
***
Keesokan pagi nya Amel di kagetkan dengan keberadaan Evan di rumah nya.
" Kenapa Kakak ada di sini?" tanya Amel saat dia keluar dari kamarnya dan melihat Evan sedang meminum kopi di ruang tamu apartemen nya.
" Kamu amnesia?" Amel sedikit bingung, kemudian dia berpikir keras apa yang terjadi semalam.
" Maaf, aku lupa. Hehehe.." Amel cengengesan kenapa dia bisa lupa kalau semalam dia ketiduran sebelum Evan pulang.
" Kamu sudah merasa baikan?"
" Ehmm.." Amel lalu duduk di samping Evan dan menyandarkan kepala nya di bahu Evan. Evan yang melihat kelakuan Amel jadi bingung sendiri.
" Kamu masih sakit." Evan kemudian meletakkan punggung tangan nya ke dahi Amel untuk memeriksa keadaan nya.
" Tidak panas." kata Evan. Amel tersenyum melihat Evan kebingungan. Bagaimana tidak bingung, hari ini dia bersikap manja. Sikap yang tidak pernah di tunjukkan nya kepada siapa pun termasuk orang tua nya.
" Kita jalan jalan yuk Kak." kata Amel dengan wajah yang sengaja di buat imut. Evan merasa gemas melihatnya.
" Aku tidak menyangka seorang Nona Camella ternyata bisa juga bersikap manja dan manis seperti ini." Evan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" Aku juga tidak menyangka Tuan Evander yang menyebalkan ternyata bisa tersenyum manis juga."
" Senyum ku hanya untuk mu." goda Evan.
" Pagi pagi gak usah gombal. Lebih baik kita cari makan di luar. Gombal mu gak akan bikin perut kenyang." Evan tertawa kemudian mengikuti Amel yang sudah keluar duluan.
" Kita ke apartemen ku dulu ya. Aku mau mandi dan ganti baju dulu, baru kita pergi jalan jalan." kata Evan saat mereka sudah di dalam mobil.
" Kakak gak kerja hari ini?"
" Kamu juga gak kerja kan?" Amel menggelengkan kepalanya.
" Kita bolos saja, kan perusahaan milik kita sendiri." kata Evan.
" Kalau begitu kita pergi ke kota C aja Kak. Pantai di sana sangat indah."
" Baiklah."
__ADS_1
Di apartemen Evan saat Amel duduk di sofa sambil menunggu Evan yang sedang mandi, tiba tiba terdengar bunyi bel. Amel lalu beranjak untuk membukakan pintu.
" Kamu siapa?" tanya seorang gadis cantik dan sexi saat melihat Amel membukakan pintu. Amel merinding melihat pakaian gadis itu yang serba kurang bahan. Amel tersenyum menyeringai.
" Seharusnya aku yang bertanya kamu siapa. Ada apa kamu datang ke rumah ku?"
" Rumahmu? Bukannya ini rumah Tuan Evan."
" Rumah suamiku berarti rumah ku juga kan?" Amel menahan tawa saat melihat wajah gadis itu pucat.
" Siapa yang datang sayang?" tanya Evan yang sudah dari tadi mendengar obrolan kedua gadis itu. Sekarang saatnya dia bersandiwara. Evan memang sudah muak dengan tetangga yang satu gedung apartemen dengan nya itu. Dia selalu mencari cara untuk bertemu dengan Evan.
" Ini ada penggemar mu. Apa dia selalu membawa makanan untuk mu kalau aku tidak ada di sini." Amel pura pura marah sambil melihat ke arah tempat makan yang di bawa gadis itu.
" Iya, tapi aku tidak pernah memakan makanan nya. Aku selalu membuangnya ke tempat sampah." jawab Evan sambil menahan tawa. Tapi memang benar Evan selalu membuang makanan jika gadis itu memberikan makanan kepada Evan.
" Awas saja kalau kamu berani makan masakan wanita lain. Aku akan memotong lidah mu itu." kata Amel sambil memainkan pisau buah di tangan nya dan mengarahkan nya kepada Evan.
Wiwin masih berada di depan pintu apartemen Evan pun ketakutan. Amel memang keterlaluan dia tidak membiarkan gadis itu masuk ke dalam.
" Aku pamit dulu." kata Wiwin lalu bergegas masuk ke dalam apartemen nya.
" Ayo kita berangkat." ajak Evan.
Evan dan Amel kemudian pergi meninggalkan apartemen Evan menuju kota C. Saat di dalam mobil, Amel mengirim pesan kepada seseorang.
" Bereskan seorang wanita bernama Wiwin. Dia tinggal di apartemen YH kamar xxx."
" Baik Nona."
Setelah mengirim pesan kepada anak buah nya, Amel tersenyum puas.
" Apa yang ada di ponsel itu sehingga membuat mu begitu bahagia?"
" Tidak ada. Aku hanya mengirim pesan kepada Bagas untuk membasmi tikus pengganggu."
" Siapa? Wiwin?"
" Iya. Kamu keberatan?"
__ADS_1
" Untuk apa aku keberatan. Selama ini juga aku terganggu dengan kehadirannya. Jadi lakukan semau mu."
" Kenapa kamu tidak membereskan nya jika kamu merasa terganggu seperti kamu menghancurkan para gadis lain nya."
" Aku sedang mencari bukti tentang nya. Aku yakin dia salah satu bagian dari para musuh bisnisku."
" Kalau begitu biarkan aku yang bermain main dengan nya. Kamu jangan ikut campur."
" Apa yang akan kamu lakukan?"
" Kamu lihat saja nanti." Amel tersenyum licik.
" Mel, boleh aku bertanya sesuatu hal?" Evan lalu melakukan panggilan kepada Rangga. Karena tadi waktu Evan masih di dalam kamarnya, teman teman nya meminta Evan untuk bicara dengan Amel soal Vina. Dan sekarang mereka semua sedang berkumpul di Restoran Johan.
Di restoran M, setelah mendapat panggilan dari Evan, Rangga lalu menjawab panggilan itu dan menekan tombil loud speaker.
" Tentang apa?"
" Boleh aku bertanya soal Vina?" Mendengar Evan bertanya soal Vina, Amel lalu tertawa.
" Aku tahu, mereka semua pasti sudah membicarakan aku dan Vina kan."
" Iya, walaupun mereka ragu tapi semua nya percaya padamu." .
" Sebenarnya dulu Vina pernah hampir di lecehkan oleh beberapa pria di Paris. Waktu itu aku sedang ada di sana bersama Mike dan Niko. Niko yang menyelamatkan Vina dari para pria b******k itu. Setelah kejadian itu, cukup lama Vina trauma. Dia takut setiap melihat laki laki kecuali Niko. Karena Niko adalah penyelamatnya. Maka dari itu, setelah dia sembuh dari trauma nya dia selalu mengejar Niko. Sampai akhirnya dia jatuh cinta pada Niko. Dia sudah berapa kali mengungkapkan perasaan nya pada Niko, tetapi selalu mendapat penolakan. Bahkan Niko selalu menghindarinya. Karena itulah Vina meminta bantuan ku agar dia bisa mendekati Niko. Dan aku menyetujuinya dengan syarat dia harus mengganggu hubungan Rangga dan Mona." jelas Amel.
" Kenapa?" Evan heran mendengar Amel menyuruh Vina untuk mengganggu hubungan Kak Rangga dan Mona. Bahkan teman temannya yang sedang mendengarkan pembicaraan Evan dan Amel pun sama kaget nya.
" Dalam satu hubungan, janganlah ada orang ketiga di hati kita baik orang di masa lalu yang masih hidup ataupun yang sudah tiada, orang yang masih ada di hati kita selain pasangan kita sendiri, ataupun orang di masa yang akan datang yang akan hadir dalam hubungan tersebut. Sebelum memulai hubungan dengan pasangan kita, ada baiknya kita memastikan perasaan kita sendiri. Dan Kak Rangga sudah membuktikan itu."
Setelah Amel menjelaskannya, Evan lalu mematikan sambungan teleponnya. Karena ada yang ingin ia tanyakan kepada Amel.
" Lalu bagaimana dengan hati mu?"
" Jika aku bisa menjaga perasaan para sahabatku agar mereka tidak terluka, maka apa Kakak masih meragukan diriku? Salah satu contohnya membereskan tetangga ganjen mu itu."
Evan tersenyum, kemudian mengelus kepala Amel.
" Aku percaya padamu."
__ADS_1
***