
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi Audy masih betah menonton drama korea kesukaannya bersama Lavina. Ah, Bara juga ada bersama mereka. Tapi pria paruh baya itu sedang berkutat dengan laptopnya.
Mungkin Audy terlihat biasa saja. Tidak ada yang tau bahwa sekarang hatinya sangat gelisah. Sejak tadi netranya terus saja menoleh ke arah tangga.
Audy takut jika Rendi tiba-tiba turun dan menyeretnya untuk pulang ke rumah. Maka dari itu ia terus meminta Lavina untuk menemaninya.
Sudah beberapa kali Lavina menyuruhnya untuk menyusul Rendi ke atas, tapi Audy menolaknya.
"Mungkin Rendi ketiduran di kamarnya," ucap Lavina entah pada siapa. Tapi kemudian ia menatap Audy lekat. "Coba kamu lihat," titahnya lagi.
Gelengan kepala Audy membuat Lavina menghela nafasnya. "Kamu takut Rendi marah?"
Audy bergeming. Namun itu malah menunjukan bahwa yang dikatakan Lavina memang benar.
"Tadi Rendi bilang ke bunda kalau dia nggak marah kamu datang ke sini. Jadi kamu tidak perlu takut."
"Aku--"
Suara langkah kaki dari lantai atas membuat perkataan Audy terhenti. Dilihatnya Rendi yang sedang melangkah mendekatinya.
"Kita harus pulang," kata Rendi pada Audy.
Bukannya menurut, Audy justru mendekati bundanya. "Aku mau menginap di sini," ucapnya lirih.
"Kamu harus pulang, Audy."
Bukan, bukan Rendi yang berkata seperti itu, tapi bundanya.
"Bundaa," protes Audy tidak suka Lavina berpihak pada Rendi.
"Rendi harus bekerja besok, Audy. Kasihan kalo dia menginap di sini. Takutnya kesiangan," ujar Lavina memberikan alasan.
"Yaudah, Mas Rendi pulang sendiri aja. Aku menginap di sini," kekeh Audy.
"Nggak bisa, Audy. Kamu harus menuruti suami kamu!"
"Ck! Bunda kenapa jadi belain Mas Rendi terus sih! Aku kan masih pengen di sini!"
Rendi yang malas mendengar perdebatan mereka pun memilih keluar. Ia menyalakan mobilnya dan memindahkannya ke dalam garasi.
Ia tidak punya pilihan lain. Audy ingin tetap di sini. Jadi ia harus menurutinya. Mungkin gadis itu masih merindukan bundanya.
Rendi kembali ke dalam setelah memastikan pintu garasi terkunci rapat. Sebenarnya bisa saja ia menyuruh satpam rumah untuk memindahkan mobilnya. Tapi ia tidak ingin merepotkan orang lain. Ya, selagi Rendi bisa melakukannya sendiri, kenapa harus menyuruh orang lain?
"Kok Mas Rendi balik lagi?" Tanya Audy begitu melihat Rendi kembali.
"Kamu pikir saya akan meninggalkan kamu sendiri di sini?"
Tadinya Rendi ingin duduk di sebelah Bara. Namun dengan cepat Lavina pindah ke tempat itu. Seakan membiarkan Rendi duduk di samping Audy.
__ADS_1
"Jadi Mas Rendi mau menginap di sini juga?"
Rendi mengangguk singkat. Ia merebahkan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha Audy sebagai bantalan. Audy sudah akan mendorong Rendi jika saja Rendi tidak menahannya dan justru mengalungkan lengan Audy di dadanya.
"Mas Rendi!" Seru Audy sembari berusaha melepaskan diri.
"Bangunkan saya jika drama membosankan itu sudah selesai," ucap Rendi kemudian masuk ke alam mimpinya.
Yang dilakukan Audy sekarang hanya menghela nafasnya pasrah. Ia tidak dapat melakukan apapun lagi.
Hampir dua jam Audy menonton drama itu. Hanya dirinya, karena Lavina dan Bara memilih untuk tidur terlebih dulu. Ia sekarang bimbang, antara membangunkan Rendi, atau ia yang harus tidur dalam posisi duduk seperti itu.
"Mas Rendi," sebutnya pelan sembari menepuk pelan pipi Rendi.
Butuh waktu dua menit sampai akhirnya Rendi menggeliat dan bangun dari tidurnya. Ia menghela nafas kasar dan mengusap wajahnya untuk mengumpulkan nyawanya.
Netranya melirik Audy yang masih menatap Rendi. Seakan memastikan ia sudah sadar sepenuhnya atau belum.
"Ayo ke atas," ajak Rendi dengan suara seraknya. Membuat Audy tersadar dan langsung berpaling.
"Mas Rendi duluan aja," ucapnya cepat.
"Kamu mau ngapain lagi? Sudah tengah malam. Cepat bangun." Rendi memaksa Audy untuk bangkit dan menarik pelan gadis itu.
"Mas Rendi." Satu tangan Audy meraih tangga. Menahan tubuhnya dari tarikan tangan Rendi. "Aku tidur di kamar aku sendiri ya," pintanya.
"Nggak papa, aku cuma mau tidur sendiri. Boleh ya? Malam ini aja, kok," lanjut Audy memohon.
Jika boleh jujur, Audy akan mengatakan jika kamar Rendi sangat tidak nyaman. Suasana di kamar itu sangat menakutkan. Apalagi ditambah dengan aura Rendi. Mengingat malam pertama mereka di kamar itu juga membuat Audy merasa takut.
"Yaudah, ayo," ucap Rendi lanjut menarik Audy ke depan pintu kamar gadis itu.
Namun Audy menautkan alisnya. Rendi mengiyakan permintaannya. Tapi laki-laki itu juga ikut bersamanya?
Rendi melepaskan tangan Audy begitu masuk ke dalam kamar bernuansa pink pastel itu.
"Hanya malam ini! Saya pegang kata-kata kamu." Rendi menyelipkan rambut panjang Audy ke telinga gadis itu. Kemudian mengecup keningnya singkat.
"Tidur yang nyenyak. Kunci pintu dan pakai selimutnya," pesan Rendi sebelum meninggalkan kamar Audy.
Sedangkan gadis itu masih terpaku dengan apa yang dilakukan Rendi. Sudah berulang kali ia mendapat perlakuan seperti itu. Namun tadi, Rendi memperlakukannya dengan sangat berbeda. Ia dapat merasakan ketulusannya. Dan itu membuat Audy takut.
Ia takut Rendi mulai berusaha mencintainya. Dan ia juga takut akan terbuai dengan semua usaha Rendi. Karena mau bagaimana pun juga, pernikahan ini memang tidak seharusnya terjadi. Rendi bukanlah laki-laki impiannya. Dan ia juga masih memiliki kekasih.
###
Ketukan pintu kamar membuat Rendi mau tidak mau membuka matanya. Dengan kesal ia menyibak selimut dan berjalan malas untuk melihat siapa yang membangunkannya.
"Bunda," sebut Rendi begitu melihat Lavina yang sedang berdiri di depan pintu. "Ada apa?"
__ADS_1
"Kamu diajak ke masjid sama ayah," jelas Lavina membuat Rendi melirik jam dinding.
Jam 4:05? Rasanya ia baru tidur selama satu jam. Kenapa waktu bergerak sangat cepat?
"Iya," balas Rendi.
Lavina menahan pintu kamar Rendi ketika anak laki-lakinya itu hendak menutupnya. "Bangunin Audy juga, bilang sama dia buat bantuin bunda masak sarapan."
"Audy di kamar sebelah, bun--"
"Kalian pisah kamar?!" Seru Lavina cepat.
"Audy yang minta," jelas Rendi tidak ingin bundanya salah paham.
"Kenapa kamu kasih izin ke dia? Harusnya kamu larang, dong!"
Lavina mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya pada Rendi. "Atau jangan-jangan kalian seperti itu setiap hari? Kenapa kalian melakukan itu? Pernikahan kalian sudah sah. Jadi jangan mempermaink--"
"Tidak, bunda," ucap Rendi menyela. "Hanya malam tadi. Audy bilang ingin tidur sendiri di kamarnya. Jadi Rendi kasih izin."
Entah apa yang salah dengan kata-kata Rendi sehingga membuat wajah Lavina menjadi murung.
"Maaf ya," kata Lavina tiba-tiba.
"Kenapa minta maaf sama Rendi?" Tanya Rendi bingung.
"Pasti kehadiran Audy sangat menyusahkan kamu. Jika saja bunda bisa menahan keegoisan, pasti sekarang kamu fokus mencari perempuan yang sesuai dengan keinginan kamu," ungkap Lavina.
Wanita yang telah melahirkan Rendi itu sadar, bahwa keinginannya untuk menikahkan Audy dengan Rendi adalah demi dirinya sendiri. Ia tidak mau kehilangan Audy, ia juga tidak mau membagi Rendi dengan siapapun.
Sejak dulu ia tidak pernah merasakan kedekatannya dengan anak kandungnya itu. Maka dari itu ia menginginkan Rendi terus berada di sisinya. Jika Rendi menikahi perempuan lain. Pasti perhatian Rendi akan terbagi pada keluarga perempuan itu.
Namun mendengar penjelasan Bara, bahwa Rendi rela mengubur segala rencana masa depannya yang telah tersusun begitu rapi membuat Lavina merasa menjadi orang tua yang sangat egois.
Apalagi ia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Rendi berusaha menerima Audy dengan ikhlas. Hal itu membuat hatinya terguncang. Sehingga ia memutuskan untuk mengajarkan pada Audy hal-hal yang sepantasnya dilakukan oleh seorang istri. Mungkin benar, sikapnya selama ini dalam membesarkan Audy memang salah. Tidak seharusnya ia memanjakan gadis itu dengan berlebihan.
"Bunda."
Suara Rendi berhasil menghentikan lamunannya. Ia menatap Rendi yang sedang tersenyum kecil.
"Rendi tidak menganggap Audy sebagai beban. Mungkin ini sudah garis hidup Rendi. Tuhan memberikan Audy, agar Rendi bisa berhenti menginginkan hal-hal yang berlebihan. Tidak ada sesuatu yang instan. Mungkin Audy memang bukan gadis yang Rendi inginkan. Dan Rendi tidak ingin mengubah Audy menjadi gadis seperti itu. Rendi hanya ingin Audy belajar hal-hal yang sudah sepatutnya dilakukan oleh seorang istri. Itu saja," jelas Rendi.
"Terima kasih karena sudah mau menerima Audy," ujar Lavina sembari mengusap setetes air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya.
"Bunda," panggil Rendi lagi saat Lavina hendak melangkah. "Rendi juga berterima kasih karena sudah mempercayakan Audy pada Rendi. Insya Allah, jika Tuhan mengizinkan, Rendi akan menjaganya dengan baik."
Entah kenapa perkataan Rendi justru membuat Lavina sedih dan juga terharu. Ya, terharu karena kedewasaan Rendi. Dan juga sedih karena menyesal tidak pernah mendampingi Rendi menjadi sosok yang sedewasa ini.
###
__ADS_1