
Audy belum pernah merasa seperti ini. Sebelumnya ia hanya merasa takut dengan kemarahan Rendi. Tapi sekarang, ia memikirkan akan sampai kapan Rendi marah padanya? Kapan Rendi akan berbicara padanya lagi?
Kepalanya menggeleng pelan. Perasaan apa ini? Cinta? Sepertinya bukan. Mungkin ia merasa seperti itu karena terpengaruh dengan perkataan Lavina tentang Rendi kala itu. Masalah Rendi yang menerima pernikahan ini, apa ia juga harus menerimanya?
Namun di saat ia sudah memantapkan diri untuk menerima pernikahan ini, Rendi justru ingin melepaskannya. Audy tidak mengerti maksud dari semua itu.
"Non Audy," panggil Bi Yuyun di ambang pintu kamarnya.
"Ya?" Balas Audy.
"Makan malamnya sudah siap. Kata Den Rendi, Non Audy disuruh makan dulu. Tidak usah menunggunya."
Alis Audy tertaut. "Dimana Mas Rendi?" Tanyanya.
Lihatlah! Bahkan sekarang laki-laki itu menghindarinya. Sampai kapan Rendi bersikap dingin pada Audy?!
"Masih di ruang kerjanya," balas Bi Yuyun. Wanita paruh baya itu segera undur diri setelah Audy menganggukan kepalanya.
Dengan malas Audy beranjak dari ranjangnya. Ia hendak turun ke ruang makan, namun langkahnya justru terhenti di depan ruang kerja Rendi. Tanpa berpikir dua kali ia masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Hal yang pertama kali di lihatnya adalah netra tajam Rendi yang memandangnya. Audy mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku-- emm, Mas Rendi nggak makan malam?"
"Hmm," gumam Rendi. Ia kembali mengerjakan berkas-berkas di depannya. "Pekerjaan saya masih banyak yang belum selesai."
Audy mendekat kemudian duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Rendi. "Pasti karena Mas Rendi bela-belain pulang buat ngurusin aku, iya 'kan?"
"Hmm," gumam Rendi mengiyakan. Sebenarnya pekerjaan itu tidak harus selesai malam ini juga. Namun karena ia tidak mempunyai aktivitas lain di rumah, jadi Rendi memutuskan untuk menyelesaikannya.
"Mas Rendi," panggil Audy tanpa menatap laki-laki itu. Sedangkan Rendi hanya meliriknya kemudian membereskan seluruh berkas-berkas di hadapannya. Ada Audy di depannya, jadi ia tidak akan fokus mengerjakan itu.
"Kenapa?" Tanya Rendi.
"Aku serius sama ucapan aku tadi siang."
Kedua alis Rendi tertaut. Namun di detik berikutnya ia menghela nafasnya. "Masalah obat?"
"Bukan."
"Lalu ucapan kamu yang mana?" Tanya Rendi.
"Aku bilang mau belajar mencintai Mas Rendi dan juga mau menjadi istri yang baik."
Rendi tertegun mendengarnya. Ia menatap Audy lekat. Mencoba mencari keseriusan di wajah Audy. Tapi gadis itu terus saja menunduk.
__ADS_1
"Angkat wajahmu dan jelaskan kenapa kamu menginginkan itu semua!" Titah Rendi tegas.
Ayolah, Audy hanya sedang patah hati. Mungkin gadis itu hanya ingin menjadikannya sebagai tempat pelarian.
"Aku-- aku,,"
"Karena Jason sudah memiliki tunangan, jadi kamu--"
"Enggak, ih! Dengar dulu makanya!" Kesal Audy dengan wajah cemberutnya. "Aku melakukan itu karena Mas Rendi juga melakukan hal yang sama."
"Hal sama?"
Audy mengangguk, "Mas Rendi bisa nerima aku sebagai istri, jadi aku mau belajar nerima Mas Rendi sebagai suami aku. Emang rasanya agak aneh sih, karena Mas Rendi itu kakak aku. Tapi aku bisa belajar, kan?"
"Bisa," balas Rendi mantap. "Tapi kamu harus menyelesaikan urusanmu dengan Jason terlebih dulu."
Audy menekuk bibirnya kesal. Bagaimana bisa ia menyelesaikan masalahnya dengan Jason? Nanti yang ada ia malah kembali terjerat pesona laki-laki itu!
"Nggak sekarang," cicit Audy sangat pelan. Untungnya pendengaran Rendi masih sangat tajam. Jadi ia bisa mendengar perkataan laki-laki itu.
"Kenapa? Lebih cepat lebih baik bukan?" Tanya Rendi menuntut.
"Yaudah iya. Besok temenin aku ketemu sama Jason, ya?" Pinta Audy.
"Besok saya berangkat ke Surabaya dan menginap di sana sampai lusa. Jadi saya tidak bisa menemani kamu."
Rendi mengangkat sudut bibirnya. "Jika kamu memperhatikan saya, kamu pasti akan tau jika saya sudah menyiapkan rapat di Surabaya sejak seminggu yang lalu."
"Tapi--"
"Mencoba mengalihkan pembicaraan, eh?" Rendi bangkit dari kursinya kemudian menyandarkan tubuhnya pada meja kerja. Ia memandang Audy dengan tatapan lembutnya.
"Saya tidak ingin ikut campur masalah kalian. Jadi tolong, selesaikan masalah itu sendiri."
"Tapi gimana kalau aku nggak bisa ngelepasin Jason nantinya? Kalau ada Mas Rendi, setidaknya ada yang menahan aku buat nggak ngelakuin itu."
Tangan Rendi terangkat untuk membelai lembut pipi Audy. "Kalau begitu pikirkan dulu semuanya. Mantapkan hati kamu untuk belajar menjadi istri saya atau kembali pada Jason yang sudah bertunangan dengan wanita lain. Tidak perlu terburu-buru, saya tidak ingin kamu menyesal nantinya."
"Tapi--"
Perkataan Audy terhenti ketika Rendi mencium pipinya singkat. Ia terkejut karena biasanya Rendi hanya mengecup keningnya.
"Sudah malam. Lebih baik kamu makan sekarang. Takutnya nanti kondisi kamu drop lagi," ucap Rendi mengingatkan. Ia melangkah keluar dari ruang kerjanya. Meninggalkan Audy yang masih termenung di sana.
###
__ADS_1
Rendi menggeliat ketika merasakan seseorang memeluknya dengan sangat erat. Matanya perlahan terbuka, melihat Audy yang sedang menyelusupkan wajahnya di dada bidang Rendi.
Kenapa Audy ada di sini? Seingat Rendi, ia sengaja menggunakan kamar ini agar Audy lebih nyaman tidur sendiri.
Rendi mendekap Audy erat karena gadis itu terus saja bergerak. Tetapi hal itu justru membuat Audy terperanjat dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Mas Rendi bangun?" Tanya Audy konyol.
Apa gadis itu pikir gerakannya yang kasar tidak mengganggu tidur Rendi?
Rendi mengusap wajahnya pelan kemudian menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Kenapa di sini?" Tanya Rendi mengabaikan pertanyaan Audy tadi.
"Ya,,, aku mau tidur sama Mas Rendi," balas Audy jujur.
Tadinya memang ia hanya berniat membujuk Rendi untuk makan malam. Tapi melihat Rendi tidur lelap membuat Audy tidak tega untuk membangunkannya. Jadi ia memutuskan untuk tidur di samping pria itu.
"Saya pikir kamu lebih nyaman tidur sendiri," celetuk Rendi.
Ia memperhatikan Audy dengan seksama. Perempuan itu memakai piyama coklat dengan motif bunga yang cantik. Sangat cocok di tubuhnya yang kecil.
"Iya, sih," kata Audy jujur. "Tapi 'kan aku mau belajar jadi istri yang baik."
Satu alis Rendi terangkat. Seolah tidak percaya dengan perkataan Audy. Ia cukup tau bahwa gadis itu tidak pernah berpikir dulu sebelum mengambil keputusan. Maka dari itu ia tidak bisa langsung percaya dengan kata-katanya.
"Jangan ngeliatin aku kaya gitu, ih!" Protes Audy karena Rendi terus saja memandangnya.
"Tidur lagi aja. Atau Mas Rendi mau makan malam dulu?" Tanya Audy.
Namun Rendi menggeleng kemudian merebahkan tubuhnya kembali. Ia menarik lengan Audy agar berbaring di sampingnya. Audy tidak menolak. Ia justru kembali melingkarkan tangannya di perut Rendi dan menjadikan satu lengan Rendi sebagai bantalan.
"Mas Rendi beneran pergi besok?"
Rendi bergumam mengiyakan. Minggu lalu ia sudah membuat janji pertemuan dengan CEO dari sebuah perusahaan di Surabaya. Ia tidak bisa mengajak Audy karena kondisi istrinya itu masih lemah. Selain itu, sejak dulu memang Audy tidak pernah mau di ajak pergi jauh dengannya. Ya, mengingat ia dan Audy selalu saja bertengkar.
"Terus aku sama siapa di sini?"
"Bunda--"
"Nggak mau! Bunda jahat sama aku!" Seru Audy memotong perkataan Rendi.
"Bukan jahat. Bunda cuma sedang emosi," balas Rendi. "Lebih baik kamu ke rumah bunda terus minta maaf. Yang saya tau, bunda tidak pernah menyimpan rasa marahnya selama berhari-hari."
"Aku takut," cicit Audy.
__ADS_1
Rendi tidak menanggapi ucapan Audy. Yang ia lakukan sekarang hanyalah mengusap rambut panjang beraroma melon itu. Ada satu hal yang masih mengganggu pikirannya. Ya, tentang Audy yang ingin memperbaiki semuanya sedangkan di hari sebelumnya ia berkata pada Lavina bahwa gadis itu terpaksa menerima pernikahan ini.
###