
Saat sedang makan.
" na ,, ,,, tadi gue di pecat dari kerjaan gue, padahal baru sehari gue kerja " kata yuta memulai obrolan.
" gue kan udah bilang gak usah kerja ortu lo udah kirim uang tiap bulannya, lagian lo juga gak pernah kerja berat. Jadi gak usah cari penyakit, jadi gini kan akhirnya. " kata una. " lo masih marah ya sama orang tua lo ? " lanjut una.
Yuta hanya diam sambil melanjutkan makannya.
" ta ,, mau sampai kapan lo seperti ini terus ? mereka orang tua lo " tak sempat melanjutkan ucapannya una di kagetkan oleh gebrakan meja yang di lakukan oleh yuta. Tak menyelesaikan makannya yuta pergi meninggalkan una sendiri di meja makan.
Una sedikit menyesali omongannya sudah tau yuta tidak suka kalo membahas orang tua nya, una tetap saja melakukannya. Una bermaksud ingin menyatukan dia dan orang tuanya yang sudah sejak SMP yuta pergi meninggalkan rumahnya.
Meski tak pernah telat mengirimi yuta uang tapi tak pernah una mendengar ortunya menghubungi yuta semenjak yuta keluar dari rumah. Una semakin mengerti kalo bisnis lebih penting dari pada seorang yuta yang menjadi anak satu satunya di keluarga itu.
Sambil berjalan di pinggir jalan tanpa arah dan tujuan pikiran yuta melayang entah kemana. Rasa yang dia rasakan pun tak tentu, yuta slalu merasa menjadi anak yang di buang orang tuanya. Karna orang tuanya tak pernah ada di sisinya. Sejak kecil yuta sudah sering di tinggal ortunya melakukan bisnis di dalam dan luar negeri. Hanya komunikasi via VC yang sering dia gunakan untuk melepas rindu.
__ADS_1
Suatu hari yuta kecil senang mendengar ortunya pulang dari luar negri. Sesampainya ortu di rumah apa yang diharapkan yuta tidak pernah terjadi. Yuta kecil sangat ingin bisa kesekolah di antar sama ibu nya, bisa makan pagi, siang dan malam bersama. Bisa menikmati hari libur untuk liburan bersama ortunya.
Tapi setiap ortunya pulang sampai di rumah yuta kecil sudah tertidur karna sudah lurut malam baru nyampai rumah. Dan paginya sebelum yuta bangun ortunya sudah berangkat kerja lagi.
Tak pernah ada waktu buat yuta tak ada kasih sayang buatnya. Hanya kasih uang yang bisa mereka berikan. Memang dengan uang semua bisa di beli tapi uang tak bisa membeli kasih sayang.
Terus melangkah yuta sampai tak menghiraukan ada tiang listrik di depannya. Saat kepalanya akan menabrak tiang listrik tiba tiba ada tangan yang menghalanginya.
Sontak saja membuyarkan pikiran yuta yang dari tadi tak di sana.
" Lagi mikirin apa sampai tiang listri segitu gak keliatan " kata bina sambil senyum
" e ee enggak mikirin apa apa kok " kata yuta
" memangnya mau kemana " kata bina
__ADS_1
" gak kemana mana kok ,,,, gue jadi lupa mau kemana karna kebentur tadi " kata yuta sambil senyum " lo sendiri ngapain disini " lanjutnya.
" gue lagi nyari seseorang yang katanya tadi waktu makan ngilang gitu aja " kata bina
" hah ,,, apa ,,, una ya , apa dia yang menghubungimu " kata yuta
" iya , dia khawatir ma lo " kata bina
" dia yang bikin gue kaya gini kenapa orang lain yang di repotin " kata yuta pelan
" lo bilang apa barusan ? gue gak merasa di repotin kok tenang aja " kata bina
Yuta hanya senyum merasa tidak enak hati sama bina karna sudah merepotkannya.
" mau jalan jalan ? " ajak bina
__ADS_1