
Rendi menatap istinya yang tertidur pulas setelah hampir satu jam menangis. Ia mengusap pipi Audy yang sedikit memerah karena tamparannya tadi. Sungguh, Rendi tidak memiliki niatan untuk berbuat kasar pada Audy. Namun perkataan gadis itu sering kali membuatnya lepas kendali.
Rendi menghela nafasnya sembari membenarkan letak selimut yang menghangatkan tubuh Audy. Ia beranjak dari sana dan pergi menemui Bara.
Sudut bibirnya terangkat melihat ayahnya tengah duduk di kursi kerjanya. Bara memang tidak pernah tidak menepati janjinya.
"Kita masih bisa bicara besok, Rendi," ucap Bara tepat setelah Rendi duduk di depannya.
"Nggak bisa, Yah. Besok Rendi pulang ke rumah," balas Rendi.
"Audy bilang kalian mau tinggal di sini. Ah ya, sedang apa dia sekarang?"
"Tidur. Rendi nggak bisa tinggal di sini sedangkan perusahaan Rendi jauh di sana. Dan Audy sudah menjadi istri Rendi. Jadi Rendi berhak atasnya."
Rendi mengusap wajahnya kasar. Jujur saja ia sangat mengantuk karena sekarang sudah lewat tengah malam. Namun ia tidak bisa menunda lagi untuk bertanya.
"Jadi, mulai dari mana penjelasannya?"
Bara menyandarkan tubuhnya di kursi. "Ya,,, seperti yang kamu tau bunda sangat menyayangi Audy. Dia nggak mau jauh dari Audy."
"Lalu?" Tanya Rendi tidak puas dengan jawaban Bara.
__ADS_1
"Audy memiliki kekasih asal Amerika. Bunda takut mereka menjalin hubungan yang serius sampai ke pernikahan. Kamu tau maksudnya kan? Jika Audy menikah dengan pria itu, Audy akan di bawa ke negara asalnya."
Rendi menganggukan kepalanya. Sampai saat ini ia bisa memahami ketakutan Lavina.
"Terus kenapa harus Rendi yang jadi penggantinya sedangkan banyak pria di Jakarta yang pantas untuk Audy?"
"Ayah sama bunda nggak bisa percaya sama orang lain kecuali kamu."
Satu alis Rendi terangkat. Seolah menandakan ia tidak percaya dengan perkataan Bara.
"Ayah tau hubungan Rendi sama Audy nggak baik," kata Rendi mengingatkan Bara akan sikap-sikapnya pada Audy.
Memang benar perkataan Bara bahwa semua yang ia perbuat pada Audy adalah demi perempuan itu. Namun bukan berarti mereka harus menikah.
"Ayah tau pernikahan kakak adik itu ilegal," ucap Rendi.
"Iya, tapi kamu tidak mempunyai hubungan darah dengan Audy. Kalian bahkan tidak pernah berbagi asi. Jadi sah-sah saja kalian menikah," jelas Bara.
"Jadi intinya, ayah sama bunda mau Rendi menjaga gadis manja itu?" Tanya Rendi. "Apa kalian nggak pernah berpikir tentang masa depan Rendi? Kalian nggak pernah bertanya seperti apa istri idaman Rendi atau sekedar menanyakan mimpi Rendi ke depannya."
"Ayah minta maaf, Rendi. Tapi ayah yakin kamu bisa menjalani semuanya dengan mengubah rencana masa depan kamu sendiri. Ayah tau kamu anak yang bertanggung jawab dan pantang menyerah."
__ADS_1
Rendi membanting tubuhnya pada kepala kursi. Namun selang beberapa detik ia menghembuskan nafasnya perlahan dan kembali menegakkan badannya.
"Ya sudah,, mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi jadi Rendi akan menjalaninya dengan ikhlas. Rendi mau kembali ke kamar," pamit Rendi.
Sesampainya di kamar Rendi langsung membaringkan tubuhnya di sebelah Audy. Ia bergeser memandangi wajah istrinya yang terlihat sangat polos ketika tertidur seperti ini.
Jujur saja Rendi tidak terlalu memperhatikan pertumbuhan gadis itu mengingat ia banyak menghabiskan waktu untuk mengejar pendidikannya. Audy diperkenalkan kepadanya saat usia Rendi masih 12 tahun. Saat itu Rendi sedang sibuk belajar agar ia bisa mengejar program akselerasi di smp sehingga ia bisa masuk SMA secepatnya. Dan Rendi berhasil menyelesaikan program itu sehingga ia bisa masuk ke SMA terbaik di Bandung di usianya yang baru 13 tahun
Jarak antara Jakarta dan Bandung yang cukup jauh membuat Rendi harus tinggal di apartemen. Menginggalkan Bara, Lavina serta Audy di sana. Setelah dua tahun setengah ia bersekolah di sana, Rendi melanjutkan pendidikannya di Amerika. Ia hanya pulang sesekali untuk memastikan keadaan ayah dan bundanya. Bahkan setelah lulus kuliah pun Rendi langsung disibukan dengan bisnis yang ia bangun dengan bantuan Bara.
Sampai ketika Rendi ingin menemui relasinya saat itu. Ia melihat Audy bersama teman-temannya berada di restoran yang sama dengan tempatnya mengadakan pertemuan bisnis. Keadaan Audy yang masih mengenakan seragam dan jam yang menunjukan waktu masih pagi membuat Rendi sadar bahwa Audy tengah membolos sekolah.
Waktu itu Rendi marah dan mengadukan semuanya pada Lavina. Namun bundanya justru membela Lavina dan mengatakan bahwa tindakan Audy wajar dilakukan anak sekolah untuk menghilangkan rasa bosannya.
Rendi jadi menyadari bahwa selama ini Lavina salah mendidik Audy. Dari situlah Rendi sering memberikan hukuman-hukuman kecil setiap Audy melakukan kesalahan. Ia ingin gadis itu paham bahwa tidak semua hal yang dilakukannya itu benar. Dan tidak semua keinginan gadis itu harus terpenuhi.
Rasa sayang Lavina terhadap Audy membuat Rendi merasa kasihan. Pasalnya Lavina akan melakukan apapun demi Audy. Bahkan dua minggu lalu bundanya berlutut di depan Rendi agar ia mau menikah dengan Audy.
Sebenarnya Rendi menolak, ia bahkan mencoba mencari laki-laki lain untuk Audy. Tapi Lavina tidak menyukainya. Wanita yang telah melahirkannya itu tetap ingin ia menikahi Audy. Bukan untuk Rendi, tapi untuk kebaikan Audy.
###
__ADS_1