Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Pengertian


__ADS_3

Yang Audy lakukan saat ini hanyalah memainkan kuku jarinya. Ia sudah duduk di tepi ranjang. Menunggu Rendi yang sedang mengunci pintu kamarnya. Laki-laki itu juga mengatur kecerahan lampu kamar, hingga kondisi kamar itu menjadi remang-remang.


Audy sendiri sudah memikirkan yang tidak-tidak. Dari beberapa novel yang ia baca, jika sudah dalam kondisi seperti ini, tokoh pria mungkin akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Seperti memaksa si tokoh perempuan untuk melayaninya ataupun menghukum si tokoh wanita dengan kekerasan.


Memikirkan hal itu membuat Audy tidak sadar bahwa sekarang Rendi sudah berlutut di hadapannya dengan tangan yang di letakan di sisi paha Audy.


"Buka matamu," titah Rendi.


Audy menurut, hal yang pertama ia lihat adalah mata tajam Rendi yang sedang menatapnya lembut.


"Kamu mempertanyakan kesabaran saya dalam menghadapi semua sikap kamu?" Tanyanya dibalas anggukan kecil dari Audy.


"Audy, yang harus kamu tau di sini, kesabaran seseorang itu tidak bisa ditakar. Saya memiliki kesabaran, tapi bukan berarti saya tidak bisa marah. Karena akan ada saatnya kesabaran itu mencapai batasnya masing-masing."


Rendi meletakan satu tangan Audy di bahunya. Refleks, satu tangan Audy pun melakukan hal yang sama. Kedua tangannya saling bertautan di belakang kepala Rendi.


"Tapi kamu bisa mengendalikan kesabaran saya agar tidak melewati batasnya," lanjut Rendi.


"Aku nggak ngerti, mas," celetuk Audy.


Ya, bagaimana bisa ia mengendalikan kesabaran orang lain?


"Kamu harus lebih pengertian dan melihat kondisi sekitar kamu. Dengan itu, maka kamu bisa mengendalikan kesabaran dan kemarahan saya. Tidak ada yang salah jika kamu ingin tau tentang kesabaran yang saya miliki. Tapi kamu harus melihat keadaan sebelum melakukan itu."


Audy bergeming mendengarnya. Sejak tadi dirinya terus merasa kagum pada sorot mata Rendi yang perlahan semakin meneduhkan.


"Waktu itu kamu bilang ingin berlibur, jadi saya mengejar pekerjaan agar tiga hari ke depan jadwal saya kosong. Karena itu saya selalu pulang malam. Kamu tau? Kondisi tubuh saya sangat lelah. Saya hanya mengharapkan sambutan hangat dari kamu. Tapi kamu justru mengacuhkan saya. Kamu pikir saya tidak akan marah dengan kondisi seperti itu?" Lanjut Rendi panjang lebar.


Mendengarnya pun membuat Audy ingin menenggelamkan dirinya di lautan lepas. Ia pikir Rendi pulang malam karena malas bertemu dengannya di rumah. Maka dari itu ia mengabaikan Rendi.


"Mas Rendi nggak bilang sama aku," ucap Audy merasa bersalah.


"Karena kamu tidak memberikan saya waktu untuk menjelaskan," balas Rendi.


Entah disadari atau tidak, perkataan Rendi membuat Audy semakin menyalahkan dirinya.


"Maaf," cicit Audy sangat pelan. Ia mengalihkan pandangannya. Kemanapun, asal tidak menatap Rendi yang sedang memandangnya lekat. Mati-matian ia menahan air matanya agar tidak mengalir.


"Kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Rendi.

__ADS_1


Jujur saja ia mendengar kata 'maaf' itu dengan sangat jelas. Namun ia ingin mendengarnya lagi dengan Audy yang menatapnya. Ia ingin melihat keberanian gadis itu.


Audy membenamkan kepalanya di bahu kiri Rendi. Ia tidak bisa lagi menahan tangisnya. "Maafin aku," ucapnya lagi.


Rendi mengusap bahu Audy yang bergetar. "Ssst! Tidak ada yang perlu dimaafkan di sini. Yang terpenting sekarang--" Rendi mendorong pelan tubuh Audy. Memaksa perempuan itu untuk menatapnya. "--kita harus sering berkomunikasi. Belajar dari kesalahpahaman kita. Semua itu karena kita kurang memahami satu sama lain."


Audy mengangguk sembari mengusap air matanya. Sedangkan Rendi berdiri dengan kedua lututnya. Mensejajarkan wajah mereka. Seperti biasa, ia mengecup kening dan juga kelopak mata Audy.


Netra mereka saling beradu tatap dalam jarak beberapa senti. Sudah berulang kali Rendi menatap mata indah itu, namun kali ini ia menemukan hal yang berbeda. Entahlah, ia seperti melihat sebuah kepercayaan di sana.


Jemari Rendi bergerak menghapus sisa air mata di pipi Audy. Kemudian turun dan mengusap bibir mungil gadis itu. Sangat lembut sampai Audy terbuai akan sentuhannya.


"Can I?" Gumam Rendi lirih.


Tanpa di duga Audy memejamkan matanya kemudian mengangguk. Sontak saja hal itu membuat sudut bibir Rendi terangkat. Dan di detik selanjutnya ia mengecup bibir Audy. Sangat singkat namun meninggalkan perasaan aneh pada diri mereka masing-masih.


Melihat mata Audy masih terpejam membuat Rendi dengan berani mengecup bibir pink itu lagi. Bahkan kali ini disertai ******* kecil yang sangat lembut. Ia menggigit bibir bawah Audy pelan agar mulut perempuan itu terbuka. Memberi akses lidahnya untuk bermain-main di dalam sana.


Merasa nafas Audy mulai tercekat, Rendi menghentikan aktivitasnya itu. Mengizinkan Audy untuk menetralkan deru nafasnya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Rendi mengecupi rahang Audy hingga daun telinga. Lalu kecupan itu turun sampai di leher jenjang Audy.


Cukup lama Rendi mengecupinya, kemudian menggigit juga menyesapnya hingga meninggalkan bekas merah yang sangat jelas di sana.


Ia hanya berhenti sejenak untuk menghirup oksigen sembari mengusap jejak merah yang ia buat itu. Namun di saat ia ingin melanjutkan, pipi kirinya tiba-tiba terkena tetesan air.


"Maaf." Rendi merapikan rambut Audy yang menutupi wajahnya. "Apa saya menyakiti kamu?"


Audy menggeleng sebagai jawaban. Ia sama sekali tidak tersakiti. Justru Audy menikmati setiap sentuhan yang diberikan Rendi.


"Aku takut," lirihnya.


"Takut?" Tanya Rendi tidak mengerti. Seingatnya ia tidak melakukan apapun yang membuat Audy ketakutan.


"Apa yang kamu takutkan, hm? Saya? Kamu takut terhadap saya?" Lanjutnya sedikit mengguncang tubuh Audy agar mau menjawabnya.


Melihat Audy tetap terisak membuat Rendi menghela nafasnya. Ia menata bantal untuk Audy dan menuntun perempuan itu berbaring di ranjang.


Rendi sendiri memutari ranjang dan membaringkan tubuhnya di sisi Audy. Membawa Audy ke dalam pelukannya.


"Maafkan saya," ucap Rendi lagi sembari mengecup puncak kepala Audy.

__ADS_1


"Aku yang minta maaf," balas Audy membuat Rendi mengernyit. "Aku nggak bisa ngelakuin 'itu'."


Rendi tersenyum kecil menanggapinya. Sungguh, ia juga tidak berniat untuk melakukan hubungan badan. Niatnya tadi hanya menciumnya, namun entah kenapa nafsunya justru bangkit.


"Aku takut. Mas Rendi belum cinta sama aku, kan? Nanti kalau misalnya aku hamil terus Mas Rendi cinta sama orang lain, nasib aku sama anak aku gimana?"


"Astaga, Audy. Kamu terlalu over thinking. Lagi pula saya tidak berniat jatuh hati dengan wanita lain," balas Rendi.


"Kamu sendiri bagaimana? Sudah cinta dengan saya?" Lanjut Rendi bertanya.


Bukannya jawaban yang ia dapat, Audy justru mencubit pinggangnya dengan keras.


"Sakit," desis Rendi pelan.


"Aku baru belajar membuka hati untuk Mas Rendi. Mana mungkin aku sudah cinta sama Mas Rendi," jelas Audy.


"Lalu kenapa kamu membiarkan saya mencium kamu?"


"Ah itu--" Audy mengusap pipinya yang sembab. "Tadi Mas Rendi bilang aku harus pengertian sama keadaan, kan? Kemarin bunda bilang--"


Audy menjeda kalimatnya. Ia lupa belum memberitahu Rendi bahwa ia menemui Lavina.


"Saya sudah tau," ucap Rendi seakan tau apa yang dipikirkan Audy. "Lanjutkan ceritamu, bunda bilang apa?"


"Bunda bilang kalau pria dewasa punya cara sendiri untuk mengatasi amarahnya. Salah satunya dengan berhubungan badan. Kalau misalkan mereka nggak bisa mendapatkan itu dari seorang istri, mereka pasti mencari kepuasan dengan wanita lain di luar rumah."


Lavina mengatakan itu setelah usaha Audy untuk meminta maaf telah berhasil. Wanita itu juga mengatakan banyak hal yang sekarang menjadi pertanyaan yang mengumpul dibenak Audy.


"Kamu takut saya mencari wanita lain untuk memuaskan nafsu saya?"


Audy mengangguk membenarkan.


"Kamu berpikir saya akan melakukan hal serendah itu?" Tanya Rendi lagi sambil tersenyum getir.


"Maaf," balas Audy pelan. Dan itu menjadi bukti bahwa Audy memang berpikir seperti itu.


"Dengar, Audy. Sebuah hubungan dapat bertahan karena adanya kepercayaan yang kuat. Kamu selalu meragukan saya, padahal kamu baru mencoba memperbaiki pernikahan ini. Itu akan berdampak buruk pada langkah kita nanti."


Rendi mengusap pipi Audy dengan jari telunjuknya. "Belum terlambat untuk mengulangi semuanya dari awal lagi. Jadi sekarang lebih baik kamu istirahat. Jernihkan pikiran kamu. Mulai besok, tanamkan rasa percaya kamu terhadap saya di hati kamu. Dan saya juga akan melakukan hal yang sama."

__ADS_1


Audy sudah ingin menyela, namun Rendi segera menaruh jari telunjuknya di bibir Audy. "Kita istirahat, ya. Simpan pertanyaanmu untuk besok."


###


__ADS_2