
**Setiap karya akan dipajang
Setiap karya dapat diterima
Setiap Karya bisa juga di tolak
Butuh waktu singkat maupun lama
Butuh pemikiran instan maupun singkat
Keberhasilan sebuah kreativitas
Hasil berfikir dapat terlihat baik berupan tulisan maupun sebuah benda nyata baik itu bisa terlihat, terdengar, dirasakan, dihirup*
Sentuhan kreativitas
Kreativitas akan berharga, bernilai bagi orang-orang yang menyukai, mengerti, mencintai
Berjuta sel otak dalam merangkai sebuah karya
Maha kuasa Allah dan segala kekuasaan-Nya
Maha sempurna Allah dan pemilik segala kesempurnaan (MasyaAllah)
Maha indahnya Allah dan pemilik segala keindahan (Subhanallah*)
Allah yang menggerakan hati, lisan, penglihatan agar mau menyaksikan sebuah karya yang kau buat.
Berjajar berbagai rancangan bangunan berskala kecil di fakultas.
Hilir mudik mahasiswa berlalu lalang.
Vivi berjalan sendirian, akan tetapi sesungguhnya tidak pernah sendiri karena yang keduanya adalah Allah, dan jika bertiga maka keempatnya Allah, begitupun seterusnya, Allah selalu ada.
Aku satu dari sekian banyak orang penikmat keindahan.
"MasyaAllah bagus-bagus, yaa Aku percaya bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan ikhtiar seorang hamba, pasti dengan ketekunan dan motivasi serta semangat pasti bisa, Tidak ada tidak mungkin selama ikhtiar yang dilakukan maksimal." Vivi bermonolog.
"Hai" Sapa Ifah yang menghampiri Vivi sambil menepuk bahu Vivi
"MasyaAllah" Vivi terperanjak kaget dengan kehadiran Ifah yang tiba-tiba karena saat itu Ia sedang fokus melihat-lihat.
"Fah Aku kira siapa, kaget tauuu"
Vivi menggembungkan Pipinya.
"Hehe, maaf.....sengaja" Menepuk bahu Vivi memasang wajah lucu agar Vivi memaafkannya, kemudian menghadap Ke arah Vivi dan mengatupkan dua tangan.
"Sebel" Vivi memasang wajah cemberut karena kesal, Ia sedang fokus dengan apa yang dilihatnya di depan mata, sehingga tidak melihat ada orang lain lewat.
"Jangan marah dong?,, Iya yaa..plis" Ifah memasang wajah manis.
"Iyaa..." Akhirnya Vivi luluh.
"Vii maaf yaa, bercanda, kan sesama muslim kita harus saling memaafkan dan terpenting adalah meminta maaf" Berjalan beriringan dengan Vivi melihat-lihat galeri.
"Karena seorang muslim tidak boleh bertengkar lebih dari tiga hari" Vivi menambahkan.
"MasyaAllah" Batin Vivi melembut.
"Hemmm, gemesss, makin sayang deh sama kamu" Keduanya saling meraup kedua pipinya dan tertawa bersama "Hahahaa".
"Alhamdulillah Ya Allah Kau kirimkan sahabat yang baik" Ucap keduanya dalam hati.
"Boleh minta tolong, Fotoin Aku, hehe buat kenang-kenangan." Vii memberikan ponselnya ke Ifah.
"Baiklah". Ifah mengambil ponselnya dari Vii.
"Hitung yaa" Vii bergaya.
"Satu...dua...tiga..cekrek" Ifah memotret Vii.
"Lagi yaa, gak kerasa." Vii bergaya.
"Satuuu...duaaa..tigaa..cekrek." Ifah memotret Vii.
"Gantian dong, mengembalikan ponsel kepada Vii, dan menyerahkan kepada Vii.
"Satuu...dua...tigaaa.... Cekrek". Vii memotret Ifah.
__ADS_1
"Selfii yuu" Ajak Vii.
"Ayo" Vii mendekat ke arah Ifah.
"Cekrek...cekrek...cekrek.."
Kaduanya bergaya di depan kamera.
"Fah, Kamu suka model yang mana?"
Melihat ke arah Ifah, Ifah memandangi salah satu.
"Kalo Akuu sukanya....." Vii menggantungkan kalimatnya.
"Sukanyaaaa.......?" Ifah mengangkat kedua alis menunggu jawaban Vivi.
"Sukanya.... gak ada di sini. Haha". Menutup mulutnya dengan tangan.
"Ihh...orang nungguin, Kamu mah, gantung." Ifah berlalu hendak meninggalkan Vi.
"Fah...tunggu". Vii melambaikan tangan kepada Ifah. "Tuh kan marah". "Fah tunggu fah" Berlari mengejar Ifah.
"Akhirnya...sampai tepat di belakang Ifah." "Kan Kamu juga marah"
Ifah masih memasang wajah cemberut.
"Ahahahahaha....kena deh...makannya jangan suka jahil". Ifah merangkul pundak Vi.
"Iya...iya...karma deh Akyuh..."Vii berbicara lebai. "Syukurlah..." mengusap dada "Aku kira Kamu marah".
"Enggak dong...buat apa Aku marah. Rugi kali" Memasang wajah manis dengan mengedip-ngedipkan mata.
"Yakin rugi?, Aku yang lebih rugi" Kenapa tuh mata...Cacingan?" Vii bergidik ngeri.
"Iyaa Aku....Menggantungkan kalimatnya...cacingnya Kamu! Tuduhnya melihat ke arah Vii.
"Sayang makssudnya?" Jawab Vi dengan percaya diri.
Terdengar suara gemuruh perut Vii. "Kruyuk...krok...".Keduanya salih memandang dan tertawa bersama. "Hahaha"
"Hehehe..Sepertinya Cacing di perutku meronta-ronta minta di isi". Menggandeng lengan Ifah.
"Beli yang buat kenyang".
"Roti kukus." Keduanya berucap bersamaan, dan tertawa. "Hahaha".
"Kita kayaknya jodoh deh" Vi masih menggandeng lengan Ifah.
"Iyaa...Kita berjodoh dalam persahabatan".
Vii menganggukkan kepala tanda setuju.
Keduanya telah tiba di tempat penjual Roti Kukus.
"Rasa apa neng?" Tanya Si Abang.
"Rasa yang pernah ada, Vi berceloteh kemudian segera menutul mulutnya "ups" Ifah menyikut Vii.
"Rasa Susu cokelat satu, Kamu?" Bertanya Ke Vivi.
"Susu Keju" Vii mencari uang di Sakunya. Kemudian menyerahkan kepada Ifah.
"Satu-satu ya Bang". Ifah Menerima uang dari Vii dan mengambil uang di sakunya.
"Siap. Tunggu ya Neng" Abang menyiapkan pesanan kedua gadis tersebut.
"Silahkan" Abang menyerahkan Roti pesanan.
"Makasih" Ifah mengambilnya dan membayar.
"Sama-sama" Jawab Abang roti dengan ramah.
Ifah Mengambil pesanannya dan menyerahkan pesanan Vii.
"Yuu makannya di Kelas aja. Bentar lagi masuk." Ajak Ifah.
Dalam perjalanan mereka bertemu Lala.
"Haii" Sapa Lala.
__ADS_1
"Haii..Baru kesini Laa?" Tanya Vii.
"Iyaa..Kalian juga baru datang?" Membetulkan tasnya.
"Enggak, Kita tadi habis melihat rancangan bangunan". Ifah menjawab sedangkan Vij menganggukkan kepala.
Ketiganya berjalan beriringan menuju kelas.
Setelah ketiganya sampai.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh..."
Jawab teman mereka yang berada di dalam kelas.
"Alhamdulillah...Duduk dulu." Vii menyandarkan Punggungnya di kursi.
"Coba kita liat hasilnya yang tadi." Vii membuka galeri. Tangannya menggulir-gulirkan foto-foto.
"Astagfirullah" Vii tercengang.
"Astagfirullah" Kenapa Vii?" Ifah melihat ke Vii dengan kaget.
"Ini aapaaa?" .Vii..memperlihatkan hasil jepretan Ifah...".Aaah...Hemmmm" Mengembungkan Kedua pipinya.
"Hehe.." Ifah tersenyum simpul.
"Koo ada orang lainnya sih...".
Vii menggembungkan kedua pipinya.
"Yaa gimana...kan bukan cuma Kita yang disana ada orang lain juga. Lagian Orangnya gak minggir pas Aku foto Kamu".
"Iya sih..tapi masa ini gak ada Akunya yang sendiri."
"Gimana mau foto lagi?" Tanya Ifah. Padahal Ifah tau pasti Vii tidak akan mau lagi diajaknya untuk mengulang foto.
"Enggak ah. Yaa udah gak apa". Vii tersenyum kecut ke arah Ifah.
"Makasih" Ucap Ifah ke arah Vii..Untung aja mukanya gak kelihatan jelas"
"Untung yaa,, Hehe"
"Untung...Untung...Buntung yang ada." Vii berdecak kesal.
"Eitsss jangan marah. Jangan marah bagimu syurga" .
"Astagfirullah" Vii mengusap dada.
"Makasih Fah..sudah mengingatkan Aku" Vi merangkul Ifah.
"Iya sama-sama" membalas rangkulan Vii.
"Udah sekarang lebih baik di makan dulu kuenya agar gak pingsan, hehe," Ifah menghibur.
"Baiklah" Vii membuka kuenya dan memakannya "Bismillah"
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar."
Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka."
Setelah satu gigitan "Lala mau?" Vi mengarahkan rotinya kepada Lala.
"Makasih, buat Vi aja" Tolak Lala.
"Baiklah" Vii meneruskan makannya.
Tidak terasa Roti yang tadi berada di tangan Vi telah habis.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ
"Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa minal muslimiin."
"*Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami termasuk dari kaum muslimin."
❤Terimakasih atas dukungannya ❤*
__ADS_1