Cinta Dalam Pernikahan

Cinta Dalam Pernikahan
Tidak Terbiasa


__ADS_3

Setelah makan siang tadi, Rendi mengajak Audy ke sebuah butik ternama. Ia sengaja kemari untuk memilih baju yang akan digunakan ke acara Arkan nanti. Sebetulnya Rendi tidak memerlukan setelan jas baru atau apapun. Tapi mengingat ia sudah menikah dengan Audy, rasanya tidak pantas jika mereka datang ke acara anniversary temannya menggunakan pakaian yang tidak serasi.


Rendi sudah menjatuhkan pilihannya pada setelan jas berwarna silver. Ia hanya tinggal menunggu gaun pilihan Audy.


Gadis itu sedang sibuk berdebat dengan pelayan masalah ukuran gaunnya. Audy menginginkan gaun dengan model punggung yang terbuka namun panjang gaun itu menutupi seluruh kaki jenjangnya. Tetapi gaun itu terlalu kecil untuknya.


"Kami masih memiliki gaun dengan model yang seperti ini, hanya saja desain bagian dadanya berbeda," jelas sang pramuniaga.


"Saya mau yang sama kek gini, mbak!" Kesal Audy.


Mendengar nada kesal yang keluar dari mulut Audy membuat Rendi menghela nafasnya. Ia melangkah mendekati gadis itu.


"Kamu bisa pilih gaun lain, Audy. Masih banyak model yang lebih bagus," bujuknya.


"Mbaknya bilang aku harus pilih yang warna silver biar serasi sama Mas Rendi. Nggak ada yang bagus selain ini, maaas." Audy menghentakan kakinya. Pilihan gaun untuknya hanya ada beberapa. Padahal masih banyak desain lain yang sangat menarik. Tapi kembali lagi pada warna.


Seharusnya tadi, Audy yang lebih dulu memilih gaun. Jadi, Rendi yang harus menyesuaikan warna jas dengan gaunnya.


"Yaudah, jas saya yang tadi dicancel aja," ucap Rendi pada pramuniaga. "Biarkan istri saya yang memilih gaunnya sendiri, nanti jas saya disesuaikan saja dengan warnanya."


Audy yang mendengar itu sontak tersenyum senang. Gadis itu langsung menunjuk gaun panjang berwarna navy blue dengan lengan tiga perempat dan bagian bawah dihiasi kain tipis yang bertabur butiran manik-manik seperti bintang.


"Aku mau yang itu," kata Audy dengan senyuman lebar.


Rendi hanya mengangguk singkat. Ia suka dengan pilihan Audy kali ini. Tidak terlalu terbuka dan terkesan elegan.


"Coba saja," titah Rendi.


Audy kemudian masuk ke dalam ruang ganti bersama dengan pramuniaga yang membawakan gaun pilihannya tadi. Butuh waktu lima belas menit bagi mereka untuk mencobanya. Mungkin ukurannya harus diatur lagi.


Sampai akhirnya Audy keluar dan menghampiri Rendi. "Gaunnya kebesaran," keluh gadis itu.


Ia tersentak ketika Rendi menarik lengannya. Menuntun Audy untuk duduk di samping laki-laki itu.

__ADS_1


"Masih bisa dikecilin, kan?" Tangan Rendi terangkat untuk membetulkan rambut Audy yang sedikit berantakan.


Audy mengangguk. "Mas Rendi nanti jasnya juga biru navy. Aku udah liat tadi."


"Pestanya kapan?" Tanya Audy. Tadi Rendi hanya mengatakan bahwa mereka harus datang ke pesta ulang tahun pernikahan temannya.


"Rabu malam," balas Rendi singkat.


"Kenapa aku harus ikut?"


"Karena mereka mengundang kita berdua."


"Kalau aku nggak mau ikut gimana?"


"Tidak masalah. Saya bisa datang sendiri," balas Rendi acuh.


Namun kemudian Rendi tersenyum kecil melihat ekspresi kesal di wajah Audy. Gadis itu seakan tidak puas dengan jawabannya.


"Tapi kamu sudah memilih gaun untuk acaranya. Itu artinya kamu tidak menolak. Benar, kan?"


Rendi hendak menjawab, namun ia urungkan ketika sang pramuniaga mendatanginya.


"Permisi, untuk masalah dress Ibu Audy akan kami urus secepat mungkin. Dan untuk jasnya sudah kami sesuaikan dengan warna dressnya," jelasnya.


Rendi mengangguk paham. "Tolong selesaikan secepatnya. Dan untuk masalah biaya, bisa saya selesaikan sekarang?"


"Anda bisa melakukan pembayaran di bagian depan, pak. Semua rincian harganya sudah terdata di sana," balasnya ramah.


Tanpa menunggu waktu lagi, Rendi langsung menggandeng Audy menuju bagian pembayaran. Ia menyerahkan kartu debit dan menyebutkan alamat rumahnya karena Audy meminta agar dress-nya dikirimkan ke rumah.


"Aku nggak suka," celetuk Audy membuat Rendi menautkan alisnya. "Mas Rendi bilang aku akan suka dengan tempat yang kita datangi. Tapi Mas Rendi cuma ngajak aku ke butik," jelasnya.


Rendi meraih lengan Audy. Membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya dan menatap Rendi.

__ADS_1


"Kamu ingin kemana memangnya?"


"Nggak pengin kemana-mana," balas Audy acuh. Ia kembali berjalan dan masuk ke dalam mobil.


"Beneran?" Tanya Rendi begitu duduk di kursi kemudi. "Kalau kamu ingin pergi ke tempat lain ya saya turuti."


"Aku mau ke pantai," ucap Audy tanpa berpikir panjang.


"Sudah jam tiga," kata Rendi sembari melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Nggak masalah, kan? Sekalian lihat sunset."


"Butuh dua jam untuk ke pantai, Audy. Lagi pula sekarang mendung, kita--"


"Bilang aja Mas Rendi nggak mau ke sana," cibir Audy.


"Kita ke pantai, tapi nggak sekarang. Hari minggu, ya? Biar kita bisa seharian di sana."


"Terserah," balas Audy acuh. Ia lebih memilih memalingkan wajahnya.


Audy terkejut ketika Rendi mendekat dan mengunci tubuhnya dengan kedua tangan. Tidak lama, karena hanya mencium pipi Audy singkat dan memasangkan sabuk pengaman Audy.


"Mas Rendiiii!!" Seru Audy. "Aku nggak suka, ya, Mas Rendi cium-cium aku sembarangan!"


"Kenapa?" Tanya Rendi.


"Ya,,, nggak suka aja!"


"Bukannya bagus? Dari pada saya pukul kamu, lebih baik dicium, kan?"


Audy bergeming. Ia kembali memalingkan wajahnya. Menatap jalanan kota Jakarta yang padat. Benar, akhir-akhir ini sikap Rendi berubah drastis. Laki-laki itu lebih sering memperlakukan Audy dengan lembut.


Audy tidak tau kenapa. Tapi ia merasa aneh dengan Rendi.

__ADS_1


###


__ADS_2