Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Menyadari kesalahan


__ADS_3

Seharian di rumah tanpa melakukan aktivitas apapun membuat Audy merasa bosan. Ia ingin pergi. Jalan-jalan ke mall atau sekedar berkumpul dengan teman-temannya. Tapi ia tidak ingin membuat Rendi marah.


Dulu Audy bisa saja kabur saat melakukan kesalahan dan menghindari hukuman dari Rendi. Tapi sekarang, jangankan untuk kabur, melangkah sedikit saja ia tidak bisa.


Mungkin jika ia meminta izin, Rendi akan mengizinkannya keluar. Tapi Audy tidak ingin melakukan itu. Karena hal itu membuatnya seperti budak Rendi.


Memikirkan bahwa Rendi adalah suaminya membuat Audy merasa geli sendiri. Sampai kapanpun ia tidak akan menganggap laki-laki itu sebagai suaminya. Catat hal itu!


Jika saja bukan karena bundanya, ia tidak akan pernah menikah dengan Rendi. Ia memiliki kekasih! Bahkan sampai sekarang hubungannya belum berakhir. Ya, walaupun kekasihnya itu sudah jarang memberi kabar.


Ting!


Notifikasi pesan masuk membuat Audy cepat-cepat meraih ponselnya. Ia tersenyum senang ketika Lavina mengirimnya pesan.


Bunda๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Siang, sayang. Sedang apa sekarang?


Audy


Nonton tv:(


Audy bosen, bunda. Mas Rendi nggak ngizinin aku keluar masa:(


Kebiasaannya mengadukan segala perbuatan Rendi padanya memang tidak pernah hilang. Ia selalu mendapatkan kepuasan. Karena setelah itu, Lavina pasti akan memarahi Rendi. Dan Rendi hanya diam tidak berkutik.


Ah, Audy ingat! Ini adalah pertama kalinya pesan dari Lavina setelah Audy pindah ke rumah Rendi. Mengingat hal itu, Audy menjadi merasa kesal dengan Lavina.


Audy


Kenapa baru chat Audy!!!


Bunda suka ya, aku tinggal di sini?!


Bunda nggak pernah kangen ke Aku?


Bunda๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Ayah nggak kasih izin, sayang. Katanya biar kamu terbiasa tanpa bunda:( kan sekarang sudah ada Rendi yang gantiin posisi bunda.


Audy mencebikkan bibirnya kesal. Kenapa ayahnya sekarang berubah drastis. Bara seakan membiarkan Rendi memilikinya dengan mudah.


Bunda๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Dari pada bosen di rumah, mending ke rumah bunda.


Kebetulan ayah sedang pergi. Rendi juga kerja, kan?


Audy memukul keningnya sendiri. Kenapa dari kemarin ia tidak berpikir untuk pergi ke rumah Lavina? Rendi pasti membiarkannya. Tidak mungkin Rendi melarangnya bertemu dengan Bundanya sendiri.

__ADS_1


Audy


Audy ke sana sekarang:)


Untung saja hari ini Pak Tarman, supir pribadinya, sudah mulai bekerja dengan Rendi. Jadi ia bisa meminta bantuan pria paruh baya itu untuk mengantarnya.


"Jangan bilang dulu sama Mas Rendi, ya, pak. Nunggu dia pulang aja," pesan Audy.


Pak Tarman mengangguk mantap sebelum benar-benar meninggalkan nonanya itu di halaman rumah nyonya besarnya.


"Bunda!! Audy udah nyampe niiih!" Seru Audy. Ia terlalu bersemangat. Sampai-sampai tidak memperhatikan jalan. Ia hampir saja tersandung dan jatuh. Untung saja seseorang menangkapnya dari belakang.


"Hati-hati."


Audy tersentak kaget ketika Bara yang menahan tubuhnya. "Kok ayah di sini?"


"Ini rumah ayah! Harusnya ayah yang bertanya, kenapa kamu di sini? Dimana Rendi?"


"Bunda bilang ayah kerja. Jadi aku ke sini mau nemenin bunda," ucap Audy tidak sepenuhnya jujur. Ia juga ingin mengadukan seluruh keluh kesahnya terhadap Rendi.


"Audy," panggil Lavina sambil berlari kecil menuruni tangga. Wanita itu berhenti sejenak ketika menyadari keberadaan Bara. Sebelum akhirnya kembali melangkah.


"Mas Bara sudah pulang?" Tanya Lavina lalu mencium tangan Bara. Ia menatap Audy sejenak kemudian berkata, "kamu ke belakang dulu ya. Nanti bunda nyusul ke sana."


Seakan tau bahwa orang tuanya butuh waktu untuk berdua, ia memutuskan untuk ke taman terlebih dulu.


"Kenapa Audy ada di sini?" Tanya Bara.


"Aku kesepian, mas. Audy juga bosen di rumahnya. Jadi aku suruh dia ke sini," jelas Lavina.


"Apa Rendi tau? Apa anak kamu itu meminta izin kepada suaminya?"


"Mas! Audy juga anak kamu lho. Lagi pula Rendi nggak mungkin marah cuma karena Audy main ke sini, kan?"


"Lavina, dengarkan aku! Justru karena Audy juga anakku, aku mau yang terbaik untuk dia. Tidak ada yang melarang kamu untuk mengajaknya kemari, tapi kamu harus mengajarinya tata krama sebagai seorang istri. Ajari dia untuk meminta izin pada Rendi meskipun hanya berkunjung ke rumah kita."


Bara menghela nafasnya sebelum melanjutkan, "Audy tidak akan tinggal bersama Rendi selama satu atau dua bulan. Tapi seumur hidupnya, sayang. Jadi tolong, biarkan dia belajar menjadi istri yang baik."


"Belajar 'kan juga butuh waktu, mas. Mereka bahkan belum satu bulan menikah."


"Lebih cepat lebih baik, sayang." Bara mengusap kepala Lavina lembut. "Aku ke atas," lanjutnya meninggalkan Lavina yang masih bergeming.


Entah mengapa Bara selalu bisa mengubah pemikirannya. Mungkin benar, seharusnya ia tidak membiarkan Audy datang kemari tanpa seizin Rendi.


Lavina menyusul Audy ke taman luas di belakang rumah. Anak perempuannya itu sedang duduk di gazebo kecil, tempat biasa mereka bersantai.


"Nggak ketemu kamu seminggu rasanya seperti setahun," ucap Lavina membuyarkan lamunan Audy.


Audy menepuk sisi kosong di sebelahnya. "Duduk, bunda."

__ADS_1


"Kamu sudah izin sama Rendi?" Tanya Lavina pelan.


"Ngapain? Lagian nggak bakal dibolehin juga." Audy mengalihkan pandangannya pada ponselnya. "Kata bunda, ayah lagi nggak di rumah."


"Mungkin pekerjaannya sudah selesai. Bunda juga nggak tau kalau ayah bakal pulang cepat," jelas Lavina.


"Ayah kenapa sih, Bun? Keknya sekarang nggak suka banget sama Audy," tanya Audy. Ia mulai mengeluarkan unek-uneknya.


"Bukan begitu, Audy. Ayah hanya belajar untuk terbiasa tanpa kamu. Sekarang kamu bukan tanggung jawab ayah lagi."


Lavina menatap Audy dalam. "Bagaimana kabar Rendi?"


"Baik. Bunda tau nggak sih, setiap hari laki-laki itu menyuruh Audy untuk mengurusnya. Dia juga nyuruh aku masak sama nyuci baju sendiri. Padahal 'kan ada pembantu di rumah," keluh Audy.


"Lalu kamu menurutinya?"


"Iya lah! Bunda tau jelas gimana Mas Rendi. Kalau aku nggak menurutinya, pasti Mas Rendi bakal marah!"


Lavina mengangguk mengerti. Rendi memang laki-laki yang keras. Sedikit saja seseorang membuat kesalahan, ia langsung mengoreksinya. Entah dari siapa sifatnya itu menurun.


Tentang Audy, Lavina memang selalu memanjakannya. Walaupun ia tau kenyataan bahwa Audy bukan anak kandungnya sendiri.


"Audy, boleh bunda bicara jujur?" Tanya Lavina serius.


"Apa? Bunda mau bilang kalau bunda salah mendidik aku selama ini?"


Bukan tanpa alasan ia mengatakan itu. Audy selalu memikirkan kata-kata Rendi. Laki-laki itu sempat beberapa kali mengatakan bahwa Audy anak yang tidak tau diri.


"Ya," balas Lavina membuat Audy segera bangkit dan hendak pergi dari sana. Namun Lavina segera menahannya. "Dengar penjelasan bunda dulu," pinta Lavina.


"Aku mau pulang!" Sentak Audy.


"Bunda mohon," ucap Lavina memelas. Membuat Audy merasa bersalah. Ia akhirnya mengangguk dan kembali duduk.


"Mungkin kamu tau bahwa selama kecil, bunda dibesarkan oleh eyang buyut kamu. Bunda sama sekali tidak pernah merasakan perhatian orang tua. Karena itu, bunda belajar menjadi pribadi yang kuat."


Lavina menjeda untuk menarik nafasnya dalam. "Bunda tidak mau kamu merasakan apa yang dirasakan bunda dulu. Jadi bunda memperlakukanmu dengan sangat spesial. Berbeda dengan Rendi. Bunda pikir dia sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Bahkan bunda membiarkannya bebas sejak kecil. Dia seperti ayah. Membuat bunda berpikir bahwa Rendi anak yang tangguh. Dia juga tidak pernah cemburu saat bunda selalu ada di sisi kamu."


"Hal-hal kecil yang kamu sebutkan tadi memang sudah sepatutnya kamu jalankan. Karena itulah kewajiban seorang istri. Bunda jadi merasa bersalah karena tidak pernah mengajarkan itu pada kamu."


"Bunda,,," rengek Audy. Tidak ada yang tau bahwa sekarang Audy sedang menahan air matanya agar tidak keluar.


"Beruntung Rendi bisa mengajari kamu dengan sabar. Tadinya bunda pikir, Rendi tidak menyukai kamu. Tapi sekarang bunda sadar, sikap kasarnya selama ini memang demi kebaikan kamu ke depannya. Maaf ya, maaf karena bunda tidak becus membesarkan kamu."


Audy menarik Lavina ke dalam pelukannya. "Bunda jangan bicara seperti itu," kata Audy sembari menangis sesegukan.


Cukup lama mereka berpelukan. Sampai akhirnya Lavina menyudahinya. "Dari pada sedih-sedihan gini, mending kita belanja yuk. Kulkan bunda sudah hampir kosong. Sekalian jalan-jalan nunggu sore."


Audy mengangguk cepat. Ia segera menghapus air matanya. Sedangkan Lavina tersenyum senang. Ia sadar kesalahannya, jadi ia akan memperbaikinya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2