Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Merasa Yakin


__ADS_3

Rendi menghentikan mobilnya di halaman luas di kediaman orang tuanya. Kedatangannya kemari tentu saja untuk menjemput istrinya.


Selepas pulang bekerja tadi ia tidak menemukan Audy di rumah. Sampai akhirnya supir pribadi Audy mengatakan bahwa gadis itu berkunjung ke rumah orang tuanya.


Rendi tidak marah, ia hanya kesal karena Audy tidak mengabarinya. Ya, setidaknya jika gadis itu memberitahunya, ia tidak perlu mencemaskan keberadaan Audy ketika pulang kerja tadi.


Tanpa mengetuk pintu, ia masuk ke dalam dan mengucapkan salam. Tidak ada balasan, mungkin semua orang sedang berkumpul di belakang.


Langkahnya terhenti di batas ruang tengah dan dapur. Dari sana ia dapat melihat Audy sedang berkutat dengan alat-alat memasak. Tidak ada orang lain selain gadis itu di sana.


Entah apa yang membuatnya terpaku, hingga ia memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya di dinding. Memperhatikan gadis dengan gaun simple berwarna pastel itu melakukan aktifitasnya.


"Rendi," panggil seseorang dari belakangnya.


Rendi berbalik dan mendapati bundanya sedang berdiri tidak jauh darinya. Tanpa menunggu detik lain ia langsung mencium tangan Lavina.


"Kamu mau jemput Audy, ya?" Tanya Lavina lirih. Tidak mau Audy terganggu.


Anggukan singkat dari Rendi membuat Lavina melemaskan pundaknya. "Nanti dulu, ya? Biarin dia bantuin bunda masak makan malam. Sekalian kamu makan di sini juga," lanjut Lavina memohon.


Lagi-lagi Rendi mengangguk. "Ayah mana?" Tanyanya.


"Lagi duduk tuh, di teras tepi kolam renang," tunjuk Lavina pada pintu kaca yang memperlihatkan sosok Bara yang sedang duduk sembari meminum kopinya.


"Rendi ke sana," pamit Rendi.


Ia sudah hampir melangkah. Namun tangan Lavina menghentikannya. Rendi mengangkat satu alisnya ketika Lavina hanya menatap dirinya.


"Ada apa?"


"Em,,, bunda yang mengajak Audy ke sini. Tolong jangan marah," ucap Lavina.


Mendengar itu Rendi hanya tersenyum singkat. Sebenarnya kemarin ia juga ingin mengajak Audy kemari. Namun gadis itu justru tertidur, jadi ia langsung membawanya pulang.


"Tadinya Rendi marah. Tapi begitu lihat Audy bantuin bunda di sini, Rendi malah senang," ucap Rendi jujur.


"Rendi sama ayah dulu ya," lanjutnya meninggalkan Lavina.


Rendi menyusul ayahnya duduk di tepi kolam. Sudah lama sekali rasanya ia tidak mengobrol dengan Bara.


"Gimana kabar ayah?" Tanya Rendi basa-basi.


Bara menoleh singkat. "Baik," balasnya.


"Rendi dengar perusahaan ayah sedang ada masalah. Apa perlu Rendi bantu menanganinya?"

__ADS_1


Beberapa waktu lalu bawahan Rendi memberi kabar bahwa ada kecurangan di dalam perusahaan Bara. Dan itu dilakukan oleh pihak internal.


"Tidak perlu. Pencuri kecil itu sudah diketahui. Ayah hanya perlu menendangnya keluar dari perusahaan." Bara menyeruput kembali kopinya. "Kamu sendiri bagaimana?"


"Apa? Perusahaan Rendi baik-baik saja," kata Rendi.


"Bagaimana dengan Audy? Maksud ayah, bagaimana hubungan kalian?" Tanya Bara lagi.


"Ya, masih sama." Rendi mengeluarkan sebungkus rokok dan korek dari dalam saku celananya. Ia juga mengambil satu rokok itu dan menyulut ujungnya dengan api. "Memangnya apa yang ayah harapkan dari hubungan kami?"


Bara memperhatikan Rendi lekat. Anaknya itu terlihat sangat menikmati rokoknya.


"Ayah tidak mengharapkan apapun. Hanya saja, ayah ingin hubungan kalian berjalan dengan semestinya."


"Ayah tidak perlu khawatir tentang masalah itu," ujar Rendi menenangkan Bara.


"Boleh ayah bertanya sesuatu?" Tanya Bara ragu.


Sedangkan Rendi mengangguk santai sembari mengembuskan asap rokoknya ke udara.


"Sebelum menikahi Audy, apa kamu punya wanita yang kamu suka atau kekasih? Ayah ingat kamu berkata bahwa ingin menikahi wanita yang sesuai dengan kriteriamu," lanjut Bara.


"Tidak ada," jawab Rendi singkat.


"Kamu yakin?" Tanya Bara mendesak.


"Harusnya ayah menanyakan itu pada Audy. Sepertinya hubungan Audy dengan kekasihnya belum berakhir."


Sudah tiga kali Rendi melihat ada panggilan dari kekasih Audy. Menurut informasi dari bawahannya, kekasih Audy masih berada di luar negeri. Rendi tidak melakukan banyak hal untuk hubungan mereka. Karena ia ingin Audy sendiri yang menyelesaikan masalah mereka.


"Ayah sudah menyuruh orang untuk memantau mereka," ujar Bara.


"Tidak perlu melakukan itu, biarkan mereka menyudahi hubungan mereka sendiri."


"Tapi itu tidak mungkin. Audy sangat mencintai kekasihnya."


"Lalu kenapa gadis itu mau menikah dengan Rendi? Karena bunda mengancam akan mencabut seluruh fasilitasnya? Rasanya tidak mungkin, karena Audy bisa saja mendapatkan seluruh fasilitas baru dari kekasihnya."


"Bukan karena itu, kamu tau sendiri bagaimana Audy sangat menyayangi bunda. Ia rela melakukan apapun demi bundanya. Lagi pula, mereka tidak seiman, tidak mungkin mereka melanjutkan hubungan mereka sampai kejenjang pernikahan," jelas Bara.


"Ayah sudah tau bahwa hubungan mereka tidak mungkin berlanjut. Lalu kenapa harus menikahkan Audy dengan Rendi? Ck!! Rendi tidak mengerti dengan pemikiran ayah dan bunda," keluh Rendi.


"Kamu akan mengerti ketika kamu dan Audy sudah saling menerima," kata Bara.


Percakapan mereka terhenti ketika Lavina memanggil mereka untuk makan malam. Bara yang terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Rendi menunggu rokok di tangannya mengecil. Kadang Rendi bisa memahami alasan mereka menikahkannya dengan Audy. Namun selalu saja ada pemikiran yang membuat alasan itu terdengar tidak masuk akal. Tapi meskipun begitu, Rendi tetap menguatkan tekadnya untuk menjalani pernikahaannya dengan baik.

__ADS_1


Ia membuang putung rokoknya ke dalam asbak kecil di atas meja. Kemudian menyusul Bara ke dalam. Ia langsung menuju ruang makan. Dapat ia lihat Audy terkejut akan kehadirannya.


"Mas Rendi kok di sini?" Tanya Audy. Ia memperhatikan penampilan Rendi dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Laki-laki itu sudah tidak mengenakan seragam kantornya. Tapi tetap terlihat gagah meskipun hanya mengenakan jelana jins hitam dengan kaos pendek berwarna senada.


"Kamu pikir saya akan membiarkan kamu menginap di sini?" Sindir Rendi.


"Aku-- aku udah bilang Pak Tarman sebelum main ke sini," ucap Audy ambigu.


"Suami kamu itu saya, bukan Pak Tarman. Kenapa kamu tidak mengabari saya?"


"Memangnya Mas Rendi bakal kasih izin kalau aku main ke sini?" Tanya Audy kesal.


"Kamu pikir saya sejahat itu sampai-sampai tidak mengizinkan kamu bertemu dengan bunda?" Sarkas Rendi.


"Ya,, kan aku nggak tau," ucap Audy membela diri. Ia kembali menata masakannya di meja makan. Sedangkan Rendi memilih duduk dan memperhatikan Audy.


"Ayah nggak nyangka kamu pintar memasak," celetuk Bara yang baru bergabung di meja makan.


"Audy cuma bantu potong sayur, yah. Selebihnya bunda yang masak," jujur Audy.


"Tidak masalah, nanti juga lama-lama kamu pasti jago kayak bunda," balas Bara menyemangati.


Audy tersenyum canggung. Ia melihat Lavina menyendokan nasi ke piring Bara dan menaruh beberapa lauk di sana. Audy berpikir, apa ia harus melayani Rendi seperti itu?


Di saat pikirannya bimbang, tangannya sudah terlebih dahulu bergerak menyela Rendi yang hendak mengambil nasi.


"Biar aku ambilin," ucap Audy diluar kesadarannya.


Dengan cepat ia menaruh nasi, tumis kangkung, dan ayam bakar teflon beserta sambalnya di piring Rendi. Tentu saja kegiatannya itu mencuri perhatian dari Bara dan Lavina.


"Terima kasih," ucap Rendi. Tanpa berlama-lama ia langsung menyantap makanan itu.


Ia sengaja mengabaikan Audy, karena gadis itu pasti akan terganggu jika terus diperhatikan. Tidak ada pembicaraan, semuanya makan dalam keheningan.


Sampai akhirnya Rendi memasukan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Ia meminum segelas air putih yang juga disiapkan oleh Audy tadi. Kemudian melihat istrinya itu dengan seksama.


"Jari kamu kenapa?" Tanya Rendi begitu melihat jari telujuk kiri Audy dibalut plester.


"Kena pisau tadi pas potong bawang," ucap Audy tanpa melihat Rendi.


Seakan mengerti kecanggungan di antara mereka dan kedua orang tuanya, Rendi memutuskan untuk bangkit terlebih dahulu dan mengunjungi kamarnya. Rendi merebahkan tubuhnya di ranjang.


Hari ini tidak terlalu melelahkan. Dan entah kenapa hatinya merasa tenang ketika melihat Audy belajar memasak dengan Lavina.


Hal itu membuatnya merasa yakin untuk melanjutkan niatnya. Mungkin mencintai Audy membutuhkan banyak waktu. Tapi Rendi yakin, jika ia menjalaninya dengan ikhlas, waktu panjang itu pasti akan ia lewati.

__ADS_1


Ya, Rendi memutuskan untuk belajar mencintai Audy dengan hati yang tulus.


__ADS_2