Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Melakukan Kewajiban


__ADS_3

Matahari semakin tenggelam ketika Rendi dan Audy duduk lesehan di tepi pantai. Langit jingga di sebrang laut menjadi pemandangan yang sangat indah.


Namun keindahan itu tidak berarti apa-apa bagi Audy. Sejak tadi ia terus memperhatikan sikap Rendi. Laki-laki itu menjadi pendiam setelah kembali ke vila untuk mengajaknya jalan-jalan.


Rendi memang pendiam, namun kali ini diamnya berbeda. Ia bahkan tidak mau menatap Audy dalam waktu lama.


"Mas Rendi kenapa, sih?" Tanya Audy, lagi.


Gadis itu juga ingin tau alasan Rendi memperlakukannya secara kasar di kamar vila tadi.


"Kayaknya setelah nyicip masakan aku Mas Rendi jadi aneh deh," celetuk Audy, "masakan aku nggak enak ya?"


Hembusan nafas kasar terdengar jelas di telinga Audy. Rendi menatap Audy sejenak. Lalu menarik tangan gadis itu ke dalam genggamannya.


"Berapa umur kamu sekarang?" Tanya Rendi, mengabaikan pertanyaan Audy.


Audy mengernyit heran. "Masa Mas Rendi nggak tau umur aku," cetusnya tidak suka.


Belum hilang rasa heran Audy, kini Rendi menambahnya lagi dengan kekehan kecil.


"Kamu tumbuh dewasa dengan sangat cepat."


Hembusan angin menerpa wajah mereka. Sejenak Rendi terpesona dengan wajah polos Audy yang terkena pantulan senja.


"Seharusnya saya senang akan hal itu. Tapi saya justru semakin takut menghadapi kamu."


"Kenapa? Aku nggak nakal lagi, kok. Mas Rendi nggak bakal kesusahan lagi untuk mengurus aku." Tanpa diperintah tangan Audy mengusap lengan kekar Rendi. Gadis itu memberinya tatapan khawatir.


"Panas di badan Mas Rendi kok nggak turun-turun," gumam Audy pada diri sendiri.


Rendi meraih satu tangan Audy lagi yang berada di keningnya. Ia menatap gadis itu lekat. "Kamu tau seberapa besar rasa sayang saya sama kamu sebelum kita menikah?"


"Mas Rendi nggak pernah sayang ke aku, buktinya sikap Mas Rendi kasar terus."


"Justru itu, Audy. Saya selalu mengkhawatirkan pergaulan kamu di luar sana. Karena bagaimanapun juga kamu adalah adik saya. Saya hanya tidak mau kamu rusak di usia remaja. Tetapi kamu malah mengabaikan nasehat saya. Coba kamu pikir, kakak mana yang tidak marah ketika adiknya bandel seperti kamu?"


Audy terdiam di tempatnya. Ia memberanikan diri untuk membalas tatapan Rendi.


"Kamu tau, saya selalu berusaha untuk mengubah rasa sayang itu. Saya ingin mencintai kamu, sebagai seorang istri tentunya. Tapi saya takut akan semakin mengekang kamu, mengatur kamu di setiap hal. Saya takut kamu tidak nyaman bersama saya," lanjut Rendi.

__ADS_1


Sesaat Audy terpengarah akan ucapan suaminya itu. Sampai kemudian ia tersenyum meyakinkan. "Aku juga sedang berusaha untuk mencintai Mas Rendi. Nggak usah takut buat mengaturku, mas. Karena sekarang aku sadar kalau semua yang Mas Rendi lakuin itu buat kebaikan aku juga."


"Kita berusaha sama-sama ya, mas," kata Audy berhasil membuat Rendi merasa bebannya terangkat.


###


Meskipun berlibur, Rendi tetap harus mengecek beberapa file yang dikirimkan Mawar melalui emailnya. Jadi saat masuk kantor nanti ia hanya perlu menandatangani file-file itu.


Setelah selesai, ia menutup ponselnya kemudian menyalakan rokoknya. Rendi sengaja duduk di luar untuk menghindari Audy serta segala kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi. Karena akhir-akhir ini Rendi merasa sulit untuk mengontrol dirinya sendiri.


Sudahkah Rendi menjelaskan bahwa setelah mencium Audy waktu itu ia menjadi kehilangan arah? Tujuannya untuk membiarkan keadaan berjalan apa adanya sekarang sirna. Diganti dengan rasa ingin memiliki Audy seutuhnya. Untungnya Rendi masih diberi kesabaran untuk tidak memaksakan kehendaknya.


"Mas Rendi!"


Panggilan itu membuat Rendi bergegas mematikan rokoknya lalu masuk ke kamar. Menemui Audy yang sedang mengobrak-abrik isi koper mereka.


"Kenapa?" Tanya Rendi.


Audy menoleh dengan wajah cemberutnya. "Mas Rendi pasti lupa masukin hairdryer aku!" Kesalnya.


Ia memang sempat menyuruh Rendi untuk mengemas barangnya selagi Audy menyiapkan sarapan.


Melihat Audy mengerucutkan bibirnya karena kesal membuat Rendi gemas sendiri. Tangannya meraih lengan Audy dan menahan gadis itu di pelukannya.


"Maaf,, sini saya bantu keringkan rambut kamu."


Gerakan Rendi yang ingin melepaskan pelukan mereka terhenti ketika Audy justru semakin mengeratkan tangannya di pinggang Rendi.


"Mas," lirih Audy. Gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap Rendi begitu lekat. "Mas Rendi beneran mau belajar mencintai aku sebagai seorang istri, kan?"


Rendi tersenyum dan mengecup kedua pipi Audy secara bergantian. Sekilas ia menatap bibir pink Audy yang terlihat sangat menggoda. Rendi ingin menciumnya, tapi ia takut tindakannya malah melebihi itu.


"Tentu saja."


"Kalau gitu perlakukan aku sebagai istri Mas Rendi."


Kerutan di dahi Rendi menandakan bahwa laki-laki itu tidak mengerti dengan perkataan Audy. Apa gadis itu tidak sadar jika sejak awal pernikahan mereka, Rendi selalu memperlakukan Audy sebagai istrinya.


"Bukankah setiap hari saya melakukan itu? Saya menjaga kamu, mencium kamu, bahkan--"

__ADS_1


"Sentuh aku!"


Deg!


Rendi mematung di tempatnya. Ucapan Audy tang tidak terduga itu berhasil melumpuhkan seluruh saraf di tubuhnya untuk beberapa detik.


"Buat aku jadi milik Mas Rendi seutuhnya," lanjut Audy sembari menunduk dalam.


"Apa yang kamu bicarakan, hm?" Tanya Rendi di sertai kekehan kecil.


"Mas Rendi jelas tau maksud aku." Audy kembali mendongak. "Kita sama-sama belajar, kan? Bunda bilang awal yang baik untuk memulai semuanya dari awal adalah menerima keadaan. Aku ingin mencobanya."


"Kamu bisa mencobanya secara perlahan. Saya tidak ingin menyakiti kamu, Audy."


"Aku nggak akan merasa tersakiti, mas. Karena ini memang kemauan aku," balas Audy.


Namun Rendi mengabaikannya. Rendi justru melepaskan pelukan mereka dan mengusap bahu Audy.


"Tidak sekarang, ya?"


Rendi menghela nafasnya. Bukan tanpa alasan ia menolak keinginan Audy. Rendi dapat melihat sebuah ketakutan yang menyelimuti kedua netra Audy meski gadis itu berusaha meyakinkannya.


"Mas Rendi mau ngebuat aku berdosa karena nggak ngelakuin kewajiban aku? Atau Mas Rendi cuma main-main waktu bilang mau belajar cinta sama aku? Mas, aku tuh--"


Perkataan Audy terhenti ketika Rendi tiba-tiba mencium bibirnya. Ia juga memberikan ******* kecil yang mampu membuat Audy terbuai. Netranya menatap Audy yang sedang memejamkan mata. Menikmati ciuman mereka.


"Saya akan melakukannya," ucap Rendi menghentikan ciumannya sejenak. "Tapi ingat, hentikan saya jika memang kamu belum siap."


Rendi kembali mencium Audy ketika gadis itu mengangguk pelan. Ia menggigit pelan bibir Audy agar terbuka. Membuat akses lidah Rendi untuk mengabsen deretan gigi Audy.


"Balas saya," ucap Rendi di sela-sela ciuman mereka.


Meski ragu, namun Audy tetap melakukan perintah Rendi. Bibirnya ikut menyesap bibir Rendi secara perlahan. Berulang-ulang ia melakukan itu sampai Rendi beralih ke lehernya. Memberi kecupan kecil di sana lalu menyesapnya kuat. Kembali membuat beberapa tanda kepemilikan yang sangat jelas.


Tanpa melepas ciumannya, Rendi merebahkan tubuh Audy ke atas ranjang. Sejenak ia menatap Audy yang menunggunya. Tangan Rendi terjulur untuk mengusap kedua alis Audy. Berusaha menghilangkan ketegangan gadis itu.


Sudut bibirnya terangkat. Membuat Audy ikut tersenyum kecil. "Kamu yakin?"


Anggukan kecil dari Audy membuat Rendi langsung melanjutkan aksinya. Malam ini ia benar-benar melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Ada sedikit kebahagiaan ketika Rendi melakukannya. Tapi ia juga merasa telah menyakiti Audy. Apalagi ketika Audy merintih kesakitan ketika Rendi benar-benar menyatukan tubuh mereka.

__ADS_1


###


__ADS_2