Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Kekhawatiran


__ADS_3

Audy berdecak kesal. Ia melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan lengan kirinya. Sudah satu jam ia menunggu Rendi, namun pria itu belum juga menampakan batang hidungnya.


Rendi mengirim pesan pada Audy. Menyuruh gadis itu untuk datang ke kantornya. Gunakan pakaian sopan dan berdandan seperlunya. Mungkin mood Audy sedang bagus hari ini. Jadi ia mau-mau saja menuruti perintah Rendi.


Hampir saja Audy hendak bangkit dan berniat pulang, sebelum akhirnya ia melihat pintu lift terbuka dan menampilkan sosok Rendi serta sekretarisnya.


Audy memalingkan wajahnya saat Rendi mendekat. Namun ia dikejutkan dengan tarikan tangan Rendi. Tidak kasar. Tapi mampu membuat Audy terhuyung ke depan.


"Mas Rendi iih! Nyebelin banget!" Seru Audy kesal.


Bukannya marah dengan seruan Audy yang menarik banyak perhatian dari karyawan, Rendi justru menyunggingkan senyum tipisnya. Entahlah, wajah kesal Audy seperti hiburan untuknya.


"Maaf," ucapnya tulus. Rendi lantas menarik pinggang Audy dan mencium kening gadis itu.


"Lama ya?" Tanya Rendi.


"Jelas lama! Aku tuh udah satu jam di sini! Bahkan kaki aku sampe kesemutan," sewot Audy.


"Salah kamu."


Audy melebarkan matanya mendengar dua kata yang baru saja keluar dari mulut Rendi. Salahnya? Yang benar saja!


"Kok aku yang salah?!" Seru Audy tidak terima.


"Ya,, saya kan sudah nyuruh kamu tunggu di ruangan saya. Tapi kamu-nya mau di lobi aja," kata Rendi enteng.


"Males banget harus nungguin Mas Rendi di ruangan pengap kek gitu," gumam Audy.


Rendi hanya terkekeh menanggapi. Ia meraih tangan Audy dan menggandengnya menuju halaman utama. Mobilnya sudah terparkir rapi di sana. Ah, jangan lupakan keberadaan wanita yang sejak tadi menunggu Rendi.


"Kita antar Mawar dulu ya," ucap Rendi yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Audy.


"Maaas, aku udah nunggu lama loh, di sini. Masa kamu mau nganter dia dulu, tau gitu aku nggak bakal mau datang ke sini. Mending tidur di rumah," protes Audy.


"Rumahnya searah sama tujuan kita, Audy."


"Nggak, maas! Kalo Mas Rendi mau ngantar dia ya silahkan. Aku naik taksi aja."

__ADS_1


"Au--"


"Sudah, pak," sela Mawar saat Rendi hendak memprotes keinginan Audy. "Saya yang naik taksi aja."


"Yaudah gih sana!" Salak Audy.


Rendi menarik nafasnya dalam. Susah sekali untuk mengendalikan kesabarannya jika sudah berurusan dengan Audy. Padahal sejak pagi ia menjaga perasaannya agar bisa bersikap baik pada istrinya itu.


"Saya permisi, pak, bu," pamit Mawar tidak bisa dicegah.


Bahkan Rendi belum sempat mengucapkan kata maaf karena tidak bisa menepati janjinya.


"Kita nggak jadi pergi?" Tanya Audy.


"Coba sekali aja, jaga perkataan kamu," ucap Rendi pelan sambil membukakan pintu mobil dan mendorong Audy untuk masuk. Ia menghampiri satpam yang berdiri agak jauh darinya dan meminta kunci mobilnya itu.


"Mas Rendi belain cewek itu?" Tanya Audy sarkas ketika Rendi sudah siap di kursi kemudi.


"Bukan membela. Saya cuma mau kebaikan buat diri kamu sendiri. Kalau kamu tidak menghormati orang lain, kapan diri kamu akan dihormati?"


"Susah emang, nasehatin orang seperti kamu." Rendi menatap Audy dalam ketika lampu merah di trafic light menyala.


"Harus dikasarin dulu ya, baru mau dengar omongan saya?"


"Oh jadi Mas Rendi mau ngasarin aku?!"


"Saya nggak bilang gitu," elak Rendi. Ia kembali melajukan mobilnya begitu lampu hijau menyala.


Seketika keheningan menyelimuti mereka. Tidak ada yang berniat untuk bicara. Terutama Audy. Gadis itu lebih memilih memejamkan matanya. Bahkan ia tidak bertanya kemana tujuan Rendi.


Laki-laki itu tidak memberitahunya kemana mereka pergi. Katanya, Audy pasti menyukai tempat tujuannya nanti.


"Kamu belum makan?" Tanya Rendi tanpa menatap Audy.


"Kalau Mas Rendi nggak nyuruh aku ke kantor, pasti aku sudah makan," balas Audy menyindir.


Tapi sia-sia saja, Rendi tidak menanggapi perkataannya itu.

__ADS_1


"Kita makan dulu ya," ucap Rendi setelah berhasil memarkirkan mobilnya di basement pusat perbelanjaan.


Audy hanya menurut. Ia memilih diam dari pada harus berdebat dengan Rendi. Karena percuma, kata-kata Rendi terlalu sulit untuk dibalas.


"Mau makan apa?" Tanya Rendi begitu mereka sampai di restoran cepat saji yang menyediakan berbagai macam makanan.


"Samain aja kayak Mas Rendi," balas Audy malas.


Mendengar itu Rendi mengangguk dan pergi memesan makanan. Tidak sampai lima menit, laki-laki itu kembali dengan nomer meja di tangannya.


"Beli nasi goreng?" Tanya Audy ketika melihat logo di nomer meja yang dibawa Rendi.


Rendi mengangguk membenarkan. "Kamu bilang samain aja."


"Tapi masa kesini cuma beli nasi goreng," kesal Audy.


"Saya juga pesan udang goreng asam manis. Kesukaan kamu."


"Beneran?"


Rendi mengangkat sudut bibirnya. Gadis di depannya memang sangat menyukai udang. Tidak salah ia mengajaknya makan siang di sini. Namun senyuman kecil itu memudar ketika ia teringat sesuatu.


"Kenapa kamu melarang saya mengantar Mawar?" Tanya Rendi.


"Kenapa dibahas lagi sih?" Audy memalingkan wajahnya. "Ya Mas Rendi mikir dong, aku udah cape nunggu Mas Rendi selesai rapat. Masa aku harus nunggu Mas Rendi lagi buat nganterin cewek tadi."


"Saya nggak nyuruh kamu nunggu, rumah dia searah sama tujuan kita. Jadi nggak ada salahnya mengantar di--"


"Aku nggak suka di nomor duakan," ucap Audy memotong perkataan Rendi. "Udahlah! Ngapain sih, bahas yang udah-udah."


"Karena itu perlu. Kalau sikap kamu tidak diperbaiki sekarang, nanti malah repot ke depannya."


Audy hanya bergumam menanggapi. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya dan memainkan benda itu. Jujur saja, berbicara serius dengan Rendi membuatnya merasa khawatir.


Semenjak kejadian malam itu, ketika Rendi mengatakan bahwa ia tergoda dengan penampilannya, Audy menjadi merasa takut. Laki-laki itu seakan membuatnya sadar bahwa sekarang ia sudah menjadi milik seseorang. Dirinya sudah tidak bebas. Ia takut jika suatu saat nanti Rendi memintanya untuk memenuhi haknya sebagai seorang istri. Audy tidak mau hal itu terjadi.


###

__ADS_1


__ADS_2