
Audy melirik jam dinding di kamarnya. Sudah pukul sepuluh pagi. Tapi Rendi sama sekali belum terlihat. Ia jadi merasa takut jika Rendi meninggalkannya sendiri di rumah ini.
Mungkin saja Rendi kecewa dengan sikapnya malam itu. Namun Audy memang berkata yang sejujurnya. Di dalam hatinya masih ada cinta yang tersisa untuk Jason. Dan ia ingin menikah dengan laki-laki itu. Menciptakan momen-momen indah berdua tanpa kesedihan.
Ia merasa lelah dengan pernikahan ini. Audy tidak merasakan kebahagiaan sedikitpun. Setiap hari ia merasa tertekan dengan aturan-aturan yang di buat oleh Rendi.
Jika saja Audy tau bahwa Rendi akan bersungguh-sungguh menjalankan pernikahan ini, ia pasti memilih untuk membatalkan pernikahannya. Ia salah karena sudah berpikir bahwa Rendi mau melakukan pernikahan ini dengan sebuah kontrak.
Kepala Audy berdenyut tidak karuan. Sepertinya tarikan Lavina semalam sangat keras sampai-sampai rasa sakitnya belum juga hilang. Ah, mengingat sikap bundanya itu membuat Audy merasa sedih. Lavina mulai membela Rendi, seperti yang dilakukan ayahnya. Dan Audy tidak suka dengan itu.
Audy tersentak ketika pintu terbuka. Rasanya lega ketika melihat Rendi masuk ke dalam. Ya, setidaknya laki-laki itu mau menyempatkan diri untuk menengoknya. Namun keningnya mengerut ketika Dokter Adrian berada di belakang Rendi.
Mengabaikan Audy yang menatapnya, Rendi justru mempersilahkan Dokter Adrian duduk di sebelah Audy dan memeriksa gadis itu.
"Dia tidak mau makan sejak kemarin. Semalam bahkan suhu badannya sangat tinggi," jelas Rendi menambah kebingungan Audy.
Dokter Adrian tersenyum melihat kekhawatiran Rendi. Sebagai dokter pribadi di keluarga Dirgantara, ia menyukai sikap Rendi yang peduli pada semua orang.
"Detak jantungnya sangat cepat. Mungkin Audy terlalu banyak memikirkan sesuatu." Dokter Adrian mengeluarkan sebotol cairan infus dari dalam tasnya.
"Tubuhnya kekurangan minum dan makan. Jadi saya memberikan infus ini," lanjutnya sembari memasangkan infus itu.
Audy hanya bergeming. Ia bahkan diam ketika Dokter Adrian menyuntikan jarum di tangannya.
"Apa tidak sebaiknya dibawa ke rumah sakit?" Tanya Rendi.
"Tidak perlu." Dokter Adrian menuliskan sesuatu di catatan kecil dan memberikannya pada Rendi. "Tebus ini di apotik. Berikan pada Audy setiap pagi dan malam hari."
Rendi mengangguk singkat. Sejenak ia menatap Audy. Lalu kemudian mengantar Dokter Adrian ke halaman rumahnya.
"Boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya Dokter Adrian dibalas anggukan pasti dari Rendi.
"Luka di sudut bibir Audy,,," Dokter Adrian menggantungkan kalimatnya. "Apa anda yang memberikannya?"
__ADS_1
Rendi mengangguk dan tersenyum canggung. "Kami sempat bertengkar beberapa hari yang lalu," jelasnya singkat.
"Ah begitu. Begini, bukannya saya ingin ikut campur, tapi sebaiknya anda tidak terlalu keras pada Audy. Yang saya tau, Audy dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Jiwanya mungkin mudah terguncang jika anda kasar padanya," terang Dokter Adrian.
"Iya, lagi pula saya tidak ada niat untuk mengulanginya lagi. Terima kasih atas sarannya," balas Rendi.
Setelah memastikan Dokter Adrian benar-benar pergi, Rendi masuk ke dalam rumahnya. Ia menuju dapur, menghampiri Bi Yuyun yang sedang menuangkan bubur ke dalam mangkuk.
"Bi," panggilnya membuat wanita paruh baya itu menoleh.
"Iya, den?"
Rendi memberikan secarik kertas yang bertuliskan resep obat itu pada Bi Yuyun.
"Tolong tebus obatnya Audy, ya? Buburnya biar saya yang bawa," ucapnya mengambil nampan yang sudah berisi semangkuk bubur dan segelas air putih.
Rendi membawa nampan itu ke kamarnya. Sudut bibirnya tertarik, membentuk senyuman yang sulit diartikan. Ia menatap Audy yang masih terbaring lemas di ranjang.
"Makan?" Tanyanya lembut. Ia membantu Audy untuk duduk. Menyandarkan punggung gadis itu di kepala ranjang.
Tidak mau memaksa Audy, akhirnya Rendi meletakan kembali nampan yang ia bawa di atas nakas. Tangannya terangkat, menyentuh kening Audy. Rasanya lega karena suhu badan Audy kembali normal.
Tidak ada yang tau bahwa semalam ia sangat khawatir karena Audy demam tinggi. Ia berniat membawanya ke rumah sakit. Namun Audy justru menangis keras. Rendi ingat sekali saat Audy meraung-raung meminta pulang ke rumah Lavina. Mungkin Audy mengigau karena efek demamnya.
"Aku pikir Mas Rendi pergi," ucap Audy hampir tanpa suara.
"Tidak. Saya hanya ke kantor untuk menyelesaikan rapat yang tidak bisa ditunda. Setelah rapat saya langsung pulang. Saya tidak mau mengganggu tidur kamu, jadi saya tidak berpamitan," jelas Rendi menjawab semua rasa penasaran Audy.
"Kamu benar-benar tidak mau makan? Memangnya tidak lapar?" Tanya Rendi.
"Aku lapar," balas Audy, "tapi pipi aku sakit. Susah buat makan."
"Coba lihat." Rendi menyelipkan rambut panjang Audy yang menutupi wajah gadis itu. Jemarinya memegang dagu Audy. Tidak terlalu kuat, tapi mampu untuk menahan gadis itu agar menatapnya.
__ADS_1
Rendi menyentuh lebam biru yang berada di sudut bibir Audy. Membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Maaf," ucap Rendi tulus.
Ia benar-benar tidak berniat untuk menampar Audy. Itu adalah gerakan refleks yang timbul dari kemarahannya. Rendi tidak suka ketika Audy bersikap kasar kepada orang lain.
"Kamu mau pulang ke rumah bunda? Kita menginap di sana, ya?" Tanya Rendi mencoba membuat suasana hati Audy membaik.
Audy menggeleng kuat. "Bunda jahat," ucapnya mengingat perlakuan Lavina semalam.
"Sst! Tidak boleh bicara seperti itu, Audy," kata Rendi mengingatkan.
"Tapi kenyataannya kaya gitu. Bunda lebih belain Mas Rendi. Bunda udah nggak sayang sama aku," isak Audy.
Rendi menghela nafasnya. Ia mengusap air mata Audy dan mengecup kening gadis itu.
"Sudah, jangan dipikirkan dulu. Istirahat lagi saja."
Rendi kembali membantu Audy berbaring. Ia juga menarik selimut untuk menutupi tubuh Audy.
"Mas Rendi mau kemana?"
"Ke ruang kerja. Ada pekerjaan yang belum saya selesaikan. Kenapa?"
Audy menggeleng. Entah mengapa ia tidak ingin ditinggal sendiri. Namun egonya terlalu tinggi untuk meminta Rendi tetap di sana.
"Buburnya saya letakkan di situ," kata Rendi sebelum pergi.
Audy meringkuk ke sebelah kanan. Ia bingung dengan perasaannya. Semenjak Lavina mengatakan bahwa Rendi menerima pernikahan ini dengan lapang dada, hatinya menjadi tidak karuan.
Berbagai macam pertanyaan timbul di hatinya. Seperti, apakah ia terlalu egois karena memikirkan perasaannya sendiri? Atau, apakah ia salah karena mengabaikan pernikahan ini?
Tapi ada bagian dari dalam dirinya yang mengatakan bahwa ia masih mencintai Jason. Dan ia harus menikah dengan laki-laki itu.
__ADS_1
###