
"Hati-hati di sana."
Audy meraih tangan Rendi dan menciumnya. Ya, hari ini Rendi benar-benar pergi ke Surabaya. Meninggalkan dirinya sendiri di rumah sebesar ini.
Sebenarnya Rendi sudah membujuk Audy agar mau tinggal di rumah Lavina untuk sementara waktu. Atau setidaknya sampai Rendi pulang dari perjalanan dinasnya. Namun Audy terus saja menolak.
Untungnya Rendi bisa memahami sikap Audy. Mungkin Audy masih syok dengan perbuatan Lavina yang kasar. Mengingat sejak dulu Lavina tidak pernah memarahi Audy.
"Kamu juga," balas Rendi sembari mengacak-acak pelan rambut Audy. "Jadi ke tempat Jason, kan?"
Audy memang berniat menemui Jason siang nanti. Tapi entahlah, sekarang hatinya malah ragu. Ia takut jika nanti ia tidak bisa mengontrol sikapnya.
"Kalau memang kamu belum siap menemui pria itu--"
"Nanti aku ke kafenya," celetuk Audy reflek. Ia bahkan sampai menggigit bibir bawahnya karena merutukki kebodohannya sendiri.
Rendi terkekeh pelan melihat wajah Audy yang penuh kegelisahan. Ia menarik gadis itu ke dalam dekapannya.
"Saya benar-benar tidak memaksamu untuk menyelesaikan masalahmu sekarang, Audy. Jika kamu belum siap, tidak usah menemuinya."
Gelengan kepala Audy membuat senyuman kecil terbit di wajah Rendi. Dikecupnya kening Audy singkat.
"Saya berangkat. Jaga diri baik-baik," pesan Rendi tanpa melunturkan senyumnya.
Audy mengangguk mantap. Nertanya mengikuti punggung Rendi yang perlahan menjauh.
"Mas," panggilnya ketika Rendi hendak masuk ke dalam mobil.
"Jangan lupa kabarin ke aku kalau Mas Rendi udah sampai ke sana," pesan Audy.
"Iya," balas Rendi singkat.
Audy memegang dadanya ketika mobil yang ditumpangi Rendi sudah meninggalkan pekarangan rumah. Ia dapat merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia merasa aneh karena harus membiasakan diri untuk menghormati Rendi.
Bukankah terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa ia mencintai Rendi? Karena ia bahkan baru memulai belajar mencintai laki-laki itu sejak semalam.
Audy menghela nafasnya lalu masuk ke dalam rumah. Ia harus bersiap secepat mungkin karena biasanya Jason berada di kafenya jam delapan sampai jam sembilan pagi.
###
Berulang kali Audy melirik jam di tangannya. Ia merasa resah karena Jason belum datang juga. Padahal sudah setengah jam Ausy berada di sini.
Kata para pegawai di kafe itu, Jason akan ke sini setelah mengantar Olivia ke butiknya.
Audy menjadi penasaran, mengapa para pegawai di sana mengenal Olivia. Apakah Jason mengenalkan perempuan itu pada seluruh pegawainya? Sedangkan Jason menutupi hubungannya bersama Audy dengan mengatakan bahwa Audy adalah pelanggan spesial di kafenya.
"Untuk apa kamu ke sini?"
Lamunan Audy terhenti ketika Jason duduk di hadapannya. Laki-laki itu menatap Audy intens, menunggu gadis itu berbicara.
"Membicarakan masalah kita," balas Audy setelah menyesap Stawberry Latte miliknya.
__ADS_1
"Sudah aku katakan hubungan kita sudah selesai, Audy."
"Iya aku tau!" Audy mengepalkan kedua tangannya. "Aku tau itu. Aku tau kalau kamu cuma jadiin aku sebagai mainan kamu!"
"Apa maksud kamu?" Tanya Jason tidak mengerti.
"Mas Rendi bilang kamu sudah bertunangan dengan Olivia jauh sebelum kamu berhubungan denganku," ucap Audy singkat. Dan itu cukup mampu untuk membuat Jason mengerti akan maksudnya.
"Aku minta maaf untuk hal itu," ucap Jason.
Audy tersenyum sinis. "Setelah menjadikanku sebagai orang ketiga dalam hubungan kalian, kamu masih menuduhku menghianati hubungan kita dengan menikah dengan orang lain. Apa itu pantas?"
"Ah ya! Aku merasa iba pada Olivia karena mempunyai calon suami brengsek sepertimu. Apa kamu sudah menjelaskan bahwa aku adalah mantan kekasih kamu?"
Jason menggeram marah. Ia merasa tersinggung dengan perkataan Audy. Walaupun nyatanya memang benar, Olivia masih belum tau apapun.
"Aku ragu, mungkin bukan hanya aku yang menjadi mainan kamu," ucap Audy lagi.
"Cukup, Audy! Aku hanya berhubungan dengan kamu di belakang Olivia! Awalnya aku hanya berniat untuk bermain-main dengan kamu. Tapi melihat semua tingkah laku kamu, perasaan aku menjadi berantakan. Aku cinta sama kamu! Dan aku berniat untuk melepaskan Olivia demi kamu! Tapi nyatanya kamu malah menikah dengan kakakmu sendiri!" Jelas Jason.
Audy menatap Jason tidak percaya. Semudah itu ia berkata akan melepaskan Olivia demi dirinya? Ah, bisa jadi Jason juga akan melepaskan dirinya demi wanita lain! Mudah sekali laki-laki itu mengatakan cinta untuk wanita.
"Entah kenapa mendengar kamu menjelaskan semuanya membuatku merasa bersyukur. Ya, aku bersyukur karena terhindar dari laki-laki brengsek seperti kamu!"
Audy bangkit dengan anggun. Namun sebelum melangkah pergi, ia berucap sesuatu. "Makasih untuk waktunya. Masalah kita selesai di sini. Sampaikan maafku pada Olivia. Maaf karena sudah menamparnya hanya karena mengejar pria gila sepertimu!"
###
Ia melepas jas, kemeja, serta jam tangan yang menempel di tubuhnya. Rasanya ia ingin sekali mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Namun keinginannya itu tidak bisa terlaksana karena ponselnya berdering. Desisan kecil keluar dari mulut Rendi ketika nama Audy tertera di layar ponselnya. Ah, ia lupa untuk mengabari gadis itu.
"Mas Rendi--"
"Assalamualaikum," sela Rendi begitu Audy mulai bicara. Ia mengambil minuman bersoda dari Ice Box kemudian duduk di sofa.
"Wa'alaikumsalam," balas Audy kaku. Namun kemudian Rendi mendengar helaan nafas dari sebrang telepon.
"Mas Rendi kenapa nggak ngabarin aku?" Lanjut Audy.
"Saya lupa. Maaf," ucap Rendi jujur.
Tadi, begitu Rendi sampai di surabaya, ia langsung disibukkan dengan persiapan rapat. Sedikit tergesa karena koleganya meminta rapat untuk dipercepat.
"Jahat banget tau nggak!! Aku tuh nungguin kabar dari Mas Rendi dari tadi siang!"
"Maaf Audy. Saya benar-benar lupa." Rendi menatap jam di layar ponselnya. "Nanti saya hubungi lagi, ya? Saya mau mandi."
"Mau mandi atau mau keluar malam?" Tanya Audy mampu membuat Rendi terkekeh kecil.
"Memangnya kenapa kalau saya keluar malam?" Balasnya balik bertanya.
__ADS_1
"Ya,, aku nggak suka aja!" Salak Audy, "besok Mas Rendi masih kerja di sana?"
"Tidak, pekerjaan saya sudah selesai."
"Jadi Mas Rendi pulang besok?" Tanya Audy antusias.
"Sepertinya lusa--"
"Lusa? 'Kan kerjaan Mas Rendi udah selesai, kenapa nggak pulang besok aja?" Potong Audy dari sebrang.
"Saya lelah, Audy," balas Rendi pelan.
"Mas Rendi 'kan bisa istirahat di rumah."
"Saya sudah pesan kamar untuk dua sampai tiga hari, sayang kalau hanya menginap semalam."
"Ck! Mas Rendi itu orang kaya, masa gitu aja dibilang sayang," cibir Audy. "Bilang aja kalau Mas Rendi nggak bisa istirahat di rumah karena ada aku, kan?"
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Rendi.
"Tau ah, Mas Rendi mah kalau ditanya malah balik nanya. Yaudah tidur aja di sana! Nggak usah pulang sekalian!"
Rendi mengernyit ketika sambungan teleponnya terputus. Kemudian tersenyum kecil mengingat perkataan Audy. Jujur saja, ia memang tidak bisa beristirahat di rumah karena selalu memikirkan Audy. Entahlah, ia juga tidak tau kenapa itu bisa terjadi.
Rendi berdecak mendengar suara ketukan pintu. Ia bergegas memakai kemejanya lagi dan melihat siapa yang sudah mengganggunya malam-malam seperti ini.
"Mawar?" Ucapnya ketika menemukan sekretarisnya yang sedang berdiri kaku dengan beberapa map di tangannya.
Mata wanita itu menyelusuri penampilan Rendi. Sungguh, Mawar sangat terpesona dengan Rendi. Apalagi melihat dua kancing teratas kemeja laki-laki terbuka. Hal itu menambah kesan dewasa seorang Rendi.
"Ada apa?" Tanya Rendi berhasil membuyarkan fantasi liar wanita itu.
"Ah ini, ada beberapa dokumen yang menurut saya sedikit membingungkan."
Mawar melangkah maju. Membuka dokumen yang dibawanya tepat di hadapan Rendi. Ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas atasannya itu.
Belum sempat Mawar menjelaskan, Rendi sudah terlebih dulu mengambil alih kertas-kertas penting itu. Ia merasa risih dengan jarak sedekat itu. Apalagi Mawar dengan sengaja merapatkan tubuhnya pada Rendi.
"Akan saya periksa satu persatu," ucap Rendi.
"Tapi--"
Rendi mengangkat jari telunjuknya. Menghentikan perkataan Mawar. "Saya sangat lelah, jadi tolong, biarkan saya beristirahat malam ini."
Mawar tersenyum canggung. "Baiklah," ucapnya.
"Pak Rendi," panggilnya sebelum Rendi menutup pintu. "Saya dengar di hotel ini terdapat kelab malam. Jika bapak berkenan, apa kita bisa ke sana besok malam?"
Rendi memandang Mawar sekilas. "Saya tidak bisa," ucapnya kemudian menutup pintu.
###
__ADS_1