
***
Malam hari di pulau ini sangatlah indah. Amel dan teman temannya menikmati malam ini dengan berbeque di halaman Villa yang menghadap langsung ke pantai. Suara ombak laut menambah indahnya suasana malam itu.
" Bian, bagaimana kondisi Bagas dan Roy." tanya Amel.
" Mereka sudah pulih Nona, saya sudah melepas alat medis di tubuh mereka. Besok juga sudah bisa bertarung." jawab Fabian.
" Kalau mereka sudah sehat, kita segera pulang. Kakekku sudah meminta kita untuk segera kembali. Mike, Niko kalian atur semua nya ya.."
" Baik Nona.."
" Nona, nanti setelah sampai sana kamu harus memeriksa keadaan mu di rumah sakit." kata Fabian yang khawatir karena setelah kecelakaan itu Amel sering mengalami sakit kepala. Apalagi sudah dua kali dia mengalami cedera di bagian kepalanya akibat kecelakaan.
" Aku tidak apa apa Bian." jawab Amel.
" Nona.." Dokter Fabian tidak melanjutkan perkataannya setelah mendapat tatapan tajam dari Amel. Amel tidak ingin membuat teman teman nya khawatir.
" Johan, kapan rencana pernikahan kamu dan Defa?" tanya Rangga.
" Kalian berdua akan menikah?" tanya Amel heran. Defa hanya menganggukkan kepalanya.
" Tiga bulan lagi kita menikah." jawab Johan.
" Mona.. Kayaknya Kak Rangga gak serius tuh dengan hubungan kalian berdua. Kamu yang pacaran sudah lama kok teman teman mu yang menikah dan tunangan duluan.." kata Amel tanpa dosa. Amel sengaja ingin memanasi Rangga dan Mona.
" Sepertinya juga begitu.." tambah Jessi.
" Mona, apa kamu percaya kepada kekasihmu ini?" tanya Amel.
" Jangan jangan dia punya cewek lain di luar sana." tambah Bella.
" Oh ya, aku baru ingat. Waktu di bandara aku ketemu dengan Vina yang baru pulang dari Paris." kata Amel lagi. Rangga melotot mendengar Amel menyebut nama Vina. Sedangkan teman teman Rangga hanya diam dan tersenyum memperhatikan para gadis itu mem abully teman mereka.
" Vina mantan pacar Kak Rangga?" tanya Bella.
" Iya Bell. Wah sekarang dia tambah cantik dan menarik bak model model internasional." kata Amel sambil memperagakan nya dengan tangan.
" Kok aku gak tahu ya kamu punya mantan bernama Vina." kata Mona ketus.
" Itu masa lalu yank. Kami pacaran waktu SMA, itupun hanya enam bulan. Kan hanya cinta monyet." jawab Rangga membela diri.
" Apa dia cinta pertama mu Kak?" tanya Mona. Rangga terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Vina memang cinta pertamanya. Apa Mona akan marah kalau dia mengetahuinya.
" Kalian bicara la berdua. Walaupun kejujuran itu menyakitkan, namun tidak mematikan. Kejujuran modal dari kebahagiaan dalam hubungan kalian." kata Evan lalu tersenyum kepada Amel. Evan tahu bagaimana hubungan Rangga dan Vina dulu. Dia tidak ingin sahabatnya terjatuh lagi seperti dulu. Apalagi jika terjadi kesalahpahaman di antara hubungan mereka berdua.
" Dalam hubungan juga harus saling percaya. Agar kalian berdua tidak saling menyakiti." tambah Rendi.
__ADS_1
" Ayo yank kita ke sana." ajak Rangga. Mona dan Rangga lalu pergi untuk berbicara berdua.
" Ternyata kalian berdua bisa berkata bijak juga ya." kata Steve lalu mendapat lemparan kaleng bekas minuman yang mereka minum.
" Dari mana kamu bisa mengenal Vina, Mel. Tidak mungkin kamu bertemu di bandara, bukannya keberangkatan kamu waktu itu jam dua dini hari." kata Riko. Amel, Jessi dan Bella tersenyum dan saling memberi kode.
" Aku curiga dengan senyuman kalian." kata Sandra melihat Amel, Jessi dan Bella satu per satu.
" Apa kalian harus merahasiakannya dari kami?" tanya Meisya.
" Dan darimana kamu tahu kalau Vina itu mantan Kak Rangga Bell. Sedangkan aku pacarnya saja tidak tahu." tanya Mona yang baru bergabung lagi bersama mereka.
" Aku balik ke kamar dulu ya, mau istirahat." kata Amel langsung kabur.
" Aku ke toilet dulu, udah kebelet nih." kata Jessi juga kabur dari sana diikuti dengan Bella.
" Waduh! Aku lupa harus mengirim email kepada perusahaan yang ikut tender mega proyek kami." Bella langsung berlari sebelum di interogasi sama Mona dan Rangga.
Teman temannya terbengong melihat mereka bertiga kabur dan berlari ke dalam villa.
" Mencurigakan..." kata Willy.
" Aku tidak puas jika tidak tahu kebenarannya. Mereka harus menjelaskannya sekarang juga." kata Mona lalu pergi menyusul ketiga sahabatnya itu.
" Aku juga penasaran dengan Burung Camar itu.. Ayo kita ikuti mereka." kata Sandra sambil menarik tangan Meisya dan Defa kemudian berlenggang meninggalkan para cowok di sana. Para cowok itu terbengong melihat ulah ke tujuh gadis itu.
" Lebih baik kita lihat apa yang terjadi di dalam." kata Johan.
" Iya, aku juga penasaran." kata Rendi. Kemudian semua cowok termasuk Fabian, Mike dan Niko juga ikut masuk ke dalam villa. Tetapi sampai di dalam villa, mereka heran melihat Mona, Sandra, Meisya dan Defa kebingungan.
" Ada apa yank?" tanya Rangga.
" Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Steve.
" Amel, Jessi dan Bella tidak ada di mana mana." jawab Mona.
" APAAA..."
" Mereka kemana?" tanya Steve yang kemudian mengusap kepalanya yang dipukul oleh Sandra.
" Kalau kami tahu mereka kemana, kami gak akan bingung kayak gini Kak." jawab Sandra kesal dengan Steve.
" Bukan gitu San.. maksud aku.."
" Stop! Lebih baik sekarang kalian bantuin kami cari tiga orang itu." kata Mona. Kemudian mereka pun berpencar mencari keberadaan tiga gadis itu. Bahkan para pelayan pun ikut mencari. Karena tidak ada satu orang pun yang mereka temukan, sekarang Mona dan teman temannya sedang berkumpul di ruang keluarga.
" Mike, Niko apa di villa ini ada ruang rahasia?" tanya Mona.
__ADS_1
" Saya tidak tahu Nona. Kalau kamu Niko." kata Mike.
" Saya juga tidak tahu Nona. Bisa jadi ada Nona, karena Nona Amel sendiri yang merancang villa ini." jawab Niko.
Di saat semua orang bingung mencari mereka, Amel, Jessi dan Bella saat ini sedang bersantai di rooftop menikmati malam yang bertaburan dengan bintang.
" Keren banget pemandangan dari sini Mel." kata Jessi.
" Ya, bahkan kita bisa melupakan masalah kita sejenak dengan menghabiskan waktu di sini." kata Amel.
" Mel, apa kamu punya masalah? Aku perhatikan kamu bersikap berbeda dari biasanya." kata Bella.
" Aku sebenarnya bingung dengan rencana orang tua kami." kata Amel.
" Rencana apa?" tanya Jessi.
" Orang tua aku dan orang tua Kak Evan merencanakan pernikahan kami dua bulan lagi." jelas Amel.
" Bukannya kalian akan bertunangan dulu?" tanya Bella.
" Setelah aku mengalami kecelakaan sebelum pertunangan itu terjadi maka Kakek tidak mengizinkan acara pertunangan itu dilanjutkan. Kami disuruh langsung menikah saja." kata Amel.
" Terus apa yang membuatmu ragu Mel?" tanya Jessi.
" Apa kamu tidak menginginkan pernikahan ini?" tanya Bella. Amel hanya mengangkat bahunya.
" Kak Evan sangat mencintaimu Mel. Aku yakin dia pasti bisa membuatmu nyaman bersamanya. Cobalah untuk membuka hatimu." kata Jessi.
" Bukannya kamu sendiri yang bilang ke kita bahwa lebih baik dicintai daripada mencintai. Apalagi jiga seorang laki laki sangat mencintai kita, dia tidak akan menyakiti hati kita." kata Bella.
" Tapi apa itu adil untuknya?" tanya Amel.
" Apa Kak Evan sudah mengetahui perasaanmu yang sebenarnya?" tanya Bella.
" Kami sudah membicarakannya. Dan dia tidak mempermasalahkannya." kata Amel.
" Terus kalau begitu apa lagi yang kamu khawatirkan." kata Jessi lagi.
" Jika kamu kasihan, maka belajarlah mencintainya." tambah Bella.
" Kalian berdua cocok juga jadi pakar cinta." canda Amel.
" Eh, yang lain pasti kebingungan mencari kita." kata Bella.
" Biarin saja kita kerjain. Malam ini kita tidur di sini saja. Kita lihat reaksi mereka besok pagi." kata Amel. Lalu mereka tertawa bersama.
***
__ADS_1