
Makan siang hari ini Rendi lakukan di sebuah restoran seafood yang berdiri tidak jauh dari perusahaannya. Ia baru saja menyelesaikan meeting di sebuah perusahaan yang membantu mengiklankan hotelnya yang baru selesai di bangun bulan lalu.
Sudah sejak tadi Rendi menyelesaikan makannya. Yang sekarang ia lakukan adalah menunggu Mawar. Wanita itu makan dengan sangat pelan. Seakan mempertahankan sikap anggunnya.
Mereka hanya berdua, mengingat pekerja dari divisi pemasaran dan keuangan lebih memilih makan di kantor.
"Apa boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya Mawar tiba-tiba setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.
Tidak ada alasan untuk melarang Mawar bertanya, jadi Rendi mengangguk singkat.
"Pernikahan Pak Rendi dengan Bu Audy, apa pantas seorang kakak menikah dengan adiknya? Maksudku,,," Mawar tidak melanjutkan karena Rendi menatapnya intens.
"Kami tidak mempunyai hubungan darah, jadi pernikahan kami legal," jelas Rendi.
"Apa Bu Audy sering menyusahkan bapak? Dulu saat SMA, beliau sangat nakal. Hampir setiap hari Bu Audy masuk ke dalam ruang bimbingan konseling."
"Jadi kalian sudah saling kenal?"
Mawar mengangguk. "Saya seniornya."
"Ah, begitu." Rendi mencondongkan tubuhnya ke depan. "Audy tidak pernah menyusahkan saya. Justru sebaliknya, dia mengurus saya dengan baik."
"Tapi sikapnya waktu itu sama sekali tidak mencerminkan beliau adalah istri dari pimpinan perusahaan."
"Kapan yang kamu maksud waktu itu?"
"Saat beliau tidak mengizinkan bapak untuk mengantar saya," balas Mawar.
"Ah, kamu masih mengingatnya?" Sindir Rendi.
Seingatnya ia sudah meminta maaf keesokan harinya dan menyuruh Mawar melupakannya. Ia menjadi sedikit risih pada Mawar sekarang.
"Bukan seperti itu, pak. Tapi--"
"Tapi?" Desak Rendi ketika Mawar menggantungkan pertanyaannya.
"Ah tidak. Maafkan saya, seharusnya saya tidak mencampuri urusan Pak Rendi."
Seharusnya kamu sadar sejak tadi, batin Rendi.
Dering ponsel Rendi berhasil memecahkan keheningan. Ia mengernyit melihat nama Audy yang tertera di layar.
"Halo?" Sapanya formal mengingat masih ada Mawar di depannya.
"Mas Rendi dimana?!" Seru Audy dari sebrang sana.
"Di kantor. Ke--"
"Bohong! Pasti lagi melipir keluar!"
Jika saja tidak ada Mawar, Rendi pasti tertawa mendengar kata-kata Audy.
"Kamu sedang di kantor?"
"Iya."
"Tunggu di situ. Saya ke kantor sekarang," pungkasnya kemudian mengakhiri panggilan itu.
Rendi mengangkat tangannya pada pelayan dan meminta tagihan makanan mereka. Setelah itu ia menyerahkan beberapa lembar uang yang nominalnya lebih besar dari tagihan itu.
"Kita harus ke kantor, istri saya menunggu di sana," ucap Rendi.
__ADS_1
Memerlukan waktu lima menit untuknya sampai di kantor. Rendi langsung menuju ke lantai dimana ruangannya berada. Ia tersenyum begitu melihat Audy sedang duduk bersandar di sofa besar.
"Kenapa tidak masuk ke dalam?" Tanya Rendi sembari menjulurkan tangannya.
Audy mencium tangan Rendi sekilas kemudian menarik tangannya kasar. "Males," ucapnya kesal.
Melihat ada papper bag berisi kotak makanan membuat Rendi mengusap rambut Audy lembut. "Kamu bawa makan siang buat saya?"
Audy mengerjapkan matanya. Mengiyakan pertanyaan Rendi.
"Udah 'kan? Kalo gitu aku pulang sekarang," pamit Audy namun segera ditahan oleh Rendi.
"Temani saya makan dulu."
"Tapi Pak Rendi baru saja makan siang. Lagi pula anda juga harus menyelesaikan berkas-berkas untuk di serahkan pada divisi pemasaran," sela Mawar yang sejak tadi sudah duduk di mejanya.
"Akan saya selesaikan setelah menghabiskan masakan istri saya," tegas Rendi membawa Audy masuk ke dalam ruangannya.
"Nggak usah dimakan kalo emang sudah kenyang," sindir Audy.
"Tidak baik membuang makanan. Lagian kita bisa menghabiskan makanannya bersama." Rendi menepuk sisi sofa sebelahnya. "Duduk."
"Aku mau pula--"
"Nanti. Sekalian saya yang mengantar."
"Nggak usah. Mending Mas Rendi selesain aja kerjanya. Ntar malah sekretaris Mas Rendi marah-marah nggak jelas."
"Dia tidak akan seperti itu. Lagi pula saya atasannya. Jadi saya berhak melakukan apapun yang saya mau."
"Itu nggak profesional namanya," sarkas Audy.
Rendi terkekeh mendengar perkataan Audy. Benar sekali, ia bersikap tidak profesional saat ini. Dan itu semua Rendi lakukan demi menjaga perasaan Audy.
"Mawar bilang kalian saling kenal," ucap Rendi setelah menyelesaikan kunyahan pertamanya.
"Sekretaris Mas Rendi itu?" Tanya Audy dibalas anggukan dari Rendi. "Aku nggak kenal dia. Cuma tau nama sama sifat songongnya aja."
"Pasti dia mengungkit masa lalu aku, iya 'kan?" Tebak Audy.
"Iya. Dia bilang kamu nakal. Hampir setiap hari masuk ruang bk. Dia juga bertanya apa kamu menyusahkan saya atau tidak," jelas Rendi tidak menutup-nutupi apapun.
"Terus Mas Rendi bilang 'iya'? Secara 'kan aku emang nyusahin."
Rendi menggeleng. "Saya bilang 'tidak'."
"Bohong."
"Saya tidak berbohong, Audy. Kamu memang tidak menyusahkan saya," balas Rendi.
Audy bergeming. Sebenarnya ada hal yang mengganjal di pikirannya. Namun ia memilih diam.
"Nggak sopan banget ceritain aib orang ke atasannya sendiri," gumam Audy.
Rendi yang mampu mendengar itu hanya menaikan sudut bibirnya. Baru tadi Mawar menanyakan masalah pribadinya. Namun entah mengapa itu membuat Rendi beranggapan bahwa sikap Mawar terlalu melewati batasannya.
"Buka mulut kamu," ucap Rendi mengalihkan pembicaraan.
"Aku udah makan, mas," balas Audy begitu melihat Rendi menyodorkan sesendok nasi dangan lauknya.
"Makan lagi."
__ADS_1
"Nggak mau! Kalo Mas Rendi udah kenyang atau nggak suka sama masakan aku ya buang aja!" Seru Audy kesal.
"Kamu kenapa marah-marah terus dari tadi, hm?" Rendi meletakkan kotak makan di atas meja dan menepis jarak mereka. Tangannya terangkat mengusap rambut panjang Audy.
"Awas, ih!" Audy berusaha mendorong Rendi. Namun laki-laki itu justru memegang lengannya kuat. "Risih tau, mas!"
"Makanya jawab pertanyaan saya, kamu kenapa?"
"Aku nggak papa."
Sadar jika Rendi terus menatapnya membuat Audy menghela nafasnya kasar. "Aku tuh kesal! Pasti tiap ke sini aku harus nunggu Mas Rendi. Tadi juga, aku rela nganter makanan dari rumah bunda, eh Mas Rendinya lagi asik makan sama sekretaris songong itu," jelas Audy.
"Tapi makanannya sudah saya makan, Audy." Rendi memundurkan tubuhnya. Seakan sadar bahwa Audy merasa tidak nyaman. "Lain kali kalau mau ke sini bilang terlebih dulu. Jadi aku bisa mengosongkan jadwal kamu."
Rendi kembali mengambil kotak makan itu dan memasukan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Ia menuju mejanya untuk meminum segelas air putih dan kembali mendekati Audy.
"Aku mau pulang," ucap Audy tidak bisa di bantah.
"Saya antar," kata Rendi sembari membantu mengemas kotak makan tadi. "Ayo," ajaknya.
"Aku bisa sendiri, mas."
Audy berjalan cepat menuju pintu. Namun belum sempat ia membukanya, seseorang terlebih dulu mendorong pintu itu dari luar. Netranya menatap sinis orang yang sekarang berdiri di hadapannya.
"Maaf, Pak," ucap Mawar pada Rendi. Wanita itu mengabaikan kehadiran Audy di sana. "Sky company meminta jadwal rapat diajukan karena pimpinan mereka hendak pergi ke luar kota untuk beberapa minggu ke depan. Saya sudah mengganti jadwalnya jam dua nanti."
Diam-diam Audy melirik jam, sekarang saja sudah hampir setengah dua. Ia memikirkan tawaran Rendi untuk mengantarkannya. Jika ia mengiyakan tawaran itu, apa Rendi akan berubah pikiran dan mementingkan pekerjaannya?
"Kamu langsung menggantinya tanpa memberitahu saya terlebih dulu?" Tanya Rendi sembari mengangkat satu alisnya.
Mawar mengangguk. "Maaf untuk kelancangannya. Tapi jadwal Pak Rendi tidak padat untuk hari ini. Saya pikir anda bisa mendatangi pertemuan penting itu."
"Nggak bisa!" Celetuk Audy membuat Rendi dan sekretarisnya itu menatapnya. "Mas Rendi bilang mau mengantar aku. Iya 'kan, mas?"
Rendi menaikan satu alisnya. Seingatnya tadi Audy menolak untuk diantarkan.
"Maaf, Bu Audy. Tapi pertemuan kali ini sangat penting," jelas Mawar menampilkan senyumnya.
Tapi entah mengapa senyum yang ditunjukannya seolah mengejek Audy.
Gadis itu menatap Rendi yang masih bergeming di tempatnya. Sampai akhirnya laki-laki itu merangkul pinggangnya erat.
"Kalau misalnya saya telepon supir buat jem--"
"Nggak usah!" Sela Audy keras. Ia mendorong Rendi untuk menjauh. "Aku bisa pulang sendiri."
Rendi menahan tangan Audy agar gadis itu tidak beranjak dari tempatnya. Sedetik kemudian ia tersenyum singkat pada Audy. Namun dengan segera ia menetralkan ekspresi wajahnya dan menatap Mawar.
"Persiapkan segala keperluan meeting itu," ucap Rendi membuat Mawar tersenyum dan melirik Audy.
"Saya akan meminta Pak Haris untuk menggantikan saya," lanjut Rendi.
"Tapi--"
"Dengar Mawar, ada atau tidaknya saya di pertemuan nanti tidak akan mempengaruhi hasil akhirnya. Mereka yang membutuhkan kinerja kita. Saya tidak merasa dirugikan jika mereka memilih perusahaan lain untuk bekerja sama," jelas Rendi.
"Tapi--"
Rendi mengangkat tangannya menyela perkataan Mawar lagi. "Saya lupa mengatakan jika saya sudah mengirim materi rapat pada Pak Haris dari jauh-jauh hari. Karena saya memang tidak berminat untuk menemui pimpinan dari Sky Company. Jadi lebih baik kamu keluar sekarang, dan persiapkan segalanya. Saya yang akan menghubungi Pak Haris nanti."
Setelah berhasil membungkam sekretarisnya, Rendi langsung menarik tangan Audy dan mengajaknya keluar. Ia dapat merasakan tubuh Audy menegang. Rendi tidak akan bertanya kenapa, karena pasti Audy akan menjelaskannya sendiri. Ya, Rendi sudah mengerti sikap Audy yang seperti itu.
__ADS_1
###