Cinta Dan Persahabatan

Cinta Dan Persahabatan
Kejujuran


__ADS_3

***


Amel berdiri di balkon kamarnya sambil melihat ke arah pantai tempat para sahabat nya sedang menikmati sunset dengan pasangan masing masing. Kini hubungan mereka sudah semakin dekat. Walaupun dijodohkan, mereka mencoba untuk saling menerima keadaan masing masing. Setelah kemarin Hana dan para orang tua kembali ke rumah mereka masing masing, sekarang giliran Evan dan para sahabatnya yang mengunjungi pulau pribadi milik Amel.


Amel yang sedang menatap para sahabat nya tersenyum bahagia tidak sadar jika Evan sudah berdiri di sampingnya. Evan melihat kemana arah pandangan mata Amel.


" Apa kamu masih belum bisa melupakannya?" tanya Evan yang membuat Amel kaget karena dia sedang melamun.


" Apa maksudmu?"


" Walau kamu menyangkalnya, tapi matamu tidak bisa berbohong. Terlihat jelas dari matamu kalau kamu terluka melihat dia bersama sahabatmu." Evan menunjuk ke arah Rendi dan Meisya.


" Karena kamu sudah mengetahuinya maka aku akan jujur padamu. Inilah alasan kepergian ku tujuh tahun yang lalu. Aku bingung saat kamu menyatakan perasaanmu padaku. Apalagi keesokan harinya aku mendengar percakapan kalian waktu di lapangan basket, saat dia meminta bantuan kalian untuk membantunya mendekati Meisya. Aku pikir setelah aku pergi jauh, perasaan itu akan hilang. Tapi ternyata aku salah, setelah bertemu dengannya kembali perasaan itu tetap ada. Jadi, masih belum terlambat kalau kamu ingin membatalkan pertunangan kita." Evan senang Amel berbicara jujur, tapi walaupun begitu hatinya tetap merasa sakit saat gadis yang dicintainya justru mengatakan bahwa dia mencintai laki laki lain.


" Kita tidak bisa memilih kemana hati kita akan berlabuh. Dan aku tidak punya alasan untuk membatalkan pertunangan ini." Amel memandang Evan sangat lama.


" Apa aku salah? Bukannya kamu yang punya alasan kuat untuk menolak pertunangan ini. Jadi kenapa bukan kamu saja yang membatalkannya?" Evan lalu berbalik dan pergi dari sana.


" Kak..." Evan berhenti saat Amel memanggilnya.


" Apa Kakak tidak keberatan setelah mengetahui semua ini?" tanya Amel lagi.


" Perasaanku padamu tulus Mel, dan aku tidak akan egois. Karena aku tahu, kamu pasti bisa menjaga perasaan dan kepercayaan ku walaupun tidak ada cinta di dalamnya." Amel tersenyum getir mendengar perkataan Evan.


" Maafkan aku.." kata Amel lirih. Evan lalu menghampiri Amel dan tersenyum.


" Aku mencintaimu.." bisik Evan lalu dia keluar dari kamar Amel.


" Dan aku tidak akan pernah melepaskan mu apapun yang terjadi." batin Evan.


Amel kemudian berbaring di ranjang nya setelah Evan keluar dari kamarnya. Saat Amel sedang memikirkan masalahnya, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Amel lalu bangkit untuk membuka pintu. Setelah di buka, ternyata Niko yang ada di depan kamar Amel.


" Nona, Bagas dan Roy sudah siuman."


" Bagaimana keadaan mereka berdua?"


" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Nona, semuanya baik baik saja."


" Baiklah, aku ingin melihat keadaan mereka berdua." Lalu Amel pergi ke kamar tempat perawatan Bagas dan Roy. Kamar tersebut sudah di sulap mereka seperti kamar pasien di rumah sakit. Semua alat medis lengkap di dalamnya.

__ADS_1


" Bian, bagaimana keadaan mereka berdua?" tanya Amel setelah masuk ke ruangan itu.


" Tumben panggil Bian?" kata Fabian sambil menaikkan alisnya.


" Aku lagi malas berdebat dengan mu." jawab Amel.


" Nona lagi galau Bian." kata Niko sambil tersenyum.


" Masalah cinta kah?" goda Fabian. Amel menatap tajam ke arah Niko. Bagas dan Roy tersenyum melihat Niko ketakutan.


" Terima kasih atas perlindungan kalian berdua. Kalian berusaha melindungi ku walaupun nyawa kalian dalam bahaya." kata Amel tulus.


" Itu sudah menjadi tugas kami Nona." jawab Roy.


" Nyawa kami tidak sebanding dengan nyawa Nona." jawab Bagas.


" Setelah kita pulang dari sini, aku akan mencari jodoh untuk kalian berlima." kata Amel lalu pergi meninggalkan mereka berlima yang kebingungan.


Mereka berlima saling tatap dan bingung dengan ucapan Amel tersebut.


" Kenapa kita mau dijodohkan?" kata Mike.


" Apa Nona baik baik saja?" tanya Roy.


" Apa ada masalah dengan kepalanya akibat dua kali kecelakaan?" gumam Fabian.


" Kalau kalian bertanya terus, lalu siapa yang akan menjawabnya." kata Bagas.


" Lebih baik kita menyusul Nona saja. Kalian berdua istirahatlah." kata Mike lalu pergi diikuti oleh Niko dan Fabian.


Saat ketiga orang itu menyusul Amel, mereka melihat Amel termenung duduk di pinggir kolam. Mereka saling tatap kemudian sama sama mengangkat bahu mereka.


" Apa yang membuat mu termenung Nona?" tanya Fabian lalu duduk di samping Amel.


" Aku hanya lagi banyak pikiran saja. Semenjak pulang dari London, masalah selalu datang, aku jadi merindukan suasana di sana." jawab Amel.


" Nona, boleh aku bertanya hal yang bersifat pribadi?" tanya Fabian ragu.


" Apa yang ingin kamu ketahui?"

__ADS_1


" Apa kamu masih ragu dengan perjodohanmu dan Tuan Muda Castello?"


" Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?"


" Sebenarnya Bagas yang mengatakan ini Nona. Semenjak perjodohan itu diputuskan, Nona seperti punya beban yang berat." kata Mike. Amel memejamkan matanya dan menarik napas yang dalam. Memang benar dia sangat terbebani dengan perjodohan itu. Banyak hati yang harus dia jaga. Dia sebenarnya ingin pergi jauh untuk melarikan diri. Tapi jika dia melakukannya, pasti banyak orang yang akan kecewa.


" Sebenarnya aku ingin pergi jauh agar terbebas dari masalah ini. Apa kalian mau membantuku?" tanya Amel. Fabian, Mike dan Niko saling berpandangan dan terdiam. Melihat mereka bertiga tidak bersuara Amel tersenyum.


" Kalian bertiga takut?" tanya Amel tersenyum jahil.


" Kami masih ingin hidup Nona... Tuan Bimantara akan memasung kami kalau membantu Nona kabur..." jawab Niko.


" Aku belum nikah Nona.." kata Fabian.


Amel tertawa melihat wajah ketakutan dari pengawal dan dokter pribadinya itu. Mereka bertiga tersenyum senang melihat tawa Amel. Walaupun Amel adalah anak dari majikan mereka, tapi Amel sudah menjadi sahabat mereka sejak kecil.


" Kelihatannya ada yang lagi bahagia nih.." kata Evan menghampiri mereka bersama sahabat lainnya.


" Nona Amel bahagia di atas penderitaan kami Tuan. Kami selalu menjadi bahan bully-an ya." kata Niko.


" Mel, pemandangan di sini indah banget. Aku jadi betah." kata Jessi.


" Kalau betah, kamu tinggal di sini aja menjadi penjaga pulau ini." jawab Amel acuh. Yang lainnya hanya senyum senyum. Mereka sudah tahu pasti akan terjadi perdebatan antara kedua gadis itu.


" Jangan mulai deh Mel, aku lagi malas berantem denganmu."


" Kamu tidak merindukanku Jess?"


" Tidak. Buat apa aku merindukan teman yang menyebalkan."


" Oh ya?"


" Ehmm.."


" Tentu saja kamu tidak merindukanku, karena pujaan hatimu selalu bersamamu." kata Amel dengan gaya bicara yang dibuat buat. Wajah Jessi langsung merona.


" Kamu bahagia kan Jess, dijodohkan sama cinta pertamamu." kata Amel tanpa dosa lalu pergi dari sana sebelum Jessi mengamuk.


***

__ADS_1


__ADS_2