Cinta Kepentok Skripsi

Cinta Kepentok Skripsi
Butuh


__ADS_3

Terdengar suara rintihan dari kamar seorang ganis manis, "huuuu, uuuuuu, uuuu"


Vii mengeratkan selimut, "srek", Mentari telah tinggi di upuk timur, cuaca di luar sangat cerah. Namun Vii tidak merasakan itu, Ia menggigil kedinginan namun juga merasa panas.


Dirumah begitu sunyi, karena Moms telah berangkat kerja, sedangkan Dady masih berteman dengan selimutnya.


Vii merasakan badannya tidak berdaya, tanpa sadar air telah membasahi pipinya, mengalir deras, "kruyuk...kruyuk...kruyuk"


Vii merasakan lapar, namun tidak mampu untuk bangkit, rasanya seluruh badan sakit dan lemas.


"Tek...tek...tek." Suara Penjual keliling. Beli pak tunggu, mengambil mangkuk dulu.


Ia memaksakan badannya bangkit, kedapur dan mengambil mangkuk, mengahampiri sang penjual.


"Pak, ini jangan pakai kecap dan pedas pak."


"Baik", sang penjual menyendok bubur dari wajan yang mengepulkan asap, memberi minyak sayur, taburan bawang goreng, irisan daging, dan kacang kedelai.


Kacang hampir ditumpahkan ke mangkuk, "stop" cegah Vii, dengan gerakan tangan mencegah kedelai mendarat.


"Huh", Vii membuang nafas, pedagang terperanjat kaget. Kaget Saya, mengembalikan kacang kedelai ke toples, dan menutup rapat.


"Maaf Saya lupa", Vii bergeming.


"Pakai seledri tidak?" tanya penjual tersebut.


"Ia pakai", Vii menahan bobot tubuhnya karena lemas, dan memijat keningnya.

__ADS_1


"Srek", penjual menaburkan seledri ke mangkuk, kemudian menyerahkan kepada Vii, "Silahkan" ujarnya dengan menampilkan senyum ramah.


"Terimakasih", Vii menyerahkan selembar uang kepada sang penjual.


"Hati-hati panas" Ucap sang penjual, "Sama-sama", tangannya mengambil Uang dan menyimpannya pada laci.


"Sepertinya Ia sakit, Kasihan sekali, semoga Ia lekas sembuh." Sang penjual bermonolog dan berlalu pergi.


Vii berjalan cepat kerumahnya, menyenderkan dirinya pada kursi.


Vii segera menyendok buburnya dan memasukkannya kedalam mulut, tanpa mengaduk. Karena Vii bukan tim aduk bubur.


Vii tadi subuh telah bangun untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslin yaitu solat subuh, kemudian tidur kembali karena merasa tidak enak.


Vii menyendokkan bubur ke mulutnya, Ia memaksakan makan karena tidak ingin sakit berkepanjangan, hingga tidak terasa buburnya telah habis. "Alhamdulillah", Vii mengambil air hangat dan meminumnya. Berjalan ke westafel dan menyimpan mangkuk dan gelas kotor. Kemudian setengah berlali ke kamar.


"Ya Allah, Huuuuu, uuuuu", Ia mengeluarkan suara-suara, karena Ia rasa jika Ia mengeluarkan suara maka sakitnya akan sedikit menghilang, Namun dalam hati Ia berdzikir "astagfirullah, astagfirullah, lahaula wala quwwata illabillahil"aliyyil 'adzim.


"Sedih baget, Moms gak ada, suami belum ada, Uuuu sepiii, ingin rasanya ada yang membelai sayang, memberikan sentuhan-sentuhan hangat, mengelus secara perlahan, atau sekedar memeluk." "Astagfirullah", Vii tersadar dari khayalannya, wajar saja Vii di usinya yang cukup ia membutuhkan pasangan. "Ya mukolibal qulub tsabit qodami 'ala dinik, Ya Allah palingkan Aku kepada agamamu aamiin", ucap Vii.


Akhirnya Vii memeluk guling, dan meringis " Uuuuu, uuuu, uuu"


Vii mengeratkan selimut, dan rasanya masih kedinginan.


Vii Akhirnya terlelap dalam tidurnya. Suara Adzan membangunkan dari tidurnya yang seperti kepompong, karena selimut membalut hampir seluruh tubuhnya, Ia bangkit dan melaksanakan solat dzuhur kemudian tibur kembali.


Badannya masih merasakan panas dingin, Vii tidak suka memakan obat, karena tidak mau ketergantungan, fikirnya, namun urusan makan jangan khawatir, Vii akan tetap makan.

__ADS_1


Apabila Ia tidak sanggup makan artinya sakitnya sedikit serius. Ia tidak pernah sakit yang lama, karena pola makannya yabg teratur dalam kondisi apapun, tidak akan mengganggu seleranya untuk makan.


"Dert...dret...dret..." Suara telphon bergetar membangunkan Vii tari tidurnya. Moms tertera di layar kaca handphonnya.


"Assalamu'alaikum sayang ingin di bawakan apa?" tanya sang Ibu


"Wa'alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh..."


dengan suara seraknya.


"Sayang kamu kenapa, sudah makan?"


sang ibu khwatir.


"Alhamdulillah sudah, dibawakan buah saja, dan Moms cepatlah pulang."


Air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya.


"Baiklah, tunggu yaa sayang, moms sebentar lagi akan sampai."


Moms khawatir terdengar suaranya yang sedikit bergetar.


"Baiklah"


Ucap Vii lemah


"Clek" suara dari gawai Vii. Tanda panggilan berakhir.

__ADS_1


Air mata Vii tiada henti mengalir, Dia sangat membutuhkan seseorang disampingnya.


__ADS_2