Cinta Kepentok Skripsi

Cinta Kepentok Skripsi
Teringat


__ADS_3

"Tik...tik...tik" Gemercik hujan, lambaian daun, tarian bunga, hembusan angin, serta dinginnya cuaca menambah kesan terdalam disaat terjadinya hujan.


Aroma tanah basah yang khas karena air hujan menusuk hidung.


Suara gemuruh hujan pada atap yang terbuat dari seng. Hilir mudik insan yang dalam perjalanan. Kendaraan Roda empat dan dua, menghiasi jalan raya.


Berhenti di setiap persimpangan, lampu merah perjalanan. Menaiki kendaraan umum sudahlah menjadi rutinitas.


Menikmati setiap perjalanan. Naik turun kendaraan. Meskipun pernah ke negeri orang tidak menjadikan Ia seorang yang gengsi akan keumuman.


Sehingga kendaraan umum menjadi pilihan karena banyak cerita yang sayang untuk di lewatkan.


Meskipun banyak kendaraan terparkir berjejer di parkiran, Sang supir melambai meminta keikhlasan untuk menaiki kendaraannya.


Sebagian orang memilih untuk menaikinya dan sebagian berhamburan untuk masuk ke dalam stasiun kereta karena hujan masih saja belum reda.


Vivi berjalan cepat, dengan memakai payungnya, karena Vivi tak lupa membawa payung ketika berpergian. Laksana istilah "sedia payung sebelum hujan". Hingga membuatnya tak pernah kewalahan, melewati jalanan tergesa-gesa bukan karena takut kehujanan, namun takut ketinggalan.


Sudah memperkirakan memang, tapi alangkah baiknya jika tak ketinggalan. Karena waktu adalah kesempatan yang takan bisa di lewatkan.


Berjejer di sekian banyak kerumunan, dengan berbagai tujuan.


Pengumuman terdengar kurang jelas karena hujan masih ada dan belum reda, ditambah kerumuanan manusia.


Tiket kereta sudah di tangan, masuk ke peron untuk menanti kedatangan, sang teman alias sang kereta, yang akan mengantar menuju kampung halaman.


Penumpang turun di stasiun tujuan, mempersilahkan yang turun terlebih dahulu, namun tak sedikit yang berebut, tak sabaran, ingin segera masuk dan duduk. Padahal sudah diberi kesempatan. "Huh.." Vii membuang nafas bertat. "Begitulah manusia, setiap orang tak sama.


Kini giliranKu tiba. "Bismillah.." Melihat sekeliling mencari tempat yang kosong, "Mana yaa...?" pandangaKu berkelana, mencari yang kosong di sana." "yaa seperti hati ini kosong belum ada yang mengisi" Aku berbincang sendiri.


"Astagfirullah, Maafkan Aku Ya Rabb, Karena begitu mendamba. Padahal Aku Tau bahwa ..Maut, Jodoh dan Rezki semua Engkau yang mengatur." FikiranKu melantur. Hingga Aku terbentur oleh orang yang lewat. "Duk". "Maaf, makannya jangan bengong" Ucapnya samb berlalu.


"Jodoh" Aku keceplosan karena kaget. "Alhamdulillah" karena cuma tas aku yang terbentur, "hehe" kekehku, "Astagfirullah" Eh, Iya maaf" Aku bergeser.


Akhirnya Aku menemukan bangku kosong. Sebetulnya di sebelahKu ada orang "Hehe" Sengaja Aku mencari tempat yang paling tidak sebelahKu atau depanKu Akhwat. Itu yang membuatKu lama. Karena bagiKu rasanya sungguh tak nyaman jika harus berdekatan dengan lawan jenis.


"Ahamdulillah" UcapKu dalam hati.

__ADS_1


"Dret...dret...dret.." Ponselku bergetar tanda ada panggilan masuk, karena getarannya lebih dari satu kali, karena jika satu kali makan pesan.


Kulihat layar di Handphon menampakkan nama My Mom. Ku geser layar hijau.


"Assalamu'alaikum..." ucap yang di sebrang sana alias My Mom


"Wa'alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh...."


"Sayang udah sampai mana?"


"Udah sampai mah"


"Mana ko Kamu gak ada", sambil celingukan, mencari anak kesayangannya.


"Iya sudah sampai stasiun maksudnya."


"Sebentar lagi sampai, Ok mom tunggu."


"Noo...noo" Aku mengagetkan seisi kereta yang melirik ke arahnya, Aku menundukkan kepala sambil tersenyum sebagai tanda maaf. "Aduh malu banget Aku"


"Why, what happend?"


"Enggak, maksud Aku, Aku masih di stasiun keberangkatan, masih setengah jam lagi sampai".


"Ok, Take care, dear"


"Ok mom, insyaAllah, thanks you"


"Ok, love youu, sampai ketemu di rumah."


"Ok, mom, sampai ketemu di rumah"


"Klik" Telphon tertutup.


Ku lanjutkan membuka akun sosial media, untuk melihat perkembangan berita.


"Gujes....Gujes.....Gujes...." Suara kereta berjalan. Pemandangan sawah dan jalanan yang dilalui, menemani perjalanan pulang ke kampung halaman.

__ADS_1


Tak terasa Aku tiba di kampung halaman.


"Assalamu'aliakum...."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh"


Ku salami dan kami cipika cipiki, melepas rindu karena beberapa hari tak bertemu, rasanya sungguh lama, karena bukan keluar kota tapi ke luar negeri.


"Sayang Kamu sudah makan?" sambil melepaskan pelukan.


"Udah mah, Aku tadi makan di resto dekat bandara, enak banget makanannya" Sambil membayangkan keju yang meleh di atas ayam dengan bumbu keju, dan sup cream yang nikmat.


"Wush, gitu banget" Moms menepuk pundakKu.


"Sory mom, soalnya tadi enak banget".


"Ok... sebetulnya Moms udah masak kesukaan Kamu, karena Moms tau Vii akan pulang hari ini".


Sambil membawa Vii ke meja makan.


Mom membuka setiap penutup makanan.


" Wah enak banget moms, thanks you so much, makasih banyak, jazakillah khair, emang pengertian banget sih moms Ku tersayang" , Aku memeluk Ibuku.


"Iyaa dong siapa dulu dong, Moms nya Vii yang manis dan cantik ini" sambil membalas pelukan.


"Makan dulu yaa!!" perintah moms.


"Thanks Mom, tapi Aku masih kenyang dan rasanya badan ini lengket." Sambil mencium keteknya sendiri.


"Ohh, pantesan tadi moms merasakan ada sesuatu yang ganjal ternyata ini" menutup hidung dan menunjuk Vii.


"Iya, hehe" Vii terkekeh.


" Ok, berarti mandi pakai air hangat, ganti baju, kemudian makan. Sambil berlalu pergi untuk melihat sinetron kesayangannya.


"Ok" menyatukan jempol dan telunjuk membentuk gerakan Ok.

__ADS_1


Setelah mandi Vii mengeringkan rambut.


" Udah liburan, pulang ke rumah, jadi inget lagi deh, masih punya hutang, skripsi oh skripsi, kenapa kamu skripsi.


__ADS_2