
***
Hari sudah beranjak sore. Amel bersama para sahabat dan juga pengawalnya pergi meninggalkan pulau pribadi milik Amel. Di pulau itu hanya tersisa beberapa pelayan dan pengawal saja. Mereka akan berangkat keesokan harinya setelah membereskan pekerjaan di sana.
Setelah delapan jam perjalanan mereka tiba di bandara. Mereka langsung di antar ke hotel terdekat untuk beristirahat.
Keesokan harinya mereka di antar ke kediaman Kakek Bimantara karena di sana keluarga besar Amel mengadakan syukuran atas kepulangan Amel.
Pesta penyambutan Amel dilaksanakan di halaman belakang kediaman Kakek dan Nenek Amel. Karena hari ini adalah hari Minggu, jadi pesta itu diadakan siang hari.
Para sahabat dan rekan bisnis yang diundang sudah mulai berdatangan satu per satu. Mereka mengucapkan selamat kepada keluarga besar Bimantara dan Mahandika karena Amel selamat dari kecelakaan pesawat tersebut.
Saat puncak acara, Kakek Amel naik ke mimbar dan mengumumkan pernikahan Amel dan Evan yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Amel dan Evan di minta untuk bertukar cincin sebagai tanda pertunangan mereka. Evan dan Amel mengikuti saja kemauan orang tua mereka. Tamu undangan memberikan selamat kepada mereka berdua. Ada juga yang mengabadikan foto mereka berdua dan mengunggah nya ke sosial media.
Setelah selesai, Evan dan Amel langsung bergabung dengan para sahabatnya.
" Maaf, saya datang terlambat." kata seseorang yang baru tiba di sana. Mereka terdiam melihat orang yang baru datang tersebut.
" Vina.." kata Rangga terkejut.
" Vina..." batin Mona.
" Kalian seperti melihat hantu saja." kata Vina. Vina lalu menghampiri Amel dan Evan untuk mengucapkan selamat.
" Selamat ya Mel, Van. Kalian berdua pasangan yang serasi." kata Mona.
" Terima kasih." kata Amel dan Evan.
Vina lalu mendekati Rangga. Mereka semua terdiam, bahkan Rangga terbengong karena kaget.
" Hai semuanya... Hai Rang, apa kabar? Apa kamu tidak merindukanku?" sapa Vina langsung duduk di samping Rangga. Tiba tiba suasana menjadi panas.
" Ba..ik.." jawab Rangga terbata-bata.
" Rang, boleh kita bicara berdua?" tanya Vina.
" Kalau mau bicara di sini saja." jawab Rangga ketus.
__ADS_1
" Ternyata kamu banyak berubah ya Rang. Dulu kamu begitu lembut dan perhatian." Mona yang mendengar ucapan Vina merasakan seperti ada sebuah batu besar yang menimpa dadanya. Apalagi melihat kekasihnya tidak ada niat untuk pergi menghindari mantan pacarnya itu. Tanpa bicara dia langsung pergi meninggalkan tempat itu.
" Yank, kamu mau kemana?" teriak Rangga. Rangga hendak menyusul Mona, tapi di tahan oleh Vina.
" Kamu mau kemana? Kita belum bicara Rangga." kata Vina
" Lepaskan!!" bentak Rangga sambil menepis tangan Vina. Rangga lalu berlari keluar untuk menyusul Mona. Sedangkan Vina tersenyum licik melihat kepergian dua orang itu.
" Untuk apa kamu kembali lagi ke sini?" Steve menatap tajam ke arah Vina.
" Hei, ada apa dengan kalian? Apa salahnya aku kembali ke negaraku dan mengejar apa yang seharusnya menjadi milikku." kata Vina penuh percaya diri.
" Kami tidak akan membiarkan kamu merusak hubungan Rangga dan Mona. Ingat itu!" ancam Riko.
" Bukannya dulu kalian sangat mendukungku. Dan kalian semua bahkan mengirim orang untuk melacak keberadaan ku waktu aku pergi ke luar negeri." kata Vina.
" Dulu kami mendukungmu, karena Rangga mencintaimu. Tapi sekarang dia sangat mencintai Mona. Jadi jangan berharap kamu bisa mengganggu mereka." kata Rendi.
" Kalian semua sangat mendukung gadis itu ternyata. Tapi aku tidak percaya kalau Rangga sudah melupakanku. Pasti masih ada cinta nya untukku. Tidak mudah untuk melupakan cinta pertama." Setelah mengatakan itu, Vina pergi meninggalkan tempat itu.
" Tapi dia tambah cantik ya sekarang." kata Steve yang kemudian mendapat jeweran di telinga nya.
" Sakit Jess." kata Steve sambil mengusap telinga nya.
" Kalau dia cantik, kamu pacaran sama dia aja." kata Jessi lalu pergi dari sana.
" Ya ampun!! Aku salah lagi ya.." kata Steve sambil mengacak rambutnya.
" Perempuan selalu benar Bro." kata Willy.
Amel tersenyum melihat para sahabatnya. Evan yang tak sengaja melihat Amel tersenyum, merasa ada yang aneh.
" Ikut aku." kata Evan lalu menarik tangan Amel menjauh dari para sahabatnya itu.
" Ada apa Kak?" tanya Amel.
" Siapa yang mengundang Vina ke sini?"
__ADS_1
" Kamu tertarik juga dengan Vina, sama seperti Steve?"
" Aku gak tertarik sama Vina. Tapi aku penasaran, tidak mungkin dia bisa datang kalau tidak ada yang mengundangnya."
" Ternyata calon suami ku ini sangat pintar." Amel mengedipkan matanya menggoda Evan.
" Kamu sakit?" Evan memegang dahi Amel.
" Iya, aku sakit jika lama lama bersamamu."
" Apa jantung mu tidak sehat jika bersamaku?" Evan menggoda Amel sambil tersenyum jahil. Amel lalu maju dan mendekat ke arah Evan. Evan gelagapan saat Amel semakin mendekatinya, bagaimana tidak dia adalah seorang laki laki normal dan gadis di hadapannya ini adalah gadis yang sangat di cintai nya.
Amel terus mendekat ke dada Evan, sehingga Evan harus menahan gejolak di dalam tubuhnya. Amel tersenyum jahil melihat perubahan wajah Evan.
" Sepertinya kamu yang harus konsultasi ke dokter spesialis jantung." kata Amel kemudian dia pergi meninggalkan Evan sambil tertawa.
" Apa dia kerasukan ya, kenapa sekarang dia berubah menjadi centil dan manja. Pergi kemana sifat galaknya?" gumam Evan. Evan memegang dadanya sambil geleng-geleng.
Setelah agak jauh, Amel berbalik melihat ke arah Evan.
" Selamat... Untung saja dia tidak bertanya lagi tentang Vina." gumam Amel.
" Apa maksudmu?" tanya Jessi yang tiba tiba sudah ada di samping Amel.
" Kamu ngagetin aja Jess. Sejak kapan kamu di sini?"
" Jelaskan padaku apa maksud perkataan mu tadi! Dan apa yang sedang kamu rencanakan."
" Kita makan dulu sekarang. Nanti aku jelasin." Amel lalu menarik Jessi ke arah stand makanan. Sebenarnya Amel sengaja ingin menghindar dari pertanyaan Jessi.
" Aku tahu kamu ingin menghindari pertanyaan ku Mel. Tapi aku harap rencana mu itu tidak akan menyakiti Mona dan merusak persahabatan kita." Amel tersenyum lalu pergi menuju stand makanan yang di ikuti oleh Jessi.
" Awalnya aku khawatir waktu ayah mertua mu menjodohkan mereka berdua. Tapi sepertinya mereka sudah bisa akur." kata Ayah Evan yang sedari tadi memperhatikan Evan dan Amel.
" Kamu benar. Biasanya mereka seperti tom and jerry." kata Ayah Amel. Kemudian Ayah Amel dan Ayah Evan tertawa.
***
__ADS_1