
Kediaman Keluarga Mahandika
Mobil Amel sudah terparkir di halaman rumah orang tuanya. Amel masih di dalam mobil sambil memperhatikan rumah itu.
" Ada apa Nona?" tanya Bagas.
" Lihat di sana!" Amel menunjukkan ke arah mobil yang baru tiba di kediamaan orang tuanya.
" Itu kan mobil Tuan dan Nyonya Castello." kata Roy.
" Jadi mereka tamunya.. Hmm." kata Bagas dengan mengangguk anggukkan kepalanya.
" Ada apa?" tanya Amel.
" Jangan jangan Nona mau dijodohkan dengan Tuan Muda Castello." sahut Bagas.
" Gaji mu mau aku potong." ancam Amel.
" Nona mau taruhan?" tanya Bagas menantang majikannya. Roy yang mendengar mereka berdebat hanya menggelengkan kepalanya. Amel lalu berpikir tidak mungkin dia akan dijodohkan, karena orang tuanya selalu memberi dia kebebasan termasuk dalam urusan memilih pasangan.
" Baiklah. Jika kamu benar, bulan ini gaji mu aku naikkan dua kali lipat. Tapi apabila yang kamu katakan itu tidak benar, maka bulan ini gajimu akan aku potong lima puluh persen. Bagaimana."
" Okey.. Aku setuju." kata Bagas penuh keyakinan. Lalu Amel masuk ke dalam rumahnya meninggalkan ke dua pengawal pribadinya itu.
" Selamat malam.." sapa Amel.
" Selamat malam.." jawab orang tua Amel dan orang tua Evan bersamaan.
" Kamu mandi dulu sana. Nanti kita makan malam bersama." kata Mama Amel. Seperti biasa, tanpa menjawab Amel berlalu menuju kamarnya. Amel memang tidak suka basa basi. Dia melakukan itu agar orang tidak menyukainya. Sebenarnya dia gadis yang ramah dan sopan.
" Maaf atas sikap Amel, dia memang seperti itu." kata Papa Amel yang merasa tidak enak hati atas sikap Amel tersebut.
" Tidak apa apa, kami sudah mengenal Amel semenjak dari orok. Kami sudah tahu akan sifat nya itu." jawab Tante Maura.
" Co, apa keputusan kita ini benar?" tanya Om Sandy.
" Aku sendiri bingung San, aku takut dengan sifat Amel yang begitu, dia tidak akan menerima keputusan ini." jawab Papa Amel.
" Amel pasti akan menerima keputusan ku ini." jawab Kakek Amel yang baru datang bersama Evan.
" Papa kenapa bisa barengan sama Evan?" tanya Mama Amel.
" Kita ketemu di depan Tan.." jawab Evan.
" Baiklah karena semua nya sudah hadir, mari kita ke ruang makan." ajak Tuan Zeco. Mereka semua kemudian menuju ruang makan.
" Dimana cucuku?"
__ADS_1
" Aku di sini Kek." kata Amel yang turun dari lantai dua.
Mereka kemudian makan malam dengan hening. Setelah selesai makan malam mereka melanjutkan perbincangan di ruang keluarga. Kakek Amel memberi kode kepada Papa Evan dan menantunya agar memulai pembicaraan.
" Mel, ada yang ingin Papa sampaikan." Amel melihat ke arah Papanya.
" Begini Nak. Kami para orang tua sepakat ingin menjodohkan anak anak kami." jelas Om Sandy gugup.
" Kami tidak memaksa kalian, kalian berdua bisa memikirkannya dulu." tambah Papa Amel. Tuan Zeco berbicara hati hati kepada Amel, walaupun ini semua adalah rencana kakek Amel yang sudah di ketahui oleh Evan tapi mereka berpura pura seakan akan Evan tidak mengetahuinya.
Amel hanya diam saja memperhatikan mereka semua. Amel bukanlah orang yang bisa dibohongi. Melihat sikap mereka semua, dia sudah tahu kalau itu rencana kakeknya. Karena hanya Kakek dan Neneknya lah yang mengetahui rahasia tentang kisah cintanya. Melihat Amel yang hanya diam, membuat mereka semua was was.
" Teknik yang bagus. Apa Kakek yakin?" tanya Amel kepada Kakeknya.
" Apa maksud kamu Nak?" tanya Mama Amel.
" Kakek tahu yang aku maksud. Iya kan Kek?"
" Kakek tidak mengerti maksudmu.." Kakek Amel mengelak karena tidak mau membuat cucunya kecewa. Amel lalu tersenyum.
" Kakek adalah orang yang pintar dan licik. Semua orang dalam dunia bisnis mengetahui itu. Mungkin selama ini tidak ada yang bisa melawan kelicikan Kakek. Tapi apa kakek lupa kalau cucumu ini mewarisi segala sifat yang Kakek miliki."
" Baiklah, sekarang Kakek memberimu tantangan. Kakek tahu kalau kamu bukanlah seorang pengecut." Kakeknya tersenyum licik.
" Berapa lama waktu yang Kakek targetkan?" Kakek Amel cukup terkejut dengan pertanyaan itu.
" Hahaha... Apa Kakek yakin?" Mereka yang ada di situ hanya mendengarnya saja, tidak ada yang berani mencampuri perdebadatan kakek dan cucu itu. Mereka juga tidak mengerti kemana arah obrolan ke dua orang itu. Kenapa pembicaraan perjodohan bisa lari menjadi obrolan bisnis.
" Itu waktu yang sangat cukup." jawab Kakeknya.
" Baiklah, Kakek atur saja semuanya. Aku pergi dulu. Selamat malam." Amel lalu berdiri dan berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan sekelilingnya.
" Amel.." Mamanya kebingungan karena obrolan mereka belum selesai dia sudah pergi.
" Biarkan saja Dis dia pergi." kata Kakek.
" Tapi Pa bagaimana dengan perjodohan ini?" tanya Mama Amel.
" Bukannya kalian semua sudah mendengarnya sendiri kalau Amel sudah setuju. Saya kan sudah bilang, bahwa Amel akan menerima keputusanku ini." jelas Kakek.
Orang tua Amel, orang tua Evan, bahkan Evan sendiri kaget dan bingung mendengar penjelasan Kakek.
" Kapan Amel mengatakan setuju nya Kek?" tanya Evan.
" Iya Pa. Bukannya dari tadi Amel dan Papa ngomong bisnis dan tantangan gitu." kata Mama Amel. Kakek hanya tersenyum melihat mereka semua kebingungan.
" Memang hanya Amel seorang yang mengerti jalan pikiran ku. Sudahlah tidak usah kalian pikirkan. Yang penting kalian urus pesta pertunangan Evan dan Amel. Aku udah lelah dan mau pulang." Kakek Amel lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
" Kakek dan cucu sama saja." omel Mama Amel.
" Van, kamu harus siap lahir batin menghadapi calon istrimu itu." ejek Papa Amel.
" Dis.. Apa benar yang dikatakan Papa mu kalau Amel menyetujuinya?" tanya Mama Evan.
" Kita percayakan saja kepada Tuan Bimantara...."
" Baiklah kalau begitu kami pamit dulu." kata Papa Evan.
" Untuk persiapan acara pertunangannya nanti kita bicarakan lagi." tambah Papa Amel. Evan dan orang tuanya lalu pamit pulang meninggalkan kediaman keluarga Mahandika.
***
Di dalam mobil, Amel hanya diam memperhatikan jalan. Bagas dan Roy saling pandang melihat kelakuan majikannya itu.
" Bagas.."
" Iya Nona.."
" Bulan ini gajimu aku naikkan dua kali lipat."
" Jadi Nona benar benar dijodohkan?" tanya Bagas tidak percaya.
" Hmm.."
" Apakah Nona menyetujuinya?" Kali ini Roy yang bertanya.
" Kakek sudah merencanakan semuanya. Apa aku bisa melawannya?"
" Bakalan makan gratis lagi nih.." kata Bagas yang kemudian mendapat pukulan dari Roy.
" Tiap hari juga kamu makan gratis."
" Oh iya ya.." Bagas menggaruk kepalanya sambil cengengesan.
" Bagas...Kamu gak ada niat cari kekasih?" tanya Amel tiba tiba. Bagas yang sedang minum langsung tersedak. Roy dan Amel lalu mentertawai Bagas.
" Kamu masih normal kan Gas?" tanya Roy. Giliran Bagas yang memukul Roy.
" Aku juga berpikiran yang sama dengan Roy." kata Amel tanpa dosa. Bagas membulatkan matanya mendengar perkataan Amel.
" NONA CAMELLA BIMANTARA MAHANDIKA SAYA MASIH NORMAL YA.."
Roy lalu tertawa terpingkal pingkal melihat Bagas yang menahan kekesalannya.
***
__ADS_1