
Lavina turun dari mobil dengan tergesa. Ia bahkan mengabaikan perintah Bara agar berhati-hati. Keningnya mengerut begitu melihat Rendi sedang duduk di kursi teras dengan laptop menyala dan secangkir kopi di mejanya.
"Kok kamu di sini sih, Ren?" Tanya Lavina langsung.
Kini giliran Rendi yang menaikan alisnya. Menatap Lavina heran. "Ini 'kan rumah Rendi," balasnya bingung.
"Ck! Maksud bunda, kenapa kamu nggak jagain Audy di dalam? Malah enak-enakkan ngopi di sini!"
Rendi mengedikkan bahunya tidak mengerti. "Audy nggak kenapa-kenapa. Cuma mogok makan, bunda. Percuma jika Rendi jagain dia."
Mendengar balasan dari Rendi membuat Lavina kesal. Wanita itu masuk ke dalam rumah dan langsung ke kamar Rendi.
"Audy," panggilnya ketika melihat Audy sedang meringkuk di kepala ranjang dan bahunya naik turun. Jelas sekali bahwa Audy sedang menangis.
Sebelum melangkah pada Audy, Lavina terlebih dulu berjongkok untuk membantu Bi Yuyun yang sedang membersihkan pecahan mangkuk.
"Ini semua ulah Audy?" Tanyanya pelan sekali. Takut-takut Audy tersinggung dengan pertanyaannya.
"Den Rendi yang lempar buburnya, nyonya. Saya lihat sendiri waktu mau mengantar susu buat Non Audy. Sepertinya Den Rendi marah karena Non Audy tetap tidak mau makan," balas Bi Yuyun lalu bangkit, "saya permisi, nyonya."
Lavina meluruhkan bahunya lalu duduk di samping Audy.
"Sudah, jangan menangis," ucapnya sangat lembut sembari mengusap rambut panjang milik Audy.
"Bundaaa," rengek Audy memeluk Lavina erat.
Lavina diam, ia tidak bertanya apapun pada Audy. Karena biasanya Audy akan berhenti menangis dan menceritakan semuanya.
"Kemarin Audy lihat Jason," ucap Audy lirih.
"Apa?! Tapi kamu nggak diapa-apain sama dia, kan?" Tanya Lavina khawatir. Ia takut Jason melukai Audy karena telah menikah dengan Rendi.
Audy menggeleng. Ia semakin mengencangkan pelukannya pada Lavina. "Aku-- aku bilang masih cinta sama Jason."
Lavina melebarkan matanya. Ia berusaha melepaskan pelukan Audy karena ingin melihat keseriusan gadis itu di wajahnya. Namun Audy tetap bertahan pada posisinya.
"Aku menagih janji dia buat menikah, bunda. Tapi ternyata dia sudah punya tunangan."
"Kamu sudah menikah, Audy. Ingat itu!"
__ADS_1
"Tapi aku nggak suka sama Mas Rendi. Aku mau Jason yang jadi suami aku."
"Kamu bilang apa?!" Seru Lavina. Ia menarik rambut Audy kasar. Memaksa perempuan itu untuk menatapnya.
"Akh! Sakit bunda!" Seru Audy.
"Maksud kamu apa?" Tanya Lavina. "Kamu mau mempermainkan pernikahan kalian? Dimana pikiran kamu, Audy? Jika kamu tidak menginginkan pernikahan ini kenapa kamu tidak menolak sejak awal?"
"Itu karena bunda yang memaksa--"
"Bunda nggak memaksa kamu! Bunda hanya menyarankan Rendi untuk menjadi suami kamu dan kamu menerimanya!"
"Aku pikir Mas Rendi yang akan menolak! Jadi aku terima pernikahan ini. Aku sudah ingin membatalkannya ketika Mas Rendi bilang iya. Tapi bunda malah mengancam akan mencabut seluruh fasilitas yang aku punya! Itu apa jika bukan pemaksaan?" Jelas Audy mengungkapkan semua bebannya selama ini.
Sedangkan Lavina bergeming di tempatnya. Ia tidak bisa berpikir karena kalimat-kalimat Audy terus terngiang di kepalanya. Jadi semua ini adalah salahnya? Apa ia terlalu memaksakan kehendaknya pada Rendi dan Audy?
"Jadi kamu terpaksa menjalani pernikahan ini? Padahal Rendi selalu bilang bahwa ia berusaha menerima semua ini dengan ikhlas. Bunda jadi merasa bersalah pada Rendi," ucapnya menyindir Audy.
Ia bangkit dan keluar dari kamar itu. Niatnya tadi untuk membujuk Audy makan menguap seketika. Ia malah kesal dengan sikap Audy. Benar kata Rendi dan suaminya. Selama ini ia salah mendidik Audy. Lavina terlalu memanjakannya hingga gadis itu berani berbuat semaunya.
"Bunda."
"Bunda mau pulang? Atau mau menginap di sini? Nanti Rendi minta Bi Yuyun buat beresin kamar tamu," ucap Rendi berhati-hati.
Bukannya menjawab pertanyaan Rendi, Lavina justru bersimpuh di depan anaknya itu.
"Maafin bunda, Rendi, maaf." Lavina menangis, ia bahkan tidak berani menatap netra Rendi.
"Bukan salah bunda. Ini sudah takdir dari yang di atas," balas Rendi tidak ingin membuat Lavina semakin sedih.
"Kamu mendengar semuanya?"
Rendi mengangguk. Membenarkan pertanyaan Lavina. Ia memang mendengar pembicaraan Lavina dan Audy. Jika ditanya bagaimana perasaannya, tentu saja Rendi semakin kecewa. Ia bahkan merasa tidak berguna dalam pernikahan ini.
"Tidak masalah," balas Rendi.
"Kamu pasti tersiksa selama ini. Kamu tidak bahagia, kan? Kalau begitu kamu bisa menceraikan Audy. Bunda akan biarin kamu memilih wanitamu sendiri."
"Bunda." Rendi menuntun Lavina untuk duduk di sofa. "Tolong jangan bicara seperti itu. Bukannya Rendi sudah bilang akan menerima semuanya? Ayolah, bunda cuma sedang kecewa. Pikirkan semuanya dengan kepala dingin. Lebih baik bunda instirahat. Meninap di sini ya?"
__ADS_1
Lavina menggeleng. "Bunda mau pulang aja. Kamu ikut ya?"
Mendengar itu Rendi pun tertawa kecil. "Kalau Rendi pergi, Audy sendirian di sini."
"Kenapa kamu pedulikan dia? Biarin aja dia kelaparan. Itu kemauannya kan?"
"Tapi Audy tanggung jawab Rendi sekarang. Sudahlah, nanti kalau Audy sudah membaik, Rendi akan mengajaknya ke rumah bunda."
"Terserah. Bunda pulang. Kalau emang Audy nggak mau makan yaudah biarin aja. Itu pilihan dia sendiri. Kalau dia lapar pasti minta makan."
Lavina bangkit menuju Bara yang masih setia duduk di teras. Ah, suaminya itu bahkan tidak peduli sedikitpun pada Audy.
"Pulang, sayang?" Tanya Bara mengabaikan keberadaan Rendi di belakang Lavina. "Gimana? Berhasil bujuk Audy buat makan?"
"Enggak," balas Lavina, "ayo pulang. Kamu pasti capek ya, mas? Maaf ya."
"Nggak papa. Lagian kamu keliatan khawatir banget tadi."
Benar, ketika Bara baru pulang Lavina langsung menghampiri dan minta diantar ke rumah Rendi. Katanya Audy sedang tidak baik-baik saja. Bara yang melihat istrinya khawatir akhirnya menurut. Padahal ia sangat lelah hari ini.
"Ayah nggak mau lihat Audy dulu?" Tanya Rendi.
Ini ketiga kalinya Rendi bertanya seperti itu pada Bara. Dan jawabannya tetap sama, sebuah gelengan kecil.
"Audy urusan kamu. Ayah nggak mau ikut campur ke dalam masalah kalian." Bara menepuk pundak Rendi dua kali. Seakan memberi kekuatan dan kepercayaan agar Rendi mampu menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri. "Ayah pulang, ya?" Pamit Bara.
"Bunda juga," ucap Lavina kemudian memeluk Rendi erat.
"Maaf," bisik wanita yang telah melahirkannya itu.
Rendi tersenyum kecil. Ia mengusap bahu Lavina dan menyuruh bundanya itu untuk bergegas ke mobil menyusul Bara.
Setelah memastikan mobil orang tuanya meninggalkan gerbang. Rendi membereskan laptopnya di meja teras dan kembali ke kamar. Ia mendesah lega melihat Audy sudah berhenti menangis. Gadis itu tidur meringkuk. Memeluk tubuhnya sendiri.
Rendi menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya itu. Setelahnya ia menunduk dan mengecup kening Audy.
Malam ini ia akan tidur di kamar sebelah. Ia tidak mau mengganggu tidur Audy. Karena semalam Audy tidak tidur.
###
__ADS_1