
Rendi menatap malas Audy yang sedang memohon pada Lavina dan Bara. Seperti rencana Rendi semalam, pagi ini ia akan membawa Audy ke rumahnya. Namun gadis itu terus saja menolak.
"Bunda sayang 'kan sama Audy? Audy mohon, bun. Audy nggak mau ikut Mas Rendi."
Lavina melirik suaminya, seakan menyuruh Bara untuk menahan niatan Rendi. Raut wajahnya berubah sedih ketika Bara menggelengkan kepala tidak setuju.
"Biarin Audy pergi, bun. Ini demi kebaikan dia juga. Lagi pula Audy tidak pergi jauh. Bunda bisa menemuinya kapan saja." Bara memegang tangan Lavina agar istrinya itu mau melepaskan Audy. "Audy pergi dengan Rendi, bun. Nggak akan terjadi apa-apa dengan mereka."
Rendi mengangguk setuju. "Rendi bisa menjaga Audy, bunda."
"Nggak, bun." Audy memaksa Lavina untuk menatapnya. "Mas Rendi jahat sama Audy. Audy takut," ucap Audy.
Audy memengang pipinya yang semalam ditampar oleh Rendi. Melihat itu, Rendi langsung bergegas menarik lengan Audy agar lebih dekat dengannya. Bukannya Rendi takut Audy mengadukan perlakuannya. Namun jika sampai Bara tau bahwa ia menampar Audy, ia pasti tidak akan diizinkan pulang ke rumah. Rendi tidak suka hal itu.
"Kita pergi sekarang. Cepat masuk ke mobil," titah Rendi.
"Nggak mau! Aku mau sama bunda aja. Mas Rendi kalau mau pergi silahkan!" Sentak Audy.
Lavina yang melihat Rendi memaksa Audy untuk masuk ke mobil merasa kasihan. "Apa salahnya sih kamu tinggal di sini, Ren? Inikan juga rumah kamu," ucapnya.
"Bunda, kita sudah membicarakan ini semalam. Biarin Audy ikut Rendi. Mereka sudah menikah, jadi Rendi berhak membawa Audy pergi. Bunda mau 'kan Audy menjadi gadis yang lebih baik? Ayah yakin Rendi bisa merubahnya," ucap Bara.
"Ini sudah menjadi kesepakatan kita, bunda," timpal Rendi setelah berhasil mengunci Audy di dalam mobilnya. "Dari awal bunda udah setuju kalau Rendi menikahi Audy, maka Rendi akan membawa gadis itu pergi. Rendi janji akan jagain Audy seperti yang bunda lakukan."
Akhirnya dengan berat hati Lavina mengangguk. "Jaga Audy. Dia putri bunda satu-satunya," ucapnya.
Rendi tersenyum singkat. 'Rendi juga putra bunda satu-satunya. Tapi bunda lebih mengkhawatirkan Audy dan nggak pernah mikirin tentang Rendi.'
Setelah dua jam perjalanan akhirnya Rendi sampai ke rumahnya. Ia turun untuk membuka bagasi mobil dan menyuruh satpam untuk membatu memindahkannya ke dalam rumah. Kemudian ia membuka pintu penumpang bagian depan.
"Audy bangun," katanya sembari mengguncang tubuh istrinya.
Audy tertidur setelah puas memaki-maki dirinya yang memaksanya untuk ikut pulang. Tapi Rendi bersyukur karena ia bisa mengemudi dengan tenang tanpa ocehan gadis itu lagi.
__ADS_1
Audy membuka matanya perlahan. Ia tersentak karena wajah Rendi hanya berjarak beberapa centi darinya.
Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, Rendi sudah terlebih dulu berdiri. "Kita sudah sampai," ucap Rendi datar.
"Aku nggak mau turun!" Tegas Audy.
Namun Rendi mengedikkan bahunya acuh. "Kamu mau saya kurung di sini?" Tanyanya sarkastik.
"Coba aja! Aku bakal bilangin ke bunda nanti!" Balas Audy menantang.
Mendengar itu membuat Rendi kembali mensejajarkan wajahnya dengan Audy. "Kamu pikir apa yang akan bunda lakukan, hm? Bunda sudah tidak peduli sama kamu. Buktinya beliau mau saya yang mengurus kamu."
"Nggak mungkin!"
"Ck! Kamu liat sendiri gimana bunda mohon-mohon sama saya untuk menikahi kamu? Dan kamu, bunda juga mengancam akan mencabut seluruh fasilitas mewah kamu 'kan kalau kamu menolak menikah dengan saya? Itu jelas menunjukan kalau bunda nggak sayang lagi sama kamu!" Jelas Rendi sedikit berbohong.
Ya, mana mungkin Lavina tidak menyayangi Audy. Secara 'kan Audy adalah anak kesayangannya.
"Jadi, mau turun atau saya kunci di dalam mobil?" Tanya Rendi sekali lagi.
Ia bergegas masuk ke dalam rumah mendahului Rendi. Ini bukan pertama kalinya Audy singgah di sini. Namun Audy tidak menyukai rumah ini karena dulu ia pernah hampir tenggelam di kolam renang belakang karena Rendi mendorongnya.
Saat itu Rendi sedang marah padanya karena Audy mengenakan gaun yang tidak pantas digunakan oleh gadis seusianya. Padahal Audy akan mengunjungi pesta ulang tahun pacarnya dengan gaun itu. Ia ingin tampil berbeda dengan yang lain.
"Kamar kamu ada di lantai atas. Pintu coklat paling kanan," ucap Rendi memecah lamunan Audy.
Tanpa mengucap terima kasih Audy langsung bergegas ke atas. Sedangkan Rendi melepas jaketnya dan merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah.
"Mas Rendi!!"
Rendi mendengus kesal mendengar teriakan itu. Ia mengangkat kedua alisnya pada Audy yang berada di puncak tangga seakan bertanya mengapa gadis itu memanggilnya.
"Itu 'kan kamar Mas Rendi!" Seru Audy kesal.
__ADS_1
"Memang iya," balas Rendi malas.
"Ih, tadi Mas Rendi bilang kamar aku."
"Kamu lupa kalau kamu sudah menjadi istri saya?"
"Tapi aku nggak mau tidur bareng Mas Rendi!"
"Menolak untuk tidur dengan suami itu dosa, Audy. Masuk neraka nanti," ucap Rendi dengan mata terpejam.
"Bodo amat! Aku mau pilih kamar lain!"
"Terserah," lirih Rendi mulai memasuki alam mimpinya.
Audy berteriak kesal karena seluruh pintu kamar dikunci kecuali kamar milik Rendi. Ia ingin turun ke bawah untuk meminta satu kamar lagi untuknya. Namun melihat Rendi sedang tidur membuat Audy mengurungkan niatnya.
Bukan, Audy bukan kasihan melihat Rendi tertidur kelelahan. Tapi ia tidak mau mendapat hukuman dari suaminya itu karena mengganggu tidurnya.
Audy masih ingat saat itu ia membangunkan Rendi untuk mengantarkannya bermain ke rumah teman. Namun Rendi justru memarahinya. Salah Audy karena meminta di antarkan saat tengah malam. Dan meskipun sekarang masih pagi, namun ia masih merasa takut.
Audy kembali masuk ke kamar milik pria maskulin itu. Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang king size dengan bed cover berwarna abu. Tangannya bergerak meraih ponsel di dalam tas. Ia berniat untuk menghubungi teman-temannya. Namun tiba-tiba seseorang merampas ponselnya.
"Buatin makan siang buat saya," titah Rendi. Mata pria itu sedikit memerah. Mungkin karena masih mengantuk dan juga kelelahan.
"Nggak mau! Balikin hape aku sini!" Seru Audy sembari berusaha merebut kembali benda persegi panjang miliknya.
Namun ia tidak menyangka saat Rendi mendorongnya kuat. Untungnya Audy terjatuh di ranjang yang empuk.
"Masakin sesuatu buat saya atau hape kamu saya hancurin?"
"Tapi aku nggak bisa masak!"
"Ada Bi Yuyun yang akan ngajarin kamu. Cepat turun! Untuk semetara hape kamu saya yang pegang," ucap Rendi.
__ADS_1
Audy menggerutu kesal namun tetap menuruti perintah Rendi. Mau bagaimana lagi, ancaman Rendi tidak pernah main-main.
###