
Siang harinya kedua pasangan pengantin baru itu meninggalkan hotel yang menjadi saksi bersatunya hubungan mereka, baik itu secari lahir mau pun batin. Dengan posesifnya Gavril merengkuh pinggang langsing sang istri saat mereka melangkah keluar dari kamar hingga kearea parkir hotel. Bibir pria itu pun tak pernah lelah mengukirkan senyuman kebahagiaan.
"Silahkan nyonya." ucap Gavril setelah ia membuak pintu mobil bagi Adena.
Adena tersenyum "terimakasih suamiku." ucapnya sebelum masuk kedalam kabin mobil dan berikutnya diikuti oleh Gavril. Sang supir segera melajukan mobilnya guna menuju kerumah Adena. Untuk sementara pengantin baru itu akan tinggal disana, sebelum nantinya mereka akan pindah keapartemen milik Gavril setelah mereka usai melakukan perjalanan bulan madu.
"Selamat siang mah, pah.!" sapa Gavril dan Adena bersamaan.
"Selamat siang nak.!" jawab papa dan mama Adena yang sedang berada diruang keluarga menyaksikan acara televisi yang menampilkan berita pernikahan putrinya dan sang menantu.
"Kalian sudah makan.?" tanya mama setelah Adena mencium pipinya dan menduduki kursi kosong yang berada disebelahnya.
__ADS_1
"Sudah mama." jawab Adena.
"Kemana kalian akan berbulan madu.?" tanya papa kemudian.
"Kenapa mesti bertanya lagi.? bukannya papa dan mama sudah menyiapkan semuanya.? keliling Eropa selama tiga minggu." jawab Adena seraya mencebikkan bibirnya lucu. Sang papa pun terkekeh begitu juga dengan mama dan Gavril.
"Manfaatkan waktu sebaik mungkin, walau selama ini kalian sudah bersama sejak bayi, tapi hubungan dan ikatan rasa kalian sangatlah berbeda. Papa dan mama memiliki impian dan harapan akan hubungan kalian saat ini." kata papa memberi tahukan keinginan hatinya.
Adena menegakkan kepalanya, menatap Gavril dan Gunawan secara bergantian "aku janji sama papa, aku akan menjaga pernikahan ini sebisa dan semampu aku dan aku berjanji akan berusaha untuk mencintai suami yang sudah Tuhan pilihkan untukku." ucap Adena tulus.
Gunawan tersenyum dan memeluk sang putri serta memberi pucuk kepala putri semata wayangnya itu kecupan. Matanya pun mulai berembun mengingat betapa manja dan rapuhnya sangg putri tercinta. Rasanya barulah kemarin ia menggendong dan menimang bayi Adena, tapi kini ia justru harus merelakan putrinya itu pergi kepelukan pria lain yang lebih berhak akan hidup putrinya kini.
__ADS_1
"Berbahagialah selalu kalian, jalani rumah tangga kalian dengan ikhlas. Ingatlah bahwa pernikahan bukan hanya sekedar menyatukan dua insan dan dua keluarga saja, tapi juga wujud bakti dan iman kita kepada Tuhan." nasehat papa kemudian.
Setelah puas berbincang yang diselingi keharuan itu, Adena dan Gavril menuju kekamar mereka guna beristirahat kembali sebelum nanti mereka akan bergabung dengan papa dan mama guna makan malam bersama.
Sesampainya dikamar Gavril langsung memeluk tubuh Adena erat, diciumnya berulang kali kening wanita yang sangat ia cintai itu. Wanita yang tak pernah ia sangka mampu ia miliki walau masih hanya sebatas raganya saja.
"Terimakasih mau menerimaku dan menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri, aku seperti sedang bermimpi saja." kata Gavril lirih.
"Aku belum bisa menghapus semua dosa yang selama ini sudah aku perbuat, aku enggak mau bikin dosa baru dengan tidak melakukan tanggung jawab dan kewajibanku sebagai seorang istri." kata Adena menimpali perkataan Gavril.
Gavril tersenyum dan kemudian memandangi wajah cantik Adena "aku mau lagi, boleh enggak.?" katanya kemudian.
__ADS_1
Adena terkekeh dan kemudian menganggukan kepalanya perlahan, dan sore ini akhirnya penyatuan kedua insan itu pun kembali terjadi. Penyatuan raga yang kelak akan diuji oleh berbagai macam cobaan yang mengiringi langkah keduanya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ujian bagi Adena dalam menumbuhkan cinta bagi Gavril dan ujian bagi Gavril dalam menjaga cintanya kepada Adena.