Cinta Dan Persahabatan

Cinta Dan Persahabatan
Aku Tak Ingin Menyakitinya


__ADS_3

***


Keesokan paginya, semua stasiun televisi dan media online menayangkan berita yang sama. Kejadian yang terjadi di pesta ulang tahun Wiltons Company itu seketika menjadi trending topik. Nama Amel pun disebut sebut sebagai calon pebisnis yang patut di waspadai. Peristiwa semalam menjadi peringatan bagi orang orang yang berani mencoba untuk memprovokasi seorang pewaris Bimantara Group dan Mahandika Group tersebut.


" Pagi Om, pagi Tante.." sapa Rendi kepada orang tua Evan. Lalu dia duduk di samping Om Sandy yang sedang nonton.


" Pagi Ren.." jawab Om Sandy dan Tante Maura.


" Amel benar benar mewarisi sifat Om Zeco dan Kakek Albert." kata Rendi yang ikut nonton berita di televisi.


" Iya, dengan sifat dan caranya dalam menyelesaikan masalah, Om yakin dia bisa menjadi pebisnis hebat seperti ayah dan kakeknya." kata Om Sandy.


" Evan mana ya Tan?" tanya Rendi kepada Tante Maura.


" Ada di kamarnya. Kamu langsung ke atas saja." jawab Tante Maura


" Baik Tan." Rendi langsung menuju kamar Evan. Tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk.


" Lagi apa Bro?" tanya Rendi.


" Ngecek email."


" Hari Minggu juga kamu kerja. Ke rumah Mona yuk."


" Ngapain ke sana?"


" Anak anak pada ngumpul di sana."


" Ya udah, yuk." Evan dan Rendi pun bergegas turun ke bawah.


Saat akan turun mereka berpapasan dengan ibu Evan.


" Van, ini ada paket untukmu."


" Dari siapa Ma?"


" Gak tahu nih gak ada pengirimnya. Kamu mau pergi?"


" Iya Ma, mau ke rumah Om Reno."


" Ya udah, hati hati ya. Ini paketnya Mama letakkan di kamar kamu ya."


" Rendi pamit Tan.."


" Iya Ren.."


" Kenapa gak kamu buka paketnya Bro?" tanya Rendi yang berjalan di samping Evan.


" Udah nanti aja, tunggu pulang."

__ADS_1


" Aku kan penasaran. Mungkin itu hadiah dari pengagum rahasia kamu."


Evan langsung masuk ke mobil tanpa menghiraukan ocehan Rendi.


" Ya aku di tinggal." Rendi menepuk jidatnya karena baru sadar kalau Evan sudah tidak berada di sampingnya lagi.


Tiga puluh menit mereka sampai di kediaman keluarga Moza. Di sana sudah berkumpul semua teman mereka. Tidak berselang lama datang juga Jessi, Sandra dan Meisya.


" Amel mana?" tanya Defa pada mereka bertiga.


" Dia belum ke sini?" tanya Jessi.


" Belum. Kalian gak bareng?" tanya Mona.


" Dia bawa mobil sendiri tadi." jawab Jessi.


" Tunggu saja. Mungkin sebentar lagi sampai." kata Rangga.


Setelah lewat setengah jam Amel tidak datang juga. Jessi melihat ponsel nya, tapi tidak ada pesan satu pun dari Amel.


" Amel kemana ya? Udah jam segini kenapa belum sampai." gumam Jessi.


" Telpon aja Jess." kata Rendi yang melihat teman teman Amel khawatir karena Amel belum datang.


" Loudspeaker Jess.." kata Sandra.


" Kebiasaan..." balas Jessi lalu dia segera menghubungi Amel.


" Halo sayangku..."


" Kamu di mana? Kenapa belum sampai? Kamu gak apa apa kan?"


" Bisa gak Jess, satu satu nanya nya. Aku ke luar kota. Ini lagi di jalan."


" Sama siapa, kenapa gak ajak kita?"


" Sendiri aja. Aku gak enak sama orang tua Mona kalau kita semua gak datang. Makanya aku gak ajak kalian. Udah dulu ya.. Aku lagi nyetir nih.."


Tanpa menunggu jawaban Jessi, Amel langsung mematikan ponselnya. Jessi melihat Sandra dan Meisya. Mereka saling memberi kode dengan gerakan tubuhnya. Mereka bertiga merasa ada yang salah dengan Amel.


" Gak ada Amel terasa sepi ya?" kata Steve.


" Kangen sama Amel Kak? Nanti ada yang cemburu lho Kak?" kata Bella. Mereka semua melirik ke arah Evan.


" Kenapa kalian semua menatap ku?" tanya Evan menatap tajam ke arah mereka.


" Gak seru kamu Bro." kata Rangga sambil merangkul pundak Evan.


Mereka berbincang dan sedikit bercanda. Jika tidak ada Amel, memang suasana nya kurang ramai. Karena hanya Amel yang bisa mengurai kecanggungan di antara mereka.

__ADS_1


***


Sementara Amel sedang berada di apartemen nya. Dia sedang memperhatikan pemandangan kota dari balkon kamarnya. Dia berbohong kalau sedang ke luar kota. Dia ingin menata hatinya, makanya dia tak ingin sering berkumpul dengan mereka.


" Sungguh takdir hidupku sangat luar biasa. Aku ahli dalam berbisnis tapi nihil dalam urusan percintaan." Amel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sendiri.


" Bahkan aku harus menghindar dari Dia, agar aku tidak semakin terluka melihat tatapan penuh cinta dari matanya untuk sahabatku."


Setelah tujuh tahun bertemu kembali, Amel bingung dengan perasaannya. Amel berharap dia mampu menghapus perasaan nya itu. Dulu dia sengaja pergi ke luar negeri karena ingin menghindari Evan yang saat itu menyatakan perasaannya. Dia bingung harus menjawab apa, karena bukan Evan yang ia harapkan melainkan sahabatnya Evan.


Amel masih bergelut dengan pemikirannya, sehingga dia terhentak saat mendengar dering ponselnya.


📩 Evan


" Bisa kita bertemu?"


📩 Amel


" Aku lagi di apartemen, aku akan share lokasinya."


Amel membuang napas nya dengan kasar. Dia hanya berharap agar Evan bisa mengerti dengan keputusannya. Karena Amel tahu bagaimana sakitnya jika mencintai seseorang tapi orang yang kita cintai justru mencintai orang lain. Karena itu dia tidak ingin memberi harapan palsu untuk Evan.


Bel apartemen nya berbunyi. Amel lalu bergegas untuk membuka pintu untuk tamunya.


" Silahkan masuk Kak."


" Hmm"


" Tunggu sebentar, aku buatkan minum." Amel berlalu ke dapur untuk membuat minuman untuk tamunya.


" Apa kamu datang karena kalung itu?" Tanpa basa basi Amel langsung bertanya kepada Evan setelah dia membawa minuman untuk Evan.


" Aku sudah memberikannya untukmu. Kenapa kamu kembalikan? Apa kamu menolakku?"


" Apakah selama tujuh tahun berlalu perasaanmu itu tidak luntur?"


" Mel..." Dengan cepat Amel memotong ucapan Evan.


" Aku mengembalikan kalung itu karena aku baru mengetahui kalau kalung itu sangat berharga untuk keluarga kalian. Kalau aku tahu dari awal, aku tidak akan berani memakainya. Berikanlah kalung itu saat kamu melamar calon istrimu."


Evan tersenyum saat mendengar Amel mengatakan itu semua. Sesak di dadanya sedikit berkurang. Saat di rumah tadi dia begitu marah saat membuka paket yang ternyata isinya kalung yang dia berikan untuk Amel. Dia pikir Amel membencinya dan ingin menjauhinya.


" Jadi kamu mau langsung aku lamar Mel?" tanya Evan menggoda Amel sambil menaik turunkan alisnya.


" Kamu tidak lupa kan kalau dulu aku pernah membuat mu masuk rumah sakit?" Amel melotot ke arah Evan.


Evan tersenyum jahil, dia senang bisa menggoda gadis itu lagi. Dia kemudian bergegas kabur sebelum mendapat amukan dari Amel.


" Kak Evan terima kasih." teriak Amel setelah Evan keluar dari pintu apartemennya. Evan berbalik kemudian tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


" Aku harap semuanya akan baik baik saja." batin Amel.


***


__ADS_2