Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Kedewasaan Rendi


__ADS_3

Sebenarnya Rendi sangat ingin membawa Audy pulang ke rumahnya. Mengingat semalam ia sudah menuruti permintaan Audy untuk tidur di rumah Bara.


Tapi melihat mood Audy yang belum membaik membuat Rendi mengalah dan kembali ke rumah orang tuanya.


Sekarang ia sedang berada di kamar gadis itu. Meski terkesan seperti kamar anak kecil, nyatanya tempat itu sangat nyaman. Pantas saja Audy tidak mau tidur di kamarnya semalam.


Niatnya tadi hanya mengantarkan Audy. Ia ingin memastikan bahwa Audy pulang dengan selamat dan tidak pergi kemanapun. Tapi setelah sampai, Rendi menjadi enggan untuk kembali ke kantornya. Apalagi mengingat sikap sekretarisnya tadi. Tidak biasanya Mawar mendebatkan perintahnya.


"Mas Rendi," panggil Audy dari ambang pintu. "Disuruh nemuin ayah di bawah."


"Hm," gumamnya malas.


"Cepat gih!" Seru Audy tidak sabar.


Bukan apa-apa. Ia hanya malas jika Bara menyuruhnya lagi nanti.


"Iya, saya akan mengganti pakaian dulu," balas Rendi masih menutupi mata dengan lengan kekarnya.


"Mas Rendi nggak kerja lagi?"


"Tidak."


"Rapatnya--,"


"Saya sudah menyuruh orang untuk menggantikannya."


"Tadi Mawar bilang Mas Rendi harus menyelesaikan sesuatu."


Rendi mendesah halus dan bangkit. "Semua pekerjaan saya sudah hampir selesai. Hanya tinggal menunggu data akhir dari bagian keuangan dan data itu baru bisa saya terima sore nanti."


"Sepertinya kamu ingin sekali saya pergi dari sini," lanjut Rendy membuat Audy mengusap lehernya canggung.


"Enggak, kok," elak Audy. "Yaudah cepat ganti bajunya. Ayah udah nunggu di bawah," lanjutnya hampir tanpa jeda kemudian bergegas ke lantai bawah.


Sedangkan Rendi menaikan sudut bibirnya. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Yang jelas, ia lebih suka Audy yang cerewet dari pada Audy yang diam karena tidak nyaman dekat dengannya.

__ADS_1


Setelah mengganti seragam kantor dengan celana pendek berwarna moka dan kaos putih polos, ia segera menemui ayahnya.


"Lama," celetuk Bara sembari melipat korannya.


"Ayah tidak ke kantor?" Tanya Rendi begitu mendaratkan tubuhnya di kursi teras.


"Sudah ada Ilham di sana yang menggantikan ayah."


Ilham adalah anak dari adik Bara. Sayangnya adik Bara serta istrinya sudah meninggal karena kecelakaan maut dua tahun lalu. Bara sudah menganggap Ilham seperti anaknya sendiri. Walaupun umur Ilham lebih tua satu tahun dari Rendi.


Bara mempercayakan semua masalah yang menyangkut perusahaannya pada Ilham. Mengingat Ilham ingin bekerja di perusahaan walaupun kedua orang tuanya adalah seorang dokter.


"Kamu sendiri bolos kerja?" Tanya Bara.


Rendi mengangguk singkat. "Niat Rendi hanya mengantar Audy. Tapi sepertinya tidur siang di rumah lebih menyenangkan. Sayangnya Rendi tidak bisa melakukan itu karena ayah memanggil Rendi ke sini," ucapnya disertai sindiran kecil.


Bara terkekeh kecil. Dagunya terangkat, menunjuk Lavina dan Audy yang sedang memakan lutis di gazebo yang letaknya tidak jauh dari tempatnya duduk. "Memangnya kamu tidak ingin melihat apa yang istri kamu lakukan dengan bundanya?"


Pertanyaan Bara membuat Rendi mengangkat alisnya. "Kenapa? Apa dia membuat kesalahan?"


Rendi menatap Bara bingung. Ia tidak mengerti maksud ayahnya.


"Sesekali kamu harus meluangkan waktu untuk melihat kebersamaan Audy dengan bunda, Ren. Jadi kamu tau, senakal-nakalnya atau sebebas-bebasnya Audy di luar sana, anak itu sangat menyayangi bunda."


Menyadari perkataan Bara mengarah pada hal yang tidak diinginkan, Rendi langsung menggeleng.


"Rendi akan membawa Audy pulang sore nanti," ucapnya tegas.


"Tapi--"


"Ayah, ini sudah kesepakatan kita dari awal. Rendi tidak akan mengizinkan Audy tinggal di sini."


"Iya ayah tau itu. Tapi setelah melihat keadaannya, sepertinya Audy butuh belajar banyak dari Lavina. Meskipun ayah percaya kamu mampu mengajari Audy bagaimana menjadi wanita yang kamu inginkan, tetap saja dia butuh bimbingan lebih mengingat kamu banyak menghabiskan waktu di kantor. Dia tidak bisa belajar dari para pembantu di rumah kamu," jelas Bara.


Menurutnya lebih baik Audy tinggal di sini sehingga Lavina dapat mengajarinya berbagai hal.

__ADS_1


"Apa bunda yang meminta ayah agar--"


"Tidak, ini permintaan ayah sendiri," sela Bara.


Rendi terdiam tanpa mengalihkan pandangannya dari Audy yang sedang meminum segelas air putih di gazebo sana.


"Rendi pikir Audy akan menjadi beban di sini. Tujuan Rendi membawa gadis itu ke rumah bukan sekedar untuk mengajari hal-hal yang Rendi inginkan. Rendi juga ingin ayah dan bunda terlepas dari kewajiban mengurus Audy sehingga bisa menghabiskan waktu untuk mengistirahatkan diri."


"Ayah sama sekali tidak keberatan untuk mengurus Audy."


Rendi menghela nafasnya singkat. "Akan Rendi pikirkan nanti."


"Ngomong-ngomong, kapan kamu memberikan ayah cucu?"


Seketika pertanyaan Bara membuat Rendi menatapnya tajam.


"Mungkin ayah harus menanyakan itu pada orang yang akan mengandung cucu ayah," balasnya sarkas.


Bara tergelak mendengarnya. Pertanyaannya tadi hanya candaan agar Rendi tidak terlalu serius memikirkan perkataannya. Namun respon yang diberikan Rendi sangat menghiburnya.


"Kamu sama sekali belum menyentuhnya?" Tanya Bara.


Rendi menggeleng. "Ayah pikir Rendi bisa melakukannya?"


Bara mengangkat alisnya. "Tentu saja, Audy itu istri sah kamu, Ren. Kamu bisa meminta hak kamu padanya."


"Dengan cara memaksanya? Rendi tidak bisa untuk itu."


"Ayah yakin di dalam hati dan pikiran kamu pasti ada keinginan untuk melakukan itu," ucap Bara di balas anggukan oleh Rendi.


"Ya, tentu. Rendi juga laki-laki normal yang menginginkan kepuasan biologis. Tapi Rendi masih bisa menahannya."


Bara tersenyum singkat. Ia bangga melihat anak kandungnya itu tumbuh menjadi orang yang dewasa. Ia suka cara Rendi menyikapi suatu masalah.


Melihat keseriusannya dalam menjalani hubungan dengan Audy membuat Bara yakin bahwa hubungan mereka akan berjalan seperti pasangan suami istri lainnya.

__ADS_1


###


__ADS_2