Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Berlibur


__ADS_3

Pembohong!


Itu yang ingin Audy katakan pada Rendi ketika melihat laki-laki itu sibuk dengan laptopnya. Padahal pagi tadi Rendi mengatakan bahwa hari ini ia libur bekerja.


"Ada apa?" Tanya Rendi tiba-tiba. Ah, mungkin laki-laki itu mendengar decakan kecil keluar dari mulut Audy.


Dan Audy tetaplah Audy. Gadis itu tidak akan segan mengatakan hal-hal yang mengganggu pikirannya.


"Mas Rendi bohong. Katanya mau luangin waktu buat aku, tapi sekarang malah sibuk sendiri," cibirnya kesal.


"Hanya memeriksa beberapa e-mail yang masuk, Audy. Sebentar lagi juga selesai," balas Rendi tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Audy mendengus kesal. Ia beranjak menuju dapur. Namun belum jauh ia melangkah, Rendi sudah terlebih dulu memanggilnya.


"Tolong buatkan kopi," kata Rendi memerintah.


"Iya."


Audy melanjutkan langkahnya menuju dapur. Lalu meracik kopi kesukaan Rendi. Sebelum mengantar kopi itu pada suaminya, Audy menyajikan masakannya ke meja makan.


"Ini kopinya."


Ia meletakan secangkir kopi di meja kerja Rendi. Niatnya untuk langsung pergi tertahan saat Rendi menariknya hingga jatuh ke pangkuan laki-laki itu.


"Mas Rendi!" Pekiknya karena terkejut. Tangannya terangkat, hendak memukul bahu Rendi. Tapi Rendi langsung mencekal tangannya.


"Maaf." Rendi terkekeh singkat.


Sejenak Audy terpaku pada wajah suaminya. Akhir-akhir ini Rendi memang sering tertawa meski sangat singkat. Tapi Audy tidak pernah sadar bahwa tawa kecil itu terlihat sangat mengagumkan.


"Terima kasih," ucap Rendi menyadarkan Audy dari keterkagumannya.


"Iya. Tapi maaf kalau kopinya kemanisan. Aku nggak tau takaran gulanya. Bi Yuyun ke pasar, jadi--"


"Untuk yang semalam," lanjut Rendi memotong perkataan Audy.


"Semalam?"


Tanpa izin memori semalam kembali melintas dibenak Audy. Ia menunduk malu mengingat Rendi menciumnya semalam.


"Saya ingin bertanya sesuatu."


Audy memberanikan diri untuk membalas tatapan lembut Rendi. Kedua matanya mengerjap, seakan mengizinkan Rendi untuk bertanya.


"Saya,, pria keberapa yang mencium kamu?"

__ADS_1


Rendi dapat merasakan tubuh Audy menegang setelah mendengar pertanyaannya. Karena itu ia mengusap punggung Audy pelan. "Katakan sejujurnya, saya tidak akan marah."


"Aku-- emm, Mas Rendi yang pertama," ucapnya cepat, bahkan tanpa jeda. Kepala Audy menunduk malu, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Itu first kiss aku."


Sekarang giliran Rendi yang terkejut dengan pernyataan yang diucapkan Audy. Alisnya terangkat. Kemudian tertawa sumbang.


"Mas Rendi nggak percaya?" Tanya Audy sembari menggigit bibir bawahnya.


Keterdiaman Rendi membuatnya yakin bahwa laki-laki itu memang tidak percaya padanya.


"Baru semalam Mas Rendi bilang kalau kepercayaan itu penting untuk memulai hubungan. Tapi Mas Rendi sendiri nggak percaya sama aku."


Entah sejak kapan mata Audy berkaca-kaca. Sampai akhirnya sebulir air matanya jatuh. Mengenai lengan Rendi yang sedang tercengang.


"Aku emang suka main ke kelab malam, tapi senakal-nakalnya aku, aku nggak pernah ngebiarin cowok manapun nyentuh aku. Termasuk Jason. Dan untungnya Jason bisa mengerti akan hal itu."


"Sekarang aku yang tanya, aku perempuan keberapa yang dicium Mas Rendi?"


Rendi memalingkan wajahnya dari Audy. Ia berdeham kecil lalu membenarkan posisi duduknya tanpa menurunkan Audy.


"Saya tidak tau. Maaf," sesal Rendi.


"Saking banyaknya ya? Sampai lupa aku yang ke berapa," Audy tersenyum kecil meskipun kekecewaan terlihat jelas di matanya.


"Audy, saya melewati masa remaja saya di Amerika. Sangan sulit untuk tidak tergoda dengan budaya mereka. Saya hanya mencumbu mereka untuk menghilangkan rasa lelah saya setelah belajar seharian. Sekarang--"


"Jangan bilang kalau semalam Mas Rendi cium aku cuma buat pelampiasan rasa lelah Mas Rendi," potong Audy cepat.


"Tidak seperti itu. Saya mencium kamu karena suatu keinginan. Tidak perlu alasan untuk mencium istri sendiri, bukan? Audy, saya itu pria normal yang juga memerlukan kebutuhan biologis. Apa salah jika saya ingin mendapatkannya dari kamu?"


"Tapi aku belum siap buat ngelakuin itu," lirih Audy.


"Saya tidak akan memaksa kamu untuk melakukan hubungan suami istri. Maka dari itu, dengarkan perkataan saya dengan baik kali ini." Rendi menatap Audy lekat. "Hentikan saya ketika sikap saya melewati batas. Saya tidak ingin menyakiti kamu."


Anggukan kecil dari Audy berhasil membuat sudut bibir Rendi terangkat. Apalagi jemari Audy mengusap keningnya dengan sentuhan ringan.


"Tapi kalau aku buat kesalahan, Mas Rendi bisa kasih aku hukuman."


"Tidak semua kesalahan harus berakhir dengan hukuman, Audy. Jadi belajarlah mengakui kesalahan itu dan meminta maaf. Itu lebih baik dari pada saya mengetahui kesalahan kamu tetapi kamu justru mengelaknya. Kamu tau, sejak dulu saya hanya menunggu kamu mengucapkan kata maaf ketika kesalahan kamu terlihat jelas. Tapi kamu tidak pernah merasa berbuat salah."


Tangan kekar Rendi mengusap leher jenjang milik Audy. Sejenak terhenti di jejak merah yang ia buat semalam. Kemudian merapikan rambut Audy agar menutupi bekas itu.


"Tapi saya senang akhir-akhir ini kamu sering berkata maaf tanpa saya minta," jujur Rendi, "sikap kamu lebih dewasa."


Tidak taukah Rendi bahwa saat ini Audy tengah meremas ujung gaunnya karena merasa bangga dipuji olehnya? Audy tidak bisa menunjukan perasaannya secara terang-terangan karena malu.

__ADS_1


Tapi senyumnya memudar ketika perkataan Lavina kemarin terngiang di kepalanya. 'Berikan balasan ketika Rendi memuji kamu. Tidak perlu dengan barang-barang mewah. Cukup berterima kasih dan lakukan apa yang disukai Rendi.'


Disukai Rendi. Itu permasalahannya. Ia bahkan tidak tau apa yang Rendi suka dan tidak suka. Namun Audy teringat bahwa Rendi sangat sering mencium pipinya. Haruskah ia melakukan hal yang sama?


Tanpa pikir panjang Audy langsung mengecup singkat pipi kiri Rendi. Membuat laki-laki itu mengerjapkan matanya.


"Makasih," ucapnya malu. Audy langsung beranjak dari pangkuan Rendi. "Sarapannya udah siap. Kalau Mas Rendi udah selesai cek E-mailnya langsung ke bawah, ya? Aku tunggu di sana."


Berbeda dengan Audy yang salah tingkah. Rendi justru tersenyum lebar. Ia menggelengkan kepala, mengusir ekspresi menggemaskan Audy yang terngiang di dalamnya.


Setelah selesai memeriksa beberapa dokumen yang dikirimkan oleh bawahannya, ia menyesap sedikit kopi yang dibuat Audy tadi. Hanya sedikit, karena rasanya tidak sesuai dengan ekspetasinya. Mungkin Audy menambahkan kopi lebih banyak dari pada gulanya. Jadi rasanya sangat pahit. Untung saja ia tidak meminumnya di hadapan Audy. Jadi Audy tidak malu karena ia tidak menghabiskan kopi itu.


Rendi menyusul Audy ke meja makan. Benar saja, Audy sudah duduk tenang di sana sembari menutup pipinya dengan kedua tangannya.


"Kamu kenapa?" Tanyanya sembari menarik pelan tangan Audy. Ia bisa melihat keterkejutan di wajah gadis itu. Mungkin Audy tidak menyadari langkahnya tadi.


"Eh, enggak kenapa-napa. Duduk, mas. Biar aku ambilin sarapannya." Audy menarik kursi untuk Rendi. Kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauknya.


"Terima kasih," ucap Rendi sembari menerima piring itu. Tanpa basa-basi ia langsung memakan sarapannya dengan tenang.


"Kamu mau kemana?"


Audy mengernyit mendengar pertanyaan singkat itu. Tentu saja! Ia sedang duduk manis sambil menikmati sarapannya. Rendi tentu tau bahwa Audy tidak beranjak sedikitpun dari kursinya.


"Aku nggak kemana-mana," balasnya ragu.


"Tidak. Maksud saya, kamu mau liburan ke mana?" Tanya Rendi memperjelas.


Netra Audy berbinar saat telinganya menangkap kata 'liburan'. Ia pikir Rendi tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya soal mengajaknya berlibur.


"Mas Rendi mau ngajak aku liburan?"


"Saya hanya bertanya," balas Rendi terdengar acuh.


Sontak bahu Audy meluruh seketika. Nafsu makannya juga ikut menguap. Yang ia lakukan sekarang hanya mengacak-acak nasinya menggunakan sendok.


"Untuk apa menanyakan sesuatu yang kamu sendiri sudah tau jawabannya?" Tanya Rendi.


Audy meletakan sendoknya dengan sedikit kasar. Netranya melirik Rendi. Dalam hati ia mengumpat karena tidak bisa mengendalikan kekesalannya sampai Rendi menatapnya begitu dalam.


"Aku nggak tau. Mas Rendi kan suka berubah pikiran. Salah ya, kalau aku mempertanyakan kejelasannya?"


Rendi tersenyum kecil kemudian menggeleng. "Kali ini saya serius. Kamu mau liburan ke mana?"


###

__ADS_1


__ADS_2