Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Undangan Pesta


__ADS_3

Audy menghempaskan tubuhnya pada sofa panjang ruang tengah. Pagi ini ia sangat lelah karena harus membantu Bi Yuyun untuk membuat sarapan. Awalnya ia melakukan itu karena paksaan. Namun setelah satu minggu Audy menjalaninya, ia menjadi terbiasa. Entah kenapa Audy menjadi suka mendengar ketukan pisau yang berpadu dengan papan potong sayur. Ah ia juga suka mencium aroma bumbu untuk masakannya. Tapi tetap saja, rasa suka itu tidak membuat lelahnya hilang. Audy tetap Audy. Ia akan kelelahan hanya karena melakukan hal kecil.


"Audy!"


Teriakan Rendi dari lantai dua berhasil membuat dengusan lolos dari hidung gadis cantik itu. Dengan malas ia bangkit untuk menemui suaminya.


"Kenapa?" Tanya Audy bersandar di pilar pintu. Melirik Rendi yang masih mengenakan handuk di pinggangnya. Audy tidak risih, ia sudah terbiasa dengan itu semua.


"Kamu lupa nyiapin pakaian saya," ucap Rendi menunjuk lemari besar dengan dagunya.


"Ck! Tinggal ambil sendiri kenapa, sih?" Meskipun begitu Audy tetap melangkah menuju lemari dan memilah kemeja untuk Rendi. "Kaya nggak biasa aja. Lagian lebih cepat dari pada harus manggil aku."


Rendi meraih kemeja biru tua yang diulurkan Audy. Ia tersenyum melihat gadis itu menampilkan wajah masamnya.


"Kan kamu istri saya."


Audy memutar bola matanya malas. "Itu terus. Apa-apa 'kamu kan istri saya'," balas Audy meniru perkataan Rendi.


"Ayo sarapan. Kamu pasti udah lapar, kan?" Rendi merapihkan kerah kemejanya dan berjalan mendahuliu Audy.


"Aku udah makan roti tadi. Mas Rendi sih, mandinya lama," ucap Audy. Ia duduk di kursinya dan menyerahkan sepiring nasi untuk Rendi.


Hari ini Rendi kembali bekerja di kantor. Jadi Audy senang bisa bebas melakukan apa saja di rumah ini. Jujur saja, Audy merasa suntuk. Setiap hari Rendi melarangnya ini itu. Bahkan ke mini market pun harus izin pada laki-laki itu.


"Kamu nggak sarapan? Emang kenyang cuma makan roti?" Tanya Rendi setelah menyelesaikan kunyahan terakhirnya. Ia meneguk air putih, menatap Audy menunggu jawaban.


"Nanti aku sarapan. Buruan gih berangkat!"


"Kayaknya kamu senang sekali kalau saya berangkat kerja," sindir Rendi. "Mau ngapain emangnya?"


"Bukan urusan Mas Rendi." Audy meraih tas kerja Rendi dan mengantarkan suaminya itu ke teras depan.


"Jangan bertindak berlebihan. Saya tetap mengawasi kamu walaupun bekerja."


Rendi meraih tasnya. Ia hendak melangkah, namun ia urungkan dan kembali menatap wajah Audy yang belum tertimpa make up. Disentuhnya pipi Audy pelan membuat gadis itu tidak nyaman.


"Udah nggak sakit 'kan?" Tanya Rendi mengingat minggu lalu ia memberikan tamparan pada Audy.


Sedangkan Audy menggeleng dan menepis tangan Rendi. "Udah sana," usir Audy kesal.


"Yaudah saya berangkat. Kamu masuk gih, nggak baik lama-lama di luar pakai pakaian seperti itu."

__ADS_1


Rendi menatap Audy yang hanya mengenakan celana pendek di atas lutut dan tengtop untuk atasannya.


"Dari kemarin aku kek gini juga kamunya nggak masalah."


"Mulai sekarang jangan dibiasain. Kamu sudah punya suami. Jadi kamu harus bisa menyesuaikan penampilan kamu. Saya nggak menuntut kamu untuk menutup seluruh tubuhmu. Tapi setidaknya berpakaian yang sopan. Saya nggak mau tubuh kamu diperlihatkan untuk laki-laki lain, sekalipun itu Pak Tarman," jelas Rendi menyebut nama supir pribadinya.


Tentu saja perkataan Rendi membuat Audy bergidik ngeri. Ia membalas tatapan Rendi yang sangat meneduhkan.


"Aku masih adik kamu, mas," tandas Audy.


Audy masih belum bisa menerima Rendi menjadi suaminya. Ia menginginkan pria lain untuk menggantikan posisi Rendi. Pria yang mencintainya seperti Lavina. Pria yang menjaganya seperti yang Bara lakukan. Rendi tidak bisa menjadi pria seperti itu.


Rendi menggeleng kecil. Ia mendekat pada Audy dan mencium kening gadis itu singkat. "Saya berangkat," pamitnya.


Dalam perjalanan Rendi berulang kali menghembuskan nafasnya. Jujur saja berat untuknya menjalani semua ini. Setiap hari Rendi harus menjaga sikapnya demi kenyamanan Audy. Ia juga harus membimbing Audy agar menjadi gadis yang mandiri. Rendi tidak mau menuntut Audy untuk menjadi wanita idamannya. Ia hanya ingin Audy menerima semuanya terlebih dulu.


Mobil yang ditumpangi Rendi berhenti di depan gedung perusahaannya. Rendi segera turun dari sana kemudian menuju lift khusus pimpinan. Ia menarik sudut bibirnya, membalas beberapa sapaan dari karyawannya.


Sesampainya di ruangan, Rendi langsung di sambut oleh Mawar, sekretaris pribadinya. Wanita itu berdiri dan menundukan kepalanya. Lalu menyusul Rendi ke mejanya.


"Saya bacakan jadwal anda, Pak," ucap Mawar sopan dibalas anggukan dari Rendi.


"Hari ini anda memiliki pertemuan dengan Arkana Group untuk membahas rencana pembangunan pusat perbelanjaan milik perusahaan kita. Anda juga harus menghadiri rapat di bagian keuangan jam tiga sore nanti."


"Baik, pak," kata Mawar tegas.


"Tolong buatkan teh tawar untuk saya," pesan Rendi pada sekretarisnya itu.


"Akan saya buatkan," balas Mawar meninggalkan Ruangan Rendi setelah sebelumnya membungkuk sopan.


Rendi mendesah kecil. Ia membuka laptopnya dan membaca ulang materi untuk rapatnya nanti. Rendi tidak mau ada kesalahan yang mengharuskannya mengulang dan merubah seluruh rencana. Karena itu akan sangat merepotkan


###


Acara rapat dengan Arkana Group selesai tepat pukul satu siang. Rendi merasa lega karena seluruh rencananya sudah berhasil. Segala persiapan pembangunan pusat perbelanjaannya telah selesai dan gedung itu siap di bangun. Hanya tinggal menunggu waktu. Rendi sangat percaya pada Arkana Group untuk melakukan pembangunan itu.


"Rendi!"


Suara itu berhasil menghentikan langkah Rendi dan juga menyita seluruh perhatian para karyawan di loby utama. Ia mengangkat satu alisnya mendapati Arkan berjalan mendekatinya.


Arkan adalah pimpinan dari Arkana Group. Perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan. Sama seperti Rendi, Arkan juga merintis usahanya setelah lulus kuliah. Mereka sudah saling kenal sejak SMA. Namun karena kesibukan masing-masing membuat mereka susah berkomunikasi.

__ADS_1


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Arkan.


Tidak ada alasan bagi Rendi untuk menolak. Ia mengajak Arkan ke dalam ruangannya agar lebih nyaman untuk berbicara.


"Ada apa?" Tanya Rendi setelah mempersilahkan Arkan duduk.


Arkan menyerahkan sebuah undangan berwarna silver. "Aku ingin memintamu datang ke acara itu," ucap Arkan sedikit formal.


"Aniversery kedua?" Tanya Rendi tidak percaya.


Arkan menggaruk tengkuknya canggung. "Maaf nggak bisa undang kamu waktu pernikahan. Pihak istriku menolak acara resepsi yang mewah. Jadi kami hanya merayakan pesta kecil," jelasnya.


"Nggak masalah," kata Rendi, "terima kasih undangannya. Aku pasti akan datang."


"Ajak istrimu juga," ucap Arkan mengingatkan.


"Pasti!" Tegas Rendi.


Arkan tertawa kecil. "Aku tidak menyangka kamu menikahi adikmu sendiri. Yang aku tau dia jauh dari kriteriamu."


Rendi menanggapinya dengan senyuman. "Sudah takdir dari yang di atas, Ar."


"Aku tau." Arkan menyandarkan punggungnya. "Aku juga menikah dengan gadis yang bukan kriteriaku."


Ucapan Arkan membuat Rendi menatap foto Arkan dan istrinya di undangan itu. Benar, perempuan di samping Arkan sangat anggun balutan gamis. Yang Rendi tau Arkan menyukai wanita yang selalu menampilkan kaki jenjangnya.


"Aku membuat kesalahan yang mengharuskanku menikahinya."


Rendi membulatkan matanya. Namun ia tidak mengatakan apapun. Ia membiarkan Arkan melanjutkan kalimatnya.


"Awalnya aku mengabaikannya. Bukan karena dia tidak cantik atau apapun itu. Aku takut tidak bisa menjadi suami yang baik untuknya. Tapi dia mematahkan ketakutanku, Ren. Dia mau membiarkanku belajar mengimbanginya dalam ilmu agama. Dia mau mengajariku dengan sabar sampai aku bisa menjadi imam yang baik untuknya."


Sudut bibir Rendi terangkat. "Aku harap bisa sepertimu, Ar. Aku juga ingin menjadi kepala rumah tangga yang baik."


"Kamu pasti bisa." Arkan menepuk bahu Rendi dua kali lalu beranjak berdiri. "Aku permisi. Anakku sedikit demam, jadi aku tidak bisa berlama-lama."


Rendi mengangguk dan mengantarkan Arkan sampai ke pintu. "Semoga keadaan anakmu cepat membaik."


Arkan menoleh. "Terima kasih."


Rendi kembali duduk di kursi kerjanya. Ia menghela nafasnya. Cerita Arkan tadi sedikit berpengaruh pada dirinya. Andai saja ia mempunyai istri seperti wanita milik Arkan--

__ADS_1


Ah, tidak. Audy adalah istrinya. Ia tidak bisa mengharapkan wanita lain ataupun sekedar membayangkan memiliki istri yang sesuai kriterianya. Rendi yakin suatu saat ia bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan Audy.


###


__ADS_2