi. "Aku mau bunda," ulangnya lagi.
__ADS_1
Mengabaikan perkataan Audy, Rendi kembali menyodorkan sesuap bubur itu.
"Makan!" Seru Rendi.
"Aku mau sama bunda. Aku--"
"Makan dulu," sela Rendi.
"NGGAK MAU! AKU MAU BUNDA--"
Prang....
Rendi melempar bubur di tangannya ke sembarang arah. Membuat Audy terdiam dan menutup matanya erat. Ia takut melihat kemarahan Rendi.
"Sikap kamu membuat saya muak, Audy! Terserah jika kamu makan atau tidak. Saya lelah sudah memperdulikan kamu!" Jelas Rendi meninggalkan Audy yang terisak di kamarnya.
Laki-laki itu mengacak-acak rambutnya kesal. Ya, mudah baginya berkata seperti itu pada Audy. Tapi jauh di dalam hatinya ia mengkhawatirkan gadis itu. Bagaimana jika Audy sakit karena perutnya tidak diisi secuilpun makanan.
Dengan terpaksa Rendi menurunkan egonya. Ia membuka ponsel dan menghubungi seseorang.
"Rendi? Ada apa? Nggak biasanya telepon bunda. Audy baik-baik aja 'kan?"
Rendi menarik nafasnya dalam. Ia belum berkata apapun. Tapi Lavina sudah mengkhawatirkan Audy. Memang, perasaan seorang ibu menyangkut anaknya memang sangat kuat.
"Bunda ada waktu?" Tanyanya basa-basi.
"Tentu saja. Kenapa?" balas Lavina.
"Audy menolak makan sejak kemarin malam. Bunda bisa ke sini?"
"Astaga! Kenapa kamu baru bilang, Rendi? Yaudah, bunda ke sana sekarang."
"Sama ayah, bunda."
"Ayah kamu belum pulang!"
"Kalau begitu tidak usah ke sini. Besok pagi saja," ucap Rendi.
"Tapi--"
"Ayah akan marah jika bunda ke sini sendirian. Ini sudah malam."
"Ada Mang Ujang yang bisa mengantar bunda."
"Tidak. Rendi tidak akan membukakan pintu untuk bunda jika sampai--"
"Sepertinya ayah sudah pulang. Bunda ke sana sekarang."
Rendi menatap ponselnya. Panggilannya sudah terputus. Ia tidak tau apakah bundanya berbohong atau tidak. Rendi hanya tidak ingin Lavina dan Bara bertengkar. Ya, mengingat sikap Bara sangat posesif. Ia pasti tidak mengizinkan Lavina pergi jauh malam-malam seperti ini.
###
__ADS_1