Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Dia Kembali??


__ADS_3

Rendi menatap Audy dengan tatapan kagum. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun yang mereka pilih kemarin.


Tidak hanya cantik, Audy juga terlihat lebih anggun dan dewasa. Apalagi riasan di wajahnya sangat pas dan tidak berlebihan.


Malam ini mereka akan menghadiri acara anniversary pernikahan Arkan dan istrinya. Acara itu dilangsungkan setengah jam lagi. Dan ia merasa lega karena persiapan Audy tidak selama yang ia kira.


"Ah iya! Aku lupa bawa ponsel!" Seru Audy dan hendak berbalik ke kamarnya. Namun Rendi segera menahan gadis itu.


"Tidak perlu membawanya," ucap Rendi.


"Ck! Nggak asik kalo nggak bawa ponsel, mas!"


"Untuk apa membawanya, Audy?"


"Ya buat apa aja," ucap Audy sembari menyentak tangan Rendi.


Gadis itu bergegas menuju kamarnya.


"Saya tunggu di mobil," ucap Rendi setengah berteriak.


Tidak ada yang tau bahwa sekarang ia sedang berusaha menahan senyumnya melihat tingkah Audy. Entahlah, ia merasa gadis itu sangat lucu.


Ting!


Rendi mengecek ponselnya setelah mendengar notifikasi pesan masuk. Nama Lavina tertera di layar dengan pesan panjang untuknya.


Bunda


Hati-hati di jalan:)


Jagain Audy. Jangan marahi dia di depan umum kalau misalnya dia buat salah, yaa.


Tetap di sampingnya agar dia tidak merasa bosan di sana.


Lavina memang mengetahui rencananya membawa Audy ke pesta itu. Kemarin Rendi membawa Audy pulang dengan alasan gaun yang sekarang di pakai Audy sudah sampai di rumahnya dan Audy harus mencobanya kembali.


"Jangan lari-lari," pesannya cepat saat melihat Audy tengah berlari dari pintu utama. Rendi kembali memasukan ponselnya tanpa membalas pesan Lavina.


Tangannya bergerak cepat untuk menahan Audy ketika gadis itu tersandung kecil. Untung saja jarak mereka tidak jauh.


"Aduh," ringis Audy sembari membenarkan letak high heels-nya.


"Saya 'kan udah bilang jangan lari-lari," kesal Rendi sembari menyentil telinga Audy.


"Ih! Kan aku nggak tau mau jatuh gara-gara lari! Lagian Mas Rendi juga sih bikin aku terburu-buru!"

__ADS_1


"Seingat saya, saya tidak meminta kamu untuk bergerak cepat," balas Rendi.


"Nggak tau, ah! Intinya gara-gara Mas Rendi aku hampir aja jatuh!" Seru Audy lalu bergegas masuk ke dalam mobil.


Rendi menggeleng tidak mengerti. Kemudian bergegas duduk di kursi kemudi. Tanpa membuang waktu lagi ia langsung menjalankan mobilnya.


"Jauh nggak tempatnya?" Tanya Audy memecah keheningan.


"Tidak," balas Rendi, "acaranya dilangsungkan di halaman belakang rumahnya. Bukan di hotel atau vila."


Rendi dapat melihat Audy mengangguk singkat. Gadis itu membuka ponselnya dan membalas pesan teman-temannya.


Jika boleh jujur, Rendi sangat penasaran dengan apa yang dirasakan Audy sekarang. Karena akhir-akhir ini Audy tidak menunjukan sikap penolakan lagi. Namun ia juga tidak bisa melihat apakah Audy mulai menerima pernikahannya atau belum.


"Audy," panggil Rendi lirih.


Gadis itu hanya bergumam menanggapinya.


"Kalau misalkan kita tinggal di Surabaya bagai--"


"Enggak! Aku nggak mau!" Sela Audy cepat.


"Saya belum selesai bica--"


"Apa yang membuat kamu tidak betah? Banyak fasilitas yang sudah saya sediakan di sana," balas Rendi.


"Tapi Mas Rendi nggak ngebolehin aku keluar!"


Rendi menaikan satu alisnya. "Sepertinya kamu salah paham selama ini. Saya membebaskan kamu keluar rumah asal meminta izin terlebih dulu."


"Yang ada aku nggak diizinin keluar!"


"Audy--"


"Udah ah, mas! Aku tuh paling males bahas ginian. Bikin kesal doang yang ada!"


Rendi mengangguk. Menyudahi topik pembicaraan kali ini. Ia tidak mau Audy semakin kesal dan meminta untuk pulang.


Sebenarnya Rendi hanya mengarang tentang ajakannya tinggal di Surabaya. Karena perusahaannya memang berpusat di Jakarta. Jadi tidak mungkin ia berpindah kota.


Ia hanya ingin tau kesiapan Audy untuk tinggal bersamanya.


Rendi menghentikan mobilnya di parkiran luas kediaman Arkan. Kedatangan mereka disambut hangat oleh pelayan yang berjaga di depan pintu utama.


"Kita sapa Arkan dulu." Rendi menarik tangan Audy ke arah pasangan suami istri yang mengadakan pesta itu.

__ADS_1


Belum sempat Rendi memanggil, Arkan sudah terlebih dahulu menyadari keberadaannya dan langsung menyalaminya. Ia menangukpan kedua tangannya di depan dada untuk membalas salam dari istri temannya itu. Sedangkan Audy hanya diam tanpa mau melepaskan tangannya dari lengan Rendi.


"Selamat ya, Ar. Aku masih tidak menyangka kamu sudah menjadi kepala rumah tangga sekarang ini," ucapnya tulus.


Arkan tersenyum menanggapi. "Kamu juga akan menjadi sepertiku," ucapnya sembari melirik Audy.


"Tentu saja," kekeh Rendi. Netranya menatap sekeliling. "Dimana anakmu?"


"Sudah tidur. Sebenarnya aku ingin membawanya kemari agar semua orang tau bahwa jagoan kecilku sangat mirip denganku," ucap Arkan bangga, "sayangnya, istriku melarangnya," lanjutnya lirih namun masih bisa di dengar oleh semua orang. Membuat Melia, istri Arkan, menepuk pundaknya pelan.


"Udara malam tidak baik untuk bayi," ucap Melia tanpa melupakan senyumnya.


"Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari. Silahkan nikmati pestanya, kami akan menyambut tamu lain dulu," ucap Arkan.


Rendi mengangguk sopan. Ia meraih dua gelas orange juice dan menyerahkannya salah satunya pada Audy.


"Kamu tidak memiliki kenalan di antara tamu yang datang?" Tanya Rendi pada Audy.


Ia tidak tau letak salahnya dimana sehingga Audy memberikan tatapan tajam untuknya.


"Mas Rendi pikir aku punya teman yang seprofesi dengan Mas Rendi?" Sarkas gadis itu.


Audy merasa Rendi menyindirnya dengan pertanyaan itu. Padahal sudah jelas bahwa lingkar pertemanan Audy sangat jauh dari pengusaha-pengusaha muda seperti mereka yang datang.


"Ah iya, saya baru ingat jika teman-teman kamu hanya bocah ingusan yang mainnya keluar masuk kelab malam," ujar Rendi.


Audy menggeram kesal. Jika saja mereka sedang tidak dalam acara seperti ini, sudah pasti Audy akan pergi.


"Enak aja kalo ngomong," gumam Audy.


"Itu faktanya, kan?" Tanya Rendi memojokan.


"Terserah Mas Rendi!" Kesal Audy.


Rendi terkekeh kecil. Tangannya terangkat, hendak mengacak-acak rambut Audy. Namun dengan cepat Audy menghindar.


"Rambut aku berantakan nanti!"


Audy memalingkan wajahnya. Ia enggan menatap Rendi yang terus saja menyunggingkan senyumnya. Entah mengapa ia justru merasa takut.


Entah kebetulan atau tidak, netranya menatap sosok yang tidak asing untuknya. Laki-laki yang sedang berdiri di pinggir kolam renang dengan seorang wanita di sampingnya. Mereka menggunakan pakaian yang serasi.


Tidak, Audy tidak salah lihat. Ia sangat yakin laki-laki itu adalah, Jason. Mantan--ralat--orang yang saat ini masih berstatus sebagai kekasihnya.


###

__ADS_1


__ADS_2