Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Marah?


__ADS_3

Tiga hari berlalu setelah perdebatannya dengan Audy waktu itu. Tapi sampai sekarang, gadis itu belum mau bicara dengannya. Padahal ia sudah mencoba bersikap lembut pada Audy.


Rendi tidak berpikir apa yang dilakukan Audy adalah suatu kesalahan. Tapi tidak bisakah gadis itu mengerti akan keadaannya? Ia sudah cukup lelah ketika pulang malam, dan bukannya mendapat sambutan yang hangat, gadis itu justru menuduhnya sibuk dengan urusan pribadi.


Suara ketukan pintu membuat lamunannya terbuyar. Ia segera membereskan seluruh berkas-berkas di mejanya dan menyuruh orang yang mengetuk pintu tadi untuk masuk.


"Sepertinya kamu sangat sibuk sampai-sampai tidak membalas pesan dari ayah," ucap Bara menyidir anak laki-lakinya itu.


"Ah maaf, banyak berkas yang harus aku selesaikan beberapa hari ini." Rendi menghela nafasnya pelan kemudian menyadarkan tubuhnya.


"Bukankah kamu biasa bekerja sampai minggu?" Tanya Bara dengan alis yang saling bertaut.


Rendi bukanlah tipe orang yang suka menghabiskan waktunya untuk berleha-leha. Anak itu bahkan tidak pernah menghabiskan hari liburnya untuk bersenang-senang.


"Ya, tapi Audy memintaku untuk berlibur," balas Rendi tanpa menjelaskan. Karena ia tau Bara dapat memahami maksudnya.


"Wah wah wah. Dulu saja, ketika aku memintamu untuk bekerja lima hari, kamu menolaknya dengan keras. Tapi sekarang kamu menuruti perkataan, Audy? Kamu sudah mulai mencintainya?"


Pertanyaan Bara sedikit menghibur sampai Rendi mengeluarkan kekehan khasnya. "Rendi hanya merasa kasihan pada, Audy. Dia tidak pernah keluar sejak menikah denganku."


Bara berdecih kecil, "kamu terlalu malu untuk mengatakan kamu mencintainya, Rendi. Bukankah itu hal wajar? Audy adalah istrimu. Sudah sepantasnya kamu mencintainya."


Rendi hanya tersenyum menanggapinya. Ia bukan malu mengatakan hal itu. Tapi ia masih ragu, apa benar ia mencintai gadis itu? Perasaannya yang belum menentu mampu membuatnya menahan diri untuk mengatakan bahwa ia mencintai Audy.


"Melihat kamu sibuk seperti ini, ayah tidak yakin jika kamu tau bahwa kemarin Audy menemui bunda."


Sontak Rendi menegakkan tubuhnya. Ia menatap Bara lekat. Mencoba mencari kebohongan di sana. Namun sialnya, terlalu sulit mencari hal itu di netra tajam Bara.


Sedangkan Bara yang melihat itu tertawa meledek, "ayah benarkan? Kamu memang tidak mengetahuinya. Oh ya, ayah lupa jika sikap kamu terlalu keras pada Audy. Mungkin dia takut kamu tidak mengizinkan dia pergi."


"Ck! Aku tidak se-over itu dalam urusan melarangnya berpergian. Audy saja yang selalu ànegative thinking terhadapku," kesal Rendi, "apa yang dikatakan Audy pada bunda?"


"Ayah tidak terlalu mendengarnya. Yang jelas ia meminta maaf dan mengatakan jika hubungannya dengan Jason sudah berakhir. Bunda tidak mempercayai Audy, jadi ia meminta ayah untuk menanyakan padamu apakah kamu memaksanya melakukan itu atau tidak."


"Aku bahkan tidak tau jika Audy menemui bunda," gumam Rendi.


"Jadi bunda belum memaafkan Audy?" Lanjutnya bertanya.

__ADS_1


Bara mengedikkan bahunya acuh. "Entahlah. Ayah tidak tau masalah itu."


Rendi menatap malas ke arah Bara. "Ayah terlalu acuh pada Audy."


"Jika Audy menikahi pria lain, ayah pasti akan memperhatikannya. Tapi dia menikah denganmu," ucap Bara membuat Rendi mengangkat alisnya.


"Apa bedanya denganku? Aku bisa saja menyakiti Audy seperti pria lain. Ayah tidak bisa terlalu mempercayaiku meskipun aku anak ayah."


Bara mencondongkan tubuhnya pada Rendi. "Ayah tau hal itu, bahkan kamu berkali-kali menyakiti Audy di hadapan ayah dulu. Kamu bilang itu demi kebaikannya. Ayah percaya itu. Dan sekarang kepercayaan ayah semakin kuat. Audy rela menurunkan egonya dan meminta maaf pada Bunda. Ia bahkan mampu menyelesaikan masalahnya dengan Jason. Itu menjadi bukti bahwa kamu sangat pandai mengurusnya melebihi ayah."


###


Makan malam hari ini dilakukan tanpa adanya perdebatan apapun. Baik Rendi maupun Audy tidak ada yang berniat membuka suaranya. Mereka terlarut dalam pikirannya masing-masing.


Sampai akhirnya Rendi menurunkan sendok dan garpu yang ia pegang ke atas piring kemudian menjauhkan benda itu dari hadapannya.


"Selesaikan makanmu kemudian temui saya di kamar. Ada hal yang harus kita bicarakan," titahnya tegas membuat Audy tidak mempunyai pilihan lain selain mengangguk.


Kegelisahan yang melanda Audy membuatnya mengulur waktu saat mencuci piring kotor. Ia bahkan tidak mengizinkan Bi Yuyun membantunya meskipun wanita paruh baya itu mengatakan jika Rendi bisa memarahi beliau.


Setelah seluruh piring kotor itu bersih dan tertata rapi di rak, Audy tidak langsung ke kamarnya. Ia justru menyiapkan sayuran yang ingin ia masak besok pagi.


Suara langkah kaki dari arah tangga membuat Audy mematung di tempatnya. Tidak perlu di tebak lagi siapa yang turun dari lantai atas. Karena sudah pasti itu suaminya, Rendi. Dan ya, langkah Rendi berhenti di belakang Audy.


Audy dapat merasakah hembusan nafas laki-laki itu walaupun ia sedang duduk. Aroma maskulinnya juga mampu mencekat nafasnya. Sampai akhirnya ia merasakan tangan besar Rendi mengusap rambutnya pelan namun berat.


"Saya menunggu kamu di atas. Tapi kamu malah menyibukan diri di sini. Kamu menghindari saya, hm?" Tanya Rendi dengan nada rendahnya dan menekan kata 'menyibukan'.


"Eng-- enggak, kok. Aku cuma nyiapin sayur buat di masak besok. Sebentar lagi juga selesai," balas Audy tergagap.


Ia ingin melanjutkan memotong lobak di hadapannya. Tetapi dengan cepat Rendi menyingkirkan papan kayu yang digunakan untuk alas memotong.


"Mas Rendi, ih! Apa-apaan sih?"


Bukannya menjawab. Netra Rendi justru mengelilingi area dapur.


"BI YUYUN! BIBI!" Panggilnya keras. Audy sendiri sampai terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Bi Yuyun mungkin sudah ti--"


"BI YUYUN!" Sela Rendi tanpa mengalihkan pandangannya dari raut wajah Audy yang ketakutan.


"Mas," cicit Audy pelan.


Rendi tidak memperdulikan itu. Ia segera berdiri di depan Bi Yuyun yang tidak berani mengangkat kepalanya. Ya, walaupun ia sudah lama bekerja di sini, kemarahan Rendi tetaplah membuatnya takut. Meskipun ia tau sebenarnya sifat Rendi sangat baik.


"Anda membiarkan Audy melakukan seluruh pekerjaan rumah? Apa anda sudah bosan dengan--"


"Mas Rendi! Aku yang nyuruh Bi Yuyun istirahat," sela Audy. Ia merasa tidak enak pada pembantunya itu.


"Shut up! Saya tidak sedang bicara denganmu!" Tegas Rendi. Ia kembali menatap wanita paruh baya itu. "Anda--"


"Maaas," sela Audy lagi. Kali ini dengan usapan di lengan kekar Rendi dan menunjukan tatapan memohonnya. "Aku yang salah. Maaf," lanjutnya.


Ya, ini memang salahnya. Ia sengaja mempermainkan waktu untuk mengindari Rendi. Dan Bi Yuyun tidak mengerti apapun.


Rendi menghela nafasnya. "Baiklah. Lanjutkan istirahat anda. Maafkan kesalahpahaman saya," ucapnya pelan.


Bi Yuyun menatap Audy sekilas. Seakan menanyakan apakah ia harus menuruti perkataan Rendi, atau bertanya apakah Audy akan baik-baik saja dengan Rendi. Anggukan kepala Audy membuat Bi Yuyun tersenyum canggung dan kembali ke kamarnya.


"Jadi?" Tanya Rendi meminta penjelasan dari Audy.


"Aku takut Mas Rendi marah. Sikap Mas juga kerasa dingin banget."


Audy memasukan sayuran yang tadi ia potong ke dalam wadah tertutup dan menaruhnya di kulkas. Ia lalu mencuci tangannya.


"Kenapa kamu berpikir bahwa saya marah?" Tanya Rendi lagi. Bukankah itu artinya Audy merasa bahwa dirinya melakukan suatu kesalahan yang mampu membuatnya marah?


Setelah mengeringkan tangannya dengan handuk kecil di samping wastafel, ia berdiri di depan Rendi yang lebih tinggi darinya.


"Aku pikir sikap aku yang cuek membuat Mas Rendi marah. Padahal aku melakukan itu agar tau seberapa besar kesabaran Mas Rendi dalam menghadapi sikap aku itu," jelas Audy.


Entah apa yang lucu dari kalimatnya sehingga Rendi tertawa mendengarnya. Hanya sebentar, karena Rendi langsung menetralkan wajahnya kembali.


"Masuk ke kamar!" Perintah Rendi tidak dapat ditolak.

__ADS_1


Audy hanya bisa menurutinya. Ia tidak bisa mencari alasan lagi untuk menghindari Rendi. Dalam hati ia berdoa semoga kemarahan Rendi kali ini tidak sampai berujung kekerasan.


###


__ADS_2