
Tidak ada yang tau bahwa sekarang Rendi merasa sangat bersyukur ketika melihat istrinya sedang menonton acara masak di televisi. Gadis itu terlihat nyaman meringkuk di sofa dengan selimut yang menutupi kaki hingga bahunya. Sejenak Rendi berpikir, apa gadisnya itu kedinginan di pagi hari yang cerah ini?
Rendi melangkah mendekati gadis itu dan langsung mengecup keningnya. Membuat Audy terlonjak kaget. Bahkan gadis itu mengambil ancang-ancang untuk memukul Rendi.
"Apa seperti ini caramu menyambut suami yang baru pulang bekerja?" Tanya Rendi dengan nada serius.
Sedangkan Audy tergagap di tempatnya. "Mas Rendi kok di sini?" Tanyanya bingung.
Seingat Audy, kemarin Rendi mengatakan bahwa laki-laki itu akan pulang besok. Tapi kenapa sekarang Rendi di sini?
"Kenapa? Bukannya seharusnya kamu senang? Kemarin kamu menyuruh saya untuk pulang hari ini, kan?" Tanya Rendi.
Rendi menarik selimut yang membungkus tubuh Audy. Sedikit keras, hingga tubuh Audy oleng ke depan. Untungnya tangan gadis itu langsung bertumpu di pundak Rendi. Jadi ia tidak jatuh ke lantai.
"Mas Rendi, iiih! Kasar banget!" Seru Audy.
Namun Rendi justru terkekeh mendengarnya. Ia mengusap bahu Audy untuk menghilangkan rasa terkejutnya.
"Saya gerah lihat kamu pake selimut pagi-pagi seperti ini," cibir laki-laki itu bercanda.
"Suka-suka aku dong! Lagian Mas Rendi bilangnya mau pulang besok. Jadi aku pikir bisa males-malesan hari ini," balas Audy.
"Kamu mau bermalas-malasan?" Tanya Rendi dengan alis tertaut. "Sayang sekali, padahal saya ingin mengajak kamu keluar hari ini."
Sontak Audy melebarkan matanya. Ia menurunkan kedua kakinya dari sofa dan menatap Rendi lekat. "Serius?" Tanya Audy antusias.
Rendi mengangguk pelan. Tangannya bergerak menurunkan celana tidur Audy yang menampilkan paha mulusnya.
"Tapi semalam Mas Rendi bilang capek," kata Audy mengingat bahwa semalam Rendi bilang sangat lelah.
Jujur saja ia sudah bisa mengerti akan kesibukan Rendi. Maka dari itu Audy berusaha untuk tidak mementingkan kesenangannya sendiri.
"Saya memang lelah. Jadi saya butuh berlibur." Rendi mengusap puncak kepala Audy pelan. "Tapi jika kamu ingin bermalas-malasan hari ini, it's okay. Kita bisa berlibur lain waktu."
Rendi bisa memahami keadaan Audy. Mungkin gadis itu lelah karena belajar mengurus rumah serta memasak. Terlebih kondisi Audy baru saja membaik. Jadi gadis itu butuh banyak istirahat sekarang ini.
###
Audy terus saja merasa resah karena Rendi belum keluar dari kamarnya. Padahal laki-laki itu sudah berada di sana semenjak pukul delapan pagi. Dan sekarang jam sudah menunjuk ke angka sebelas.
__ADS_1
Ia ingat Rendi masuk ke dalam kamar dengan raut yang sedikit kecewa. Tentu saja karena laki-laki itu mengira bahwa ia tidak ingin berlibur. Padahal Audy merasa senang saat laki-laki itu mengajaknya.
Karena lelah dengan pemikirannya yang tidak pernah berhenti, Audy akhirnya mematikan layar di depannya dan beranjak ke kamar. Namun ia mengernyit ketika Rendi tidak ada di sana. Pintu kamar mandinya juga terbuka, menandakan bahwa tidak ada Rendi di dalamnya.
Untungnya netra Audy menangkap kepulan asap rokok dari pintu balkon yang sedikit terbuka. Tanpa menunggu lama lagi, ia langsung menuju ke balkon.
"Mas Rendiii," panggilnya sedikit lega karena melihat Rendi sedang duduk di kursi hitam dengan kaki yang diluruskan pada pagar pembatas balkon. Oh, jangan lupakan sebuah rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Aku cariin juga! Taunya malah ngerokok di sini!" Kesal Audy.
"Kenapa?" Tanya Rendi tanpa menatap Audy.
Sepertinya Audy lupa bahwa sikap Rendi bisa berubah sewaktu-waktu. Hingga tanpa sadar ia kesal karena Rendi terkesan mengacuhkannya.
"Mas Rendi bilang mau liburan," ucap Audy mengingatkan.
"Lain waktu aja. Takutnya kamu tambah kelelahan. Kondisi kamu juga belum baik total."
Audy berdecak kecil. "Aku nggak bilang capek, kok. Mas Rendi aja yang sok tau."
"Bukan sok tau," ralat Rendi, "saya hanya berusaha memahami kondisi kamu, Audy."
"Bagaimana hubunganmu dengan Jason?"
Sontak Audy menatap Rendi lekat dan tersenyum lebar. Ini yang ia tunggu sejak semalam. Pertanyaan tentang Jason.
"Udah selesai. Aku nggak nangis lho waktu bicara sama dia. Hebat 'kan aku?"
Rendi tersenyum menanggapinya. Ah, gadis di hadapannya ini seperti anak kecil yang menginginkan pujian dari ayahnya setelah berhasil mendapat juara satu di kelasnya. Sangat menggemaskan.
"Iya, kamu hebat," balas Rendi singkat membuat Audy mengerucutkan bibirnya.
"Cuma itu?" Tanya Audy berharap lebih.
"Memangnya kamu mau apa dari saya?"
"Kalau aku sebutin, Mas Rendi bakal turutin nggak?" Tanya Audy lagi.
Walaupun keningnya mengerut, Rendi tetap menganggukan kepalanya. Ia yakin keinginan Audy tidak terlalu sulit untuk diwujudkan.
__ADS_1
"Liburan, ya?" Pinta Audy.
Rendi tersenyum kecil. "Kamu mau liburan kemana? Mall? Pantai? Atau--"
"Ih! Itu mah bukan liburan, tapi main! Aku mau yang menginap!" Sela Audy.
"Besok jadwal saya padat, Audy. Lain waktu saja, ya? Hari ini kita ke tempat yang dekat-dekat dulu," jelas Rendi.
"Ck! Mas Rendi mah selalu mentingin kerjaan. Nggak bisa apa jadiin aku sebagai prioritas? Tadi aja sok-sokan ngajak berlibur."
"Pekerjaan saya itu penting untuk masa depan kita, Audy. Tolong pahami itu."
"Aku paham, mas! Cuma aku juga butuh waktu sama Mas Rendi. Gimana bisa aku belajar mencintai Mas Rendi kalau Mas Rendi sendiri sibuk di kantor!" Ucap Audy.
"Tau ah! Males ngomong sama Mas Rendi!" Lanjut Audy lalu beranjak dari tempatnya.
Sedangkan Rendi bergeming di tempatnya. Entah mengapa perkataan Audy sedikit membuatnya tersadar bahwa ia memang terlalu mementingkan pekerjaannya.
Tapi itu memang sudah menjadi kebiasaannya. Karena sejak dulu ia menjadikan kerja sebagai salah satu hobi.
Gimana bisa aku belajar mencintai Mas Rendi kalau Mas Rendi sendiri sibuk di kantor!
Kalimat itu terus saja terngiang di kepala Rendi. Benar, bagaimana gadis itu belajar mencintainya jika ia selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya?
Setelah beberapa saat pikiran dan hatinya berdebat, akhirnya Rendi memutuskan untuk membuka ponselnya dan mendial nomor seseorang.
"Hallo, Mawar?" Ucapnya ketika panggilan itu tersambung.
Setelah mendengar jawaban dari sekretarisnya itu, Rendi langsung berujar, "tolong percepat jadwal saya akhir pekan nanti."
"Maksud bapak?" Tanya Mawar tidak paham.
"Ajukan seluruh jadwal saya di akhir pekan nanti untuk dua hari ke depan. Terserah kamu mau di atur seperti apa, yang jelas saya mau akhir pekan nanti jadwal saya kosong. Mengerti?"
"Ya, saya mengerti. Tapi, apa tidak masalah jika jam kerja bapak besok sampai larut malam?"
"Tidak masalah," balas Rendi singkat. Lalu tanpa terima kasih ia mematikan sambungan teleponnya.
Rendi menghela nafasnya, tidak apa jika besok ia tidak punya waktu untuk Audy. Yang penting ia bisa mengajak Audy berlibur di akhir pekan nanti.
__ADS_1
###