
Restoran M
" Tumben malam ini kalian ngajak ngumpul di sini." kata Riko yang baru datang bersama Johan. Johan dan Riko menyelesaikan pekerjaan mereka dahulu baru menemui para sahabat nya.
" Aku mau mendengar cerita dari mereka. Gak sabar mau menunggu sampai besok." jawab Rangga sambil melirik ke arah Evan, Rendi, Steve dan Willy.
" Ada kabar apa?" tanya Johan yang juga penasaran.
" Ayo dong Bro cerita ke kita bagaimana kalian bisa di jodohkan dengan mereka." kata Rangga.
" Di jodohkan?" tanya Riko dan Johan bersamaan. Lalu Steve menceritakan semuanya kepada Rangga, Riko dan Johan.
" Lalu kenapa kalian tidak bersemangat, bukannya seharusnya kalian bahagia karena sudah dijodohkan dengan gadis yang kalian cintai." kata Rangga.
" Bagaimana bisa bahagia, saat Sandra tahu dia akan di jodohkan dengan ku dia berubah menjadi tidak bersahabat." kata Willy.
" Jessi juga menjadi jutek dan tambah menyebalkan." kata Steve.
" Meisya malahan tidak mau bicara dengan ku." kata Rendi. Lalu mereka melihat ke arah Evan yang diam saja.
" Kenapa?" tanya Evan.
" Bagaimana dengan Amel?" tanya Rangga. Evan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Entahlah.." jawab Evan. Teman temannya mengernyitkan dahinya karena bingung.
" Kenapa Bro?" tanya Johan seraya menepuk pundak Evan.
" Amel menolak mu Bro?" tanya Rendi.
Evan menghela nafasnya, kemudian dia menceritakan semua yang terjadi saat berada di kediaman keluarga Mahandika. Teman temannya hanya melongo mendengar penjelasan Evan.
" Aku jadi ragu dengan keputusan ku sendiri. Amel sudah banyak berubah. Aku kecewa dengan sikapnya tadi yang tidak memandang kedua orang tuaku. Padahal aku tahu betul Mamaku sangat menyayanginya." jelas Evan. Teman temannya terdiam mendengar penjelasan Evan. Mereka juga tidak tahu bagaimana cara menghiburnya. Terlihat jelas kekecewaan Evan yang begitu besar.
" Apa kamu akan mundur?" tanya Willy.
" Jika itu demi orang tuaku, aku akan melakukannya. Aku gak bisa melihat kesedihan orang tua ku." jawab Evan.
" Pikirkan dulu semuanya Van. Sudah tujuh tahun kamu menunggu nya, jangan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali nantinya." kata Johan.
" Kamu tidak ingin berjuang?" tambah Steve.
" Amel itu penuh dengan misteri. Kita tidak bisa menebak jalan pikirannya." kata Rendi.
" Tapi aku heran kenapa Kakek Amel ingin kalian dijodohkan. Pasti ada sesuatu yang terjadi." kata Riko heran.
__ADS_1
" Aku juga merasa begitu. Tadi siang aku dan Mona sempat ngobrol dengan Kakek Amel sebelum beliau bertemu dengan kalian. Aku lah yang memberitahukannya bahwa kalian berempat menyukai mereka. Dan Dia bilang jika tidak ada campur tangannya maka kalian tidak akan mampu menaklukkan gadis gadis itu." jelas Rangga.
" Aku balik dulu.." kata Evan lalu meninggalkan Restoran M dan pulang ke rumah orang tuanya.
" Kasihan sama tuh anak. Aku harap Amel bisa membuka hatinya untuk Evan." kata Rendi yang melihat Evan berlalu.
" Kita harus mencari tahu dan membantunya." kata Steve.
" Mungkin kita bisa memulainya dari Mona." kata Riko melihat ke arah Rangga.
" Baiklah nanti aku bicara pada Mona." kata Rangga. Mereka kemudian melanjutkan obrolannya sampai tengah malam.
Sedangkan Evan sekarang sudah sampai di rumah orang tuanya. Karena sudah malam, orang tuanya sudah istirahat di kamar. Evan langsung menuju kamarnya. Ia tidak ingin mengganggu istirahat ke dua orang tuanya.
Pagi hari nya Evan turun dari kamarnya menuju ruang makan. Orang tuanya sudah berada di meja makan. Mereka tidak tahu kalau semalam Evan pulang ke rumah.
" Selamat pagi Pa, selamat pagi Ma." sapa Evan.
" Lho Van. Kapan kamu pulang? Kenapa Mama gak tahu."
" Semalam Ma. Mama sudah di kamar. Evan gak mau ganggu. Nanti Papa marah lagi kalau di ganggu."
" Kenapa Papa yang di salahkan? Oh ya, ada yang mau Papa bahas sama kamu." protes Papanya.
" Sudah sudah nanti ngobrolnya. Kita makan dulu."
Setelah selesai sarapan, mereka melanjutkan ngobrol di ruang keluarga.
" Tadi Papa mau bicara apa?" tanya Evan.
" Ini tentang perjodohan kamu. Papa dan Mama sudah memutuskan, semuanya kami serahkan kepada mu. Apapun keputusan kamu, kami akan mendukungmu. Karena kami sangat berharap kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu."
" Sebelum aku memutuskannya, aku ingin bertanya. Aku harap Papa dan Mama menjawab dengan jujur. Bagaimana perasaan kalian semalam, karena pertemuan keluarga itu Amel tidak menganggap keberadaan kita."
" Terus terang Papa merasa kecewa dengan sikapnya itu." jawab Papanya.
" Tapi Pa, bukan hanya kita saja lho yang tak dianggap. Orang tua nya saja diperlakukan sama seperti kita. Dia hanya berbicara sama Kakeknya saja." timpal Mama Evan.
" Mama masih saja membelanya. Walaupun anak itu tidak sopan pada kita." jawab Papa Evan kesal.
" Paa.." Mama Evan menatap tajam ke arah suaminya agar dia tidak berbicara macam macam. Semalam orang tua Evan memang sempat berdebat tentang masalah ini. Tapi karena mereka tahu kalau anaknya itu sangat mencintai Amel, maka mereka akhirnya memutuskan agar Evan lah yang mengambil keputusannya.
" Mungkin Amel punya alasan nya." tambah Mama Evan.
" Mama tidak kecewa?" tanya Evan. Mamanya hanya diam saja.
__ADS_1
" Tuh kan Mama aja gak berani jawab." balas Papanya.
" Kalau Papa dan Mama keberatan dengan perjodohan ini, lebih baik kita batalkan saja. Sebelum semuanya terlambat. Aku yang akan bicara dengan Kakek Bimantara." kata Evan.
" Pikirkan lagi Nak. Jangan mengambil keputusan dengan gegabah. Papa gak mau kamu menyesal nantinya." kata Papanya.
" Temui Amel. Kalian berdua perlu bicara." kata Mamanya. Evan memijat pelipisnya. Terus terang saja dia bingung apa yang harus dia lakukan.
" Kamu tidak ke kantor Van?" tanya Papanya.
" Nanti jam 10 aku langsung ke perusahaan xxx, ada meeting di sana."
" Bagaimana dengan kontrak kerja dengan CBM Company?"
" Mereka belum menyetujuinya Pa. Banyak perusahaan lain yang juga mengajukan kerja sama dengan mereka. Karena proyek kerja sama kali ini sangat menjanjikan. Kita hanya perlu menunggu saja. Tapi ada satu hal yang membuat Evan heran. Bimantara Group dan Mahandika Group tidak termasuk ke dalamnya." Papa Evan berpikir keras, setahunya Om Albert dan Zeco tidak pernah mau membuang kesempatan dalam berbisnis. Tapi mengapa justru mereka tidak mengambil kesempatan yang menjanjikan ini.
" Papa kenapa malah bicara masalah kerja. Masalah yang tadi aja belum selesai. Nih anak satu juga, bagaimana Amel mau bersamamu jika pekerjaan selalu yang kamu pikirkan. Kebiasaan buruk Ayahmu itu tidak perlu kamu tiru. Cukup Mama saja yang selalu cemburu dengan pekerjaan Papa. Jangan sampai nanti menantu Mama juga mengalaminya." omel Mama Evan.
" Mama ada ada saja deh, masa cemburu sama pekerjaan sih." Evan dan Papanya tertawa mendengar omelan Mamanya.
" Ma, kalau aku gak memikirkan pekerjaan bagaimana aku mau menghidupi menantu Mama nantinya." kilah Evan.
" Terserah kalian aja. Mama selalu kalah kalau bicara dengan kalian berdua. Lebih baik Mama telepon calon menantu Mama dulu." Mama Evan lalu mengambil ponsel nya dan menghubungi Amel. Evan dan Papa nya hanya diam saja, karena Mama nya memasang loud speaker ponselnya.
" Halo.. Selamat pagi Tante.."
" Selamat pagi Sayang. Lagi di mana Nak?"
" Di rumah aja Tan, lagi gak ada kerjaan. Ada apa Tan?"
" Gak ke kantor hari ini?"
" Gak Tan. Ntar siang mau nemenin Mama ke mall. Tante mau ikut gak? Kalau mau nanti sekalian Amel jemput."
" Boleh deh. Tante juga bosan di rumah sendiri. Tante pergi nya sama supir aja, nanti kita langsung ketemu di mall aja ya. Ya udah, sampai nanti ya.."
" Iya Tan, titip salam buat Om."
" Iya. Bye." Mama Evan lalu mengakhiri sambungan ponselnya.
" Ma, kasihan anakmu ini. Calon istrinya titip salam buat Papa. Buat dia enggak." Kata Papa Amel tertawa menggoda anaknya.
" Ma, Pa Evan pamit ke kantor."
" Ma, anak kita ngambek." tambah Papanya lagi. Evan berlalu karena kesal melihat ulah Ayahnya. Mamanya menggelengkan kepala melihat ulah suaminya itu.
__ADS_1
" Hati hati Nak...."
***