
Jarum jam berada tepat di angka tujuh ketika Rendi sampai ke rumahnya. Sore tadi ada rapat mendadak yang mengharuskan Rendi bekerja lebih lama dari jam normal.
Sebenarnya tidak menjadi masalah, karena Rendi sudah terbiasa mengurus pekerjaan sampai larut malam. Namun entah kenapa suasana hatinya memburuk ketika Bi Yuyun mengatakan jika Audy pergi dari siang dan sampai sekarang belum kembali.
Rendi pikir Audy pulang ke rumah Lavina. Ya, mengetahui bahwa gadis itu tidak ingin terpisah dari ibunya. Namun kata Lavina, Audy tidak datang ke sana.
Laki-laki itu membanting ponselnya kesal karena Audy tidak mengangkat panggilannya. Ia mengusap wajahnya kasar. Seharusnya tadi pagi, ia mengurung Audy sehingga gadis itu tidak bisa pergi.
"Berhenti menyakitinya, Ren. Jangan terlalu keras pada Audy."
Rendi tertawa sumbang. Kalimat Lavina itu selalu terngiang di kepalanya setiap ia merasa marah pada Audy. Membuatnya harus menahan diri agar emosinya tidak meledak.
"Kenapa aku harus menuruti perkataan bunda? Audy milikku sekarang," gumam Rendi.
Wajahnya terangkat ketika pintu utama terbuka. Menampakan Audy yang membawa banyak tas belanja dari beberapa merk ternama. Matanya memincing, menyadari Audy memakai dress dengan belahan dada yang rendah.
Rendi berdiri dan bersedekap, menunggu Audy menghampirinya. Namun Gadis itu justru berjalan melewatinya. Ini sudah kelewatan!
"Dari mana?" Tanya Rendi di ambang pintu kamar. Dari sana ia bisa melihat Audy yang sedang berpose di depan cermin dengan tas barunya.
"Audy," panggilnya lirih. Ia sedang berusaha menahan rasa marahnya.
"Rendi tidak akan menyakitinya, bunda," balas Rendi kala itu pada Lavina. "Rendi tidak akan menyakitinya jika Audy menuruti perkataan Rendi," lanjutnya penuh penekanan.
Dengan langkah pelan ia menghampiri Audy yang masih mengabaikannya. Masih bersedekap, ia berdiri di belakang istrinya itu.
"Telinga kamu masih berfungsi?" Tanya Rendi sarkastik. Dalam satu kali sentakan ia mendekap tubuh mungil itu.
"Mas Rendi!" Seru Audy sembari meronta ingin dilepaskan.
"Saya kira kamu tidak bisa bicara lagi," lanjut Rendi.
"Lepasin aku--"
"Sst," desis Rendi mengangkat jari telunjuknya di mulut Audy. Ia menatap pantulan Audy pada cermin.
"Kamu habis dari mana?" Tanya Rendi pelan.
"Ck! Mas Rendi nggak liat aku bawa banyak belanjaan? Udah jelas aku pergi ke mall," balas Audy kesal. Ia heran, kenapa Rendi harus mempersoalkan hal-hal yang kecil.
__ADS_1
"Apa saya mengizinkan kamu untuk berpergian?"
"Aku nggak perlu izin buat ngelakuin apapun yang aku mau."
Audy mendorong Rendi kuat. Ia memasukan kembali barang-barangnya dan menyimpannya di lemari.
"Kamu istri saya, jadi semua hal yang ingin kamu perbuat harus dilakukan dengan izin saya," ucap Rendi.
"Pemikiran kamu kek orang tua, mas. Kuno!" Audy menutup pintu lemari dengan keras. "Lagi pula Mas Rendi nggak mungkin juga ngizinin aku pergi! Jadi percuma aja aku bilang!"
Rendi mencekal tangan Audy ketika gadis itu henda menghindarinya. Kemudian ia mengunci tubuh gadis itu pada dinding. "Okay. Lupakan tentang itu dan sekarang, lihatlah penampilanmu!"
"Kenapa? Tidak ada yang salah dengan diriku," ucap Audy acuh.
"Semuanya salah, Audy! Bagaimana bisa kamu pergi ke tempat umum menggunakan baju seperti ini? Kamu mau jadi wanita murahan yang memamerkan tubuh kamu untuk menarik perhatian laki-laki? Kenapa nggak sekalian kamu jual tubuh di club malam?!"
Plakk..
Audy menampar Rendi. Membuat laki-laki itu menggertakan giginya.
"Jangan asal bicara, mas. Aku bukan wani--"
Mata Audy terbuka lebar. Kepalanya menggeleng, menandakan bahwa ia tidak percaya dengan kaliman Rendi.
"Tapi saya menahannya. Karena saya tau kamu tidak ingin melakukannya. Saya hanya takut ada laki-laki yang tidak bisa menahan diri, kemudian menyerang kamu. Saya tidak ingin semua itu terjadi," lanjut Rendi.
"Sudahlah," Rendi mengusap puncak kepala Audy dua kali. "Bersihkan dirimu lalu istirahat. Saya akan tidur di kamar sebelah."
###
Audy terbangun dari tidurnya tepat saat azan subuh berkumandang. Alih-alih bangkit dari ranjang, Audy justru menarik selimut lagi sampai menutupi seluruh tubuhnya. Ia sedang tidak ingin memasak hari ini.
Audy masih merasa kesal karena sikap Rendi kemarin. Laki-laki itu tidak pernah lelah mengomentari kehidupannya. Membuat Audy merasa bahwa ia terkekang.
Matanya terpejam erat saat mendengar pintu terbuka dan suara langkah kaki mendekat. Audy tau itu Rendi. Tangannya memegangi selimut erat. Berjaga-jaga jika saja Rendi membuka selimutnya secara paksa.
Satu detik,,,
Dua detik,,,
__ADS_1
Sampai di detik ketiga, belum terjadi apapun. Bodohnya Audy yang memiliki rasa penasaran tinggi. Sehingga ia membuka selimutnya dengan perlahan.
"Gimana tidurnya? Nyenyak?" Tanya Rendi datar.
Tentu saja. Itu yang akan Audy katakan. Namun lidahnya justru terkunci rapat di mulutnya. Audy hanya diam sambil membenarkan posisi duduknya.
Semalam mereka tidur terpisah, jadi Audy tidak perlu merasa risih karena harus tidur di samping Rendi. Jujur saja, tidur bersama laki-laki itu membuat dirinya merasa canggung. Audy bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk mengagumi Rendi sebab ketampanan pria itu tidak berkurang sedikitpun.
"Astaga!" Guman Audy sambil memukul kepalanya berulang kali.
Mungkin ia gila karena pikirannya dipenuhi oleh Rendi saat ini.
"Kamu melukai dirimu sendiri, bodoh!" Seru Rendi sambil menahan tangan Audy.
"Mas Rendi ngapain ke sini?" Tanya Audy. Mengabaikan seruan Rendi tadi.
"Mengajakmu sholat subuh." Rendi berjalan menuju lemari dan mengambil sajadah. "Ayo," ajaknya.
Audy menaikan satu alisnya. Rendi mengajaknya sholat? Yang benar saja!
"Nggak mau," tolak Audy.
"Kamu tau meninggalkan sholat hukumnya apa?"
Audy berdecih. "Itu urusanku dengan Tuhan, mas."
"Audy," lirih Rendi.
Suara rendah itu berhasil menyadarkan Audy. Sial, jika Rendi sudah memanggilnya seperti itu, artinya ia sedang merasa marah.
"Ck! Aku lagi dapet!" Seru Audy kesal.
"Bohong!"
"Aku serius! Apa perlu aku buka cela--"
"Saya akan sholat di masjid," ucap Rendi memotong perkataan Audy. Gila! Gadis itu benar-benar liar!
###
__ADS_1