Cinta Kepentok Skripsi

Cinta Kepentok Skripsi
Mengikhlaskan


__ADS_3

"Ceklek" suara pintu yang terbuka menandakan sang mons telah tiba di rumah.


"Assalamu'alaikum...."


ucapnya dengan senyum yang mendamaikan. "Brug" Moms menyimpan barang bawaannya, ke dapur. Moms tidak menampakkan wajah muramnya meskipun kadangkala usahanya sedang sepi.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh...." Hai...lirihku pelan, Ku sambut kedatangannya, ku raih tangannya, dan ku cium. Tangan yang telah mulai kehilangan dagingnya, tangan yang telah membuat Aku hingga di titik ini, sebesar ini.


"Sayang, udah makan?" pertanyaan yang seringkali Momsku lontarkan setibanya Ia di rumah.


"Sudah, tadi Aku memasak makanan yang ada di kulkas."


"Nyam" Ku lihat Moms sudah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Hmm lumayan". Gumamnya.


Kugelengkan kepala dan tersenyum simpul.


"Moms, Lapar sekali apakah ada makanan yang di bawa?" tanya sang dady datang, dari arah luar, dengan pakaian yang kotor entah apa yang telah di lakukannya.


"Ada, lihat saja" Tunjuk Moms pada tas yang terletak di meja dapur.


Jika ada yang bertanya kenapa mencari makanan, bukankah Vii baru masak, jawabannya adalah karena Vii memasak makanan yang mana bukan kesukaan Dadynya.


"Srek" Dady membuka barang bawaan dan memakannya dengan lahap.

__ADS_1


Jejak kaki nampak jelas pada lantai yang putih.


Ku gelengkan kepala, Ku ambil lap kemudian ku pel.


Moms berlenggok ke kamar, kemudian membersihkan diri.


"Alhamdulillah, Hah kenyangnya" Ucap dady dari arah dapur hendak berlenggang ke kamar.


"Stop it, dady plis, bisakan duduk terlebih dahulu, Aku akan ambilkan sandal.


"Yaa baiklah" Ucap dady sambil memainkan Hpnya.


Vii berlenggang ke rak sepatu dan memberikan sandal kepada dady, dan berlenggang masuk ke kamarnya.


"Moms apakah sudah selesai di kamar mandi, tolong ambilkan baju dady," Teriaknya.


"Moms cepat, dady sudah gerah." Teriaknya lagi.


"Ceklek" suara pintu kamar mandi terbuka, Moms telah rapih dengan setelan rumahnya, lengkap dengan daster dan jepit rambutnya.


"Ceklek" Moms masuk ke kamarnya dan membawa pesanan dady.


Moms adalah sosok yang mampu menahan semua keresahan hati, namun kadang kala moms juga mengeluarkan unek-uneknya karena moms juga hanyalah manusia biasa, seorang istri dan ibu yang luar bisa, namun tetap memiliki emosi juga.


Ku merenung dengan semua keadaan yang ada, yang mana peran yang seharusnya dipikul seorang kepala keluarga yaitu dady, namun harus seorang istri yaitu momy yang harus menanggung. Yang mana wanita memiliki hati yang rapus dan mudah terluka, meski fisik mampu bertahan.

__ADS_1


"Yaa Allah jika perceraian adalah yang terbaik, maka mudahkan keduanya saling mengikhlaskan melepaskan, namun jika memang masih ada kesempatan tolong beri stok kesabaran yang tidak berkesudahan, dan beri hidayah kepada dady agar sadar akan hak dan kewajiban sebagai seorang hamba dan kepala keluarga aamiin."


Kalimat pertama mungkin sedikit sadis, namun lebih sadis lagi apabila harus melihat orang yang berjalan di atas duri, padahal masih ada jalanan yang rata dan aman.


Seringkali diri ini mengingat keburukan orang lain, kejahatan orang lain, kejelekan orang lain, kesalahan orang lain kepada diri ini, Namun mengapa tidak sadar, seringkali lupa keburukan diri ini kepada orang lain, kejahatan apa yang sudah diri ini lakukan kepada orang lain, kejelakan yang telah dilakukan kepada orang lain, kesalahan yang telah dilakukan, berulang kali, bahkan mungkin rasa sakit yang orang lain rasakan hingga bagai tersayat, tertusuk, dan sangat menyakitkan. Namun tidak pernah Ia nampakkan.


Kenapa sibuk memikirkan perilaku orang lain kepada diri ini, perbuatan orang lain, kenapa harus fokus kepada orang lain, kenapa tidak sibuk memikirkan perilaku diri ini kepada orang lain, apakah orang lain suka, apakah orang lain tidak akan terluka, apakah tidak akan ada luka psikis jika diri menyakiti secara lisan, sevara verbal, bahkan tulisan, yang kata orang lidah tak bertulang, lebih tajam daripada silet.


Wahai diri sadarlah, cobalah lihat dari berbagai sudut pandang, cobalah lihat ke cermin. Sudahlah jangan sibuk memikirkan perilaku, ucapan, orang terhadap diri, jangan sibuk memperburuk diri, tapi sibuklah memperbaiki diri, lakukan yang terbaik, dan yang paling bagus adalah lakukan kebaikan kepada orang lain karena Allah suka kebaikan, jangan mengharap imbalan, ingin di balas budii, berfikir seribu kali jika ingin menyakiti orang lain hingga pada akhirnya pada tahap mengikhlaskan.


Berfikir sebelum berucap, berfikir sebelum bertindak, berhati-hati menjaga lisan, berhentilah melakukan hal yang sia-sia.


Kejahatan besar bukanlah hanya dilakukan dengan menyakiti fisik, tindakan, tapi menyakiti perasaan secara lisan adalah bentuk kejahatan pula.


Orang lain mungkin berbesar hati, bersabar, namun bukankah setiap jiwa juga terdapat emosi, setiap jiwa juga memiliki hati, setiap jiwa juga memiliki ingatan.


Bukan berarti bersama orang terdekatmu, sehingga diri bebas berargumen, mengeluarkan segala jenis emosi.


Tidak bisakah untuk menahan diri tidak mengungkapkannya, tidak sadarkan bahwa orang lain juga memiliki emosi dan perasaan. Tidak bisakah mengikhlaskan.


Jangan sampai menyesal, apakah harus ditinggalkan bahkan kehilangan untuk sadar seberapa berarti orang yang ada di dekatmu, disekitarmu. Seperti sepenggal lagu "kalu sudah tiada baru terasa".


Kenapa tidak menikmati setiap moment, kenapa tidak bersabar, bukankah "Allah mencintai orang-orang yang sabar".


Kenapa tidak memaafkan bukankah "Allah maha pemaaf".

__ADS_1


"Mungkin itu semua mudah diucapkan, harus mencapai derajat keimanan yang cukup untuk merealisasikannya".


Itulah yang Vii rasakan, "mungkin secara perlahan Aku akan mencobanya. Mengikhlaskan".


__ADS_2